Luka Cinta Dara

Luka Cinta Dara
Bab 55 Pendonor



Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..


✓Like 👍


✓Coment 💬


✓Rate 5 ⭐


✓Vote 💰


Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗


🍂Selamat membaca🍂


Dara sudah beristirahat di kamarnya perawatan VIP miliknya dengan ditemani Mama Rani. Selama Dara dirawat, dia memang sering datang untuk menjaga Dara. Perlahan - lahan Dara pun mulai terbiasa dengan keberadaannya.


Entah karena rasa kecewanya yang sedikit berkurang setelah merasakan ketulusan sang Mama mertua atau pasrah karena dia sudah terlalu lelah untuk mengespresikan rasa kecewanya, dia tidak tahu.


Namun setelah dia siuman dari komanya, tidak ada satu katapun dari bibirnya yang menanyakan tentang keberadaan suaminya. Yang dia tahu, selama dirawat di RS Dara tidak pernah mendengar suara Rey di sekitarnya. Entah mengapa, ada rasa kecewa yang terselip di hatinya.


Kebutaan yang dialaminya sekarang membuat gairah hidupnya sempat berkurang beberapa hari terakhir. Kejadian yang menimpanya terlalu tiba - tiba. Namun secercah harapan mulai terlihat setelah dia mendapat kabar gembira tadi pagi. Akan tetapi Dara masih penasaran tentang siapa orang yang telah berbaik hati merelakan indera penglihatannya untuknya.


Pintu ruangan terbuka. Wanita yang mengenakan seragam serba putih khas perawat muncul dari balik daun pintu. Sang perawat membawa nampan yang berisi menu makan siang khas Rumah Sakit dan beberapa butir obat yang diletakkan di dalam cup kecil.


"Selamat siang mbak Dara, sekarang sudah waktunya makan siang dan minum obat," sapa sang Perawat dengan senyuman ramah tertampil.


Dengan raut muka datar, Dara hanya mengalihkan pandangan gelapnya pada sumber suara.


"Setelah makan tolong obatnya langsung di minum. Mbak Dara harus semangat ya, agar cepat pulih," ucap sang Perawat memberi semangat.


"Suster makanannya tolong berikan kepada saya. Biar saya yang membantunya menyuapkan makanan," sela Mama Rani.


"Baik Ibu," ucapnya seraya menyerahkan nampan isi makanan tersebut kepada wanita tua tersebut.


"Kalau begitu saya permisi dulu," sang Perawat pun berlalu pergi.


"Mama akan menyuapi kamu," ucap Mama Rani.


Dara hanya mengangguk kecil sebagai jawaban.


* * *


Di bangku taman RS, terlihat Kayla duduk di samping Nicho. Dia mengamati penampilan Nicho yang terlihat tidak sehat. Badannya sangat kurus. Sedangkan Nicho hanya tertunduk menyadari Kayla mengamatinya.


"Bukannya masa hukumanmu seharusnya belum berakhir?" Kayla memulai percakapan.


"Karena aku mendapatkan remisi sehingga saya bisa bebas sekarang," jawab Nicho yang sedikit mengangkat pandangannya.


"Apa kamu sedang sakit?" Kayla penasaran karena dia melihat Nicho sedang menenteng keresek yang di yakini adalah obat. Apalagi dengan penampilan pucat Nicho sekarang, semakin mendukung rasa penasarannya.


"Iya, aku sedang sakit dan umurku sudah tidak panjang lagi," timpal Nicho dengan senyuman getir.


Kayla cukup terkejut mendengar pernyataan mantan asisten pribadi Rey tersebut.


"Jadi sekarang kamu bisa keluar dari buih karena sakit?" tanya Kayla seraya menyatukan kedua alisnya.


Nicho hanya menjawab dengan anggukan.


"Boleh aku bertanya?" Nicho ganti bertanya.


"Mau tanya apa?"


"Sebenarnya tadi aku melihat Nyonya Dara. Apa yang terjadi dengannya?"


Kayla tersenyum masam melihat Nicho yang mulai penasaran dengan kondisi Dara.


"Dia sekarang kehilangan penglihatannya,"


"Apa? kenapa?!" Nicho terkejut.


"Itu karena dia baru saja menjadi korban tabrakan dan koma selama seminggu. Namun setelah sadar dia divonis buta permanen,"


"Kamu akan kaget jika tahu siapa yang telah menabraknya?" tambahnya lagi.


"Memang siapa yang menabraknya?" Nicho tidak sabar menunggu jawaban dari Kayla.


"Bella," jawabnya singkat.


"Apa?!" Mata Nicho membulat sempurna. Dia sangat terkejut mengetahui Bella telah berbuat senekat itu. Firasatnya di saat dia masih di balik deruji penjara ternyata benar.


"Ini semua salahku," Nicho mulai meratapi perbuatannya.


"Kalau saja dulu aku tidak menuruti kemauan wanita gila itu, semuanya tidak akan berakhir seperti sekarang," air mata penyesalan membucah dari pelupuk matanya.


"Cih, sekarang baru kamu menyesalinya?" Kayla berdecih seraya melemparkan pandangan lurus ke arah taman.


"Bukan sekarang, tapi aku sudah menyesalinya sebelum aku dipenjara. Sebenarnya waktu itu, aku sudah berusaha membujuk Bella untuk mengakhiri niat jahatnya, tapi Bella selalu mengancam akan membunuh bayiku yang sedang dia kandung. Jadi aku terpaksa menuruti semua kemauannya," sanggah Nicho.


"Terus dimana bayimu sekarang?"


