Mafia VS Psychophat

Mafia VS Psychophat
Riana dan Robert



krak


( Anggap saja suara retak tangan )


" Akhhhhhhhh... sakit..." Teriak pria itu ketika pemuda tampan tersebut menginjak tangannya dengan sekuat tenaga dan bisa dipastikan tangannya retak.


" Siapa yang menyuruh kalian hah!!" Bentak pemuda tampan tersebut dengan tatapan membunuh.


" Kak Robert." Panggil Riana dengan nada lirih.


Pemuda tampan yang namanya di panggil langsung membalikkan badannya dan menatap Riana dengan tatapan sendu. Awalnya melihat pria yang memakai seragam dokter itu dengan tatapan membunuh namun ketika melihat gadis yang dicintainya memanggil dirinya langsung wajahnya berubah.


" Sayang, apa ada yang sakit?" Tanya Robert dengan suara merdu


" Sedikit, ada apa?" Tanya Riana


" Dua orang ini..." Ucapan Robert terpotong oleh kedatangan dokter dan perawat yang membuka pintu icu.


" Ada apa ini?" Tanya dokter terkejut melihat dokter dan perawat itu tergeletak di lantai.


" Mereka ingin membunuh kekasihku." Ucap Robert


" Periksa kekasihku dan pindahkan kekasihku ke rumah sakit xxxxxxx." Perintah Robert sambil mengeluarkan ponselnya.


Dokter dan perawat menatap wajah tampan Robert dan langsung membulatkan matanya dengan sempurna karena mereka mengenal siapa itu Robert.


" Baik tuan muda." Jawab mereka serempak.


Dokter itupun mulai memeriksa Riana setelah setengah jam memeriksa akhirnya selesai sudah.


" Nona Riana sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan." Ucap dokter tersebut.


" Aku ingin kekasihku dipindahkan ke rumah sakit milikku." Perintah Robert.


" Baik tuan." Jawab dokter tersebut dengan patuh.


Dokter dan perawat itupun meminta ijin keluar dan meninggalkan mereka bertepatan dengan kedatangan dua orang bodyguard.


" Bawa mereka ke markas." Perintah Robert dengan nada dingin.


" Baik tuan muda." Jawab ke duanya serempak.


Dua bodyguard tersebut membawa dua penjahat itu ke markas sedangkan Robert berjalan ke arah Riana dan menggenggam tangannya.


" Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Robert sambil tangan yang satunya membelai pipi Riana.


" Aku haus kak, nanti aku ceritakan." Ucap Riana


Robert mengambil gelas yang berisi air mineral yang sudah ada sedotannya.


" Minumlah." Ucap Robert sambil memberikan sedotan di mulut Riana.


Riana mulai menyedot minuman hingga menyisakan setengah gelas dan Robert menyimpan kembali gelas tersebut.


" Coba ceritakan apa yang terjadi?" Tanya Robert penasaran.


" Waktu dalam perjalanan ke apartemen aku..." Ucapan Riana terpotong oleh seseorang yang tiba-tiba membuka pintu ruangan ICU.


ceklek


Dua orang perawat membuka pintu dan dokter itu masuk ke dalam ruang lan tersebut dan diikuti oleh dua perawat.


" Maaf tuan, kami akan memindahkan nona Riani ke rumah sakit milik tuan." Ucap dokter tersebut dengan nada sopan.


" Baiklah." Jawab Robert


" Oh iya jika ada yang menanyakan Riana bilang saja sudah di bawa oleh keluarganya dan jangan katakan kalau aku membawanya." Ucap Robert menjelaskan.


" Baik tuan." Jawab dokter tersebut.


Dua perawat itupun mendorong brankar di mana Riana berbaring menuju ke tempat parkiran mobil khusus untuk pasien rumah sakit dengan diikuti oleh Robert.


Hampir satu setengah jam lebih Aska sudah sampai di rumah sakit dan berjalan ke ruang informasi.


" Pasien atas nama Riana Keyla Abner di rawat di ruangan mana? Tanya Aska.


" Sebentar tuan." Ucap bagian informasi.


Bagian informasi mulai mengutak atik laptopnya setelah beberapa menit bagian informasi menatap wajah tampan Aska.


" Maaf tuan, nona Riana sudah di bawa oleh keluarganya." Ucap bagian informasi.


" Keluarganya, siapa keluarganya?" Tanya Aska dengan nada bingung karena dirinya tahu Riana tidak mempunyai keluarga selain dirinya.


