
Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..
✓Like 👍
✓Coment 💬
✓Rate 5 ⭐
✓Vote 💰
Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗
🍂Selamat membaca🍂
"Halo!" Bella membuka percakapan dengan ketus.
"Halo sayang..." balas Nicho.
"Kamu jangan asal telpon! aku nggak suka tahu nggak!" ucap Bella geram sedikit berbisik.
"Aku hanya ingin memastikan keadaan bayi kita baik - baik saja sayang," Nicho memelas.
"Aku sekarang sudah jadi istri orang. Kamu jangan terlalu berharap,"
"Meskipun kamu sudah jadi milik pria lain, tapi aku adalah ayah dari bayi yang kamu kandung sekarang!" sanggah Nicho.
"Tidak! kamu harus melupakan bayi ini!" ketus Bella
"Apa maksudmu?! ingat! tanpa bantuanku kamu tidak akan berada dirumah itu sekarang!"
"Apa kamu tidak bisa menghentikan semua ini?!"
"Kita bisa hidup bersama. Aku akan jadi suami dan ayah yang baik,"
"Tidak! aku hanya mencintai Rey!"
"Awas kalau kamu berniat menggagalkan rencanaku!"
"Kamu akan lihat bayi ini sudah tidak bernyawa!" ancam Bella.
"Oke. oke. Kamu jangan bertindak gegabah pada bayiku. Jaga dia baik - baik," Nicho menenangkan Bella.
Tut. Bella memutuskan panggilan. Tidak ingin terlalu lama bercakap dengan Nicho. Khawatir Rey akan mendengarnya. Bisa - bisa semua rencananya yang sudah berjalan mulus itu gagal di tengah jalan.
* * *
Di rumah Nicho.
Bau tembakau dan kepulan asap berasal dari rokok yang dihisap Nicho memenuhi ruangan miliknya. Nicho tampak gusar. Beberapa pikiran berkecamuk begitu terlihat pada raut mukanya.
Rasa bersalah karena telah menghianati keluarga Erlangga yang telah menolongnya mentas dari keterpurukan sungguh terasa menyesakkan. Namun ketakutan akan tindakan nekat Bella membuat dia lebih memilih menuruti semua rencana jahat wanita yang dia cintai itu.
Nicho dan Bella sudah tiga tahun menjalin cinta. Mereka sudah saling berkenalan sebelum Bella bekerja di perusahaan Rey. Justru Nicho lah yang memberi jalan pada Bella agar bisa menjadi salah satu staf karyawan disana.
Hingga pada suatu ketika Bella hamil karena kecerobohan mereka. Tidak sampai di situ saja. Suatu hari Nicho mengetahui bahwa Bella hanya menjadikannya sebagai alat agar bisa dekat dengan Rey. Iya, Bella memanfaatkan ketulusan cinta Nicho.
Dengan sejuta ancaman yang bisa membahayakan dirinya dan bayinya, Bella mencoba memeras Nicho. Tentu saja Nicho sang kekasih tidak ingin dua nyawa yang dia sayangi terenggut begitu saja.
Melihat pengalaman yang sudah - sudah, ternyata Bella pernah punya riwayat depresi akut, yang hal itu bisa membuat dia lebih nekat jika kambuh.
Depresi akut Bella bukan karena tidak beralasan. Semua itu disebabkan karena banyak Bullyan yang dia dapatkan di waktu mengenyam pendidikan di bangku kuliah dulu.
Rasa cinta yang mendalam kepada Rey sang idola kampus membuat dia harus menerima ribuan hujatan dan hinaan dari fan fanatik Rey. Hanya karena Bella gadis miskin dengan bantuan beasiswa, dia diamggap tidak pantas dekat dengan Rey. Tak jarang juga Bella mendapatkan kekerasan fisik. Hingga pada akhirnya Bella harus keluar dari kampusnya dengan cara paksa.
Tentu saja Dara sang kekasih Rey tidak masuk dalam list bullyan mereka. Status Dara berbeda dengan Bella. Dia adalah anak dari penanam investor kampus tertinggi, yang membuat mereka berfikir dua kali untuk bertindak anarkis padanya.
Satu tahun lamanya Bella mencoba melawan depresi dan gejolak jiwa seorang diri. Hingga pada akhirnya dia mulai bangkit dari keterpurukannya. Namun cara yang ditempuh salah. Bella tidak terima dengan perlakuan yang dia dapat dulu. Penolakan dari Rey sungguh buat dia sakit hati. Rasa ingin memiliki Rey semakin menggrogoti pikirannya. Dan entah sejak kapan, rasa benci pada Dara tumbuh memenuhi hatinya. Padahal Dara tidak tahu menahu tentangnya pada waktu itu.
* * *
Satu bulan telah berlalu. Setelah kejadian malam itu. Hubungan Dara dan Rey semakin renggang. Sikap dingin dan tempramen Rey selalu menghiasi hari - harinya. Sesekali Rey mendatangi Dara hanya untuk melampiaskan nafsunya saja. Kemudian kembali ke kamar Bella.
Kehamilan Bella sudah memasuki bulan ke 4. Perutnya sudah mulai terlihat membesar. Hal itu membuat perhatian Rey lebih tertuju ke Bella.
