Luka Cinta Dara

Luka Cinta Dara
Bab 72 Mengungkit masa lalu



Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..


✓Like 👍


✓Coment 💬


✓Rate 5 ⭐


✓Vote 💰


Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗


🍂 Selamat membaca 🍂


Rey yang masih fokus dengan setir kemudinya juga terlihat penasaran dengan pertanyaan yang akan dilontarkan istrinya.


"Sayang, kamu jadi bertanya atau tidak? tanya Rey yang mendapati istrinya masih terdiam.


Sedangkan Dara masih berusaha mengatur perasaan dan menyiapkan diri guna berjaga - jaga jika dia mendapatkan jawaban yang tidak dia senangi dari sang suami.


"Ini tentang Bella, apa kamu dulu pernah tidur dengannya?" tanya Dara mantap.


"Sayang, kan kamu sudah tahu, waktu itu aku di jebak dan kenyataannya aku tidak menidurinya saat itu, karena aku sudah keburu pingsan," papar Rey serius.


"Bukan di waktu itu yang aku maksut,"


"Terus di waktu yang mana? hmm?"


"Setelah kamu menikahinya, kan kamu sering tidur di kamarnya waktu itu. Pasti kamu sering berhubungan badan dengannya," timpal Dara yang mulai merasa miris. Mengingatkannya pada kenangan pahit yang ingin dia lupakan. Tapi rasa penasarannya membuatnya menguak kembali kenangan itu.


Mendengar pertanyaan serius dari sang istri, Rey lantas menepikan mobilnya di pinggir jalan.


"Sayang kenapa kamu menanyakan hal itu?" Rey mengerutkan dahinya.


"Jadi benar kamu pernah meniduri Bella?" tanya Dara dengan mata yang mulai berkaca - kaca.


"Bukan begitu sayang, aku hanya nggak mau mengungkit kenangan buruk itu," sanggah Rey seraya membalas tatapan mata Dara.


"Kamu tinggal jawab, pernah menidurinya atau tidak?"


"Baik, aku akan menjawabnya. Meski dulu status kami suami istri, tapi aku tidak pernah menidurinya. Ketika bersama Bella aku seperti tidak ada hasrat, karena aku tidak mencintainya. Tidak seperti di saat aku bersamamu yang selalu membuatku menginginkan tubuhmu," jelas Rey serius.


"Ck! tidak ada nafsu tapi nyatanya aku melihat sendiri tanda - tanda merah bertebaran di lehermu waktu itu," Dara tersenyum sinis.


"Sabar...sabar Rey, istrimu sedang hamil," batin Rey.


"Itu bukan kemauanku sayang, Bella sendiri yang menghamburkan tubuhnya kepadaku tapi akhirnya aku menolak permintaannya," Rey mencoba sebisa mungkin berbicara dengan tenang. Mengingat istrinya yang sedang hamil.


"Jika kamu langsung menolaknya tidak mungkin bisa sampai membekas seperti itu kecuali kalau kamu sempat menikmatinya sebelum menolak," cibir Dara yang mulai kesal.


"Mampus! bagaimana aku menjelaskannya?" batin Rey yang mulai resah.


"Sayang, waktu itu Bella adalah istriku, aku hanya mencoba berperan sebagai suami yang semestinya untuknya,"


"Oow.. jadi benarkan? waktu itu kamu hampir terlena dengan cumbuan wanita itu?"


"Bodoh! kamu bodoh Rey! mampus.. mampus!" Rey mengutuki dirinya di dalam hati.


"Sayang, tapi pada akhirnya aku kan menolaknya karena aku nggak bisa melakukannya selain denganmu. Dari dulu hingga sekarang aku hanya menginginkanmu. Aku bahkan lebih sering tidur di sofa saat berada di kamar Bella," ucap Rey dengan sangat hati - hati.


Kali ini Rey memang sedikit berbohong. Dulu dia memang sempat tidur satu ranjang dengan Bella meski hanya sekali. Itu pun dengan alasan rasa iba dan bersalahnya. Namun ketika Bella sudah tertidur, pria itu kembali lagi pada sofa kamar. Pada hakikatnya, hati Rey tetap tidak bisa memberikan ruang untuk wanita lain. Bahkan tubuhnya seakan tidak ada reaksi sedikitpun ketika bersentuhan dengan wanita selain Dara.


"Benarkah?" raut muka Dara terlihat mulai melunak.


