Luka Cinta Dara

Luka Cinta Dara
Bab 76 Calon Bayi Kembar.



Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..


✓Like 👍


✓Coment 💬


✓Rate 5 ⭐


✓Vote 💰


Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗


🍂 Selamat membaca 🍂


Masih pagi - pagi sekali, Radit sudah terlihat duduk di tepi ranjang menunggu Kayla keluar dari kamar mandi. Selang waktu tidak lama, tubuh Kayla pun terlihat keluar dari balik daun pintu. Radit menyatukan kedua ujung alisnya saat melihat raut muka Kayla yang datar.


"Bagaimana hasilnya sayang? kenapa mukamu kusut begitu? apa hasilnya negatif lagi?" Radit langsung memberondong beberapa pertanyaan kepada Kayla.


Tanpa menjawab pertanyaan suaminya, Kayla hanya mengulurkan tangannya dan menunjuk sebuah benda yang berbetuk stik kecil kepada Radit.


Radit mengamati benda yang ditunjukkan Kayla. Matanya langsung terlihat berbinar dan kedua sudut bibirnya melengkung ke atas.


"Ada dua garis sayang, bukankan itu menandakan kamu positif hamil?"


"Iya sayang, aku hamil sekarang," balas Kayla yang kini mimik mukanya berubah sumringah.


Radit langsung berdiri dan memeluk erat tubuh Kayla. Mendaratkan beberapa kecupan pada muka ayu istrinya. Senyumannya di mukanya benar - benar merekah.


"Terimakasih sayang. Aku sangat senang," ucap Radit.


"Sama - sama. Aku juga sangat senang," balas Kayla.


"Tidak rugi setiap malam aku rajin bercocok tanam, akhirnya membuahkan hasil," ucap Rey penuh bangga.


"Apa? setiap malam katamu? yang benar saja. Kamu melakukannya setiap bertemu. Aku sampai kelelahan di waktu jam kerjaku," sanggah Kayla penuh sindiran.


"Itu akibat karena kamu membuatku nganggur di waktu malam pertama kita, dulu" timpal Radit tidak terima.


Kayla merasa gedek mendapati sikap bayi besarnya itu.


"Nanti setelah sarapan, aku akan antar kamu ke Dokter untuk periksa kehamilanmu,"


"Baiklah,"


"Tapi sekarang masih terlalu pagi," ucap Radit penuh makna.


"Terus?"


"Ya kita harus meneruskan kegiatan kita yang tadi sempat tertunda sayang," balas Radit dengan mimik muka nakalnya. Kemudian membawa Kayla kembali ke atas ranjang.


"Pelan - pelan saja dan jangan di sembur di dalam karena aku lagi hamil muda, itu tidak baik," pinta Kayla.


"Iya sayang, aku mengerti kok,"


Sesuai yang diminta Kayla. Radit melakukan penyatuan dengan sangat hati - hati dan penuh sayang. Dia bahkan tidak berani menindih tubuh Kayla yang sedang mengandung karena takut melukai janin di dalam perutnya.


1 jam lamanya. Kegiatan olah raga ranjang mereka berakhir dengan keluarnya puncak kenikmatan secara bersamaan.


Radit membanting tubuhnya di sebelah Kayla. Berusaha mengatur napas yang masih tidak beraturan begitu juga dengan Kayla.


"Suamiku," panggil Kayla di sela napasnya yang masih terengah - engah.


"Hmm. Ada apa istriku?"


"Hahaha, aku jadi geli dengarnya, seperti di film India saja,"


"Apa yang kamu ketawakan istriku?" goda Radit yang masih menggunakan panggilan 'istriku'. Kini dia memiringkan tubuhnya menghadap Kayla dan manaik turunkan kedua alisnya bersamaan.


"Buang tampang mesum itu,"


"Sudah ah, aku mau mandi. Badanku sudah sangat lengket karena ulahmu yang membuang cairan di tubuhku," celoteh Kayla seraya beranjak dari ranjang dan melangkah menuju ke kamar mandi.


"Aku ikut sayang," Radit pun mengekori istrinya masuk ke dalam kamar mandi.


* * *


Radit baru saja mengantar Kayla dari Rumah Sakit untuk memeriksa kandungannya. Dalam perjalanan, Kayla masih setia memandang sebuah cetakan kecil hasil USG yang menampilkan gambar janin yang masih sebesar biji jagung. Mimik mukanya terlihat menghangat. Senyuman tipis terus terulas pada mukanya. Begitu juga dengan Radit.


