Luka Cinta Dara

Luka Cinta Dara
Bab 33 Memilih untuk menyerah



Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..


✓Like 👍


✓Coment 💬


✓Rate 5 ⭐


✓Vote 💰


Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗


🍂Selamat membaca🍂


Dua hari setelah kepergian sang Ayah, Dara tidak langsung pulang ke kediamannya sendiri. Dia lebih memilih tinggal di rumah masa kecilnya dengan sejuta kenangan bersama orang tuanya yang kini sudah hidup damai di surga.


Dara masih belum bisa bangkit dari kesedihannya. Rasa berkabung masih melekat dalam dirinya. Hingga dia lebih memilih menyendiri di kamarnya. Hanya Kayla dan Radit yang dapat menemuinya.


Ditambah lagi dia juga terlalu malas untuk bertemu dengan Rey, apalagi dengan Bella si siluman rubah. Kalau mengingat Bella adalah salah satu penyebab kematian sang Ayah, rasanya ingin sekali dia menampar muka liciknya. Namun hal itu urung dia lakukan. Dia lebih memilih menggunakan cara lain tanpa mengotori tangannya.


Di sisi lain Rey sudah berulang kali memohon untuk bertemu dengan Dara, namun setiap kedatangannya selalu dihadang oleh security rumah mewah tersebut. Dara benar - benar menutup akses Rey untuk bertemu dengannya.


* * *


Di ruang kerja terlihat Rey sedang duduk sambil menggenggam sebuah lembaran kertas. Di atas kertas sudah tertera nama dan tanda tangan Dara yang begitu terlihat tegas seakan Dara tanpa ragu ketika mengajukan gugatan cerai. Rey tidak menyangka keharmonisan rumahtangganya sirna begitu saja.


"Tidak! selamanya kita tidak akan bercerai!" teriak Rey frustasi.


"Selama kamu tetap miliku Ra!"


Rey beberapa kali melakukan panggilan ke Dara, namun selalu ditolak. Pesan singkat yang dikirimnya juga tidak pernah dibaca. Rey juga terus mencoba menemuinya, tapi selalu berakhir dengan pengusiran.


"Tidaaakkk!!


Teriakan frustasi Rey begitu menggema hingga terdengar sampai keluar ruangan. Bella yang berada di balik pintu tersenyum puas. Seperti yang diharapkan. Rencananya untuk memisahkan mereka membuahkan hasil. Meskipun beberapa hari ini, Rey sama sekali tidak peduli dengan keberadaan Bella. Dia masih terlalu sibuk dengan peliknya masalah antara dia dan Dara.


Ceklek!


Pintu ruang kerja terbuka dari dalam yang di ikuti munculnya Rey di balik pintu. Alhasil Bella sedikit terkejut karena memang masih berada di luar pintu untuk menguping.


Sesaat Rey menghentikan langkahnya dan mengedarkan pandangannya ke Bella. Penasaran sedang apa Bella di luar pintu.


"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Rey malas.


"Aku hanya ingin mengingatkanmu untuk makan siang Mas. Ayo makan dulu," Slimur Bella.


"Aku masak makanan kesukaanmu," tambah Bella lagi seraya menampilkan senyuman terbaiknya.


"Aku sedang tidak berselera makan," jawabnya malas.


"Kamu makan saja duluan. Masih ada hal yang harus aku urus,"


"Aku pergi dulu," pamit Rey tanpa menunggu jawaban dari Bella.


Rey pun berlalu pergi dengan secarik kertas gugatan cerai di tangannya. Sekali lagi dia ingin bertemu dengan Dara. Ingin meluruskan semua masalah. Ingin memperbaiki yang telah rusak. Tanpa Rey ketahui, usahanya hari ini akan tetap sia - sia.


* * *


Di rumah kediaman almarhum sang Ayah, terlihat Dara sedang melakukan percakapan serius dengan seseorang lewat sambungan telepon.


