
Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..
✓Like 👍
✓Coment 💬
✓Rate 5 ⭐
✓Vote 💰
Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗
🍂Selamat membaca🍂
"Dimana dia sekarang?" Tanya Rey berantusias.
"Seperti yang kita duga, Nyonya Dara memang sedang berada di London," jawab sang asisten.
Senyuman lebar tercetak pada muka Rey yang terlihat pias itu. Setelah sekian lama dia mencari wanitanya yang menghilang, akhirnya menuahkan hasil.
"Ok, persiapkan penerbangan menuju London untuk hari ini," titah Rey.
"Tapi Tuan, apa tidak terlalu mendadak?"
"Besok kita masih ada janji bertemu klien," tukas sang asisten.
"Kita bisa menundanya di hari lain," timpal Rey. Bagi Rey, tidak ada yang lebih penting selain segera menemui Dara untuk saat ini.
Namun tiba - tiba Rey merasakan badannya begitu lemas. Kepalanya terasa berat, seakan sedang memanggul sebuah batu besar di atasnya.
"Anda tidak apa - apa Tuan?" sang asisten mulai panik mendapati Bosnya yang terlihat pucat pasi itu.
"Jangan hiraukan saya. Lekas siapkan pener.." Ucapan Rey terputus, karena dia sudah tidak sadarkan diri dan tubuhnya terjatuh namun sempat ditangkap sang asisten.
* * *
Inggris, London, 08.00 Am
Musim gugur masih menyambut pagi. Suhu udara yang semakin menurun, sebagai tanda musim gugur akan tergantikan musim dingin.
Pekatnya aroma kopi menembus indra penciumannya. Dara mensesap kopi panasnya seraya mengecek satu persatu email pada layar laptopnya.
Dara memang meminta Kayla untuk mengirim laporan kerja secara rutin. Meskipun sekarang dia berada jauh dari perusahaannya, tidak semerta merta dia lepas tangan begitu saja akan tanggungjawabnya.
Dara mengambil ponsel pintarnya. Dia berniat melakukan video call pada sahabatnya itu. Dara menekan tombol dial pada layar ponselnya.
Tut...
Hanya satu kali sambungan Dering, Wajah Kayla sudah terlihat memenuhi layar ponsel Dara.
"Hola..Hola," sapa Kayla bersemangat.
"Haii, " jawab Dara ceria.
"Gue kangennn Kay," sungut Dara tanpa basa basi.
"Uwuuuuhhhh... gue juga kangen... emmm," Kayla menampilkan muka sedih yang dibuat - buat.
"Lebay ihh!"
"Yaelah, lebay gimana sih? emang gue beneran kangen kok!"
"Andai lo nggak nitipin perusahaan, sudah pasti gue bakal nyusul lo kesana," gerutu Kayla.
"Bilang aja lo pingin cuci mata disini," tukas Dara.
"Hahaha.. lo ngerti banget apa yang gue pikir,"
"Kali aja salah satu abang - abang bermata biru disana adalah jodoh gue," canda Kayla.
"Gue heran sama kedua sahabat gue. Yang satu mesum dan yang satunya lagi genit," Dara menggelengkan kepalanya melihat dua sifat kedua sahabatnya, Kayla dan Radit.
"Enak aja lo kalau ngomong!" ketus Kayla.
"Lo kapan sih Kay nikahnya?" tanya Dara santai seraya mensesap kopinya.
"Nunggu sampai lebaran monyet bubar!" sungut Kayla, yang selalu sensi dengan satu pertanyaan itu.
"Jadi perawan tua dong. Napa nggak sekalian jadi biksuwati saja?!" Dara terlihat mengulum bibirnya, menahan tawa.
"Lo tega liat sahabat lo ini tanpa sehelai sehelai rambut?!" sewot Kayla.
"Hahaha... Habisnya lo nggak ada niat nikah," Tawa Dara pecah.
Dara masih bertahan dengan tawanya yang bebas. Semakin Kayla terlihat ngambek, tawanya kian pecah. Namun tawanya perlahan - lahan berkurang.
"Eh Kay, lo kenapa nggak kencan sama Radit saja? sifat kalian sama - sama bar bar. Sepertinya kalian cocok," canda Dara yang masih ada sedikit guratan tawa pada mukanya .
Raut muka Kayla berubah total setelah mendengar pertanyaan Dara. Mendengar nama Radit saja sudah cukup buat jantungnya berdenyut hebat. Apa lagi membayangkan untuk berkencan dengannya. Tapi dengan cepat Kayla menepis pikirannya yang dirasakan mustahil itu. Dia tidak ingin terlalu berharap.
"Weh? Ha..hahaha.. Apa'an sih, mana mungkin gue kencan dengan dia," kilah Kayla yang masih tersenyum kikuk.
Dara dibuat terkejut didalam hati. Matanya sempat menangkap perubahan ekspresi sesaat sahabatnya itu. Pertanyaan iseng Dara justru memancing sesuatu yang ditelah disembunyikan sahabatnya itu dalam - dalam.
"Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin Kay," timpal Dara yang mulai menyadari perasaan sahabatnya itu.
"Sudah ah, kayak nggak ada hal lain aja yang dibahas," Kayla berkilah.
"Baik, kalau begitu saya akan melanjutkan kerjaan saya Bu Bos," Ijin Kayla dengan bahasa formalnya yang dibuat - buat.
"Oke, selamat bekerja. Muahhh," Kecupan jauh Dari Dara untuk sahabatnya.
"Muahhh," Kayla membalasnya.
Tut. Video call berakhir.
