Luka Cinta Dara

Luka Cinta Dara
Bab 75 Melahirkan.



Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..


✓Like 👍


✓Coment 💬


✓Rate 5 ⭐


✓Vote 💰


Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗


🍂 Selamat membaca 🍂


Pagi yang cerah sudah menyapa. Rey dan Dara masih terbungkus selimut tebal. Muka Dara yang masih terlelap terlihat begitu damai. Bebantalkan lengan kekar sang suami menambah kenyamanannya dalam berpetualang di dunia mimpi.


Pria yang dalam hitungan hari akan menjadi seorang Ayah itu terlihat sudah terjaga dari lelapnya. Memandang setiap inci muka cantik wanita yang telah rela menjadi ibu dari anaknya. Tangannya mengusap lembut punggung polos Dara yang memang tak terbungkus kain. Kegiatan panas semalam membuat mereka kelelahan hingga tertidur dengan tubuh yang masih telanjang.


Rey memberi morning kiss pada bibir Dara yang masih terlihat sedikit bengkak karena ulahnya. Tentu saja tindakan Rey mengusik tidur lelap Dara.


"Hmmmm," kamu sudah bangun?" tanya Dara yang semakin menenggelamkan tubuhnya pada dada bidang sang suami.


"Ini sudah pagi, apa kamu masih lelah?"


"Sedikit, tapi kamu harus kerja ya? aku akan menyiapkan baju kerja dan sarapan," ucap Dara yang dengan susah payah bangkit dari tidurnya karena kondisi perutnya yang sudah membesar.


"Tidak perlu sayang. Biarkan bi Inah yang menyiapkan sarapan, kamu tidak boleh kelelahan. Lagian aku tidak akan kemana - mana?" tutur Rey.


"Bukannya kamu harus kerja?"


"Tidak, kehamilanmu sudah mendekati HPL sayang, aku ingin selalu bersiaga di rumah," timpal Rey serius.


Memang selama hamil tua, Rey meminta Dara mengurangi kegiatannya di kantor dan lebih sering di rumah. Sedangkan Rey, beberapa pekan ini juga berusaha untuk pulang kerja lebih awal karena khawatir akan kondisi perut istrinya yang semakin besar.


"Ya sudah. Sekarang aku mau siapkan sarapan dulu,"


"Kan tadi sudah ku bilang biar bi Inah yang nyiapin sarapan,"


"Iyaa..iyaa," akhirnya Dara menuruti perkataan suaminya.


"Sebaiknya kita mandi sekarang," ajak Rey.


"Kok kita?"


"Iya kita. Aku akan bantu kamu mandi," balas Rey dengan senyuman nakal.


"Kenapa ekspresimu seperti itu?" Dara memicingkan matanya karena curiga dengan gelagat Rey.


"Tenang sayang, kita hanya mandi dan nggak lebih. Mana mungkin aku tega melakukannya di kamar mandi ketika perutmu sudah sebesar itu,"


Dara hanya mengangguk. Akhirnya Rey menuntun Dara ke dalam kamar mandi. Menyirami tubuh istrinya dengan air hangat. Menggosok dengan sabun setiap inci bagian tubuh Dara. Membantu mencuci rambut Dara yang disertai dengan pijatan ringan. Sesekali dia terlihat gemas melihat perut besar Dara dan mengajak interaksi pada bayi di dalam perut istrinya.


30 menit kemudian, mereka menuruni tangga menuju ruang makan. Saat menuruni tangga Rey terlihat sangat hati - hati memegangi tubuh sang istri.


Setelah mereka selesai menyantap sarapan pagi, sepasang calon orang tua itu lanjut menikmati paginya dengan menonton acara TV di ruang keluarga.


"Sayang, sepertinya ice creamnya enak," ucap Dara yang sudah klametan melihat iklan ice cream W*lls di TV.


"Kamu mau?" tanya Rey seraya mengusap lembut rambut Dara.


"Iya," Dara mengangguk antusias.


"Ya sudah, aku keluar sebentar untuk membeli ice cream. Kamu jangan kemana - mana ya," Rey segera menyambar kunci mobilnya setelah memberi kecupan singkat pada pipi Dara kemudian berlalu pergi.


Dara tersenyum menatap punggung suaminya yang kian mengecil dari pandangannya. Kemudian ia kembali menikmati acara di TV.


Dara terlihat mengerutkan keningnya karena perut dan pinggulnya terasa sedikit tidak nyaman, namun hanya beberapa saat rasa tidak nyaman itu menghilang. Beberapa menit kemudian rasa nyaman yang seperti sensasi mulas menyeruak kembali lagi kemudian menghilang. Begitu seterusnya, rasa itu datang dan pergi berulang - berulang. Hingga akhirnya Rasa mulas dan nyeri datang kembali, namun kini dengan rasa sakit yang luar biasa.


Dara mencoba untuk berdiri. Tiba - tiba cairan kental dan bening mengalir di sela - sela pahanya.


"Bi.. bi Inah!" panggil Dara sambil menahan sakit.


"Bi.. tolong saya!"


"Ya Tuhan Nona Dara!" bi Inah terkejut melihat kondisi majikannya yang sudah terduduk di lantai dengan air ketuban yang sudah pecah. Dengan langkah cepat wanita tua itu mendatangi majikannya untuk membantu.


"Bi, sepertinya saya mau lahiran, tolong hubungi suami saya,"


"Sayang?! apa kamu mau melahirkan?" tanya Rey dengan mimik muka sangat panik.


