
Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..
✓Like 👍
✓Coment 💬
✓Rate 5 ⭐
✓Vote 💰
Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗
🍂Selamat membaca🍂
Sudah dua minggu, pria yang dulunya berniat melindungi janin dalam rahim Bella namun terpaksa menggunakan cara yang salah itu bebas dari deruji besi yang mengurungnya selama ini.
Nicho keluar dari Minimarket tidak jauh dari Panti Asuhan Kasih Ibu yang terletak di pinggiran Ibu Kota Jakarta. Terlihat kedua tangan kurusnya sedang menenteng kresek besara yang berisi susu, pempers, mainan dan kebutuhan bayi lainnya. Tidak lupa makanan ringan untuk menyenangkan si buah hati dan anak - anak panti lainnya.
Langkahnya yang semangat segera mengantarkannya pada bangunan lama namun terlihat bersih dan asri. Sebuah istana kecil yang dijadikan tempat perlindungan bagi para malaikat kecil yang kekurangan kasih sayang orang tua.
Kedatangan Nicho disambut ceria oleh anak - anak penghuni panti yang sedang bermain di halaman.
"Yey.. Om Nicho datang lagi," seru anak - anak yang berhamburan mendekatinya.
Memang selama dua minggu dia bebas dari buih, tidak pernah satu haripun terlewatkan untuk mengunjungi panti asuhan tersebut.
"Iya sayang, ini Om ada sedikit makanan buat kalian. Jangan berebut ya," ucapnya seraya menyerahkan kresek yang berisi makanan kepada salah satu anak panti yang lebih tua.
"Terimakasih Om..," anak - anakpun bersorak gembira karena akan mendapatkan jajan yang bagi mereka sangatlah istimewah.
Senyuman masih terus terulas pada mukanya yang kurus dan terlihat sedang tidak sehat.
"Mas Nicho, kamu datang lagi?" sapa ramah seorang wanita paruh baya yang sehari - harinya bertugas mengelolah Rumah Panti tempat anak Nicho dititipkan.
"Iya Bu Mirna, saya datang lagi. Nesya dimana ya Bu?" tanya Nicho yang tak sabar ingin bertemu si buah hati.
"Nesya sedang bermain di dalam, Mas Nicho masuk saja. Nesya pasti senang bertemu dengan Ayahnya," ucap Bu Mirna.
"Baik Bu Mirna, terimakasih," Nicho pun melangkahkan kakinya menuju ke tempat Nesya bermain.
"Nesya..., Papa datang," seru Nicho yang melihat si buah hati yang sedang asyik bermain boneka.
Ayah muda tersebut lalu menggendong badan kecil Nesya dan mendaratkan beberapa ciuman pada pipi cubbynya.
"Papa.. Papa.. Papa atang gi ( Papa datang lagi )," ucap Nesya dengan logat bayi yang belum bisa mengucapkan kata dengan sempurna karena umurnya yang belum genap dua tahun.
"Iya sayang, Papa kangen," kini mata Nicho mulai berkaca - kaca.
"Mas Nicho bisa kita berbicara sebentar?" tanya Bu Mirna.
"Iya Bu, ada apa?"
"Mari kita bicarakan di ruang tamu saja,"
"Baik," ucap Nicho seraya beranjak dari duduknya dengan Nesya masih dalam gendongannya.
Kini Nicho dan Bu Mirna sudah berada di ruang tamu.
"Mas Nicho apakah kamu yakin akan menitipkan Nesya seterusnya disini?"
"Saya tidak punya pilihan lain Bu Mirna. Kehidupan Nesya akan lebih terjamin tinggal di panti daripada dengan saya yang umurnya sudah tidak panjang lagi," tutur Nicho yang kini menatap sendu muka bayi Nesya yang terlihat senang dengan mainan yang dipegangnya sekarang.
"Hah? apa maksutnya mas Nicho? apa kamu sedang sakit?" tanya Ibu panti tersebut dengan raut muka terkejut.
"Iya Bu, saya sedang sakit. Dokter memvonis saya kena kangker paru - paru stadium akhir dan kesempatan untuk hidup tidak akan lama," Nicho tetap mencoba menampilkan raut muka tegar meskipun dia merasa begitu terpukul.
"Ya Tuhan, pantas saja saya selalu melihat muka Mas Nicho begitu pucat. Mas Nicho yang sabar ya," ucap Bu Mirna sedih.
"Bukannya seharusnya Mas Nicho berada di Rumah Sakit untuk mendapatkan pengobatan?" kata Bu Mirna.
"Saya sungguh kasian sama Nesya. Dia masih kecil tapi sudah harus merasakan pahitnya kehidupan," ucap Nicho sedih seraya mengusap lembut kepala Nesya yang sedang duduk di pangkuannya.
"Bagaimana kabar Mbak Bella?" tanya Bu Marni yang memang sudah mengetahui cerita tentang kedua orang tua bayi Nesya.
"Ibunya sudah tidak bisa diharapkan lagi. Saya mohon ketika saya sudah meninggal jangan biarkan Nesya berada dekat dengan Ibunya. Saya takut Bella akan bertindak yang mengancam nyawa Nesya lagi," pinta Nicho yang penuh dengan rasa kepedihan.
"Mas Nicho jangan berkata seperti itu, bertahanlah demi Nesya," Bu Mirna memberi semangat.
"Baik Bu, terimakasih," ucap Nicho haru.
