Luka Cinta Dara

Luka Cinta Dara
Bab 69 Tubuhmu Bau.



Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..


✓Like 👍


✓Coment 💬


✓Rate 5 ⭐


✓Vote 💰


Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗


🍂 Selamat membaca 🍂


( masih lanjut bab selanjutnya ya 🤗 )


Kayla terkejut dengan penampilan kekasihnya saat ini. Seharian dia tidak dapat dihubungi, sekali datang membawa muka berantakan yang penuh dengan lebam dan luka. Namun keterkejutannya sedikit lengser karena sebuket bunga mawar merah yang disodorkan Radit di depannya.


"Halo sayang, kamu pasti nungguin aku ya, aku belikan bunga untukmu?" ucap Radit seraya menyodorkan sebuket bunga yang sempat dia beli saat perjalanan menuju apartemen Kayla.


Wanita cantik itu menerima bunga itu dengan mata yang berbinar - binar. Dia mencium harum bunga yang terlihat masih sangat segar.


"Terimakasih," ucap Kayla senang yang lupa akan kekeselannya kepada Radit beberapa saat yang lalu.


"Apa lo suka?" tanya Radit seraya megusap hidup pipi putih Kayla.


"Iya," Kayla tersenyum manis sambil menganggukkan kepalanya.


"Sampai kapan kekasih lo ini dibiarkan berdiri di depan pintu?"


"Oiya lupa, hehe. Silahkan masuk Tuan," Kayla memberi jalan dan mempersilahkan Radit masuk dengan tubuh sedikit membungkuk dan tangannya mengulur ke arah ruangan, menirukan gaya seorang pelayan profesional.


"Terimakasih," Radit menanggapi akting Kayla. Mengangguk pelan dan memasang ekspresi berkarisma bak seorang Tuan Muda dari kalangan berdarah biru, kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan.


Kayla terkekeh geli melihat ekspresi muka Radit yang dibuat - buat. Gayanya juga terlihat lucu baginya.


Radit merebahkan tubuhnya di atas sofa empuk yang berada di ruang tamu, menghela nafas panjang untuk mengurangi rasa lelah setelah melewati perjuangan meminta restu kepada keluarga Kayla.


Sebelum bergabung untuk duduk pada sofa yang sama dengan Radit, Kayla terlebih dahulu meletakkan buket bunganya ke dalam vas porselin yang masih kosong.


"Sekarang jelaskan," titah Kayla yang berdecak pinggang di depan Radit.


"Jelaskan apa Kay?"


"Ini, dan ini," ucap Kayla seraya menekan luka pada tulang pipi dan kening Radit.


"Aw! ini sakit Kay!" pria itu mengadu seraya mengusap pelan pada bagian mukanya yang terasa berdenyut.


"Sebentar, gue obatin lukanya dulu, baru lo jelaskan ke gue,"


Beberapa saat Kayla kembali membawa kotak P3K.


Dengan sangat hati - hati Kayla mengobati luka Radit dengan mengolesinya betadine.


"Aw! pelan sedikit Kay...,"


"Ya ampun, ini sudah sangat pelan. Baru luka segini kamu sudah mengadu kayak bayi besar," gerutu Kayla yang kini sudah selesai mengobati lukanya.


"Sekarang jelaskan, darimana lo dapat luka - luka ini?" Kayla menuntut penjelasan.


"Ini tadi gue dipukul sama Nenek gayung, eh bukan, karena dia mukulnya pakek sapu, berarti sebutannya jadi Nenek sapu," ucap Radit yang tidak ada serius - seriusnya.


"Radit! jangan bercanda," seru Kayla yang hendak memencet lagi luka yang bertengger di tulang pipi Radit.


"Gue serius Kay," sela Radit yang dengan cekatan menutup kembali bagian yang luka yang akan menjadi sasaran Kayla.


"Seharian ini gue nemuin Bokap dan Kakek Nenek lo. Terus luka ini gue dapatin karena di pukul Nenek pakai sapu," beber Radit.


Kayla tertegun karena terharu mengetahui bahwa kekasihnya tidak berniat mengulur waktu untuk meminta restu keluarganya. Radit terlihat bersungguh - sungguh dengan ajakannya untuk menikah.