Beberapa saat yang lalu , ketika Rey sudah setengah perjalanan menuju supermarket, dia mengingat bahwa dia lupa membawa dompet. Maka dari itu Rey kembali untuk mengambilnya.


"Iya, sepertinya begitu," jawab Dara yang meringis karena kesakitan.


Dengan cekatan, Rey membopong tubuh istrinya menuju ke dalam mobil. Kali ini dia meminta sopir pribadinya untuk mengantar mereka ke Rumah Sakit.


Dalam perjalanan ke Rumah Sakit, Dara terlihat menahan sakit karena rahim yang mulai berkontraksi. Namun sebisa mungkin dia mencoba tenang. Namun berbeda dengan Rey. Mukanya begitu pucat dan butiran keringat dingin terlihat menyembul dari pori - pori kulit wajahnya.


Beberapa menit kemudian akhirnya mobil yang mereka tumpangi sampai di depan lobby Rumah Sakit. Dengan langkah cepatnya, Rey membawa Dara masuk ke dalam bangunan dan memanggil perawat yang sedang berjaga.


Melihat ada pasien yang harus segera ditangani, dua orang perawat dengan sigap menarik brankar yang tersedia di area lobby dan Rey langsung merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang beroda tersebut. Kemudian para perawat langsung membawanya menuju ruang persalinan karena melihat ketuban Dara sudah pecah.


Setelah Dara di masukkan ke dalam ruang persalinan. Rey menelepon kedua orangtuanya untuk memberitahukan bahwa Dara akan melahirkan. Mengetahui kabar cucunya akan lahir, sepasang calon Kakek dan Nenek tersebut segera menutup teleponnya dan menuju ke Rumah Sakit.


"Tuan, silahkan masuk ke dalam untuk menemani istri anda," ucap seorang perawat.


"Sayang aku disini," ucap Rey panik seraya menggenggam tangan istrinya berharap bisa menjadi penyokong kekuatan istrinya yang sedang bertaruh nyawa untuk melahirkan sang buah hati.


Sang Dokter terlihat mengecek tubuh Dara terlebih dahulu. Sedangkan seorang perawat menyiapkan alat penunjang yang dibutuhkan.


Mulut rahim Dara sudah sampai pada pembukaan 10. Sang Dokter pun segera memberi intruksi mengejan untuk mendorong bayi keluar.


"Sekarang coba tarik napas lalu keluarkan perlahan. Silahkan anda mengejan ketika saya memberi intruksi ya," ucap sang Dokter dengan ramah setelah membuka lebar kedua kaki Dara.


"Ayo sayang tarik napas terus buang. Kamu pasti bisa," Rey memberi semangat di sela kepanikannya.


"Segaralah mengejan sekarang!" Sang Dokter memberi arahan.


Dara pun mengejan sekuat tenaga.


"Ayo sayang, kamu wanita kuat. Kamu pasti bisa," Rey masih setia memberi semangat.


Dara sempat melirik ke arah Rey. Dia sempat tersenyum geli di sela perjuangannya melahirkan. Bagaimana dia tidak tersenyum, raut muka panik Rey begitu lucu saat ini. Dia seperti punya penyakit latah. Ketika Dara mengejan, Rey juga terlihat ikut mengejan. Pria itu juga terlihat ngos - ngosan.


"Kenapa kamu malah tersenyum sayang?" tanya Rey heran.


"Aku yang melahirkan tapi kenapa kamu yang heboh? Lucu sekali," balas Dara yang sempat tersenyum kemudian kembali fokus pada rasa sakitnya.


Rey melirik ke arah Dokter dan Perawat yang ternyata mereka terlihat menahan senyum.


"Sudah sayang, ayo mengejanlah. Aku sudah tidak kuat melihatmu kesakitan seperti ini," ucap Rey untuk mengalihkan rasa malunya.


Kemudian sang Dokter lanjut memberi aba - aba.


Dara kembali mengejan dengan sisa tenaganya.


"Kepalanya sudah keliatan Ibu, kurang sedikit lagi," ucap sang Dokter.


"Mengejanglah!" perintah sang Dokter.


Pada kejangan terakhir akhirnya suara tangis bayi terdengar nyaring.


Papa Rengga dan Mama Rani yang kebetulan sudah datang dan menunggu di luar ruang persalinan terlihat senang karena mendengar suara tangis cucunya.


Sedangkan Rey yang masih menemani Dara, seketika menangis haru dan merasa lega setelah melihat perjuangan istrinya berakhir.


"Selamat anda sudah resmi menjadi Ayah sekarang," ucap sang Dokter tersenyum.


"Putra anda lahir dengan sehat," tambahnya lagi.


Rey tersenyum bahagia begitu juga dengan Dara yang masih terlihat lemas karena kehabisan tenaga.


"Sayang, terimakasih. Aku menjadi ayah sekarang," ucap Rey lalu mengecup kening sang istri yang masih basah karena keringat.


"Sama - sama sayang," balas Dara tersenyum.


Setelah bayi dibersihkan, seorang perawat memberikan bayi yang masih merah itu kepada Dara. Dara pun menerimanya dengan sangat hati - hati.


"Selamat datang di dunia yang penuh warna ini anakku," ucap Dara kepada bayinya. Air mata bahagia mengalir begitu saja bersatu dengan keringat di mukanya.


Bersambung~~