Bu Mirna menatap sendu kedua Ayah dan Anak yang ada di depannya sekarang. Sungguh miris dan menyedihkan. Baru beberapa hari mereka bisa berkumpul setelah beberapa tahun deruji besi memisahkan mereka. Belum lama mereka bisa saling menumpahkan rasa rindu yang lama tertahan, namun pada akhirnya mereka harus berpisah. Sepertinya Tuhan sudah menyiapkan kebahagiaan lain.
Keesokan harinya, seperti biasa Nicho selalu berkunjung ke rumah Panti Asuhan Kasih Ibu. Namun dia berniat pergi ke Rumah Sakit terlebih dahulu untuk meminta obat pereda nyeri. Untuk saat ini Nicho hanya bisa bergantung pada obat tersebut untuk bertahan dari rasa sakit pada tubuhnya.
Taxi yang dia tumpangi sudah berhenti di depan Rumah Sakit yang biasa dia kunjungi. Setelah membayar dia melangkahkan kakinya keluar Taxi dan menuju bangunan Rumah Sakit besar yang identik dengan warna putih tersebut.
Dia berjalan menyusuri koridor Rumah Sakit menuju ruangan pribadi Dokter Spesialis paru - paru. Namun langkahnya terhenti saat melewati dinding jendela kaca yang menyajikan pemandangan taman kecil yang berada di luar gedung bangunan Rumah Sakit.
Bukan taman itu yang menjadi sasaran bidikan kedua netranya, namun kedua anak manusia yang terlihat sedang menikmati hangatnya sinar mentari pagi.
"Nona Dara? Kayla?" gumam si Nicho.
Nicho melihat Kayla sedang menemani Dara yang sedang terduduk di kursi roda. Lalu tanpa sengaja kedua pupilnya berpindah ke arah Rey yang berada sedikit jauh dari kedua wanita tersebut. Rey terlihat sedang mengamati Dara dari jauh. Terlihat raut kesedihan pada muka Rey.
"Apa yang telah terjadi pada Nona Dara?" Nicho penasaran melihat kondisi istri mantan Tuannya itu.
Ingin rasanya dia mendatangi mereka, namun mengingat kesalahan yang telah dia perbuat, membuatnya terlalu malu meski hanya sekedar bertatap muka.
"Apa hubungan Tuan Rey dan istrinya sedang tidak baik?" gumamnya lagi. Nicho memang belum mengetahui kisah rumah tangga mereka setelah masuk dalam buih.
Uhuk..! Uhuk..!
Tiba - tiba rasa sakit pada dada Nicho kembali muncul. Dia segera mengakhiri tontonannya. Dengan langkah gontai dia berlalu pergi dari tempat dia berpijak untuk segera mendapatkan lagi obat pereda nyeri pada dadanya yang memang kebetulan sudah habis.
* * *
Di taman Rumah Sakit.
"Kay, apa seterusnya gue akan hidup dalam kegelapan seperti ini?" Tanya Dara dengan tatapan kosong. Kini Dara sudah terlalu lelah untuk sekedar mengeluarkan air mata. Beberapa hari ini dia terlihat lebih banyak diam.
"Nggak Ra, lo harus sabar, lo harus kuat. Lo masih ada kesempatan untuk melihat," balas Kayla.
"Maksut lo, gue bisa sembuh?"
"Iya, lo bisa sembuh. Dokter bilang ada orang yang secara sukarela ingin mendonorkan kornea matanya untukmu," jelas Kayla untuk menenangkan Dara.
"Benarkah? siapa orang baik hati itu?" kenapa dia rela memberikan matanya? Bukankah hal itu akan membuat dia tidak bisa melihat? itu akan sangat merugikan baginya," Dara membom bardir beberapa pertanyaan sekaligus kepada Kayla.
"Gue juga nggak tahu Ra, karena orang itu meminta identitasnya dirahasiakan," timpal Kayla.
"Sayang sekali, setidaknya gue harus menyampaikan terimakasih kepadanya," ucap Dara kecewa.
"Jangan lo pikirkan hal itu, yang penting lo bisa kembali melihat,"
Kemarin Dokter Spesialis Mata yang memeriksa kondisi mata Dara mengabari bahwa ada orang yang suka rela mendonorkan kornea matanya. Jika memungkinkan, Dara bisa melakukan operasi setelah melewati masa pemulihan paska kecelakaan. Namun sang Dokter tidak bersedia memberitahukan tentang identitas pendonor tersebut karena orang tersebut memintanya untuk merahasiakannya.
Padahal sesungguhnya Kayla sudah mengetahui bahwa Rey adalah orang yang akan mendonorkan matanya. Waktu itu, Kayla tanpa sengaja mendengar percakapan serius antara Rey dan sang Dokter. Kayla sangat terkejut mendengar keputusan Rey.
Di dalam ruangan, terdengar sang Dokter berkali - kali meyakinkan bahwa hal itu sangat beresiko karena pendonor masih hidup. Namun bukan Rey namanya kalau semua keputusannya tidak dapat di penuhi. Sikap keras kepalanya memang sudah melekat erat dalam dirinya.
"Ra sebaiknya kita kembali ke kamar, lo harus banyak istirahat," saran Kayla.
"Baiklah," ucap Dara diiringi dengan anggukan kecil.
Kayla pun lekas mendorong kursi roda yang sedang diduduki Dara. Mereka berjalan menyusuri lorong Rumah Sakit. Saat dalam perjalanan kembali ke kamar perawatan, tanpa diketahui Dara, Kayla dibuat terkejut karena saat ini dia melihat sosok Nicho yang baru saja keluar dari ruangan Dokter. Nicho yang menyadari keberadaan Kayla dan Dara pun juga tak kalah terkejut.
Bersambung~~