"Pa, Dara sudah kirimkan semua informasi yang Dara dapat. Untuk selanjutnya tolong Papa urus ya," pinta Dara.


"Iya, ini Papa juga sudah selesai memeriksa semua bukti. Hari ini juga akan kita bereskan semuanya sampai akhir," timpal Papa Rengga di balik telepon yang terdengar berantusias.


"Sebelumnya Dara minta maaf ya Pa, karena harus menarik Papa masuk dalam lubang permasalahan rumahtangga Dara," sesal Dara.


"Tidak, seharusnya Papa yang minta maaf. Karena belum bisa menjadi Ayah mertua yang baik," suara sang mertua terdengar sedih.


"Dan Papa juga minta maaf atas nama Mama Rani ya. Karena kecemburuannya pada masa laluku berdampak buruk pada rumahtanggamu," Timpalnya lagi.


Dara memang sudah mengetahui tentang alasan kebencian Rani terhadapnya. Kalau dipikir, kebencian Mama Mertuanya itu sungguh tidak masuk akal bagi Dara. Almarhum Mamanya bahkan tidak ada niat untuk merebut suaminya dikala masih hidup. Kenapa dia harus bersikap berlebihan seperti itu?


"Ya sudah Pa, semuanya Dara percayakan sama Papa ya. Dara matiin dulu telepon ya,"


Tut. Panggilan berakhir.


Dara masih menatap sendu layar ponselnya. Terlukis raut muka yang sulit dibaca pada mukanya yang cantik. Berbagai perasaan tergambar disana.


Radit yang memang sedari tadi berada di dekatnya menatap lekat muka wanita yang sedang setengah melamun itu. Keberadaan Radit disana bukan tanpa tujuan.


"Ra, Apa lo sudah siap?" tanya Radit.


"Ah. Oke, gue sudah siap," hawab Dara yang setengah terkejut.


"Di check dulu semua barang yang harus dibawa," tutur Radit.


"Semua sudah siap ko Dit. Kita tinggal berangkat saja," timpal Dara tersenyum tipis.


"Hati lo juga sudah siap?"


"Lo sudah yakin dengan keputusan lo?" pria beralis tebal itu memastikan.


"Gue tahu ini pilihan berat buat lo Ra. Gue akan selalu mendukung keputusan lo," ujar Radit.


"Ya. Ini memang sangat berat," Dara membenarkan.


"Tapi Gue yakin, Rey tidak akan mau menanda tangani surat cerai itu,"


"Dia akan terus mencari cara untuk bisa bertemu dengan gue,"


"Lebih baik gue yang pergi," tukas Dara.


"Gue yakin, dengan seiringnya waktu Rey akan terbiasa tanpaku," tambahnya lagi, yang kali ini menampakkan raut muka sedih.


"Gue harap lo mau bantu gue," pintanya.


"It's oke, selama ini yang terbaik buat lo, gue akan selalu bantu lo," timpal Radit diiringi senyuman pada bibirnya.


"Makasih,"


"Oke kita berangkat sekarang. Kayla juga sudah menunggu di bandara," ucap Radit seraya meraih barang bawaan milik Dara.


"Oke,"


Merekapun berlalu pergi menuju mobil sedan metalix yang sudah terparkir di halaman. Sebelum melangkah masuk ke mobil, sekali lagi Dara melayangkan pandangannya pada istana masa kecilnya. Menyusuri setiap inci istana yang tampak dari depan itu. Tempat terciptanya berbagai memori. Kenangan Dara bersama almarhum kedua orang tuanya.


Sesampainya mereka di Bandara Soekarno - Hatta, terlihat Kayla yang sudah menunggu di lobby bandara. Sebelumnya memang ada hal yang harus dia urus terlebih dahulu. Maka dari itu dia minta ketemu Dara langsung di Bandara.


"Hai Ra, hai Dit," sapa Kayla dengan senyuman tipis di mukanya.


"Kay, lo udah lama nunggunya?" tanya Dara.


