
Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..
✓Like 👍
✓Coment 💬
✓Rate 5 ⭐
✓Vote 💰
Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗
🍂Selamat membaca🍂
Sang surya sudah berdiri gagah tepat di atas kepala. Suasana jalan raya yang macet oleh kendaraan melengkapi keramaian kota yang padat penduduk tersebut. Suara mesin kendaraan dan klakson juga ikut menyemarakkan hari. Panasnya terik matahari yang menembus kulit tidak mengurangi aktivitas orang - orang di luar sana.
Rey masih setia berkutat dengan laptopnya.
Tak tak tak tak.
Begitu suaranya ketika Jari - jarinya menekan dengan semangat tombol - tombol keyboard yang tertata rapi pada badan laptop. Hingga akhirnya dia menekan tanda Ctrl - S untuk menyimpan data yang baru saja dia kerjakan.
Rey menutup laptopnya. Sesekali dia memijat ringan tengkuk lehernya yang terasa pegal. Kemudian dia menyandarkan tubuhnya yang beberapa hari ini terasa kurang bersahabat ke sandaran kursi kebesarannya.
"Hahhhh..." Dia menghela napasnya pelan dan panjang untuk menetralisir rasa lelah yang sedang menghampirinya.
Sekarang kedua netranya beralih ke arah foto berbingkai yang terletak di ujung meja kerjanya. Tangannya meraih foto tersebut. Rey menatap sendu foto itu. Ibu jarinya terlihat mengusap lembut, sebagai bentuk kerinduan akan cintanya yang sudah dua tahun pergi tanpa ada sepatah kata trakhirpun waktu itu. Hal itu semakin menambah rasa penyesalan yang selama ini menghantuinya.
"Sayang, kamu sedang apa sekarang?" gumam Rey seraya menatap foto yang masih berada di tangannya.
"Sungguh kerinduan ini sangat menyakitkan,"
"Kamu sebenarnya ada dimana?"
Tidak terasa butiran bening satu persatu jatuh ke pipi yang terlihat semakin kurus dan kemudian luruh ke bawah membasahi jambang tipisnya.
Iya, pria tampan yang memiliki ego dan tempramen tinggi itu sekarang sedang menangis karena wanita.
Tidak ingin terlalu larut dalam kerinduan, Rey mengusap kasar air matanya. Membenarkan posisi duduknya dan melanjutkan pekerjaannya. Dia mengambil dokumen - dokumen yang terletak di atas mejanya. Membukanya satu persatu.
Hingga tidak terasa, malam sudah menyapa. Langit sudah gelap, namun terlihat indah karena taburan galaxy bintang yang mengelilingi Bulan yang memancarkan cahayanya.
Namun Rey masih setia berkutat dengan pekerjaannya. Dua tahun trakhir Rey lebih memilih mengalihkan kesedihannya pada pekerjaan. Dia selalu memaksa tubuhnya. Bahkan sering lupa hanya sekedar mengisi perutnya.
Jarum jam masih setia berputar pada porosnya. Waktu sudah menunjuk pukul 11 malam. Akhirnya Rey memutuskan untuk mengakhiri pekerjaannya.
Malam ini dia lebih memilih tidur di kamar yang tersedia khusus di ruang kantornya. Dia berjalan menuju tempat istirahatnya seraya mengendorkan ikatan dasi pada lehernya. Melepaskan sepatu kulit yang seharian membungkus kakinya. Dia duduk di pinggir ranjang sembari membuka kancing kemejanya.
Di meja bawah lampu tidur terlihat beberapa butir pil bewarna putih dan kapsul bewarna kuning. Obat - obat tersebut sudah menemani Rey satu tahun trakhir ini. Rey sering mengalami imsonia berat yang menyebabkan dia harus rajin meneguk butiran - butiran pahit itu agar dia bisa terlelap.
Rey merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Matanya menatap nanar langit - langit kamar yang bewarna putih mix emas. Bagaikan layar monitor, Rey melihat bayangan muka istrinya yang cantik di atas sana. Terulas senyuman yang begitu manis, sehingga sulit untuk dilupakan.
Rey masih setia dengan ingatan - ingatan ketika bersama Dara dulu. Hingga dia terlelap dalam mimpinya tepat pukul 1 dini hari.
* * *
Inggris, London 07.00 P.M
Cuaca malam sepertinya sedang bersahabat. Langit malam terlihat terang, sehingga pemandangan tampak jelas dan indah. Lampu kota yang berjajar rapi tampak semakin berkilauan.
