Luka Cinta Dara

Luka Cinta Dara
Bab 19 Kekecewaan Rey



Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..


✓Like 👍


✓Coment 💬


✓Rate 5 ⭐


✓Vote 💰


Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗


🍂Selamat membaca🍂


Rey masih berada di luar pintu kamar Bella. Dia mencoba menguping apa yang sedang Bella bicarakan dengan seseorang di balik telepon genggamnya.


"Iya Ma.. Bella baik ko disini,"


"Mas Rey sangat perhatian dengan Bella,'


"Kak Dara juga baik sama Bella,"


"Ma, teleponnya Bella tutup dulu ya,"


Panggilan berkahir, Bella menjauhkan benda pipih itu dari telinganya. Terlihat Dara mengusap perutnya hamilnya yang masih rata. Namun tiba - tiba air matanya menerobos keluar begitu saja. Dalam sekejap mukanya sudah dibasahi cairan bening.


"Bagaimana mungkin aku menggugurkan bayi ini?" ucap Bella lirih. Tapi masih terjangkau oleh pendengaran Rey yang berada di balik pintu.


"Apa?! kenapa ?" batin Rey yang masih menguping di balik pintu.


"Kak Dara, sampai hati kamu setega itu," Bella masih saja meracau sendirian.


Rey seketika terkejut tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Dia mulai melangkahkan kakinya yang terasa berat. Masuk ke dalam kamar Bella berharap mendapatkan penjelasan dari Bella tentang perkataanya yang dirasanya masih ambigu.


"Apa maksut kamu Bella?" Rey masih tak percaya dengan yang di dengarnya tadi?


Bella sontak kaget karena entah sejak kapan Rey sudah berada disana.


"Se.. sejak kapan kamu berada disini Mas Rey?" tanya balik Bella dengan gugup.


"Aku mendengar semua perkataanmu,"


"Ada apa dengan Dara?"


"Apa dia ingin kau menggugurkan bayi dalam perutmu?" tanya Rey berhati - hati. Berharap Dara tidak seperti yang dibayangkan.


Namun bukan itu yang didapatkan. Bella tiba - tiba menangis sejadi jadinya.


"Mas jangan salah paham!" serunya sambil menggapai dan menggenggam erat tangan Rey.


"Salah paham bagaimana maksud kamu?! sku mendengarnya langsung,"


"Kak Dara nggak salah. Ini semua salahku yang tiba - tiba hadir dalam kebahagiaan kalian, tentu saja Kak Dara kecewa," ucapnya sendu.


Rey semakin lama semakin iba dengan Bella. Dia mendekatkan badannya ke Bella yang masih terduduk di tepi ranjang. Memberi pelukan hangat dan mengusap rambutnya dengan lembut.


"Mungkin untuk saat ini kak Dara belum bisa menerima kehadiran bayi ini,"


"Tapi aku yakin, kelak dia bisa menerima dan menyayanginya juga," Bella meyakinkan Rey.


"Aku mohon, jangan marah sama Kak Dara ya Mas," Bella memelas.


"Maaf, ini semua salahku," ucap Rey sendu.


"Ya Tuhan, kenapa Dara bisa setega itu?"


"Kasian Bella. Dia wanita yang baik tapi harus tersakiti karena ulahku,"


"Apa aku harus belajar membuka hatiku juga untuk Bella?"


"Dia istriku juga, jadi berhak mendapatkan kasih sayangku juga,"


"Apa lagi sekarang Bella sedang mengandung darah dagingku," batin Rey masih saja berkecamuk.


Bella sangat menikmati pelukan Rey.


"Sepertinya Tuhan masih berpihak kepadaku,"


Batin Bella. Terlihat smirk tipis yang hampir tidak terlihat dari bibirnya. Senyuman licik yang penuh arti.


(Rey kenapa kamu bodoh sekali! Author geram!)


* * *


Dara kembali dari tempat ayahnya tepat pukul 8 malam. Dia merasa lelah karena aktivitasnya seharian. Namun lelahnya cukup terobati karena habis melepaskan kerinduannya pada Ayahnya.


Dara mulai melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah. Membayangkan betapa nikmatnya berendam dengan air hangat dengan sabun beraroma trapi membuatnya ingin segera sampai di kamar mandi.


Namun saat melewati ruang keluarga, kakinya terhenti, karena dibuat heran dan kaget dengan tontonan di depannya sekarang. Terlihat Rey yang kebingungan karena kondisi Bella sekarang. Bella terlihat lemas dan kesakitan sambil memegang perutnya.


"Baik Tuan," terlihat Bi Ningsih yang lari tergopoh - gopoh melewati Dara menuju kamar untuk mengambil kunci mobil.


Dara tidak ingin diam saja. Dia mendekati Rey, berharap saja kehadirannya bisa membantu.


"Sayang, apa yang terjadi? Bella kenapa?" tanya Dara yang juga ada sedikit rasa khawatir pada viralnya itu.


Namun Rey tidak sedikitpun menggubris kehadiran Dara meskipun sekedar menatap mukanya. Dia terlalu sibuk mengkhawatirkan Bella.


"Bella, kamu bertahan ya," terlihat guratan kecemasan dalam mukanya.


