
Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..
✓Like 👍
✓Coment 💬
✓Rate 5 ⭐
✓Vote 💰
Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗
🍂 Selamat membaca 🍂
Hari menjelang pernikahan Radit dan Kayla sudah tinggal hitungan hari. Mereka sudah melakukan fitting 1 bulan yang lalu. Meskipun harus melewati beberapa drama terlebih dahulu karena Kayla selalu protes dengan model gaun yang menurutnya tidak nyaman. Alasan ekor gaun terlalu panjang dan gaun terlalu berat menjadi alasan utamanya. Pada akhirnya dia harus pasrah dengan gaun model Ball Gown karena harus menuruti kemauan Radit.
Di hari bebas kerja ini, Radit mengajak Kayla mengunjungi sebuah butik perhiasan berlian Passion Jewelry yang merupakan salah satu toko perhiasan paling terkenal yang menjadikan perancang terkenal Indonesia Ivan Gunawan sebagai Brand Ambasadornya.
Setelah beberapa lama memilih. Akhirnya cincin pernikahan gold white yang berhias berlian di tengah menjadi pilihan sepasang calon pengantin tersebut.
Waktu sudah menunjukkan jam makan siang. Berhubung butik perhiasan yang baru mereka kunjungi berada di sebuah Mall, akhirnya mereka memutuskan mencari pengganjal perut pada food court yang berada di lantai 3.
"Kay, apa kamu tidak ingin belanja sesuatu? biar aku yang belikan? Mungkin baju, tas, atau sepatu?" tawar Radit yang sedari tadi menamati Kayla yang sepertinya tidak minat untuk berbelanja setelah dari butik perhiasan.
"Kapan - kapan saja deh, lagian semua benda - benda itu aku sudah punya dan masih layak pakai," tolak Kayla setelah meletakkan salah satu sikunya di atas meja dengan telapak tangan yang menopang dagunya.
"Sikapmu ini bisa berimbas padaku Kay," ucap Radit seraya menatap muka Kayla yang sedang duduk di depannya.
"Maksutnya?" Kayla mengerutkan dahinya dan merubah posisi duduknya.
"Iya, karena kamu jarang shopping, hal itu membuat aku semakin kaya," canda Radit dengan senyuman yang merekah.
"Setelah nikah aku akan habiskan uangmu, dan pada saat itu tiba kamu jangan gigit jari karena berubah miskin," selorok Kayla seraya menyunggingkan sebelah sudut bibirnya.
"Kalau aku miskin apa kamu masih mau denganku?" tanya Radit di sela senyum tipisnya.
"Hmmm? kamu mintanya aku jawab apa?" Kayla melempar pertanyaan balik.
"Kok gitu sih?"
"Iya, jawabanku sesuai dengan keinginanmu. Jika kamu ingin aku pergi, aku akan pergi. Tapi jika kamu ingin aku disini, sudah dipastikan aku akan tetap setia tinggal bersamamu hingga akhir hayat, apapun kondisimu," papar Kayla.
"Jadi jika aku menyuruhmu pergi, kamu akan pergi begitu saja?"
"Iya tentu, karena aku tidak ingin bersikap egois. Memaksamu untuk menerimaku, di saat kamu sudah tidak menginginkanku," papar Kayla lagi.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi karena aku selalu menginginkanmu Kay," ucap pria itu dengan sangat manis. Dia meraih tangan Kayla yang sedang berada di atas meja dan mengecupnya lembut.
Kayla tersipu malu mendapati perlakuan pujaan hatinya yang semakin lama semakin manis dan romantis.
Selang tidak lama, seorang Waitress datang membawa makanan pesanan mereka.
"Selamat menikmati menu dari kita," ucap ramah si Waitress.
Radit dan Kayla pun mulai menyantap makanan yang berada di depan mereka.
"Kay, kenapa kamu selalu menggodaku?" tanya Radit yang melihat saos menempel di salah satu sudut bibir Kayla.
"Kamu lihat sendiri, aku sedang makan dan bukan sedang menggodamu," sanggah Kayla yang masih mengunyah makanan di mulutnya.
Melihat arah tatapan Radit tertuju pada bibirnya, Kayla langsung mengerti apa yang dipikirkan pacarnya itu. Dengan cekatan dia membersihkan sudut bibirnya dengan lidahnya.
"Jangan bertindak mesum di tempat umum Dit. Tolong jaga nafsumu,"
"Hahaha, kenapa kamu selalu bisa membaca pikiranku?"
Sedangkan di sudut lain. Seorang wanita cantik berpenampilan super sexy. Mengenakan pakaian yang kekurangan bahan, sehingga menampakkan belahan dada yang terlihat menyembul. Rambut panjang sepinggangnya dibiarkan tergerai begitu saja.
Kedua mata yang terbingkai bulu mata anti badai ****** beliung itu menangkap sosok pria yang sangat dikenalnya. Seorang pria tampan yang selalu menjadi incarannya. Senyuman penuh nafsu tercetak pada muka yang dipenuhi dengan riasan, namun mimik mukanya berubah masam setelah melihat pria itu sedang mengecup tangan wanita yang ada bersamanya saat ini.
