Luka Cinta Dara

Luka Cinta Dara
Bab 65 Radit Cemburu



Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..


✓Like 👍


✓Coment 💬


✓Rate 5 ⭐


✓Vote 💰


Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗


🍂 Selamat membaca 🍂


Hari ini Dara begitu sibuk menata semua barang - barang milik suaminya seperti baju dan peralatan kerja kantornya yang dibawanya dari rumah pernikahan Rey dan Dara dulu. Dara memang meminta Rey untuk mengurungkan niatnya membeli rumah lagi dan memintanya untuk menempati rumah peninggalan almarhum sang Ayah.


Kebetulan bi Inah meminta ijin untuk pulang kampung selama 3 hari karena keponakannya akan menikah, jadi istri cantik itu harus mengerjakan semuanya sendiri.


Sedangkan Rey juga terlihat sibuk di atas ranjangnya. Dia sibuk mengamati semua gerak gerik sang istri, menikmati pemandangan sederhana namun sangat dia rindukan.


"Sayang, apa masih lama selesainya?" tanya Rey yang masih rebahan di atas ranjang seraya memperhatikan istrinya.


"Sebentar lagi selesai sayang," jawab Dara seraya meletakkan semua baju kerja suaminya ke dalam lemari.


"Hmmm.. Itu biar diberesin bi Inah kalau dia sudah pulang saja sayang. Mumpung hari Minggu, ayo habiskan waktu dengan bobok - bobok'an," ucap Rey manja.


"Kamu kan tahu sendiri aku paling nggak bisa lihat rumah berantakan kan sayang. Lagian sebentar lagi selesai,"


"Kalau kamu membiarkan aku membantumu pasti sudah beres dari tadi,"


"Kamu tadi cuma meluk - meluk dari belakang, nempel terus kayak cicak di dinding, apanya yang bantu? yang ada sampai tahun depan nggak beres - beres," cibir Dara.


"Iyaaaaa," balas Rey pasrah. Sekarang dia lebih memilih memainkan game cacing di ponsel pintarnya.


"Sayang?" panggil Dara.


"Hmmmm,"


"Nanti sore ke pantai yuk, aku sudah lama nggak refreshing. Mumpung hari Minggu," ajak Dara yang masih sibuk dengan kegiatannya yang nggak kelar - kelar.


"Memangnya kamu nggak capek?"


"Nggak sayang, lagian jarak rumah kita ke pantai kan cuma 30 menit perjalanan. Aku juga ingin mengajak Kayla dan Radit,"


"Kenapa harus mengajak mereka segala sayang," Rey beranjak dari ranjang dan memeluk istrinya dari belakang.


"Aku kangen momen - momen saat kita jalan - jalan bersama seperti dulu. Ayolah sayang, mau ya?" Dara memutar tubuhnya sehingga tubuhnya berhadapan dengan Rey, memohon dengan memasang muka puppy eyes.


"Baiklah, tapi ada syaratnya," ucap Rey dengan senyuman nakalnya.


"Apa syaratnya?"


"Satu kali lagi ya," ucap Rey yang penuh arti.


"Lagi? kan tadi pagi sudah," heran Dara.


"Mau lagi, si dedek sudah berontak lagi," rengek Rey seraya mengusap - usap batangnya yang ternyata sudah mengeras pada perut rata Dara.


Tanpa menunggu persetujuan istrinya, Rey mendaratkan ciuman pada bibir ranum yang begitu manis itu. Tangannya menjelajahi gundukkan kenyal yang menjadi salah satu spot favoritnya. Kemudian dia membalik tubuh Dara untuk membelakanginya. Menyingkap daster yang dikenakan istrinya dan menurunkan kain tipis yang terdalam hingga terjatuh ke lantai. Pria itu lanjut menurunkan calana pendek yang dia kenakan dan mulai melakukan penyatuan dalam posisi berdiri.


"Obati aku dulu sayang, setelah itu aku akan menuruti semua permintaanmu," rancau Rey yang sudah berkabut nafsu seraya memaju mundurkan tubuhnya.