Tidak butuh lama, Bi Ningsih datang membawa kunci mobil. Rey dengan cepat meraut kunci itu dari tangan Bi Ningsih. Dengan sigap mengangkat tubuh Bella, membawanya masuk ke dalam mobil. Melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


Dara masih terpaku di ruang keluarga. Mengingat perlakuan Rey barusan. Dia terlihat begitu khawatir dan peduli pada Bella. Apalagi Rey seperti acuh dengan adanya keberadaannya.


Dara melangkah pergi dari ruang keluarga. Dia menaiki tangga dengan langkah yang gontai. Ini pertama kalinya dia mendapatkan perlakuan seperti itu dari Rey. Sedih, Dara emang sedih. Tapi inilah resiko dari poligami. Harus rela membagi kasih suami. Meskipun tidak siap dan terasa sakit. Semua itu terpaksa harus diterima.


* * *


Di Rumah Sakit Rey sedang duduk dalam ruangan Dokter Obgyn Mitha. Mendengarkan penjelasan dari wanita cantik setengah baya yang mengenakan jas putih sesuai profesinya. Sekarang Bella sudah terlihat lebih baikan dari sebelumnya.


"Bayi dalam kandungannya sangat sehat. Tidak terjadi hal yang serius Pak,'


"Terus kenapa istri saya tadi bisa seperti itu dok?"


"Ini biasa terjadi pada ibu hamil, apalagi pada kehamilan trisemester awal pak. Pastikan istri anda selalu mendapatkan istirahat yang cukup serta buatlah pikiran lebih tenang dan rileks,"


"Ini saya tuliskan resep obat untuk mengurangi rasa mual dan pusing. Pak Rey bisa menebusnya di loket obat,"


"Baik Dok, kalau begitu saya permisi dulu,"


Rey membantu Bella berdiri dan mengajaknya keluar ruangan. Setelah tubuhnya mereka menghilang di balik pintu, terlihat raut muka Dokter Mitha yang sulit ditebak. Dia sangat mengenal Rey dan Dara, karena mereka berdua sering menemuinya untuk berkonsultasi. Tapi kali ini Rey datang bersama wanita lain tapi berstatus istrinya juga. Dia bertanya - tanya, apa kabarnya Dara? Apa Suaminya itu menikah lagi? entahlah.


* * *


Dari dalam kamar, Dara mendengar suara mobil yang memasuki halaman rumah. Rasa penasaran Dara membuat dia bergegas keluar dari kamar. Ingin mencari tahu sendiri apa yang terjadi. Dia menuruni tangga menuju lantai satu. Disana dia melihat Rey menuntun Bella dengan hati - hati. Mengantarnya ke dalam kamar untuk beristirahat. Tidak lama, Rey keluar dari kamar dan menghampiri Dara yang sedari tadi penuh tanda tanya. Rey pun menyadari itu.


"Sayang bagaimana keadaannya?" yanya Dara.


"Kenapa? apa kamu penasaran? apakah bayinya masih hidup atau sudah mati?" Rey malah bertanya balik.


"Sayangnya bayinya sehat," ucap Rey dingin.


"Apa maksud kamu sayang? sku tidak mengerti," Dara bingung dengan perkataan Rey.


"Bukankah kamu tidak menginginkan Bella, terutama bayinya yang tak lain itu adalah darah dagingku sendiri Dara?!"


"Aku memang masih kecewa karena kamu menghamili dan menikahi wanita lain! tapi bukan berarti aku akan berbuat jahat!" seru Dara yang sakit hati akan perkataan Rey.


Rey memahami perasaan Dara. Akan tetapi masih terbesit rasa kecewa pada Dara.


"Haahh!" Rey menghela napas pelan.


"Sayang aku masih sangat mencintai kamu,"


"Tapi aku juga harus belajar membuka hati untuk Bella. Meskipun sulit, tapi setidaknya aku harus bertanggung jawab terhadap bayi yang sedang dikandungnya sekarang,"


Dara terdiam, masih berusaha menjadi pendengar yang baik.


"Sayang, aku mohon cobalah sedikit saja mengerti posisiku," Rey memohon.


"Membiarkanmu menikah lagi dan mengijinkan dia tinggal satu atap dengan kita apakah aku masih jauh dari kata pengertian?"


"Maafkan aku, bila aku bersikap egois," ucap Rey sendu.


"Ya sudah kamu beristirahatlah. Dan maaf malam ini aku harus menjaga Bella,"


Sebelum kembali ke kamar Bella, Rey menyempatkan diri untuk memberi kecupan pada kening Dara. Menangkup muka Dara dengan kedua tangannya. Menatap lembut muka istrinya yang cantik itu.


"Selamat malam sayang. I love you,"


* * *


Di rumah Kayla.


Kayla terlihat sibuk dengan smartphone di tangannya. Menamati sebuah foto yang ada di dalamnya. Dia menautkan kedua alisnya. Mencoba mengingat sesuatu.


Iya, dia sedang menamati Foto Bella yang entah darimana didapatkannya. Dia sepertinya pernah melihat Bella, tapi dia lupa dimana.


Dia mencoba menelpon seseorang yang bisa dikatakan sangat dekat dengan Rey dan Dara, guna mencari tahu lebih lanjut.


Bersambung~~


Jangan lupa mampir di karya author satunya lagi ya, masih on going. Ditunggu kunjungannya🥰