"Hahhhhh..." Dara menghela napasnya pelan. Setelah menyadari perasaan Kayla ke Radit, ingatannya mengulang kembali tentang kejadian dua hari yang lalu. Di saat Radit sekali lagi mengungkapkan perasaan kepadanya.
Iya, Radit memang sudah pernah menyatakan perasaannya sebelumnya. Namun hatinya tidak bisa berbohong. Dia masih trauma untuk menjalin cinta lagi. Lagian dia tidak mungkin menyakiti perasaan Kayla.
Tet.. Tet..
Terdengar suara bel pintu. Dara melangkahkan kakinya mendekati pintu masuk apartmentnya.
Tet.. Tet..
Namun baru beberapa langkah suara bel terdengar lagi.
"Siapa sih yang datang? nggak sabaran banget! gerutu Dara.
Sebelum membuka pintu Dara melihat ke arah layar monitor kecil yang terpasang di samping pintu untuk mengetahui siapa orang yang sepertinya tidak sabaran itu.
Dara melihat ada seorang pria bertubuh tinggi. Namun dia tidak bisa melihat mukanya, karena pria tersebut membelakangi pintu.
"Apa mungkin itu Radit? ada perlu apa dia datang kemari pagi - pagi gini?" Dara masih menggerutu.
Ceklek!
Tanpa berpikir panjang, wanita cantik itu membuka pintunya. Dan pada saat itu juga pria yang sudah berdiri disana membalikkan badannya ke arah wanita pemilik apartment.
Mata cantik Dara langsung membulat sempurna. Mulutnya sedikit ternganga karena tidak percaya dengan siapa dia berhadapan sekarang.
Dengan sigap Dara berniat menutup kembali daun pintu yang masih terbuka, namun usahanya gagal. Tangan kekar sang pria menahannya dengan kuat.
Tidak berhenti di situ saja. Dengan panik Dara mencoba meraih tangan pria yang sedang menahan pintu agar mau melepasnya. Tapi sepertinya tenaga pria tersebut 10x lipat lebih besar jika dibandingkan dengan tenaga tubuh kecil Dara.
Alhasil, pria itu berhasil masuk ke dalam apartmentnya dan menutup pintunya dari dalam.
"Kamu?! ngapain kamu datang kemari?! tanya Dara panik.
"Dara, akhirnya kita bisa bertemu kembali setelah sekian lama," ucap Rey sendu.
"Nggak! jamu pergi sekarang!" seru Dara.
Keberadaan Rey justru membuat dia mengingat kembali akan masa lalunya. Rasa sakitnya yang sudah lama dia pendam di dasar hati, kini kembali muncul ke permukaan.
"Aku mohon Ra, jangan usir aku. Aku sangat merindukanmu," terlukis rasa rindu yang mendalam pada muka Rey yang terlihat pucat.
"Aku mohon kamu pergi sekarang," pinta Dara dengan nada yang sedikit menurun di ikuti langkah kaki mundur menjauh Rey yang sedang berusaha mendekat.
Rey masih melangkahkan kakinya mendekati Dara. Hingga langkah Dara terhenti karena tubuhnya membentur dinding.
Sekarang tubuh mereka hanya berjarak beberpa senti saja. Rey yang sudah lama memendam rindu kini tidak bisa manahan hasratnya untuk memeluk Dara.
Tangannya yang kekar melingkari tubuh Dara. Menenggelamkan mukanya pada ceruk leher Dara. Menghirup aroma tubuh yang sudah lama dia rindukan. Terlihat Dara meronta - ronta berusaha lepas dari dekapan Rey.
Rey sedikit menjauhkan mukanya. Sekarang dia bisa memandang dengan intens muka wanita yang sedang berada di depannya. Mengusap lembut pipi Dara. Memastikan bahwa ini bukanlah sekedar mimpi.
"Kamu masih saja cantik sayang," puji Rey lembut.
Dia tidak peduli dengan tatapan tajam Dara yang sedang menghujamnya saat ini. Dara masih saja mencoba mendorong tubuhnya untuk menjauh, namun hal itu semakin mempererat pelukan Rey.
Rey menurunkan pandangan pada bibir ranum Dara yang tanpa polesan warna tersebut, tapi masih tetap menggoda. Bibir yang telah lama tidak dia cecap.
Dengan cepat, Rey mendaratkan bibirnya pada bibir Dara. Dara sungguh terkejut dengan tindakan tiba - tiba pria yang sudah lama dia lupakan itu.
"Emmmm! emmmm!"
Terdengar suara Dara yang tertahan karena terbungkam oleh bibir Rey. Namun Rey masih saja gencar melakukan aksinya. Ciumannya kini begitu dalam. Seolah sebagai jembatan menyalurkan hasrat kerinduannya yang mendalam.
Dara yang bertanaga lemah mulai pasrah akan perlakuan Rey. Energinya sudah terkuras habis setelah mencoba lepas dari sang pria yang berkahir sia - sia.
Rey yang menyadari tubuh Dara sudah tidak memberontak lalu menghentikan ciumannya. Ditangkupnya muka cantik Dara dengan kedua tangannya. Dahi mereka saling beradu dengan napas yang tersengal - sengal.
Hembusan napas Rey yang menyapu muka merah Dara terasa panas. Dara juga merasakan suhu tubuh Rey melebihi suhu normal.
"Akhirnya, aku menemukanmu,"
"Aku sangat merindukanmu sayang," duara Rey terdengar lemah dan semakin kecil.Tubuhnya semakin lemah.
"Aaaaahhh!" teriak Dara yang melihat Rey yang terhuyung maju menimpa tubuhnya.
Bersambung~~