Luka Cinta Dara

Luka Cinta Dara
Bab 45 Permintaan maaf Rani



Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..


✓Like 👍


✓Coment 💬


✓Rate 5 ⭐


✓Vote 💰


Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗


🍂Selamat membaca🍂


Papa Rengga datang bersama istrinya. Dia begitu senang bisa bertemu dengan menantu kesayangannya setelah beberapa tahun pergi tanpa kabar. Dia pun sangat memaklumi hal itu.


Seperti kebiasaannya, Dara menyalami dan mencium tangan Ayah keduanya itu. Kehadiran Papa Rengga sungguh mengingatkannya pada almarhum Ayahnya. Kini butiran bening satu persatu bergulir begitu saja membasahi pipinya.


Papa Rengga yang menyadari hal itu pun ikut haru. Kedua matanya mulai memerah dan terasa panas.


"Bagaimana kabarmu Nak? kemana saja kamu selama ini?" tanya Papa Rengga seraya memberi pelukan hangat.


"Aku baik ko Pa. Papa bagaimana kabarnya? maafkan Dara yang pergi tanpa pamit,"


"Nggak apa - apa. Yang penting sekarang kamu sudah kembali dalam keluarga kita," Pria tua itu begitu senang.


Sang menantu hanya tersenyum masam mendengar perkataan Ayah mertuanya.


"Maafkan Dara Pa. Karena aku tidak mungkin tetap tinggal di rumah ini. Aku nggak bisa kembali bersama putramu. Ini terlalu menyakitkan bagiku," gumam Dara di dalam hati.


Setelah Dara melepaskan diri dari pelukan sang Ayah ke duanya, matanya berpindah pada sosok Rani yang terlihat canggung namun masih menampilkan raut muka gengsi di belakang Papa Rengga.


Tidak ada sapa kata yang saling terlontar di antara mereka. Dara hanya menyalami singkat wanita paruh baya itu. Sang Ibu mertua yang telah ambil andil dalam melempar batu penderitaan padanya di saat itu. Apa daya hati yang tidak bisa membohongi diri. Rasa kecewa masih melekat erat di dalam relung hatinya.


Rey yang juga berada di antara mereka hanya bisa diam menyaksikan suasana hati yang berbeda antara mereka bertiga.


Mereka sudah berada di ruang makan. Mereka menyantap sajian makanan diiringi suara dentingan sendok dan piring. Tidak banyak kata yang terucap. Hanya sesekali Papa Rengga melontarkan satu atau dua pertanyaan kepada anak menantunya.


Rani dan Rey masih setia dengan kediamannya. Semenjak kejadian yang menyebabkan Dara pergi, hubungan di antara mereka tidak sehangat dulu. Tentu saja sang putra masih sangat kecewa dengan sang mama.


Rani terlihat tidak begitu menikmati makan malamnya. Sesekali matanya mencuri - curi pandang pada Dara meskipun beberapa kali tertangkap basah oleh wanita yang dulu tak pernah dianggap anak menantunya itu.


"Apa masakanku kurang enak Ma?" tanya Dara untuk memecahkan suasana.


"Bukannya ini pertama kali Mama mau makan masakanku?" sindirnya mengingatkan pada waktu 2 tahun yang lalu. Sang Mama mertua memang selalu membuang semua makanan darinya.


Rey dan Papa Rengga hanya melirik sekilas ke arah sumber suara kemudian melanjutkan makannya.


"Lumayan," jawab Rani singkat yang masih mengandalkan gengsinya.


"Selama ini selalu Papa Rengga yang memuji masakanku," tandasnya seraya melempar senyuman hangat pada Papa mertuanya.


"Lidah Papa mertuamu ini memang selalu cocok dengan masakan buatan tanganmu sayang,"


"Lagian Mama mertuamu ini nggak bisa masak seenak kamu," cibirnya.


Rani terlihat kesal mendengar cibiran suaminya.


"Huh! kenapa harus berkata seperti itu? mau di letakkan dimana mukaku ini?"


"Hmm. Tapi memang ku akui semua masakan ini enak," Rani berbicara di dalam hati.


"Padahal setiap hari aku selalu memuji masakannya, tapi kenapa hanya Papa yang disebut?" gerutu Rey di dalam hati.


Kegiatan makan malam berakhir dengan cepat. Sekarang Dara berada di ruang keluarga bersama Rani, sedangkan Rey dan Papa Rengga berada di ruang kerja di lantai dua untuk membahas sedikit urusan pekerjaan.


Dara masih menatap lurus ke arah Mama mertuanya yang sedari tadi belum juga berucap.


"Apa yang ingin anda bicarakan?" Dara sudah tidak sabar menunggu suara yang keluar dari mulut wanita tua di depannya.


Beberapa saat yang lalu, Rani memang mengajak anak manantunya itu untuk berbicara empat mata.


Suasana masih hening. Hanya suara ketukan jarum jam dinding yang terdengar.


"Kalau memang tidak ada yang dibicarakan saya akan kembali ke kamar," ucap Dara yang sudah beranjak dari duduknya.


"Maaf," suara Rani terdengar sangat lirih, tapi cukup buat Dara terhenti dari langkahnya yang hendak berlalu pergi.


Dara membalikkan badannya menghadap Rani yang masih berduduk di atas sofa empuknya.


"Tadi aku bilang maaf," Rani memperjelas ucapannya.


"Ooow.."


"Ehem! jangan terlalu percaya diri. Aku bilang maaf, bukan berarti rasa benciku padamu hilang," ucap Rani penuh gengsi.