"Aku nggak nyangka, ada dua nyawa malaikat kecil di tubuhku sekarang," ucap Kayla.


"Aku hebat kan sayang," timpal Radit dengan nada bangganya.


"Dari keluargamu memangnya ada yang kembar ya?" tanya Kayla penasaran. Pasalnya dalam keluarganya tidak ada riwayat sanak saudara yang kembar.


"Iya, Papaku sebenarnya punya kembaran. Tapi sudah lama meninggal karena sakit," beber Radit.


"Ow pantesan," timpal Kayla mengerti.


Tiba - tiba ponsel Kayla berdering. Nama Dara terlihat menghiasi layar ponselnya. Tidak ingin membuat sahabatnya itu menunggu lama, wanita yang tengah hamil muda itu menekan tanda terima panggilan.


"Halo,"


"Kay, ponakan lo sudah launching nih. Nggak pingin lihat?"


"Apa?! akhirnya sudah launching juga, syukurlah. Lo dimana sekarang?" Kayla terlihat sangat senang.


"Gue berada di Rumah Sakit Jakarta sekarang,"


"Oke, gue kesana sekarang,"


"Gue tunggu ya. Hati - hati di jalan,"


"Oke,"


panggilan berakhir.


"Memangnya apa yang sudah launching sayang? kok mukamu terlihat senang begitu?" tanya Radit setelah melihat Kayla memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.


"Kita kan baru saja dari Rumah Sakit sayang, kenapa harus kembali lagi?" tanya Radit heran.


"Keponakan perdanaku sudah launching sayang. Dara sudah lahiran. Dia berada di Rumah Sakit tempat kita periksa tadi," beber Kayla.


"Benarkah? oke kita kesana sekarang," Radit pun memutar balik mobilnya menuju ke Rumah Sakit.


* * *


Dara kini sudah di pindahkan ke kamar perawatan.


"Sayang, apa kamu sudah menemukan nama yang cocok untuk putra kita?" tanya Dara ke Rey.


"Aku ingin memberi nama Kenzie Sakha Erlangga, bagaimana menurutmu sayang?" ucap Rey seraya menatap putra kecilnya yang berada di box bayi.


( Sengaja pakai nama anakku, biar exis dikit. wkwkwkwk )


"Itu nama yang bagus," ucap Dara yang terlihat senang.


Papa Rengga dan Mama Rani juga yang memang masih di dalam ruangan juga terlihat senang.


"Papa tidak menyangka, putra Papa yang tengil ini bisa memberikan nama yang baik untuk cucuku," gurau Papa Rengga.


"Rey bukan anak tengil lagi Pah. Aku seorang ayah sekarang," protes pria yang baru saja berstatus menjadi seorang Ayah beberapa waktu yang lalu.


Mama Rani dan Dara tertawa mendengar percakapan kedua anak manusia yang mempunyai hubungan darah tersebut.


"Halo, selamat siang semuanya," sapa Kayla yang baru saja tiba dan diikuti Radit di belakangnya.


Semua orang di dalam ruangan mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara.


"Kay, lo sudah datang?" tanya Dara tampak senang.


"Iya. Selamat ya Dara dan Rey, kalian sudah menjadi orangtua sekarang," Kayla memberi ucapan selamat dengan tulus.


"Ya ampun.. gantengnya keponakan tante, kenapa kamu lucu sekali," sambung Kayla lagi setelah melihat Rey junior.


"Rey, kok mukanya mirip lo sih?" sela Radit yang ternyata juga mengamati muka si bayi.


"Ya iyalah, karena gue Ayahnya, masa mirip lo?" Seru Rey.


"Ra, apa waktu hamil lo sangat membenci suamimu? bayimu sangat mirip sekali dengannya," cerocos Radit lagi.


"Iya sepertinya memang begitu," balas Dara enteng yang terlihat menahan tawa.


"Sudah ku duga," ucap Radit seraya menganggukkan kepalanya.


"Jangan banyak bacot. Mending lo segera buatin gue keponakan juga," seru Rey kepada Radit.


"Kalau itu, nggak usah lo suruh, gue sangat rajin membuatnya, setiap malam tak pernah bolos," balas Radit dengan sangat enteng.