"Terus bagaimana? Apa lo mendapat restu dari mereka? Bagaimana dengan Bokap gue? apa dia juga bersedia datang," tanya Kayla. Matanya bergetar berharap pria di depannya memberi jawaban yang melegakan.


Radit tersenyum hangat. Dia menangkup kedua pipi Kayla.


"Bokap lo akan datang. Dia terlihat bahagia. Sebenarnya dia masih sangat peduli dengan lo. Gue lihat sendiri air matanya langsung menetes ketika gue menyebut nama lo," beber Radit.


"Benarkah? syukurlah," air mata haru mulai membasahi wajah ayu Kayla, namun tak meluruhkan senyuman kebahagiaannya.


"Terus kenapa Nenek gue sampai mukul lo pakai sapu?" tanya Kayla lagi yang memang belum mendapatkan jawaban inti tentang luka pada muka kekasihnya.


"Nenek mengira gue adalah Bokap lo, terus gue dipukul habis - habisan pakai sapu. Gue sudah berusaha sembunyi di balik pohon mangga di pekarangan rumahnya. Eh, Nenek lo kayaknya punya dendam kesumat sama Bokap lo. Gue nggak dibiarkan lolos. Hwaaah... Nenek lo sangat kuat dan lincah. Apa masih muda dulu dia ikut anggota pencak silat ya? Gue jadi mikir, kekuatan bogeman mentah lo itu diturunkan dari Nenek lo," cicit Radit antusias. Raut mukanya terlihat serius dalam bercerita.


"Hahahaha... pasti lucu sekali. Nenek gue memang matanya sedikit rabun, jadi nggak bisa lihat dengan jelas," suara tawa Kayla terdengar renyah.


"Ehehe, lo sepertinya terlihat bahagia sekali kalau gue menderita?" cebik Radit.


"Maaf.. maaf.. gue nggak bermaksud," Kayla mencoba berhenti ketawa dan mengusap kedua ujung matanya yang lembab.


Radit hanya diam, dia sekarang lebih fokus menatap muka Kayla yang terlihat sangat cantik karena tertawa. Dia sangat mengagumi ciptaan Tuhan yang berada di depannya sekarang. Kenapa tidak dari dulu - dulu dia menyadarinya.


Radit seketika mengingat sesuatu. Pria itu merogoh kantong celananya. Mengambil sesuatu yang bersembunyi di dalamnya. Kotak beludru kecil bewarna merah hati sudah berada di atas telapak tangan Radit.


Sepasang manik mata cantik Kayla sesaat terpaku dengan kotak kecil di hadapannya. Lalu pandangannya berpindah pada sepasang iris pemilik kotak merah tersebut.


"Kay, sekali lagi. Maukah lo menjadi pendamping hidup gue sampai di hari tua kita, hingga ajal memisahkan kita?" ucap Radit penuh harap.


Tak ingin membiarkan prianya menunggu jawaban terlalu lama, Kayla menganggukan kepalanya dengan cepat.


"Iya, sekali lagi gue akan jawab iya gue mau menjadi pendamping hidup lo sampai akhir hayat," Kayla menjawab dengan mimik muka terharu.


Radit mengambil cincin bermata berlian berwarna bening berkilau dan memasangkannya pada jari manis Kayla. Kecupan hangat sebagai stempel kepemilikan mendarat mulus pada tangan yang telah bersemayam sebuah cincin tanda ikatan cinta mereka.


"Terimakasih Kay, gue cinta sama lo,"


"Gue juga cinta sama lo Dit," masih dengan hati yang diliputi kebahagiaan, Kayla memeluk hangat tubuh Radit dan pria itupun membalasnya.


Sesaat mereka menenggelamkan rasa kebahagian akan rasa cinta yang saling berbalas ke dalam pelukan hangat.


"Pfftt!" tiba - tiba Kayla terdengar menahan tawanya di sela pelukannya.


Radit melepas pelukannya dan menamati muka Kayla yang terlihat menahan tawa.


"Emang ada yang lucu? kok lo nahan tawa gitu?"


Tawa Kayla pun pecah begitu saja setelah mengamati lagi muka Radit yang penuh dengan lebam. Mata kanan terlihat sedikit bengkak seperti habis kena tonjok. Benjol pada dahinya juga terlihat menyembul tak ada sopan - sopannya.


"Kenapa lo selalu memilih momen yang tidak pas sih?"