Dara hanya pasrah menerima cumbuan suaminya yang begitu memabukkan itu.


* * *


Rey dan Dara sudah bersiap diri untuk berangkat ke Pantai Ancol yang merupakan salah satu objek wisata yang terletak di pesisir jakarta bagian utara. Beberapa jam sebelum berangkat Rey terlebih dahulu menghubungi Radit dan Kayla untuk ikut serta.


Setelah 30 menit perjalanan, akhirnya mobil mereka sudah di luar kawasan pantai. Selang tidak lama mobil yang ditumpangi Radit dan Kayla pun tiba. Radit memang sengaja menjemput Kayla untuk berangkat bersamanya.


Kemudian mereka membawa mobil mereka menuju loket untuk membayar karcis pengunjung.


Setelah memarkirkan mobilnya, Ray, Dara, Radit dan Kayla menuruni mobil dan menuju kawasan dekat pantai. Semilir angin berhembus lirih seakan menyambut kedatangan mereka. Beberapa pepohonan kelapa yang melambai - lambaikan dahannya karena terpaan angin juga tidak kalah menyambutnya ramah. Hamparan pasir putih yang bagaikan permadani alami mengalasi bibir pantai. Deru suara ombak yang tenang bagaikan musik alam yang terdengar merdu.


Setelah menyusuri bibir pantai, mereka kini sudah menempati tempat ternyaman yang menghadap pantai untuk menikmati sunset. Spot alam yang paling dinantikan oleh setiap penikmat tempat wisata pantai disana.


"Haahh, sudah lama sekali nggak kesini, aku bahkan lupa kapan terakhir datang ke pantai?" senyuman terulas di muka Dara. Kedua netranya menatap lurus ke pantai.


"Apa kamu senang sayang?" tanya Rey seraya mengecup pucuk kepala Dara yang sedang duduk di antara dua kakinya.


"Iya, sangat senang,"


Radit yang melihat kemesraan Rey dan Dara merasakan nyeri di hatinya, meski dia sekarang sudah mulai belajar mengiklaskan cintanya.


"Kalian berbahagialah. Gue akan obati sendiri rasa sakit ini," batin Radit.


Sedangkan Kayla menyadari raut muka Radit yang sedang menahan sakit hatinya. Mungkin orang lain tidak akan bisa menangkap sorotan matanya yang terlihat sedih, namun tidak bagi Kayla. Wanita itu sangat mengerti akan perasaan Radit saat ini.


"Kalian jangan mengumbar kemesraan di depan kita - kita yang lagi jomblo dong! sakit hati gue lihatnya," protes Kayla bermaksut bergurau.


"Emang kalian berdua minta di lempar ke laut," sela Radit yang berusaha mengimbangi suasana percakapan.


"Iri bilang bosss," timpal Rey.


"iissh! kadal buntung sialan," umpat Radit.


"Sahabat laknak emang," Kayla tak mau kalah.


"Hadeh! berisik! sebaiknya kalian bertiga pergi ke laut sana cari ubur - ubur," sela Dara.


Seketika mereka terdiam, ke empat pasang iris mata itu saling lempar tatapan secara bergantian.


"Pffft! Dara mulai menahan tawa yang tentunya di ikuti yang lain.


"Bwahahahaha!" akhirnya tawa mereka pun lepas bersamaan. Suara tawa mereka terdengar menggema.


Melihat kebersamaan mereka sungguh membuat hati menghangat bagi siapa yang melihatnya. Gelak tawa mereka begitu melengkapi suara ombak dan angin pantai.


"Kayla? kamu juga disini?" sapa seorang pria yang sontak membuat mereka berhenti tertawa.


Pria itu memiliki wajah yang tampan khas campuran antara Indo dengan negara bagian barat dan berperawakan tinggi.


"Kamu?" Kayla ingat dengan pria itu.