"Aku menitipkannya di Panti Asuhan,"


"Kenapa kamu tidak menitipkannya kepada orang tua Bella? mereka akan mengerti jika melihat kondismu sekarang,"


Kayla menghela napas panjang. Mengapa hidup ini terasa rumit? Itulah yang ada dibenak pikirannya sekarang.


"Aku merasa kasian dengan bayimu," kini Kayla menatap sendu Nicho yang terlihat sangat kacau.


"Ini bermula dari kesalahanku," ucap Nicho penuh sesal.


Kedua manusia itu sejenak terdiam. Tenggelam dengan pikirannya masing - masing.


"Mengenai kondisi mata Nyonya Dara, aku bersedia mendonorkan mataku," ucap Nicho tegas.


Kayla sungguh terkejut mendengar perkataan Nicho yang tiba - tiba.


"Benarkah?" Kedua netranya menatap lekat muka Nicho. Memastikan tingkat keseriusan dari perkataan lawan bicaranya.


"Tapi... Apa kamu yakin dengan keputusanmu itu?" Kayla mulai ragu.


"Aku sangat yakin. Lagian sebentar lagi aku juga akan mati. Aku juga tidak punya keluarga yang akan menghalangi keputusanku," tandas Nicho.


Sebenarnya Kayla sangat senang, karena Rey tidak perlu melakukan tindakan beresiko dengan mendonorkan matanya untuk Dara, karena ada orang lain yang bersedia menggantikannnya.


Bagaimanapun juga dia sangat memikirkan perasaan Dara. Sahabatnya itu pasti akan sangat sedih jika dia tahu Rey mengorbankan matanya demi dia. Jujur, setelah melihat air mata ketulusan Rey yang terus mengalir selama Dara koma membuat Kayla lebih berharap rumah tangga sahabatnya kembali harmonis seperti dulu.


Namun, disisi hati yang lain Kayla merasa tidak enak jika harus bahagia di atas kesedihan Nicho karena kesempatannya untuk menikmati udara segar hanya tinggal hitungan hari yang tidak bisa ditentukan. Sungguh Kayla dirundung rasa iba yang mendalam melihat takdir Nicho yang berakhir tidak bahagia.


Kayla berpikir, setelah ini dia akan segera mencari Rey yang memang beberapa hari ini tidak terlihat ujung hidungnya. Sepertinya Rey menepati janjinya untuk menjauhi Dara setelah dia sadar. Namun untuk saat Rey harus segera mengetahui tentang keputusan Nicho. Berharap Rey mengurungkan niatnya itu.


"Maaf, jika aku terlihat senang," ucap Kayla merasa tidak enak.


"Itu bukan masalah, kamu berhak merasa senang,"


"Sebenarnya aku ingin sekali bertemu dengan Nyonya Dara dan Tuan Rey. Setidaknya aku harus menyampaikan permintaan maafku sekali lagi sebelum meninggal,"


"Tapi aku terlalu malu untuk bertemu. Lagian mereka pasti tidak sudi bertemu denganku," Ucap Nicho sedih.


"Kamu tenang saja, aku akan berbicara kepada mereka,"


"Benarkah? terimakasih," terlukis guratan senang pada muka pasi Nicho.


"Sebaiknya kamu cepat pulang dan beristirahat. Apa perlu aku antar?" tawar Kayla yang mulai khawatir dengan kondisi Nicho yang terlihat lemah. Sepertinya dia terlalu memaksa tubuhnya untuk beraktivitas di luar ruangan.


"Terimakasih. Tapi tidak perlu, aku bisa naik Taxi,"


"Oke, kalau begitu aku temanin kamu mencari Taxi di depan," tawar Kayla yang tidak ingin ditolak. Dia hanya mencemaskan kondisi Nicho saat ini.


"Baiklah, sekali lagi terimakasih,"


* * *


Di ruangan kerja Papa Rengga.


"Tidak, Papa tidak menyetujui keputusanmu. Itu sangat beresiko untukmu," tolak sang Papa.


"Tapi keputusan Rey sudah bulat Pa,"


"Kenapa kamu tidak bisa sedikit saja bersabar? sebaiknya kita tunggu dulu pendonor lainnya,"


"Itu akan terlalu lama Pa, Rey tidak sanggup membiarkan Dara terlalu lama dengan kebutaannya itu,"


"Kamu kan tahu sendiri, pihak Rumah Sakit lebih sering mengambil mata pendonor setelah dinyatakan meninggal,"


"Rey rela mati, asalkan istriku bisa melihat lagi. Rey bisa meminta Dokter untuk menyuntik mati Rey," ucap Rey sekenanya. Kini otak dan pikiran tidak bisa berfikir jernih. Dia sungguh frustasi.


"Jangan konyol! tidakkah kamu memikirkan perasaan Mama dan Papa. Mana mungkin Papa membiarkanmu mati!" Papa Rengga mulai tersulut emosi karena sikap keras kepala putranya.


"Tapi Pa,"


"Cukup! jangan berkata apapun lagi, berfikirlah dengan jernih,"


"Meskipun Papa melarang Rey sekuat tenaga, itu tidak akan menghentikan niatku,"


"Kamu!" ucapan Papa Rengga terputus.


Drrttt...


Drrttt...


Drrttt...


Ponsel sang Ayah bergetar. Nama Kayla terlihat menghiasi layar ponselnya. Dia langsung mengangkat panggilan itu dengan emosi yang masih tersulut.


"Halo,"


"Pak Rengga ini saya Kayla,"


"Iya ada apa?"


"Apakah anda mengetahui dimana Rey sekarang? saya sudah menghubunginya tapi tidak bisa, ada hal penting yang harus saya sampaikan,"


Bersambung~~