Aska menatap tajam ke arah bagian informasi membuatnya ketakutan dan tubuhnya mulai gemetaran.


" Maaf tuan, sungguh saya mendapatkan informasi yang membawanya adalah keluarganya." Ucap bagian informasi.


" Mulai jam berapa dibawanya?" Tanya Aska


" Satu setengah jam yang lalu tuan." Jawab bagian informasi.


Tanpa banyak bicara Aska pergi meninggalkan tempat tersebut menuju ke parkiran mobil sambil menahan amarahnya.


" Apakah wanita ular itu berhasil kabur dan menculik Riana? Awas saja kalau ketemu aku akan membunuhnya yang lebih sadis dari Riani putri wanita ular itu." Ucap Aska sambil menggenggam erat stir kemudi mobil.


Aska menyalakan mobil dan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi meninggalkan rumah sakit menuju ke arah mansion sambil mencari cara agar bisa menemukan Riana yang hilang entah kemana.


" Aku akan menyewa detektif untuk mencari keberadaan Riana dan juga wanita ular itu." Ucap Aska.


xxxxxxx


Di tempat yang berbeda Riana berbaring di brankar dengan di temani Robert. Entah kenapa Riana teringat dengan Aska dan dirinya merasakan kalau Aska kebingungan karena dirinya hilang.


( " Jika Aku sudah sembuh aku akan ke mansion menemui kak Aska karena aku yakin kak Aska sekarang pasti sedang lelah dan sedang beristirahat." Ucap Riana dalam hati ).


" Kamu belum tidur?" Tanya Robert


" Iya kak ini mau tidur." Jawab Riana


" Tidurlah sudah malam." Jawab Robert


" Iya kak, kakak tidur di mana?" Tanya Riana


" Tidur di sofa, kenapa memangnya?" Tanya Robert


" Tidur di sofa sempit, tidurlah di ranjang." Ucap Riana sambil menggeserkan tubuhnya.


" Bolehkah?" Tanya Robert dengan wajah berbinar-binar.


Riana hanya menganggukkan kepalanya membuat Robert tersenyum bahagia dan langsung melepaskan jasnya kemudian berlanjut melepaskan sepasang sepatu miliknya. Setelah selesai Robert berbaring di ranjang dan melihat Riana membelakangi dirinya.


Ke dua jantung mereka berdetak kencang di kala mereka berdua seranjang karena baru pertama kalinya Robert dan Riana tidur di ranjang yang sama.


" Sayang, boleh aku memelukmu?" Tanya Robert penuh harap.


Riana hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju membuat Robert tersenyum dan langsung memeluk Riana dari arah belakang.


cup


" Kamu adalah wanita pertama yang aku peluk." Bisik Robert kemudian mengecup leher Riana sambil mencium parfum Riana.


" Kalau tidur?" Tanya Riana dengan wajah memerah menahan hasratnya.


Tubuh Riana yang sensitif terlebih Riana sudah ada perasaan suka membuat Riana menahan agar suaranya tidak keluar.


" Hanya sama kamu, kenapa?" Bisik Robert sambil menjilati telinga Riana.


" Kak... ahhh...Geli.... Ahhhh.. aku mohon jangan lakukan lagi." Mohon Riana sambil mendesah.


" Tubuhmu sensitif ya." Goda Robert sambil bibirnya diturunkan ke arah leher dan memberikan tanda kepemilikan.


" Ahhh... aku mohon." Mohon Riana kembali.


" Iya... aku akan berhenti." Ucap Robert.


Robert sengaja menghentikan kegiatannya karena adik kecilnya sudah mulai bangun.


" Kak Robert." Panggil Riana


" Ada apa sayang?" Tanya Robert dengan suara berat.


" Kenapa bokongku ada yang mengganjal ya?" Tanya Riana.


" Sstttt sudah jangan bicara dan jangan bergerak kalau tidak mau aku makan." Ucap Robert sambil memejamkan matanya untuk menghilangkan hasratnya yang mulai naik.


Riana yang mengerti ucapan Robert langsung diam dan berusaha tidak melakukan gerakan.


" Sudah malam, tidurlah." Bisik Robert yang masih memejamkan matanya.


" Iya kak, selamat malam." Jawab Riana ikut memejamkan matanya.


Tidak membutuhkan waktu lama mereka memejamkan matanya dan entah bagaimana kini Riana membalikkan badannya dan mereka tidur saling berpelukan memberikan kehangatan masing-masing terlebih rumah sakitnya hawanya sangat dingin.