"Jadi lo kecewa karena nggak ada momen romantis?" Radit terlihat cemberut. Dan tentu saja itu semakin menambah gelak tawa Kayla karena mukanya semakin terlihat lucu.


"Hahaha... lo sekali lagi ngajak gue nikah tapi kali ini dengan muka yang babak belur. Muka lo sekarang kayak alien tahu nggak?"


"Hehehe, maaf. Gue nggak bisa menundanya sampai lukanya hilang soalnya," ucap Radit sambil nyengir dengan tangan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Hahaha.. Astagaaa... Please, jangan nyengir. Perut gue tambah sakit Dit,"


"Tega lo Kay ngetawain gue," sungut Radit.


"Oke, kalau itu mau lo, gue akan buat lo nggak berhenti ketawa," Radit pun mendaratkan tangannya pada perut Kayla dan membuat gerakan jari yang menggelitik.


"Hahaha.. Dit, please stop it! nanti gue bisa kencing di celana," Kayla memohon.


"Tidak akan,"


"Dit, gue mohon hentikan!" kini Kayla mulai merengek karena nggak tahan.


Radit pun menghentikan aksinya karena kasian mendengar rengekan Kayla.


Kayla terdiam sejenak, mengatur napasnya yang masih tersengal - sengal karena ulah Radit.


"Kay, mulai sekarang jangan pakai kata 'lo gue' dong. Pakai kata 'aku kamu' gitu biar lebih romantis. Lagian kita mau nikah nggak enak didengernya," pinta Radit yang sebenarnya dia sudah memikirkannya beberapa hari ini.


"Iya.. aku nurut aja apa yang kamu minta," ucap Kayla yang mulai membiasakan menggunakan aksen panggilan yang lebih sopan sesuai permintaan Radit.


Senyuman sumringah langsung merekah pada bibir Radit, mendengar Kayla menggunakan panggilan yang lebih manis menurutnya.


* * *


Keesokan paginya.


Hari sudah menjelang pagi. Dara yang terlelap dalam dekapan sang suami tiba - tiba merasa terganggu dengan rasa mual pada perutnya. Dahinya mengernyit mencoba menahan sensasi mual yang bergejolak.


Rasa mual yang merajai perutnya memaksanya bangkit dari tidurnya dan segera berlari menuju kamar mandi.


"Huek! Huek!" Dara memuntahkan semua isi perutnya.


Suara muntahan Dara terdengar jelas. Membuat Rey yang semula masih terlelap juga ikut terbangun. Calon Ayah itu langsung melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk mengetahui apa yang sedang terjadi pada istrinya.


"Sayang kamu tidak apa - apa?" tanya Rey cemas seraya memijit pelan tengkuk leher sang istri. Namun niat baiknya itu langsung di tolak sang istri.


"Kamu tolong keluar," pinta Dara yang masih dengan perut bergejolaknya.


"Tapi sayang..,"


"Aku bilang keluar. Keberadaanmu semakin buat aku mual,"


Rey tertegun mendengar perkataan sang istri. Bagaimana bisa dia berkata kasar seperti itu kepadanya. Pada akhirnya dia pun menuruti perkataan Dara. Keluar dari kamar mandi dengan perasaan cemas bercampur sedih.


Rey berinisiatif mengambilkan air minum hangat untuk mengurangi rasa mual Dara. Beberapa saat dia kembali ke kamar dengan membawa segelas air hangat di tangannya.


Saat tubuhnya sampai di ambang pintu kamar, tiba - tiba Dara berteriak yang membuat langkahnya terhenti.


"Jangan mendekat!" seru Dara seraya mengarahkan jari telunjuknya ke arah Rey sebagai isyarat untuk berhenti. Dia sudah terduduk di bibir ranjang dengan raut muka pasinya.


"Memang kenapa sayang? aku membawakan air untukmu," Rey lalu melanjutkan langkahnya yang tadi sempat terhenti. Namun tiba - tiba sebuah bantal melayang dan mendarat tepat di mukanya.


"Aku bilang jangan mendekat! bau tubuhmu semakin membuatku mual," ucap Dara yang kini sedang menutup hidungnya dengan tangannya.


"Baik, kalau begitu aku akan segera mandi," Rey berfikir mual pada istrinya disebabkan bau tubuhnya yang belum mandi.


Calon Papa itu meletakkan gelas di atas nakas kamar dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Bersambung~~