Luka Cinta Dara

Luka Cinta Dara
Bab 26 Ada nyawa baru dalam tubuhku



Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..


✓Like 👍


✓Coment 💬


✓Rate 5 ⭐


✓Vote 💰


Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗


🍂Selamat membaca🍂


Kayla memperhatikan muka sahabatnya itu. Terlihat tidak seperti biasanya. Mukanya sedikit pucat dan matanya sayu. Tampak seperti orang kurang sehat.


"Ra.. kenapa dengan muka lo?" Kayla cemas.


"Emang kenapa dengan muka gue Kay?" Dara tidak menyadari dengan mukanya yang pucat itu.


"Muka lo pucat Ra. Lo sakit?!" Kayla memastikan.


"Gue nggak sakit ko Kay," sanggah Dara.


"Nggak mungkin, muka lo terlihat tidak sehat,"


"Ini karena gue nggak pakek make up aja. Jangan berlebihan gitu ah," memang Dara merasa beberapa hari ini tubuhnya tidak bersahabat. Tapi dia sengaja menutupinya. Sahabatnya itu sudah terlalu sering dibuat khawatir karena masalah pelik rumahtangganya, jadi dia tidak ingin menambahi kekhawatirannya hanya karena masalah sepele seperti sekarang.


"Syukurlah kalau gitu," Kayla lega.


Dreeett!


Terdengar suara gesekan kaki kursi yang menyelinap di antara percakapan mereka. Sosok pria tampan beralis tebal terlihat duduk, ikut nimbrung dengan dua wanita cantik itu.


"Radit? kok lo ada disini?" tanya Kayla kepada tamu yang datang tidak diundang itu dan diikuti anggukan Dara.


"Gue nggak sengaja lihat kalian disini waktu mau cari makan siang," jelas Radit. Pupil matanya melihat ke arah Kayla dan dara bergantian. Namun sekali lagi. Tidak hanya Kayla saja. Ternyata Radit juga merasa muka Dara terlihat pucat.


"Ra, lo sakit?" cemas Radit.


"Nggak ko Dit, kalian berdua kompak banget sih. Pertanyaannya bisa sama gitu?" Dara masih berusaha menyela.


"Iya kan, bukan gue aja. Radit aja juga berfikiran sama," kata Kayla.


"Gue ke toilet dulu ya," Dara mencoba menghindar. Lagian Dara sedaritadi sudah merasa mual. Rasanya ingin sekali mengeluarkan semua isi dalam perutnya.


Namun ketika dia mencoba berdiri, kepalanya terasa berat. Dia mencoba menopang tubuhnya dengan berpegangan pinggiran meja agar tetap bisa berdiri tegak. Namun rasa pusing di kepalanya lebih mendominasi. Dunia terasa berputar. Pandangan matanya mulai kabur. Otot - otot pada tubuhnya lemas. Tulang kakinya terasa sudah tidak berfungsi menopang tubuhnya.


Bruukk!


Tubuh Dara limbung dan terjatuh di lantai. Matanya terpejam tapi pendengarannya masih bisa berfungsi samar - samar.


"Dara! Dara! bangun Ra!" teriak Kayla.


"Dara bangun Ra! jangan buat gue khawatir sayang!" kecemasan Radit mencuat hebat, sehingga dia tidak menyadari apa yang sudah dia katakan.


Dengan kesusahan Dara berusaha membuka matanya. Terlihat Radit yang sudah membopong tubuhnya. Ada garis - garis kecemasan yang terukir pada raut muka pria yang sedang memeluknya dengan erat itu. Matanya mulai tergenang cairan bening.


"Sebegitu berharganyakah diriku sebagai sahabatmu Radit?" batin Dara sebelum Dunia mulai terlihat gelap dan mulai tidak sadarkan diri.


* * *


Di Rumah Sakit.


Dara masih terbaring lemas di atas ranjang pemeriksaan Rumah Sakit. Namun Dara sudah sadar dari pingsannya dan kondisi badannya sudah lebih membaik meski wajahnya masih terlihat pucat.


Radit masih setia duduk di samping Dara menemaninya. Kayla yang tadinya ikut mengantar Dara ke Rumah Sakit terpaksa harus kembali ke kantor duluan. Ada hal mendesak yang harus dia selesaikan secepatnya. Jadi tinggallah Radit saja yang menemani Dara.


