
Selama satu bulan lebih setelah adegan ciuman di mobil, Dara selalu berusaha menghindar dari Rey. Tapi bukan Rey namanya jika harus berhenti di tengah jalan. Mendekati Dara secara terang - terangan di depan publik. Sehingga tak khayal buat murid - murid cewek iri dan dengki, tak luput pula mereka beberapa kali membully Dara. Karakter Dara yang kuat dan tegar tak mengambil pusing hal semacam itu. Nggak penting menurutnya.
* * *
"Good morning Papa." Sapa Dara sembari mendekati meja makan yang sudah berisi beberapa menu sarapan pagi.
"Good morning kesayangan Papa," Papa dimas memberi belaian lembut pada rambut panjang Dara, lalu tiba - tiba mengacak - acak rambutnya yang tadinya rapi menjadi berantakan.
"Iihh! Papa ko gitu sih, rambut Dara berantakan kan jadinya?" sungut dara kesal.
"Hehehe, Papa gemes,"
"Idih, i am not kid anymore Pa,"
"Bagi Papa kamu tetap my little Princes sayang."
"Hehehe.."
Dara meletakkan nasi goreng dan telur ceplok di piring papanya. Menuangkan susu di gelasnya yang masih kosong. Selesai menikmati sarapan paginya, Dara bergegas mencium tangan dan pipi sang Papa.
"Dara brangkat sekolah dulu ya Pa, Papa brangkat kerja hati - hati. Nyetir mobilnya jangan ngebut - ngebut. Pulang jangan malam - malam. Papa udah tua harus lebih jaga kesehatan."
"Iya sayang," sang Papa terkekeh geli mendapati anaknya yang cerewet itu.
"Oke..bye bye." Gadis itupun melangkahkan kakinya berlalu keluar rumah.
Di luar gerbang terlihat Kayla yang sudah memarkirkan mobilnya siap menjemput Dara.
Kayla dan Dara memang sering berangkat sekolah bersama.
Dalam perjalanan ke sekolah Kayla memulai pembicaraan.
"Ra, lo masih masih belum bisa buka hati lo ke Rey?
"Tau ah Kay, gue juga masih bingung dengan perasaan gue,"
"Lo harus pastikan perasaan lo yang sebenarnya. Jangan sampai lo nyesel karena terlambat,"
"Maksut Lo?"
"Gue rasa Rey itu serius loh dengan perasaanya sama lo,"
"Owhh,"
"Tapi hati manusia bisa berubah loh Ra, apa lagi selama ini lo cuek bebek terus sama Rey. Apalagi banyak cewek yang ngefan sama itu cowok," beber Kayla.
Dara mulai berfikir keras. Apalagi dari kemarin Rey tidak mengirim pesan spam lagi, yang sebenarnya buat Dara merasa ada yang kurang. Biasanya Rey rutin mengirim pesan spam yang entah sejak kapan Dara mulai terbiasa.
* * *
Kelas Dara diawali dengan mata pelajaran Olah Raga. Semua murid menuju lapangan dengan setelan seragam Olah Raganya. Dara dan Kayla masing - masing menenteng dua buah bola basket dan perlengkapan lainnya yang di ambil dari gudang perlengkapan Olah Raga. karena hari ini kebetulan pas piket mereka.
Priiitt...priiitt..!! terdengar suara peluit Pak Anam Guru Olah Raga yang memenuhi isi lapangan. Sebuah kode agar murid - murid segera berkumpul pada sumber suara, karena kegiatan akan dimulai.
* * *
Jam mata pelajaran pertama dan ke dua telah usai. Rey bergegas pergi ke toilet, sudah nggak bisa nahan kencing lebih lama. Sudah sampai pucuk, berontak minta dibebaskan.
Usai keluar dari toilet, Rey bertemu dengan Si Inces perawan tua pemilik kantin yang ternyata sudah dari tadi mengincarnya dari luar toilet. Rey bergidik, merinding, terkejut bukan kepalang.
"Kamprettt!! mimpi apa gue semalam?!" umpatnya dalam hati.
"Hai ganteng, ke kantin aku yuk, gratis khusus buat kamu," berglayut manja di lengan Rey.
"Terimakasih, gak laper!" Rey berusaha melepaskan tangan kriput si nces yang sedari tadi sudah meremas - remas gemas lengannya.
"Ayoo, nanti aku suapin," tersenyum genit, menampakkan gigi depannya yang sudah ompong satu.
"Selamat siang Pak!" seru Rey sembari menunduk hormat kepalanya.
Ketika Si Inces terkecoh, Rey menggunakan kesempatan ini untuk kabur. Berlari dengan speed dua kali lipat tanpa menoleh kebelakang. Dia masuk ke Gudang tempat penyimpanan peralatan Olah Raga. Bersembunyi di belakang pintu.