Wanita itu langsung melangkahkan kakinya menuju tempat Radit dan Kayla duduk.
"Hai ganteng...," sapanya seraya mendaratkan kedua tangannya pada kedua bahu Radit dari belakang dan mendekatkan gunung kembarnya pada kepala Radit.
Radit tercekat merasakan sepasang tangan yang tiba - tiba mengusap kedua bahunya yang seketika buat dia memalingkan mukanya pada pemilik tangan yang dirasa tidak sopan tersebut. Sedangkan Kayla membolakan matanya, karena tidak terima pria miliknya dibelai - belai oleh wanita lain.
"lo?! kok ada disini?" tanya Radit yang ternyata mengenali wanita itu. Radit mencoba menjauhkan mukanya karena risih dengan gesekan payudaranya di belakang kepalanya.
"Kamu dia kenal dia Dit," Kayla terlihat tidak senang.
"Cuma kenal saja, tapi tidak dekat kok," timpal Radit yang masih berusaha melepaskan tangan yang sedang meremas - meremas bahu kekarnya.
"Kok lo bilang kita nggak dekat sih? gue kecewa loh sama lo," ucapnya yang mulai menggelayut manja.
Kayla langsung menghunus sorotan tajam pada Radit yang membuat Radit langsung menggeleng kepalanya dengan cepat, tidak membenarkan apa yang dipikirkan Kayla saat ini.
Wanita asing tersebut masih terus menggoda Radit. Memeluk, meremas, mengglayut dan tindakan lainnya yang membuat Radit semakin risih.
"Jangan dekat - dekat! gue risih ngerti nggak?!" bentak Radit.
"Kok lo tega sih?" timpalnya dengan raut muka cemberut. Bukannya berhenti, wanita asing itu malah semakin gencar tanpa malu.
Kayla yang coba mengamati kembali penampilan wanita asing itu pun mulai sadar. Bahwa makhluk yang sedang menggoda prianya saat ini adalah wanita jadi - jadian.
Dia melirik kembali ke arah Radit. Ternyata sedari tadi pria itu memberi isyarat kepadanya dari gerakan mulutnya untuk membantunya lepas dari belenggu mahkluk astral tersebut.
Kayla sempat mengulum bibirnya untuk menahan tawa, sebelum akhirnya dia mencari cara untuk segera membantu Radit yang kini terlihat ingin melempar wanita jadi - jadian itu.
"Ehem! Mas eh Mbak, maaf lo kalau ganggu ni ya," suara Kayla menarik perhatian mahkluk trensgender tersebut.
"Mbaknya kalau mau nyari yang gede, berurat dan nggak letoy jangan nyari ke dia," cerocos Kayla yang seakan bisa membaca apa benda kesukaan makhluk gaib itu.
"Masa sih Mbak? Orang badannya kekar gini, pasti punyanya jumbo dan panjang," timpal waria itu yang langsung nyambung dengan perkataan Kayla seraya mengamati dan membelai tubuh Radit.
Sepasang mata Radit langsung membulat setelah otaknya mulai nyambung dengan apa yang dibahas kedua orang di dekatnya.
"Ih, dibilangin kok nggak percaya, punyanya kecil dan gampang banget menyusut. Nggak seru deh pokoknya," ledek Kayla seraya mengangkat jari kelingkingnya, mencoba memberi gambaran bentuk dan ukuran kejantanan Radit.
"Aiihhh! ganteng - ganteng kok mini sih? mana nafsu," ledek si waria yang kemudian melayangkan sentilan ringan pada batang sosis Radit yang membuat si empunya tersentak karena mendapati tindakan pelecehan. Tanpa mendengar protes dari Radit dia melenggang pergi begitu saja.
Setelah keberadaan makhluk yang datang tak dijemput, pulang tak diantar tersebut menghilang, Radit langsung menghunus tatapan tajam kepada Kayla. Dia tidak percaya Kayla menggunakan cara itu untuk mengusir manusia itu.
"Apa maksutmu kecil dan gampang menyusut? kamu merusak imageku Kay," protes Radit yang terlihat cemberut.
"Jadi kamu nggak terima? ya sudah, aku panggil lagi mbaknya ya. Mb..!" Radit langsung membungkam mulut Kayla yang hendak memanggil waria tadi.
"Seharusnya kamu berterimakasih kepadaku," ucap Kayla setelah melepas tangan yang membungkam mulutnya tadi.
"Tapi ya nggak gitu caranya Kay," Radit masih saja protes.
Kayla terkekeh geli melihat raut muka Radit.
"Sebaiknya hari pernikahan kita harus dimajukan," ucap Radit.
"Lah, emang kenapa?" Kayla tampak heran.
"Gede, berurat, dan nggak letoy. Ingin segera aku buktikan ke kamu,"
Muka Kayla langsung memerah setelah mendengar kalimat frontal Radit. Sepertinya dia terjebak dengan perkataannya sendiri.
* * *
Rey sedang mengantar Dara berziarah ke makam almarhum Ayah dan Ibunda. Setelah meletakkan bunga dan membacakan doa, Dara mengusap lembut batu nisan kedua orang tuanya satu persatu. Tatapannya terlihat sendu. Anak perempuan yatim piatu tersebut mulai tak kuasa menahan cairan bening yang sudah tak terbendung.