Perlakuan hangat yang dulu Dara dapatkan dari Rey, kini seakan hanya sebagai kenangan belaka. Tidak ada lagi kata sayang, ciuman mesrah, ataupun pelukan hangat. Sungguh Dara sangat merindukan momen - momen tersebut.
Kerenggangan hubungan mereka juga berimbas pada persahabatan antara Rey dan Radit. Meskipun Radit sudah berusaha memberikan penjelasan, namun sikap keras kepala Rey lebih dominan. Ternyata cemburu sungguh membutakan akal sehatnya.
* * *
Dara sedang duduk sendirian di sebuah kafe yamg terletak tidak jauh dari kantornya. Sambil menunggu pesanan makan siang datang, dia mengecek pesan singkat yang baru saja masuk.
Rey :
"Selesai kerja langsung pulang!" titah Rey.
"Iya," balas Dara singkat.
Kejadian satu bulan yang lalu benar - benar berdampak buruk pada Dara. Kecemburuan Rey yang menurutnya sudah melewati batas di ambang wajar itu begitu sulit dia terima. Rasa posesif Rey semakin parah. Sudah tidak ada lagi kepercayaan selakyaknya sepasang manusia yang saling mencintai. Kecurigaan Rey selalu mewarnai hari - harinya. Jarangnya berkomunikasi meskipun satu atap sudah tidak buat Dara heran. Sekalipun Rey membuka pembicaraan, hanya sebuah perkataan pedas yang dia lontarkan. Semua itu harus Dara telan mentah - mentah.
Belum lagi Bella yang tidak mau menyia - nyiakan kesempatan, selalu berperan aktif dalam memperparah keretakan antara Dara dan Rey. Bodohnya Rey selalu terpengaruh begitu saja dengan jeratan setan.
Drrrttt...
Drrrttt...
Drrrttt...
Ponsel Dara bergetar. Ada sebuah panggilan masuk. Tertera nama Ayahnya di layar ponselnya. Dara tersenyum mendapati panggilan dari Ayah yang sangat dia sayangi itu.
"Halo Ayah.." Sapa Dara senang.
"Halo My Little Princes, kamu sedang apa sayang?" tanya sang Ayah.
"Ini Dara mau makan siang. Ayah sudah makan belum?"
"Ayah sudah makan,"
"Obatnya juga sudah ayah minum," tambah sang Ayah cepat karena hafal anaknya itu pasti akan menanyakannya juga.
"Hehe.. Pokok jangan sampai tidak minum obat ya. Istirahat yang banyak," pinta Dara.
"Nak.. Apa kamu tidak ingin menginap di rumah Ayah satu hari saja?"
"Ayah kangen banget sama kamu sayang,"
"Nanti ajak Nak Rey juga ya,"
"Sudah lama Ayah tidak bertemu dengannya," pinta sang Ayah.
"Iya Yah, hari Minggu besok Dara usahakan menginap disana ya,"
"Maafin Dara yang terlalu sibuk, hingga tidak begitu memperhatikan Ayah," ucap Dara sendu.
"Tidak sayang, kamu Anak yang baik dan perhatian. Ayah bangga punya anak seperti kamu,"
"Entah kenapa, tiba - tiba Ayah ingin kamu menginap dirumah,"
"Uhuk! uhuk!" terdengar suara batuk sang Ayah.
"Ayah kamu baik - baik saja kan? Ayah tidak apa - apa?" kecemasan langsung menderu Dara, ketika mendengar Ayahnya terbatuk - batuk.
"Ayah tidak apa - apa sayang. Hanya batuk saja,"
"Oke, kalau begitu Ayah tunggu kedatanganmu ya. Jangan lupa ajak Nak Rey juga," pinta sang Ayah sekali lagi.
"Baik Ayah,"
Tut. Panggilan terputus.
Braakk!
Terdengar suara bantingan benda di atas meja Dara. Sontak saja, Dara terkejut hingga tubuhnya sedikit terangkat. Dara mengalihkan pandangan pada seseorang yang membuat onar itu. Setelah melihat pelakunya, Dara langsung pasang ekspresi muka kesal.
"Kayla! please! vhange your behavior!"
"Bisa - bisa gue mati muda karena jantungan tahu nggak?! seru Dara kesal
"hehehe. Habis lo tadi gue panggil nggak nyaut - nyaut." terdengar suara kekehan Kayla.
"Gue kan baru aja angkat telepon Kay! astaga..!" Dara mendengus kesal.
"Iya maaf.. Maaf. Tapi gue nggak bisa ngilangin kebiasaan gue. Hahaha,"
"Oya gue mau nyampaikan, lusa perusahaan kita dapat undangan pesta perayaan Ulang tahun dari Perusahaan M.G,"
"Oke," ucap Dara singkat.
Kayla memperhatikan muka sahabatnya itu. Terlihat tidak seperti biasanya. Mukanya sedikit pucat dan matanya sayu. Tampak seperti orang kurang sehat.
"Ra.. kenapa dengan muka lo?" Kayla cemas.
Bersambung~~
Jangan lupa mampir di karya author satunya lagi ya, masih on going. Ditunggu kunjungannya🥰