"Sudah kuduga," Tersenyum miris.


"Kalau begitu saya permisi dulu," berlalu pergi meninggalkan Rani.


"Mungkin dulu aku akan diam saja ketika anda berkata yang menyakitkan. Aku selalu terima semua perkataan pedasmu karena perihal belum juga bisa melahirkan anak untuk Rey. Itu semua karena aku masih ingin mempertahankan pernikahanku. Tapi sekarang sudah berbeda. Aku bahkan sudah tidak ada minat untuk mempertahankan pernikahan yang penuh derai air mata ini," batin Dara seraya melangkah menuju kamar.


Beberapa saat setelah Papa Rengga dan Rani pulang, Rey melangkahkan kakinya menuju kamar. Pria bertubuh jangkung itu berdiri di belakang Dara yang sedang duduk di depan meja rias.


Rey menatap hangat muka cantik istrinya melalui pantulan kaca. Wanita cantik di depannya masih berkutat dengan serentetat perawatan wajah dan tubuhnya tanpa menghiraukan Rey yang terus memandangnya.


"Sampai kapan kamu akan bersikap seperti ini terus padaku?" tanya Rey, namun Dara masih enggan untuk bersuara.


Kedua mata Dara sedikit melirik karena dari pantulan kaca terlihat Rey sedang merogoh ke dalam saku celana yang sedang dia kenakan. Mengeluarkan benda pipih yang selama ini dia sita dari Dara.


"Ini milikmu," Rey mengulurkan ponsel pintar yang ada di genggamannya.


Kedua netra Dara terlihat berbinar mengetahui benda kesayangannya itu sudah kembali ke tangannya. Namun mukanya kembali masam karena Rey menarik kembali benda pipih itu ketika Dara hendak meraihnya.


"Eits! tapi jangan sekali - kali kamu mencoba untuk kabur!" randas Rey.


Dara hanya mendengus kesal dan dengan cepat dia menyaut benda incarannya dari tangan Rey.


"Aku juga sudah masukkan nomor sim card baru pada ponselmu,"


Dara tak mengindahkan perkataan Rey. Dia sibuk dengan benda pipihnya itu. Seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru.


Dara berencana langsung menghubungi sahabatnya Kayla. Berharap sahabatnya itu bisa membantunya untuk keluar dari penjara berkedok istana itu.


Jarinya menekan simbol kontak pada layar ponselnya. Namun lagi - lagi dia dibuat kesal akan tindakan Rey.


"Ya Tuhaaannn! kamu menghapus semua kontak teleponku, termasuk nomor sahabatku?!" histeris Dara. Tatapan tajam mendarat pada sosok pria yang terpantul pada kaca meja riasnya


"Sungguh tidak masuk akal! kamu gila ya?!"


"Terus apa ini?!" hardik Dara seraya menyodorkan layar ponsel pintarnya tepat di depan muka Rey.


Di dalam daftar kontak telepon hanya ada satu nomor yang diberi nama "Suami tampanku". Siapa lagi kalau bukan ulah si Pria nakal itu.


"Pergi! Aku bilang pergi!" Dara mendorong tubuh Rey keluar kamar dan mengunci pintu dari dalam.


"Sayang, biarkan aku masuk," pinta Rey seraya mengetuk - ketuk pintu.


"Jangan harap!"


"Sayang, usahamu ini akan terbuang sia - sia," timpal Rey karena dia selalu punya kunci cadangan pada setiap ruangan.


Dreett... Dreett... Dreettttttt...


Dari luar Rey seperti mendengar suara gesekan antara benda berat dengan lantai. Dia menempel telinganya ke pintu agar terdengar lebih jelas.


Dreeettt..Dug!


Pria itu sedikit kaget dan reflek menjauhkan telinganya dari pintu karena terdengar suara keras di balik pintu.


"Sayang, apa yang sedang kamu lakukan?"


Cemas akan terjadi sesuatu pada istrinya, Rey bergegas mengambil kunci cadangan dan berusaha membuka pintu. Namun usahanya itu gagal. Pintu tidak bisa terbuka. Seperti ada benda yang menghalang dari dalam.


Dari dalam Dara terlihat ngos - ngosan karena badannya yang kurus harus memaksakan diri mendorong benda berat ke arah pintu. Dia memang sengaja menghalangi pintu dengan meja rias agar Rey tidak bisa seenak jidat masuk ke dalam.


"Kamu tidur di luar!" seru Dara dari dalam.


* * *


Di dalam bangunan lapas tempat para tersangka kriminal di hukum, terlihat Nicho sang mantan asisten sedang gusar di balik deruji. Dia baru saja mendengar kabar Bella kabur dari Rumah Sakit Jiwa yang terletak di jakarta pusat tempat dia dirawat.


Iya, satu tahun mendekam di penjara, mantan istri kedua Rey itu mengalami gejala gangguan mental. Dia sempat hampir membunuh teman sepenjaranya. Bahkan bayi yang dikandung harus segera dibawa lari oleh petugas yang berwenang setelah dilahirkan. Wanita sakit mental itu juga beberapa kali tertangkap mata hendak berbuat hal yang berbahaya kepada bayinya yang tak berdosa.


Nicho sungguh tidak bisa berpikir tenang selama wanita gila itu belum juga tertangkap. Dia takut Bella akan kembali mengganggu bahkan mengancam keselamatan Rey dan Dara. Hal ini jelas membuat rasa penyesalan akan penghianatannya semakin mendalam.


Bersambung~~