
Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..
✓Like 👍
✓Coment 💬
✓Rate 5 ⭐
✓Vote 💰
Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗
🍂Selamat membaca🍂
Papa Rengga dan Mama Rani sedang menjenguk Nicho yang kini tengah terbaring di kamar perawatan Rumah Sakit. Kondisi kesehatan semakin melemah. Penyakit yang menggerogoti tubuhnya semakin merajai. Bahkan kakinya sudah tidak mampu menopang tubuhnya meski hanya sekedar untuk berdiri.
"Sekali lagi saya benar - benar minta maaf," ucap Nicho yang penuh sesal.
"Sudah jangan terlalu banyak bicara, kamu sedang sakit dan kami juga sudah memaafkanmu," ucap Papa Rengga menenangkan.
"Terimakasih, terimakasih banyak, meski saya tahu saya tidak pantas mendapat maaf dari kalian,"
Kini Papa Rengga mengalihkan pandangannya kepada Mama Rani, dia sedikit mengangguk sebagai tanda bahwa dia mengijinkan istrinya untuk menyampaikan sesuatu yang memang sudah mereka bicarakan sebelumnya.
"Nicho, sebelumnya kami berdua sudah membicarakan hal ini," sekarang Mama Rani yang berbicara.
Nicho hanya diam seraya menunggu Mama Rani melanjutkan perkataannya.
"Bagaimanapun juga yang lalu biarlah berlalu. Kamu masih kami anggap sebagai anggota keluarga sendiri, Maka dari itu ijinkan kami merawat anakmu,"
FLASHBACK ON
"Ma? Pa? Rey ingin meminta sesuatu,"
"Apa yang ingin kamu pinta?" tanya Papa Rengga yang diikuti anggukan Mama Rani.
"Tolong rawatlah anak Nicho. Kasian sekali jika dia harus dititipkan di panti setelah Ayahnya meninggal. Lagian Nicho juga rela mendonorkan matanya untuk Dara. Rey merasa berhutang budi kepadanya," pinta Rey.
"Kenapa tidak kamu dan istrimu yang merawatnya?" tanya sang Papa.
"Rey tidak bisa merawatnya. Lagian pernikahan Rey dan Dara juga tidak bisa dipertahankan lagi,"
Sepasang orangtua tersebut merasa heran dengan pernyataan putranya. Namun mereka tidak ingin terlalu ikut mencampuri urusan rumahtangga putranya.
Sebagai pria sejati, Rey benar - benar akan menepati janjinya. Dia juga tidak ingin melihat lebih banyak penderitaan lagi yang terus menghampiri wanita yang sangat dia cintai begitu dalam tersebut. Kali ini Rey mencoba merelakan Dara untuk mencari kebahagiaannya sendiri tanpa kehadirannya.
"Kami tidak ingin terlalu ikut campur dengan urusan rumahtangga kalian. Tapi Papa dan Mama berharap kamu pikir matang - matang pada setiap keputusanmu. Jangan menentukan keputusan di saat otak dan hatimu panas."
"Mama sekarang sangat berharap hubungan kalian bisa kembali baik seperti dulu," sela Mama Rani dengan rasa sesalnya.
"Kami akan merawat anak Nicho, kamu tenang saja," timpal Papa Rengga.
"Terimakasih Pa,"
"Papa nggak habis pikir, dulu karena merasa kasian dan berhutang budi, kamu memohon kepada Papa untuk menerima Nicho masuk ke dalam keluarga Erlangga. Dan sekarang hal itu terulang lagi kepada anak Nicho," beber sang Papa yang disertai senyuman pada muka tuanya.
FLASHBACK OFF
"Benarkah kalian bersedia merawat anak saya?" Terlihat pancaran kebahagiaan pada kedua mata sayu Nicho.
"Maafkan saya, tapi saya tidak pantas mendapatkan kebaikan kalian lagi," tiba - tiba raut mukanya berubah sendu,"
"Kami akan merawat anakmu, kamu jangan berfikir yang lainnya. Anakmu akan terjamin jika bersama kami," ucap Mama Rani.
"Lagian Rey akan marah jika kami tidak menuruti keinginannya," tambah Papa Rengga.
Raut muka Nicho tampak bertanya - tanya.
"Iya, Rey meminta kepada kami untuk merawat anakmu, seperti dia meminta kami untuk menerimamu dulu,"
Ceklek! Suara knop pintu yang berputar membuyar suasana haru di dalam ruangan. Dari balik pintu muncul Kayla yang dan Dara yang sedang duduk di atas kursi rodanya.
Kedatangan mereka menarik perhatian Papa Rengga, Mama Rani, serta Nicho.
"Nona Dara," ucap Nicho lirih.
Papa Rengga dan Mama Rani pun berinisiatif memberi ruang kepada Dara dan Nicho untuk berbicara. Mereka sudah mengetahui sebelumnya bahwa Dara juga akan mengunjungi Nicho. Mereka berdua pun melangkahkan kakinya dan berlalu pergi.