Selang beberapa lama, terlihat seorang dokter wanita memasuki ruangan. Tertulis nama Mitha pada jas putih yang dikenakannya. Menyadari kedatangannya, Radit beranjak dari duduknya.


"Bagaimana keadaanya Dok?" tanya Radit cemas.


Dokter itu mengembangkan senyuman pada muka cantiknya, meskipun umurnya sudah masuk 40 an masih terlihat menawan.


"Setelah menjalani beberapa pemeriksaan, saya yakin tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan," sang Dokter membuka percakapan.


"Terus kenapa dia tadi bisa pingsan Dok?" tanya Radit menuntut kejelasan.


"Hal itu disebabkan karena ada janin di dalam perut Ibu Dara," jelas dokter tersebut.


"Maksud Dokter saya sedang hamil?" tanya Dara memastikan.


"Iya Ibu. Selamat atas kehamilannya. Anda akan menjadi seorang ibu," ucapnya lembut.


Seketika tampungan cairan bening pada kelopak matanya yang beberapa bulan ini menemani kesedihannya, lagi - lagi menerobos begitu saja tanpa permisi. Namun kali ini bukan air mata kesedihan, melainkan sebuah tanda kebahagiaan yang ditorehkan. Senyumannya merekah di antara basahnya pipi karena air mata yang terus saja mengalir.


Kalimat yang terucap dari mulut sang dokter bagaikan obat mujarab yang seketika memberi energi positif pada Dara. Dia mengangkat tubuhnya yang tadi masih terbaring. Mengusap lembut perutnya yang masih rata. Menyalurkan kasih sayang kepada janin yang masih bersembunyi di dalam sana.


Radit yang menyaksikan kebahagiaan Dara, tentu saja dia ikut bahagia juga. Dia menggenggam tangan Dara dengan hangat sembari melemparkan senyuman kepada wanita yang ada di hadapannya itu.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang menyaksikan adegan kebahagiaan mereka dari balik pintu.


"Tapi ada yang harus sampaikan lagi," ucapan sang Dokter sejenak memecahkan suasana kebahagiaan Dara.


Sebenarnya keberadaan Radit bersama Dara sempat buat Dokter Mitha bertanya - tanya dalam hatinya. Kenapa Dara datang bukan bersama suaminya? Mengingat Dara dan Rey adalah pasien langganannya yang sering datang untuk konsultasi dan melakukan berbagai macam program kehamilan. Dia juga ingat beberapa bulan yang lalu Rey juga datang bersama wanita lain yang mengaku sebagai istrinya. Namun wanita itu bukan Dara.


"Kandungan Ibu Dara sangat lemah. Apa lagi kandungannya masih berumur tiga minggu. Itu sangat rentan sekali," penjelasan sang Dokter berhenti sejenak. Memberi jeda agar kedua manusia di hadapannya itu bisa menangkap maksud dari ucapannya.


"Jadi Ibu Dara harus mengurangi kegiatan yang berat. Seperti mengurangi guncangan atau benturan pada tubuh misalnya," tambahnya lagi.


"Dan lagi hindari Stress. Sebisa mungkin ciptakan suasana Rilex dan senang di dalam hati," saran Dokter Mitha.


Penjelasan sang Dokter di respon dengan anggukan mengerti oleh Dara dan Radit.


"Dan ini saya sudah menuliskan resep obat untuk Ibu Dara,"


"Harus diminum rutin ya Ibu Dara, karena obat ini untuk penguat janin dan mengurangi rasa mual dan pusing," papar sang Dokter.


"Baik Dok, saya akan segera menebusnya obatnya. Terimakasih," ucap Dara.


"Baik, kalau begitu saya permisi dulu,"


Dokter Mitha pun melangkah keluar ruangan dan tubuhnya menghilang di balik pintu.


"Ra.. Apa Rey tahu dengan kondisimu beberapa hari ini?"


"Lo tahu sendiri, keadaan rumahtangga gue lagi tidak sehat,"


"Setidaknya lo harus cerita ke Rey. Dia adalah orang pertama yang harus lo dapatkan perlindungan dan perhatiannya," nasehat Radit.