"Iya sayang aku nggak bohong," Rey meyakinkan Dara seraya menggenggam tangan sang istri.


"Aku mau tanya lagi?"


"Nah loh, mau tanya apa lagi dia?" batin Rey yang sebenarnya takut salah bicara lagi.


"Mau tanya apa lagi sayang?"


"Dulu apa tujuanmu menjadikan aku sebagai taruhan?" tanya Dara menyelidik.


"Ya ampun sayang, itu sudah lama sekali, kenapa harus dibahas lagi?" Rey mulai protes.


"Kalau nggak mau jawab, jangan harap mendapat jatah malam ini," ancam Dara yang penuh penekanan.


"Oh tidak, aku sudah 3 bulan lebih tersiksa karena nggak dijatah. Nggak boleh, hal itu nggak boleh terjadi lagi,"


"Baik aku akan jawab. Semua itu karena Radit sayang. Dia yang memaksa aku untuk menerima tantangannya. Awalnya aku nggak mau, tapi Radit maksa terus," jelas Rey memasang tampang memelas dan menjadikan Radit sebagai kambing hitam.


"Haha..., mampus lo Dit," dalam hati Rey tersenyum licik.


"Memang kalian kira aku itu barang?" Dara tampak kesal.


"Maaf sayang," lagi - lagi Rey memasang wajah melasnya.


"Sepertinya aku tidak akan puas sebelum memberi kalian berdua hukuman!"


"Suruh Radit datang ke rumah atau selama sebulan kamu tidur di kamar tamu, dan jangan harap mendapat jatah hingga aku melahirkan!" ancam Dara.


"Apa itu perlu sayang, kita kan bukan anak kecil lagi. Kenapa harus dihukum segala?" timpal Rey yang penuh dengan protes.


"Ya sudah. Mulai malam ini kamu tidurlah di kamar tamu," ucap Dara santai seraya bersedakap dan melemparkan pandangannya ke samping.


Rey tampak syok akan ancaman istrinya.


"Jangan sayang. Baik, baik, aku akan suruh Radit datang," suami yang takut istri itu segera meraih ponsel pintarnya dan menghubungi Radit.


Dua kali permintaan sambungan panggilan belum juga mendapat jawaban. Muka pria tampan itu terlihat panik.


"Kampret! kemana si kunyuk satu itu? kenapa panggilanku tidak diangkat?" gerutu Rey yang masih fokus dengan benda pipih di tangannya.


"Dit, sudah ah, ponselmu dari tadi berbunyi," ucap Kayla setelah menjauhkan mukanya untuk menghentikan tautan bibir Radit.


"Sudah biarin saja," Radit menautkan kembali bibirnya pada benda kenyal yang terlihat mulai membengkak karena ulah nakalnya.


"Radit! angkat dulu teleponnya," titah Kayla seraya membungkam mulut pria itu dengan tangannya.


"Hiiish! siapa sih yang telepon. Ganggu kesenangan orang saja," gerutu Radit yang kemudian meraih benda pipih yang terletak di dashboard mobilnya.


"Ternyata si monyet yang telepon," gumam Radit sebelum menerima permintaan sambungan panggilan telepon.


"Haluuu," sapa Radit.


"Halo bego, bukan halu," saut Rey protes.


"Iya halo. Ada apa lo telepon - telepon gue. Ganggu orang lagi pacaran aja," ucap Radit sewot.


"Sekarang juga lo datang ke rumah gue," titah Rey tanpa menunggu persetujuan lawan bicaranya.


"Gila ini orang, selalu bertindak seenak jidatnya," gerutu Radit setelah mendapati Rey memutuskan panggilan secara sepihak.


"Kenapa Dit?" tanya Kayla yang heran melihat Radit berceloteh tidak jelas.


"Rey nyuruh aku datang ke rumahnya sekarang," jawab Radit.


"Ya sudah ayo buruan kesana, aku juga ingin ngobrol dengan Dara,"


"Tapi Kay, kita kan ada janji berkencan setelah pulang kerja," Radit terlihat cemberut.


"Kita kan bisa kencan kapan - kapan. Lagian Rey pasti ada hal penting yang ingin disampaikan,"


"Hah. Baiklah," akhirnya Radit mengikuti perkataan Kayla dengan berat hati.


Pria itu menghidupkan mobilnya dan membawanya melaju menuju ke kediaman Rey dan Dara.


