
Di dalam ruangan kantor, Dara menghempaskan tubuhnya di atas kursi kebesarannya karena lelah setelah melakukan meeting dan menghandle beberapa masalah kecil di kantornya.
Melepas Kacamata yang membingkai mata cantiknya. Memutar kursi yang sedang didudukinya kearah dinding kaca besar yang mempertontonkan hiruk pikuk keramaian lalu lintas ibu Kota Jakarta. Matanya tiba - tiba berhenti menyusuri pemandangan di depannya. Seakan fokus dengan satu titik tapi pikirannya terbang entah kemana.
Otaknya mengulang kembali ingatannya tentang percakapan Rey dan mamanya di mobil tadi. Dara sebenarnya menyadarinya tentang situasi saat itu. Tapi Dara adalah seorang wanita yang sangat pintar menutupi perasaannya.
Semenjak dua tahun yang lalu, mertuanya memang sudah menunjukkan gelagat tidak suka dengan Dara. Alasannya karena mertuanya menganggap Dara adalah wanita mandul, tidak bisa memberi keturunan penerus keluarga Erlangga. Apalagi Rey adalah anak semata wayang mereka. Sudah pasti mereka menyimpan harapan besar pada Rey untuk memberi cucu - cucu yang lucu.
Rey yang menyadari hal itu tidak mau mengambil pusing. Asalkan Dara selalu setia mendampinginya itu sudah cukup buat Rey bahagia. Tapi tentu saja, di dalam hatinya yang terdalam mendambakan seorang malaikat kecil untuk melengkapinya keluarga kecilnya itu tetap ada.
"Brakkk!!"
Terdengar suara bantingan benda di atas meja kerjanya yang sontak membuat Dara terkejut dan tersadar dari lamunannya. Dia menoleh ke arah suara itu berasal.
"Kayla! lo itu kayak setan saja! datang nggak ada suara. Ketuk pintu dulu itu lebih sopan!" Ucap Dara sewot pada asisten pribadinya itu.
Iya Kayla adalah asisten pribadi Dara. Dara sudah melakukan segala cara dan rayuan agar sahabatnya itu mau bekerja dengannya. Dia sangat tahu potensi yang ada pada Kayla. Cerdas, pekerjakeras, tegas dan bertanggungjawab. Dia sangat membutuhkan bawahan seperti dia. Dara sampai berani menggaji Kayla dengan nominal yang sangat besar. Kayla adalah orang terpenting nomor dua setelah Dara di perusahaannya.
"Wahai ibu CEO yang terhormat, saya sudah mengetuk pintu beberapa kali tapi tidak ada respon, makanya saya langsung nyelonong masuk," tukas Kayla.
"Oh, maaf deh kalau gitu,"
"Lo kenapa sih Ra? tahu nggak sih akhir - akhir ini Lo banyak melamun,"
"Kesambet setan baru tahu rasa!" cibir sang asisten.
"Prasaan ini orang nggak ada hormat - hormatnya pada Atasan!" seru Dara.
"Nggak! lo bukan Atasan gue, tapi sahabat gue!" sanggah Kayla.
"Jangan - jangan karena ulah Rey," timpalnya lagi.
"Apa hubungannya Kay? sudah ah," Dara mencoba mengelak, karena tahu arah tujuan pembicaraannya.
"Setiap malam di ajak kuda - kudaan melulu sih," goda Kayla di ikuti suara tawa yang begitu renyah.
"Ini anak manusia kalau ngomongin hal - hal mesum langsung semangat empat lima emang, buruan nikah sana! gue nggak mau punya sahabat perawan tua!" cibir Dara.
"Yaelaah, aku baru umur 26 tahun. Masih ada waktu untuk bersenang - senang dulu," tukas Kayla santai seraya menggoyang - goyangkan kursi yang di dudukinya. Sebenarnya wanita cantik itu sudah mempunyai tambatan hati, namun dia masih setia memendamnya sendiri dalam hati.
Mendengar ucapan Kayla, Dara cuma bisa menggeleng - gelengkan kepalanya. Dia menatap beberapa berkas yang dibanting Kayla di atas mejanya tadi. Mengambil dan membukanya satu persatu. Jari - jari lentiknya mengambil pena hitam dan mulai membuat garis - garis coretan tanda tangan dengan segera, karena Kayla tidak akan pergi sebelum dia menanda tangani semuanya.
* * *
Mobil mewah Rey sudah terparkir rapi di sebuah halaman rumah yang sangat mewah. Rey sudah berdiri di depan mobil Mercedes Benz miliknya.
Dia melangkahkan kakinya menuju kediaman orangtuanya itu dengan berat. Seperti yang sudah - sudah, setiap bertemu sang Mama, pertanyaan kapan diberikan cucu selalu didapatinya. Akhirnya pasti Dara yang disalahkan. Rey sungguh sedih, mendapati istrinya selalu dijadikan momok dalam rumahtangganya.
Ketika memasuki rumah orangtuanya, dia langsung di sambut oleh beberapa pelayanan yang dilengkapi dengan setelan baju seragam dengan warna yang senada. Mereka membungkukkan badan ketika Rey melewatinya. Seorang wanita berumuran 40 tahunan yang menjabat sebagai kepala asisten rumah tangga menyambutnya dengan sopan.