Kayla yang mendengar kalimat memalukan dari mulut Radit langsung mencubit perut berototnya.


"Aw! sakit sayang," Radit mengadu.


"Apa kamu tidak malu mengatakan hal itu di depan Papa Rengga dan Mama Rani?" ucapnya dengan gerakan bibir yang hampir terlihat tidak bergerak.


Papa Rengga dan Mama Rani terlihat tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. Melihat kelakuan Radit yang memang tidak beda jauh dengan karakter Rey yang sama - sama tengil.


"Gue harap, lo juga segera beri gue keponakan Kay," Dara sangat berharap.


"Sudah kok Ra," balas Kayla dengan senyuman penuh arti.


"Maksutnya?"


"Iya sudah, gue sekarang sedang hamil," jawab Kayla.


"Benarkah? gue seneng banget Kay, selamat ya," Dara memeluk tubuh sahabatnya yang memang sedang berdiri di samping ranjangnya.


"Dan lo nggak boleh iri kalau gue bakal kasih dua keponakan sekaligus," sela Radit yang melirik ke arah Rey. Lagi - lagi mimik muka bangga terpancar di mukanya.


"Apa?!" seru Rey yang seakan tidak percaya.


" Sayang, sebaiknya kita juga harus segera memberikan Kenzie adik. Kita nggak boleh kalah sama mereka," cerocos Rey yang seketika mendapat cubitan pada perutnya.


"Aw! kenapa para wanita suka mencubit bagian perut sih?" gerutu Rey seraya mengusap perut bekas cubitan Dara.


"Apa yang kamu bicarakan? aku baru saja lahiran. Bayi kita juga masih merah. Enak aja suruh aku hamil lagi," dengus Dara.


Rey hanya meringis menanggapi ucapan istrinya yang tentu saja membuat semua orang di ruangan gedek akan tingkahnya.


Keesokan harinya, si Baby Ken sudah dibawa pulang ke kediaman Rey dan Dara. Dara meletakkan putranya ke dalam box bayi yang yang terletak tidak jauh dari ranjang kamarnya.


Baby Ken terlihat sangat pulas setelah mendapatkan ASI ketika di dalam perjalanan pulang tadi.


Dara mengamati muka putranya yang begitu terlihat polos dan sangat menggemaskan. Kulitnya begitu putih, rambut hitam dan tebal, serta hidung yang mancung dengan bibir tipis di bawahnya sudah cukup menggambarkan Baby Ken yang sangat tampan.


"Mukamu benar - benar foto kopian Ayahmu sayang. Sepertinya Tuhan hanya meng copy paste muka Ayahmu sebelum mencetak mukamu," gumam Dara dengan aura kasih sayang seorang Ibu yang terpancar dari dalam dirinya.


"Sayang apa kamu tidak lelah?" tanya Rey yang tiba - tiba memeluk tubuh Dara dari belakang. Papa muda itu juga melayangkan pandangannya kepada sang buah hati yang sedang terlelap.


"Dengan melihat muka putraku lelahku langsung hilang sayang," jawab Dara yang masih menatap hangat bayi mungilnya.


"Terimakasih. Aku sangat berterimakasih kepadamu," ucap Rey seraya menenggelamkan mukanya pada ceruk leher istrinya.


Dara tersenyum hangat. Tangannya mengusap rambut tebal suaminya dengan sayang.


"Aku sangat bersyukur, akhirnya kamu mau menerimaku kembali setelah perbuatanku yang telah menyakitimu. Aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama. Berada jauh darimu sungguh menyiksaku. Aku berjanji akan selalu membuatmu bahagia. Aku mohon tetaplah bersamaku selamanya," Rey berkata dengan sangat serius.


Dara memutar tubuhnya agar bisa melihat muka suaminya lebih intens. Ia melihat sepasang mata suaminya yang ternyata sudah basah.


"Ayo kita hidup bahagia bersama anak - anak kita. Hingga kita menua dan mempunyai cucu yang lucu - lucu dan menggemaskan," ucap Dara seraya mengusap cairan bening dari pelupuk mata suaminya.


"Terimakasih sayang, sekali lagi aku sangat berterimakasih," Rey memeluk erat tubuh Dara, menenggelamkan kepala istrinya ke dalam dada bidangnya.


Bersmbung~~