Nicho menatap Dara sendu. Merasa iba dengan kondisinya. Apalagi dengan tatapan Dara yang kosong seakan tidak ada obyek yang menjadi sasaran bidikan matanya.
"Nona maafkan saya," ucap Nicho yang sedang terbaring lemah.
"Sudahlah, aku sudah memaafkanmu," timpal Dara dengan tersenyum.
"Apakah Nona Dara sangat membenciku?"
"Rasanya sekarang bukan waktunya untuk membenci lagi,"
Nicho tiba - tiba teringat akan cerita Kayla beberapa hari yang lalu tentang kerenggangan hubungan ruamahtangga Rey dan Dara. Dia berfikir, mungkin ini kesempatan trakhirnya untuknya meluruskan semuanya.
"Apa Nona Dara masih kecewa dan membenci Tuan Rey?"
Dara hanya terdiam mendengar pertanyaan Nicho. Sejujurnya sekarang Dara lebih merasa kecewa karena selama dia dirawat di Rumah Sakit, Rey tidak pernah ada.
"Jangan tanyakan hal itu, karena aku tidak tahu," jawab Dara.
"Tuan Rey sangat mencintaimu. Mungkin selama ini dia sangat mengecewakan dan menyakitimu, tapi semua itu bukan karena disengaja. Ini semua karena kesalahan saya Nona,"
"Dan beberapa hari yang lalu saat kami bertemu, Tuan terlihat sedih ketika melihat Nesya putri saya karena mengingatkannya pada calon bayinya yang telah tiada,"
"Dia bahkan menghilangkan egonya untuk berterimakasih dan seakan melupakan semua kesalahan saya karena bersedia mendonorkan mata saya kepada Nona,"
"Nona Dara bahkan bisa memaafkan saya yang notabene penyebab utama permasalahan. Seharusnya Nona juga bisa memaafkan Tuan Rey," masih lemah Nicho berbicara panjang dengan penuh harapan agar rumahtangga sepasang kekasih tersebut kembali harmonis.
Sedangkan Dara hanya membisu namun otaknya mencoba untuk mencerna setiap perkataan Nicho.
"Maafkan saya jika terlalu lancang berbicara seperti ini. Saya hanya berharap kalian bisa kembali bersatu dan saya bisa mati dengan tenang Nona," sambungnya lagi seraya tertunduk.
"Terimakasih karena kamu peduli dengan rumahtanggaku, tapi biarkan aku tentukan sendiri kemana akan aku bawa pergi hubunganku dengan Rey," tandas Dara.
"Sekali lagi maafkan saya,"
"Sudahlah, sebaiknya kamu beristirahat dan aku akan kembali ke kamarku," ucap Dara dan memberikan isyarat kepada Kayla untuk membawanya kembali ke kamarnya.
* * *
Dua hari berikutnya.
Hari ini adalah waktu dari akhir perjuangan Nicho melawan penyakitnya yang selama ini menggrogoti tubuhnya. Nyawa masih ingin bertahan namun apalahdaya raga yang sudah tak mampu. Akhirnya Nicho menghembuskan napas terakhirnya.
Dengan prosedur - prosedur yang sudah menjadi peraturan pihak Rumah Sakit, Dokter segera melaksanakan pengangkatan kornea matanya untuk disimpan di tempat khusus. Pengangkatan kornea mata bagi pendonor yang sudah meninggal memang tidak boleh melebihi 6 jam setelah pendonor dinyatakan meninggal.
Satu hari setelah kepergian Nicho, Dara langsung menjalani jadwal operasi pencangkokan kornea mata sesuai anjuran Dokter. Kayla, Radit, Papa Rengga dan Mama Rani setia menunggu Dara selama proses operasi.
Sedangkan Rey yang mengetahui Dara sedang menjalani operasi mata hanya bisa menunggu di ruang ruang kerja kantornya dengan gelisah. Semua orang berharap proses pencangkokan kornea mata Dara berjalan lancar.
Satu jam telah berlalu. Operasi pun berjalan lancar. Terlihat sang Suster membawa Dara menggunakan kursi roda keluar dari ruangan operasi. Kini Dara sudah kembali di kamar perawatan VIPnya. Dokter mengatakan hari ini Dara sudah diijinkan pulang ke rumah.
Beberapa saat kemudian Dara sudah sampai di kediamannya. Kali ini Dara tidak kembali ke rumah Rey, namun dia tinggal di rumah masa kecilnya yang telah beberapa tahun dia tinggalkan. Rumahnya masih seperti dulu, tidak ada yang berubah. Terlihat terawat dan bersih karena bi Inah sang pembantu rumahtangga masih setia menjaganya selama Dara tidak berada di rumah.
Akhirnya Dara benar - benar merasakan kebebasan. Tiada lagi kekangan possesif Rey. Sesuai yang dia inginkan selama ini, Rey seperti menghilang di telan Bumi. Tapi entah mengapa, di dalam hatinya, Dara merasa seperti ada yang berkurang.
Bersambung~~
Maaf ya jika ceritanya sangat amburadul. Kepala Nofi lagi pusing banget soalnya. Migrainnya kumat lagi🙏