"Bunga yang mana? soalnya orang yang ngirim nggak cuman satu," tanya Kayla ketus.


"Aku pengagum rahasiamu," balas pria itu tanpa ada rasa sungkan kepada ketiga orang yang sedang menatapnya bersamaan saat ini.


"Oow, makasih," ucap Kayla singkat.


"Emm.. aku boleh minta nomor teleponmu nggak? aku ingin sekali ngobrol denganmu," pinta pria itu. Sesekali dia melempar pandangnya pada tiga orang yang sedang menatapnya.


Pria itu sedikit bergidik ketika pandangannya bertemu dengan Radit. Tatapan mata Radit begitu tajam. Seakan siap menghunus musuh di depannya.


Radit sangat tidak suka akan keberadaan pria yang mengaku sebagai pengagum rahasia Kayla tersebut. Entah mengapa hatinya begitu panas. Bahkan lebih panas daripada dia melihat kemesraan Dara dan Rey beberapa saat ini.


"Lo harus pikir matang - matang jika ingin menjalin hubungan dengan wanita ini," sela Radit yang penuh dengan cibiran.


Sontak pandangan Kayla beralih ke Radit, dia mengerutkan dahinya karena merasa heran dengan ucapan pria itu. Begitu juga Rey dan Dara. Pandangan mereka kini fokus ke Radit juga.


Sedangkan sang pengagum rahasia itu hanya tersenyum ringan. Sebenarnya dia merasa tidak nyaman dengan tatapan Radit yang mengintimidasi.


"Kalau wanita ini marah, jangan harap lo bisa bebas dari bogeman mentahnya. Dia salah satu korbannya," ucap Radit seraya menunjuk ke arah Rey.


Rey seketika menunjuk batang hidungnya karena perkataan Radit yang mengarah kepadanya.


Kayla mendelik mendengar perkataan Radit. Rasanya ingin sekali menonjok muka Radit yang saat ini sangat menyebalkan baginya.


"Aku juga pernah merasakan bogemannya. Justru itu yang membuatku jatuh hati," jujur pria itu dengan senyum yang masih terulas di mukanya yang tampan.


"Dia itu sudah ada yang punya, sebentar lagi menikah, jadi berhentilah berharap," tandas Radit seraya menyungging satu ujung bibirnya ke atas.


Lagi - lagi Kayla mendelik karena kalimat karangan Radit. Dia sangat jengkel saat ini, namun dia masih menahan mulutnya untuk tidak mengumpat.


Entah setan apa yang sedang merasuki pikiran Radit. Saat ini dia hanya ingin pria yang mengaku sebagai pengagum rahasia Kayla itu cepat menyingkir dari hadapannya.


"Benarkah? Maaf karena aku nggak tahu, sekali lagi maaf," ucap si pria pengagum rahasia. Guratan kekecewaan terlihat jelas di mukanya.


"Sepertinya aku kalah cepat. Sungguh beruntung pria yang bisa mendapatkan hati wanita secantik kamu," pujinya dengan tulus.


"Kalau begitu sampai bertemu lagi," pamit pria itu dan berlalu dengan membawa kekecewaan.


"Sampai jumpa kepalamu! Jangan harap lo akan berjumpa lagi dengan Kayla," gerutu Radit di dalam hati.


Setelah kepergian pria itu, Kayla menatap sinis muka Radit yang terlihat tidak berdosa tersebut.


"Lo apa'an sih Dit?! bisa - bisanya lo ngomong seperti itu?" protes Kayla.


"Dia itu nggak cocok buat lo. Dari mukanya saja sudah keliatan kalau dia itu playboy," lagi - lagi Radit berucap tanpa merasa penuh dosa.


"Suka - suka gue mau deket sama siapa saja, nggak ada hubungannya sama lo," seru Kayla kemudian dia beranjak dari tempatnya meninggalkan Radit dengan perasaan dongkol.


"Kayla!" panggil Radit namun wanita itu tak mengindahkannya sehingga tubuhnya menghilang dari pandangan Radit. Kini pria itu terlihat frustasi.