"Ayah dan Bunda baik - baik ya disana. Maafin Dara karena belum bisa membuat kalian bahagia kalian semasa hidup," Dara mulai berkata.
"Ayah, maafin Dara yang tak bisa menjadi wanita yang kuat. Setelah kepergian Ayah, aku menjadi wanita yang cengeng," ucap Dara sendu.
"Tapi Dara ingat. Ayah meminta Dara untuk hidup bahagia kan? Dara akan menepati janji Dara waktu itu. Kini Dara akan berusaha hidup bahagia demi Ayah dan Bunda juga," Dara mulai mengulas senyuman di sela kesenduannya.
"Yah, Bun, maafkan saya karena telah membuat putri kalian menderita," sela Rey yang berada di sisi sang istri.
"Tapi Rey berjanji, mulai sekarang dan untuk selamanya saya akan membuat putri kalian menjadi orang paling bahagia," ucap Rey dengan sangat mantap.
Setelah selesai mengunjungi makam almarhum Ayah dan Ibu mertuanya, Rey mengajak Dara untuk segera pulang karena waktu sudah menjelang sore.
Dalam pemberhentian lampu merah, Dara melihat seorang kakek yang terlihat sedang menjajakan dagangannya dengan langkah kaki susah. Ia tampak sederhana dengan menggunakan kais berkerjah dan celana pendek serta topi untuk menghalau panasnya matahari.
"Sayang, coba kamu lihat kakek itu," pinta Dara pada Rey.
"Emang kenapa sayang?"
"Dia sudah terlihat renta, seharusnya dia berada di rumah menikmati hari tuanya," Dara melihatnya iba.
"Tidak semua orang memiliki nasib seberuntung kita sayang," timpal Rey setelah mengarahkan pandangannya pada seorang kakek yang ditunjuk istrinya.
"Kasian sekali dia. Sayang, apakah kamu tidak keberatan menepikan mobilmu sebentar? aku ingin membeli dagangannya," pinta Dara.
"Baiklah sayang," Rey tidak keberatan menuruti permintaan sang istri. Setelah lampu lalu lintas berubah hijau, Rey menepikan mobilnya dengan hati - hati.
"Kamu tunggu di mobil saja," titah Rey sebelum keluar dari mobil untuk memanggil kakek penjual yang berdiri tidak jauh darinya.
Masih berdiri di sebelah mobil, Rey memanggil kakek penjual tersebut. Kakek yang sudah renta itu langsung mendatangi Rey dengan semangat. Berharap dagangannya laku.
"Mau beli Tuan?" tanya si Kakek.
"Apa yang kamu jual Kek? saya ingin lihat dulu," tanya Rey yang melihat si Kakek sedang menenteng dua termos es.
"Saya jual es lilin Tuan," balasnya seraya membuka tutup termos, memperlihatkan dagangannya.
"Sayang, Kakek ini jual es lilin. Apa kamu mau?" Rey bertanya ke Dara terlebih dahulu sebelum membeli dagangan si Kakek.
"Tentu saja aku mau sayang," jawab Dara semangat. Selama hamil Dara memang suka memakan makanan dingin.
"Ya sudah Kek, tolong bungkus semuanya ya?" ucap Rey.
"Baik Tuan," si Kakek langsung memindahkan semua dagangannya ke dalam kantong kresek. Tergambar raut senang bercampur haru pada muka kriput pria tua tersebut. Dia tidak menyangka dagangannya akan habis karena diborong.
"Berapa totalnya?" tanya Rey yang telah menerima kantong kresek berisi es lilin.
"Dua Puluh Lima Ribu saja Tuan,"
"Ini Kek," lagi - lagi Rey menyerahkan 10 lembar uang bewarna merah jambu bergambar pahlawan proklamator Soekarno - M. Hatta.
"Tuan, kenapa uangnya banyak sekali?" suara Kakek itu terdengar bergetar.
"Tidak apa - apa. Itu rejeki untuk Kakek,"
"Terimakasih Tuan....," ucap Kakek penjual yang penuh dengan rasa syukur.
"Sama - sama," balas Rey lalu kembali masuk ke dalam mobil dan melajukannya menuju rumahnya.
Dara yang melihat kedermawanan suaminya merasa sangat senang dan bangga. Selama perjalanan Dara menyandarkan kepalanya pada bahu sang suami.
"Terimakasih sayang," ucap Dara tersenyum.
"Ini semua aku lakukan demi kamu sayang. Aku selalu nggak tega lihat raut mukamu yang terlihat sedih dan kasian kepada orang tidak mampu," papar Rey seraya mengusap lembut pipi Dara dan mendaratkan kecupan singkat pada pucuk kepalanya.
Bersambung~~
Terimakasih kepada para pembaca setia dan para sesama Author yang selalu berkenan mampir ke karya kentangku. Tetep ditunggu bab selanjutnya ya..🤗 karena kurang beberapa episode lagi sudah tamat🤗 xie xie ni hau🙏😘