"Buset dah itu orang, nyusahin gue mulu," gerutu Rey pelan. Rey menghirup udara dengan rakus karena kehabisan napas setelah berlarian. Dia berniat keluar gedung setelah kondisi dikira sudah aman dari jangkauan prawan tua itu.
"Ceklek.."
Suara handle pintu terbuka.
Rey gugup, takut persembunyiannya akan ketahuan. Tapi apa yang diliatnya sekarang justru menciptakan deguban jantung yang dua kali lebih cepat kerjanya dari pada waktu dikejar - kejar tadi.
"Dara?" panggil Rey di dalam hati.
* * *
Mata pelajaran Olah Raga telah usai. Semua berhamburan pergi dari lapangan. Dara dan Kayla merapikan peralatan Olah Raga dan hendak mengembalikannya ke gudang.
"Lo kenapa Kay? kok mukanya merah padam gitu?" Dara heran melihat ekspresi Kayla yang sedari tadi seperti menahan sesuatu.
"Gue dari tadi nahan berak nih, udah sampai pucuk nih," Kayla meringis.
"Yaelah, ya buruan sana ke toilet, jangan sampai lo berak di celana!" Dara tertawa mengejek.
"Tapi lo gak apa - apa ngurus ini perlengkapan sendirian?"
"Gue malah lebih apa - apa kalau lo sampai berak di celana. Anggap aja kita gak berteman. Gue malu punya teman berak di celana," cibir Dara.
"Busettt!! ini anak kalau ngomong gak pernah di saring, ampas semua. Sakit hati gue!"
"Nunggu apa lagi? buruan pergi sana, dah bau busuk dari tadi," ejek Dara sambil menutup hidung.
"Iyaa..iya.." Kayla langsung berlari menjauh untuk menuntaskan hasratnya.
Dara berjalan menuju gudang sendirian dengan sedikit kesusahan membawa perlengkapan Olah Raga.
Sampai di depan gudang dia bergegas membuka pintu. Baru empat langkah memasuki gudang betapa terkejutnya dia. Ada seseorang yang menarik tubuhnya dan menyekap mulutnya agar tidak berteriak. Dara mencoba berontak tapi tubuh orang yang menyekapnya dari belakang itu terlihat lebih besar dan kuat.
"Sstttt..!! Raa ini aku. Jangan berisik," bisik Rey untuk menenangkan Dara.
Dara menyelidik, dia mengenali suara ini dan masih hafal dengan pemilik aroma parfum khas cowok ini. Dia membalikkan badannya ke belakang.
"Rey?!"
"Ssttt, jangan bersuara!" Rey meletakkan jari telunjuk di bibir Dara.
Tindakan Rey sontak membuat Dara terdiam kaku. Hal sekecil itu sudah berhasil membuatnya jantungnya berdegub kencang.
Mereka masih dalam posisi yang sama beberapa menit. Tubuh mereka sangat dekat.
Kedua pasang netra tersebut saling berpandangan. Mencoba berinteraksi dalam diam. Seakan mereka saling mencurahkan perasaanya yang berada jauh di dalam hati yang paling dalam.
"Kamu kemarin kemana aja? biasanya kamu selalu kirim pesan spam ke ponselku?" tanya Dara memberanikan diri.
"Maaf kemarin ponsel aku hilang, belum sempat beli lagi karena Bokab aku ngajak ke Perusahaannya soalnya," tukasnya.
Rey tersadar, bahwa Dara mulai terbiasa dengan keberadaanya sekarang. Tidak ada penolakan saat tubuh mereka berdekatan.
"Terus kamu kenapa sembunyi disini kayak dikejar setan?"
"Iya aku mang lagi dikejar setan nih," jawab Rey spontan sambil mengamati diluar kaca jendela. Berharap setannya sudah pergi beneran.
Dara terkekeh mendengar jawaban spontan cowok yang berada di hadapannya sekarang. Rey menatap kedua netra cantik yang berada di depannya saat ini. Menatapnya sangat dalam. Dara menyadarinya, dan balik menatap netra tegas milik Rey. Mereka terdiam sejenak.
"Ra..? aku kangen,"
"Perasaan setiap hari bertemu deh,"
"Tapi gak seperti sekarang. Gak sedekat ini,"
Dara salah tingkah mendengar ucapan Rey.
"Ra..?" panggilnya lagi.
"Hmm"
"Boleh gak?"
"Apa?"
Jari Rey mengusap lembut bibir Dara, sebagai jawaban keinginan Rey.
"Cup!" ciuman singkat dari Dara. Dia mengerti maksut dari cowok yang mulai mengganggu pikirannya akhir - akhir ini.
Rey benar - benar tidak menyangka Dara berinisiatif sendiri, mendaratkan sebuah ciuman manis ke bibirnya. Hari ini tentu menjadi hari spesial baginya, dimana sang pujaan hati ternyata membalas perasaannya.
Bersambung~~
Jangan lupa mampir di karya author satunya lagi ya, masih on going. Ditunggu kunjungannya🥰