Pria tampan bertubuh tinggi itu terlihat menuruni mobil mewahnya. Melangkah menyusuri jalan yang sudah dipenuhi daun maple yang berguguran. Sesekali kedua sudut matanya melirik ke sekitar.
Sejenak langkahnya terhenti. Tanpa menoleh ke belakang dia merasa sedang di ikuti diam - diam. Radit mencoba berjalan memasuki krumunan orang - orang yang sedang menikmati festival malam musim gugur untuk mengecoh dua pria yang sedang mengikutinya itu.
Dengan segala cara tak tik cerdasnya. Akhirnya dia bisa lepas dari pengawasan mereka. Mukanya mencetak senyuman puas dan lanjut melangkah lebar kakinya. Hari ini dia ada janji makan malam bersama sahabatnya. Mengingat akan bertatap muka dengannya setelah beberapa minggu tidak bertemu, semakin buat dia bersemangat.
Dari jauh dia menangkap sosok seseorang yang sangat ingin dia temui itu. Sebelum menghampirinya dia melempar pandangan kesekeliling untuk memastikan, orang - orang suruhan Rey itu tidak sedang mengikutinya.
Radit sangat tahu, Rey sahabatnya itu tidak akan tinggal diam. Rey mengirim orang - orang suruhannya untuk mencari tahu keberadaan Dara. Namun Radit terlalu cerdas dan selalu punya cara untuk mengecoh agar bisa keluar dari pengawasan mereka.
Setelah dipastikan aman, Radit segera melangkahkan kakinya menghampiri sahabat wanitanya itu yang sudah terlihat menunggu cukup lama.
"Hai Ra!" sapa Radit dengan senyuman lebarnya.
"Lo ko lama banget sih?! gue udah berkarat nunggu lama tahu nggak?! Dara sewot.
"Ya Maaf, tadi ada urusan mendadak yang harus dikelarin dulu Ra," timpal Radit seraya membuka bangku dan mendaratkan bokongnya dengan mulus. Dia tidak menjelaskan tentang keterlambatan mereka karena orang - orang suruhan Rey.
"Sudah jadi kebiasaan lo," sungut Dara.
"Hahaha.. Bilang saja lo kangen sama gue?" ceplos Radit asal.
"Kangen pingin jitak pala lo!" kesal Dara.
Radit terdiam sejenak. Kedua netranya menatap lembut ke arah Dara yang tanpa disadari Dara.
"Lo cantik kalau lagi marah Ra. Rasanya pingin gue peluk and cium," canda Radit, meskipun sebenarnya dia juga berharap.
"Dasar otak mesum!" ketus Dara yang memang sudah terbiasa dengan sikap bar bar sahabatnya itu.
"Hahaha..." Radit hanya tertawa lebar menanggapi hardikan Dara.
"Lo mau makan apa?" tanya Dara yang sibuk membuka menu list yang sudah tersedia.
"Terserah lo aja. Gue ngikut," jawab Radit.
"Kalau begitu kita pesen roast meat, toffe, dan apple pie punch sebagai minuman hangatnya," Dara memilih menu tanpa berpikir lama.
"Ok," balas Radit, Sembari melambaikan tangannya kepada salah satu pelayan restoran.
Pelayan restoran dengan sigap menghampiri mereka dan mencatat semua makanan yang di pesan. Kemudian berlalu untuk menyiapkan makan malam mereka.
Lima Belas menit kemudian, seorang pelayan wanita datang membawa pesanan makanan mereka. Meletakkannya dengan hati - hati di atas meja dan dengan sopan mempersilahkan Dara dan Radit untuk menikmati makan malamnya.
Pandangan mata Radit tidak bisa lepas dari Dara. Sungguh ada kebahagiaan tersendiri melihat wanita yang dicintainya bisa tersenyum bahagia setelah melewati berbagai ujian hidup yang begitu pahit.
Kedua pupil Radit sekarang berpindah pada cream tuffe yang bersarang di ujung bibir Dara. Dengan lembut Radit mengusap bibir itu menggunakan ibu jarinya. Radit langsung mencecap lahap cream tuffe yang sudah berpindah di Ibu jarinya itu.
Jelas saja tindakan Radit sempat membuat Dara kikuk. Wanita cantik itu memang sudah terbiasa dengan sikap Radit yang bar bar itu. Namun hal yang baru dia lakukan padanya tadi sungguh membuatnya tersipu malu.
Radit dan Dara sudah berada di depan gedung apartment Dara. Wanita cantik berkulit putih itu meminta segera pulang setelah selesai makan malam.
"Oke, gue masuk dulu ya Dit, berhati - hatilah saat pulang," ucap Dara lembut."