"Selamat siang tuan, Nyonya sudah menunggu tuan di ruangan meja makan. Mari saya antar kesana,"
Rey hanya tersenyum tipis dan menundukkan kepalanya sekilas. Melangkahkan kakinya, menuju ruangan yang dimana mamanya sudah ada disana.
"Selamat siang Ma," sapa Rey sembari memberi kecupan ringan pada pipi kanan Mamanya yang langsung disambut senang oleh mamanya.
"Siang sayang, Mama kangen banget sama kamu Nak," ucap Rani, lalu membalas ciuman sayang pada anak lelakinya itu.
"Ya udah ayo duduk, makan dulu. Makanannya keburu dingin,"
"Iya Ma,"
Rey membuka kursi meja makan dan duduk di sebelah sang Mama. Rani dengan telaten mengambilkan beberapa jenis makanan yang sudah tersaji di atas meja, dan diletakkan di atas piring milik Rey. Rani sengaja menyuruh pelayan menyiapkan beberapa menu makanan kesukaan Rey.
"Sudah Ma, makanan ini terlalu banyak," Ucap Rey, melihat makanan di piringnya yang sudah menggunung.
"Kamu terlihat kurus sayang, makan yang banyak. Apa istrimu tidak pernah mengurusmu dengan baik?" sindir Rani sambil menangkupkan sebelah tangannya ke pipi kiri Rey.
Rey mengerutkan dahinya karena perkataan sang Mama, ada sedikit kekecewaan disana, tapi dengan cepat Rey mengembalikan ekspresinya seperti semula, agar sang Mama tidak segera menyadarinya. Rey tidak ingin membuat suasana makan siangnya dengan wanita yang sudah melahirkannya itu menjadi buruk.
"Tidak kok Ma, Dara mengurus aku dengan sangat baik," timpal Rey diiringi senyuman tipis, menutupi kekecewaannya. Rey sangat tahu, istrinya selalu melayaninya dengan sangat baik.
"Iya..iya.. kamu selalu membela istrimu itu. Ayo buruan makan," cibir Rani.
Makan siang mereka berlangsung dengan sangat kidmat. Hanya suara dentingan sendok dan piring yang terdengar. Rey meneguk air dari gelasnya sebagai penutup kegiatan makan siangnya. Setelah selesai Rani mengajak Rey menuju ruang keluarga.
Rani mengeluarkan benda dari dalam sakunya. Ditaruhnya di atas meja sofa yang berada tepat di depan Rey. Terlihat 3 lembar foto, yang di dalam setiap foto ada gambar wanita yang berpose dengan sangat cantiknya.
"Ini apa maksutnya Ma?" tanya Rey yang sebenarnya dia sudah mulai curiga dengan tujuan sang Mama.
"Ini adalah anak - anak gadis dari kolega - kolega Mama. Mereka sangat cantik - cantik dan berpendidikan. Dan tentu saja mereka bisa memberi Mama cucu," jawab Rani antusias.
"Terus, apa ada hubungannya dengan Rey?" tanya Rey, yang sebenarnya hanya ingin memantapkan kecurigaannya itu saja.
"Pilih salah satu dari mereka dan nikahi mereka Rey!"
"Tidak bisa Ma, aku sudah menikah, aku sangat mencintai dan menerima Dara apapun kondisinya."
"Apa kamu bahagia dengan pernikahanmu?"
"Aku sangat bahagia!" tandas Rey.
"Apa kamu tidak memikirkan nasib keluarga kita Rey? apa kata orang nanti? keluarga besar Erlangga tidak bisa memberikan keturunan penerus,"
"Tapi Ma, apakah Mama tidak memikirkan perasaan kita berdua? terutama perasaan Dara?"
"Kalau dia Istri yang baik, dia akan mempertimbangkan ini dengan benar, demi kebahagiaanmu Rey!"
"Lagian kita baru 5 tahun menikah Ma. Kita juga masih muda. Masih ada peluang bagi Dara untuk hamil," tukas Rey yakin.
"Kamu pertimbangkan dengan baik kata-kata Nama Rey," Rani menutup pembicaraan, lalu melenggang pergi dari hadapan sang putra.
Sepanjang waktu perjalanan menuju kantor otak Rey selalu memutar ulang percakapannya dengan sang Mama terakhir tadi. Dia sungguh tidak menyangka Mamanya bisa berfikiran seperti itu. Marah, kecewa, dan sedih berkecamuk menjadi satu. Tapi hal itu tidak bisa dia lampiaskan kepada sang Mama yang dia hormati.
Dari awal ketika Rey mengajukan niatnya untuk bertunangan dengan Dara, dia sudah menyadari bahwa Mamanya tidak seratus persen merestui hubungan mereka. Hingga sekarang Rey pun belum tahu alasan utamanya apa. Ketidakhamilan Dara sepertinya hanya dijadikan alasan agar mereka berpisah beberapa tahun trakhir ini.
Bersambung~~
Jangan lupa mampir di karya author satunya lagi ya, masih on going. Ditunggu kunjungannya🥰