Sedangkan Rey dan Dara sangat tercengang dengan tontonan langsung di depan mereka. kedua orang itu saling melempar pandangan diikuti senyuman yang penuh arti. Sepertinya sepasang suami istri itu mulai menyadari perasaan Radit ke Kayla.


"Ehem! sepertinya ada yang harus dikasih pencerahan nih," Dara mulai memecah suasana yang terasa tidak mengenakkan saat ini.


"Dit, gue mau tanya,"


"Apa?"


"Bagaimana perasaan lo sama gue saat ini?" tanya Dara terang - terangan sembari mengusap lembut tangan Rey agar tetap tenang karena menyadari raut muka suaminya yang sudah tertekuk.


"Perasaan gue? masih sama seperti dulu," jawab Radit asal.


"Iishh!" Rey mulai kesal namun Dara memberikan isyarat dengan gelengan kepalanya agar Rey menahan emosinya.


"Nggak. Perasaan lo ke gue saat ini nggak seperti dulu. Perasaan lo saat ini hanya perasaan ingin melindungi sebagai sahabat saja,"


Radit masih mencerna perkataan Dara. Sedangkan Rey masih setia menyimak dengan sisa kekesalannya.


"Sekarang gue tanya, bagaimana perasaan lo ke Kayla?" tanya Dara menyelidik.


"Gue nggak tahu,"


"Coba tanya pada hati lo, perasaan seperti apa yang sedang ada di hati lo," nasehat Dara.


"Gue nggak tahu Ra,"


"Beneran nggak tahu?" tanya Dara seraya melemparkan senyuman penuh arti ke Rey yang juga mulai mengerti tujuan pembicaraan Dara.


Radit hanya mengangguk pelan. Dia masih bingung dengan perasaannya.


"Ya sudah kalau begitu,"


"Sayang.. kemarin sepertinya kamu ingin mengenalkan Kayla dengan partner kerjamu yang tajir itu. Sepertinya dia cocok sama Kayla. Dia sedang mencari istri kan? kebetulan Kayla juga belum ada pasangan," Ucap Dara seraya mengedip - ngedipkan matanya ke suaminya yang tentu langsung di pahami olehnya.


"O iya sayang, coba aku telepon dia sekarang ya," ucap Rey dengan nada suara yang diperjelas.


"Cukup! jangan lakukan itu! gue nggak suka," tandas Radit kesal.


"Kalau nggak suka, buruan kejar Kayla sekarang, keburu di ambil orang," ucap Rey.


Radit masih saja enggan untuk beranjak dari tempatnya.


"Lo mau mengulangi kesalahan yang sama?" tanya Rey yang mulai kesal dengan sikap sahabatnya yang tidak peka itu.


"Maksut lo?"


"Lo dulu terlalu takut ngungkapin perasaan lo ke Dara dan akhirnya Dara menjadi milik gue. Kalau lo masih seperti itu, siap - siap Kayla juga akan jadi milik orang lain," perkataan Rey kali ini sepertinya berhasil mempengaruhi pikiran sahabatnya.


Radit pun mulai beranjak meninggalkan Rey dan Dara. Entah apa yang akan dia lakukan setelah ini. Saat ini, dia hanya mengikuti kata hatinya.


"Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri," ucap Rey ke istrinya seraya memeluk tubuhnya dari belakang dan memberi kecupan ringan pada pucuk kepalanya.


"Iya sayang, sepertinya tugas kita sudah selesai," tambah Dara seraya mengusap pipi Rey.


"Tapi sayang, bagaimana perasaan Kayla ke Radit?" tanya Rey yang khawatir Radit akan mengalami cinta bertepuk sebelah tangan lagi.


"Hal itu tidak usah dicemaskan sayang, karena Kayla sebenarnya sudah lama membiarkan nama Radit terukir di hatinya secara diam - diam,"


"Benarkah? syukurlah kalau begitu,"


Bersambung~~