"Gue juga ingin berkeluh kesah sama suami gue, tapi Rey sekarang juga harus menjaga Bella yang sedang hamil juga,"


"Rasanya gue bakal merepotkannya,"


"Dan lagi gue masih sangat kecewa dengannya," curhat Dara.


"Tapi sekarang lo harus jaga kesehatan lo dan janin lo Ra," nasehat Radit.


"Tentu saja Dit. Gue sudah cukup lama menantikan janin yang sekarang sudah berada dalam perutku ini," Dara mengusap perutnya, masih terlihat rona kebahagiaan pada mukanya.


"Rey harus segera dikasih ngerti. Semoga saja dengan adanya janin dalam perut lo, bisa mengurangi kerenggangan hubungan kalian," saran Radit yang memang sangat berharap rumahtangga Dara dan Rey segera membaik.


"Dan lagi, kamu harus tetap lebih berhati - hati pada Bella," sarannya lagi.


"Iya tentu saja Dit, terimakasih sudah peduli sama gue," Dara menampilkan senyuman yang penuh rasa bersyukur karena memiliki satu lagi sahabat yang baik.


"Lo sahabat gue, sudah seharusnya gue peduli sama lo,"


"Dit, gue mau pulang saja, bau obat - obatan disini membuat gue mual," keluh Dara.


"Lo beneran sudah mendingan?"


"Beneran gue nggak apa - apa,"


"Lagian ini sudah sore. Mending gue cepat istirahat di rumah saja," Dara mulai turun dari ranjang Rumah Sakit dengan hati - hati.


"Baiklah, kalau begitu biar gue anta,"


Dengan sigap Radit membantu Dara berjalan.


* * *


Rey masih enggan beranjak dari ruang kerjanya yang berada di lantai dua rumahnya. Jarak ruangannya tidak jauh dari kamar Dara. Sehingga dia bisa mendengar ketika Dara memasuki kamarnya. Kejadian siang tadi masih saja terngiang dalam pikirannya.


FLASHBACK ON


Rey sedang mengantar Bella untuk memeriksakan kandungan Bella di Rumah Sakit. Entah bagaimana ceritanya, tanpa sengaja Rey melihat Dara sedang terbaring di ruang pemeriksaan. Mukanya terlihat pucat.


Sungguh pada saat itu ingin rasanya Rey berlari mendekati Dara dan memeluknya, menanyakan keadaannya. Namun keberadaan Radit disana membuat dia menghentikan niatnya. Lagi - lagi rasa cemburu yang disertai kecurigaan yang tinggi menguasai dirinya.


Rey masih berdiri di balik pintu. Rasa penasarannya membuat dia ingin tahu apa yang mereka bicarakan. Dia melihat Dokter Mitha juga berada disana.


"Hamil?" batin Rey setelah mendengar sang Dokter menyatakan kalau istrinya itu sedang hamil.


Betapa senangnya Rey mengetahui kalau istrinya sedang hamil. Saat itu ingin sekali dia menghambur pergi memeluk Dara. Meluapkan kebahagiaannya karena akan menjadi ayah dari anak yang dikandungnya. Namun sekali lagi, kedekatan Dara dan Radit membuat dia mengurungkan niatnya.


Pemandangan di depannya sungguh buat dia kecewa. Radit menggenggam erat tangan Dara dan tentu disambut hangat dengan si empunya. Terlihat mereka saling melempar senyum kebahagiaan. Terkesan layaknya pasangan suami istri yang sedang berbahagia karena kehadiran calon buah hati.


Marah, Rey sungguh marah. Apalagi dia mulai menyadari. Tatapan mata Radit yang penuh makna terhadap Dara. Tidak seperti sekedar tatapan kepada sahabat . Melainkan tatapan perasaan suka kepada wanita di depannya.


Tidak ingin berlama - lama, Rey pergi meninggalkan mereka dengan amarah yang sudah memuncak, tanpa ingin mendengarkan percakapan mereka lebih lanjut.


FLASHBACK OFF


Tok..


Tok..


Tok..


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Rey. Tidak berselang lama, pintu ruang kerjanya terbuka. Terlihat tubuh Dara yang keluar dari balik pintu.


"Apa kamu sibuk Rey?" tanya Dara ragu.


Bersambung~~