Namun Radit tidak menjawab. Dia masih terdiam. Raut muka sungguh tidak bisa terbaca.
"Kenapa lo diam?" heran Dara.
"Ehem!" Radit berdehem.
"Kapan kita bisa bertemu lagi?" Radit terlihat sendu. Karena Selama ini Dara meminta agar tidak terlalu sering menemuinya.
"Emmm..." Dara berfikir seraya menipiskan bibirnya.
"Gue masih kangen Ra?" timpal Radit.
"Heh? hehehe," Dara kikuk dengan pernyataan Radit.
"Ah sudahlah. Jangan berlebihan. Gue masuk dulu ya," Dara mencoba mengalihkan topik.
"Lo sudah tahu perasaan gue kan Ra?"
"Apa lo belum bisa nerima gue?" tanya Radit berharap.
Dara tidak berkata. Dia bingung bagaimana harus menjawabnya. Selama ini Radit sudah banyak menolongnya. Radit selalu ada di saat dia terpuruk. Sahabat kedua yang paling dia hargai setelah Kayla. Namun dia tidak bisa membohongi diri. Hatinya masih tertutup untuk siapapun.
Radit yang belum juga mendengar Dara mengeluarkan suaranya, sudah tidak bisa menahan hasratnya untuk mendekap erat tubuh wanita yang selama ini telah berlabuh di hatinya.
Dara dibuat terkejut dengan tindakan Radit yang tiba - tiba. Dengan lembut wanita cantik itu mencoba menekan dada bidang Radit dengan kedua tangannya. Membuat jarak tubuh mereka yang dirasakan terlalu intens tersebut. Namun hal itu gagal dilakukan karena Radit semakin mempererat pelukkannya.
"Biarkan," pinta Radit.
"Hah?"
"Biarkan aku melepas rinduku. Ijinkan aku memelukmu meski hanya sesaat," suaranya terdengar sendu. Seakan dis tahu, bahwa Dara tidak akan dengan mudah membuka hati untuknya.
"Maaf," hanya satu kata yang terucap dari mulut Dara.
Radit melepas pelukannya, membuat sedikit jarak, membiarkan matanya menatap secara intens muka Dara yang terlihat merasa bersalah.
"Nggak apa - apa. Gue bakal sabar menunggu," pria tampan beralis tebal itu mencoba menenangkan hati Dara.
Dara merespon perkataan Radit dengan senyuman simpulnya.
"Udara semakin dingin, lo masuklah. Hangatkan tubuh lo," titah Radit.
"Oke. See you next time,"
"See you,"
Dara membalikkan badannya dan berlalu pergi menuju apartmentnya. Radit menyaksikan tubuh Dara yang semakin mengecil dan menghilang.
"Haaaah," Radit menghela napas dan diakhiri dengan senyuman simpulnya. Mencoba menguatkan hatinya. Kemudian dia juga berlalu pergi.
* * *
Plok. Plok. Plok. Plok.
Suara tepukan tangan orang - orang terdengar bergemuruh memenuhi ruangan rapat kerja.
"Ok, saya sangat puas dengan hasil pesentasi anda," tukas Pak Wirat Direktur dari perusahaan H.G yang terlihat puas.
"Bagaimana Pak? apa anda akan menerima tawaran kerjasama dari saya?" tanya Rey memastikan.
"Tentu saja saya akan senang hati menerima tawaran anda." Timpal Direktur Wirat.
"Terimakasih atas kepercayaan anda pada perusahaan kami," ucap Rey dengan senyuman wibawanya.
Direktur Wirat menganggukkan kepalanya.
"Baik kalau begitu saya permisi dulu," Pamit Direktur Wirat dan berlalu meninggalkan Rey yang di ikuti oleh asistennya.
Sekarang Tinggallah Rey dan sang asisten di dalam ruangan.
Drrrttt...
Drrrttt...
Ponsel sang asisten bergetar karena ada panggilan masuk.
"Permisi Tuan, saya ijin angkat panggilan terlebih dahulu," ijin sang asisten tanpa meninggalkan ruangan.
"Halo,"
Sang asisten mendengarkan suara dari balik telepon seraya mengangguk - anggukkan kepalanya. Memahami apa yang disampaikan lawan bicaranya di seberang sana.
"Oke, kamu awasi terus," perintah sang asisten kepada seseorang di balik telepon.
Tut. Panggilan berakhir.
"Permisi Tuan, keberadaan Nyonya Dara sudah ditemukan," lapor sang asisten tanpa basa basi.
Bersambung~~