"Gue baru saja nyampek sini," Kayla tersenyum simpul, namun matanya berkaca - kaca seraya memeluk sahabatnya yang sudah di anggap saudara sendiri.


"Kay," lirih Dara terdengar sendu.


"Gue bakal kangen banget ama lo Ra," Kayla semakin mempererat pelukannya.


"Gue hanya pergi untuk sementara kok Kay. Kita juga masih bisa saling tukar kabar," Dara mengusap lembut punggung wanita yang sedang memeluknya itu.


"Oke, disana lo tenangin dan bahagiain diri lo,"


"Masalah disini biar gue yang urus. Percayakan sama gue," ucap Kayla setelah melepaskan pelukannya.


"Makasih ya Kay, gue titip perusahaan gue," pinta Dara yang merasa tidak enak karena lagi - lagi harus menyusahkan sahabatnya itu.


Memang benar. Selama Dara tidak ada, dia telah meminta bantuan Kayla untuk mengurus semua perihal yang berkaitan dengan perusahaannya. Setelah melalui beberapa kali pertimbangan oleh pihak department terkait akhirnya pengalihan jabatan CEO sementara disetujui.


"It's oke,"


"Dan hari ini sudah gue pastikan si siluman rubah itu tidak akan hidup dengan tenang," Kayla menatap penuh Dara.


"Maafin gue, karena nggak bisa ikut untuk beresin si wanita ular itu,"


"Hati gue nggak sanggup jika harus bertemu dengan Rey," Dara menyesali.


"Apapun akan gue lakukan demi lo sahabat gue Ra. Jangan terbebani dengan hal itu," timpal Kayla.


"Terimakasih ya Kay," Dara memeluk Kayla sesaat. Mendaratkan kecupan persahabatan pada pipinya.


"Oke. Sebaiknya kita buruan check in, karena sebentar lagi jadwal kita take off," ucap Radit seraya menatap jam tangan mewah yang terpasang pada pergelangan tangannya.


"Oke," singkat Dara sembari mengusap cairan bening yang ternyata sudah membasahi pipi.


"Tolong jaga sahabat gue ya Dit," Pinta Kayla.


"Awas kalau sampai berbuat macam - macam!" ancam Kayla seraya menampakkan kepalan tangannya ke Radit.


"Mana gue berani. Cukup Rey saja yang merasakan bogem mematikan lo!" sungut Radit yang di akhiri senyuman lebar dari bibirnya.


Dara yang yang mendengar candaan Radit cukup terperangah, karena dia baru tahu kalau sahabat wanitanya itu pernah memberikan hadiah mematikannya pada Rey.


"Dara sudah cukup menderita," ucap Kayla sedih sembari menatap Dara.


Radit bisa merasakan betapa besar kasih sayang Kayla pada Dara. Hatinya benar - benar tulus.


"Sungguh Dara beruntung punya sahabat seperti lo Kay," batin Radit.


Radit mendekati Kayla, dan memberikan pelukan singkat namun hangat. Bagi Radit pelukan itu adalah hal wajar dilakukan dengan sahabatnya. Namun tidak bagi Kayla. Tindakan Radit sungguh membuat detak jantung Kayla berdentum hebat. Sesaat tubuhnya terasa kaku. Perasaan yang sudah lama dia pendam seperti ingin mencuat.


Akhirnya Dara dan Radit berlalu pergi untuk check in ke bandara. Kayla menatap langkah mereka hingga akhirnya menghilang dari pandangannya.


"Semoga lo bahagia kelak Ra," gumam lirih Kayla.


"Oke, sekarang waktunya gue nuntasin sesuatu yang tertunda," raut muka Kayla berubah ke mode serius dengan sorotan mata yang dingin.


Wanita cantik bertubuh tinggi itu pun berlalu melangkahkan kakinya keluar dari area bandara. Masuk kedalam sedan metalixnya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi. Seakan takut tidak akan ada hari esok untuk menyelesaikan apa yang sudah direncanakan sebelumnya bersama Dara.


Bersambung~~