15 menit kemudian.


Radit dan Kayla sudah sampai ke tempat tujuan. Setelah menjejakkan kaki mereka pada lantai marmer ruang tamu, sambutan tidak biasa tampak dari raut muka Rey dan Dara.


Dara terlihat menekuk mukanya hingga kusut. Sedangkan Rey terlihat pasrah dengan keadaan.


"Ra, kenapa muka lo ditekuk kayak gitu?" cerca Kayla yang heran dengan sahabatnya itu. Kemudian mendaratkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu.


"Gue lagi ingin menghukum orang karena dulu pernah jadiin gue taruhan," terang Dara yang masih terlihat kesal. Kedua pupilnya bergantian menatap Rey dan Radit.


"Kenapa perasaan gue nggak enak ya?" batin Radit seraya melempar pandangan ke Rey.


"Sudah kita pasrah saja," Rey juga membatin seraya membalas tatapan Radit.


Kedua pria itu seakan sedang beradu batin.


"Duduk di sebelahnya," titah Dara kepada Radit untuk duduk di sebelah suaminya.


Radit langsung menuruti perintah Dara dengan pasrah. Rasa penasaran juga memenuhi pikirannya saat ini.


"Rey bilang lo yang mengajaknya taruhan, apa itu benar?!" tanya Dara ke Radit.


Pria yang dicerca pertanyaan itu tercekat. Lantas dia menghunus tatapan tajam ke Rey yang duduk di sebelahnya.


"Dasar tukang ngadu," gumam Radit sangat lirih yang ditujukan ke Rey. Mulutnya terlihat komat kamit.


"Gue juga nggak ada pilihan karena dia ngancam nggak bakal ngasih jatah," balas Rey lirih dengan gerakan mulut komat kamit.


"Kenapa kalian malah ngobrol sendiri?" cerca Dara kesal.


"Tanganku rasanya sudah gatal sekali ingin memelintir sesuatu," ucap Dara seraya memicingkan matanya. Dia kini sudah berdiri tepat di hadapan kedua pria yang kini terlihat pasrah.


Dengan gerakan secepat kilat, kedua tangan Dara meraih daun telinga Rey dan Radit. Mencapit dan menarik dengan kuat disertai gerakan memelintir yang menambah sensasi panas pada telinga mereka.


"Aw! sakit sayang, jangan keras - keras," Rey mengadu.


"Ra, telinga gue bisa putus lama - lama. Adu du du du," Radit juga mengadu.


"Biar tahu rasa kalian. Aku akan lepasin kalau sudah merasa puas," seru Dara.


"Kay, tolongin dong," Radit meminta bantuan ke Kayla.


Namun Kayla malah terlihat menikmati tontonan gratis di hadapannya. Gelak tawanya terdengar renyah.


"Hahaha.. terus Ra, jangan lepasin sebelum putus, hahaha," seru Kayla memberi dukungan pada Dara.


Suasana ruang tamu berubah ramai. Suara teriakan Radit dan Rey karena kesakitan, suara Dara yang berceloteh karena kesal, serta suara gelak tawa Kayla memenuhi langit - langit.


Setelah Dara merasa puas, kini dia mulai melepaskan capitan tangannya dari telinga Rey dan Radit yang sudah terlihat memerah. Kedua pria yang baru saja selesai menerima hukuman tersebut terlihat meringis seraya mengusap - usap daun telinganya yang terasa hampir putus.


"Fyuh! akhirnya aku puas sekarang. Sepertinya bayiku juga merasa puas," ujar Dara sambil mengusap perutnya yang sudah terlihat sedikit membesar.


"Lo tega sekali sama gue Ra. Bagaimana jadinya di hari pernikahan, gue nggak punya telinga? kan nggak keren," protes Radit.


"Apa? jadi kalian akan nikah?" Dara terkejut mendengar kalimat protes dari Radit.


"Kay, jadi beneran lo bakal nikah? kapan?" tanya Dara kepada Kayla. Dia terlihat sangat senang.


"Iya, kalau nggak ada halangan, 2 bulan lagi kami akan menikah," jawab Kayla yang tidak kalah senangnya dengan Dara.


"Waah.. selamat ya, akhirnya sahabat gue nikah juga. Gue sempat khawatir kalau lo bakal jadi perawan tua," selorok Dara.


"Ishh! enak aja kalau ngomong," timpal Kayla.


Bersambung~~