
Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..
✓Like 👍
✓Coment 💬
✓Rate 5 ⭐
✓Vote 💰
Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗
🍂Selamat membaca🍂
Rey duduk santai di ranjang sambil menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Memperhatikan tubuh Dara yang sedang duduk di depan meja kaca rias dari belakang. Dara sedang sibuk mengaplikasikan perawatan skincare wajahnya, lalu di akhiri dengan night body lotion. Sesibuk apapun Dara sebagai CEO, untuk perawatan rutin tidak pernah dia tinggalkan.
Malam ini jadwal Rey tidur bersama Dara setelah satu minggu bersama Bella. Rey masih saja sabar menunggu istrinya itu selesai dengan ritual malamnya. Tapi tidak seperti biasanya. Ritual malam ini kenapa lebih lama. Lebih dari satu jam Dara masih dalam posisi yang sama. Sepertinya Dara memang sengaja melakukan itu.
"Sayang sampai kapan kamu akan tetap disitu?"
"Sudah lebih dari satu jam lo ini," ucap Rey mengeluh.
"Kamu tidur saja duluan. Aku belum selesai," timpal Dara santai.
Rey kesal dengan sikap Dara. Malam ini adalah waktu yang sangat dinantikannya setelah sekian lama. Akhirnya dia bisa tidur bersama istrinya itu. Dia sangat merindukan moment - moment malam di ranjang bersama Dara, tapi Dara seperti tidak begitu memperdulikan keberadaannya disana.
Rey yang dasarnya memiliki watak yang tidak sabaran langsung beranjak dari posisinya. Mendekati istrinya, lalu dengan sergap mengangkat tubuh istri yang begitu ringan baginya. Dara terkejut dengan perlakuan tiba - tiba Rey, sehingga reflek dia menjatuhkan begitu saja benda kecil tempat krim mukanya dari tangannya. Namun Rey tidak peduli.
Rey mendaratkan dengan mulus tubuh Dara di atas ranjang berukuran king size tersebut. Menutupi tubuhnya dengan selimut. Dan tentu saja Rey juga menyusul masuk ke dalamnya, sehingga tubuh mereka berada dalam satu selimut sekarang.
Rey memeluk erat tubuh istrinya yang sangat dirindukannya itu. Menghirup dalam aroma khas vanilla yang melekat pada tubuh Dara.
"Rey kamu buat aku jantungan tahu nggak sih!" ketus Dara.
"Aku sangat merindukanmu sayang. Merindukan momen - momen berdua seperti ini,"
"Apa kamu tidak merindukanku?"
"Ehem! besok aku berencana mengunjungi Ayahku, apa kamu mau ikut?" Dara berusaha mengganti topik.
"Maaf sayang, besok aku ada pertemuan besar dengan investor - investor perusahaanku,"
"Aku temani kamu di hari lain saja ya?" rujuk Rey yang sebenarnya agak kecewa karena Dara tidak merespon ungkapan rindunya.
"Besok aku akan pulang agak malam. Kamu bisa minta dibuatkan makan malam sama Bi Ningsih,"
"Oya aku lupa, istri barumu itu pasti akan masak buatmu," ucap Dara ketus.
Rey hanya diam tidak mau terlalu menanggapi serius ucapan Dara. Dia tahu, apapun jawabannya akan tetap salah di mata Dara. Dia berusaha memahami situasi, karena tahu perasaan kecewa masih melanda istrinya itu.
Rey masih saja sibuk memeluk dan mencium lembut rambut Dara. Sesekali memberi kecupan pada pipinya yang merona. Masih terdengar suara Dara yang berceloteh. Namun hal itu tidak menghentikan aksinya. Rey malah lanjut mendaratkan kecupan panasnya pada tengkuk leher Dara. Dan benar saja, hal itu membuat bibir Dara berhenti berceloteh.
"Sayang apa boleh aku melakukannya malam ini?"
"Aku sudah menahannya lama sejak munculnya masalah kita trakhir," suara Rey parau. Ternyata hasratnya sudah memuncak.
"Apa kamu tidak kasian padaku?"
"Biasanya setiap malam kita melakukannya,"
"Hah?Apa selama tidur di kamar Bella dia tidak melakukannya dengannya?" batin Dara.
Memang selama tidur di kamar Bella Rey tidak pernah melakukan hubungan badan dengan istri ke duanya itu. Dia justru memilih tidur di sofa kamar daripada tidur satu ranjang dengan Bella. Rey memang belum siap untuk tidur dengan wanita lain selain Dara.
"Sayang aku sangat merindukan tubuhmu,"
"Boleh ya," ucap Rey berhati - hati. Takut adanya penolakan.
Dara merasa iba melihat muka suaminya yang melas itu. Dia hanya menjawab permintaan suaminya dengan satu kali anggukan saja. Rey tersenyum lega karena tidak ada penolakan dari Dara.
Tanpa menunggu waktu lama, Rey mendaratkan ciuman lembut pada bibir kenyal Dara. Dara menyambut ciuman Rey dengan membuka sedikit bibirnya. Ciuman mereka semakin panas. Melepaskan semua kerinduan yang beberapa hari terpendam. Melupakan sejenak masalah - masalah yang sempat buat hubungan mereka renggang. Mereka bercumbu dengan nafsu yang menggelora. Menyalurkan semua hasrat yang sudah memuncak sampai ke ubun - ubun, hingga hawa kamar terasa panas.
(Cukup segini saja ya, kalau adegan kuda - kudaannya terlalu detail, reviewnya kelamaan🤣 kan update juga lama nantinya🤣)
* * *
Hari ini Dara pulang kerja agak awal karena berencana mengunjungi Ayahnya. Dia sangat merindukan ayahnya.
Tidak sampai satu jam perjalanan, akhirnya Dara sampai pada kediaman sang Ayah. Mobilnya memasuki halaman yang luas dan memutari kolam ikan yang ditengahnya terdapat patung air pancuran yang sangat indah. Dara memarkirnya mobil mewahnya dengan rapi.
Dara tidak sabar ingin segera menemui dan memeluk Ayahnya. Dia berjalan setengah berlari memasuki rumah mewah di depannya itu. Kedatangan Dara disambut ramah oleh beberapa orang yang bekerja sebagai pelayan di rumah tersebut.
"Selamat sore Non,"
"Selamat sore, Ayah dimana ya?
"Oke. Maaksih ya,"
Dara menaiki tangga yang menghubungkan dengan lantai dua. Dia yakin Ayahnya sekarang berada di ruang baca tempat favoritnya. Dan benar saja, Ayahnya sedang duduk dengan sebuah buku tebal di tangannya.
"Ayah...! Dara sudah datang," suara Dara memenuhi isi ruangan karena sangking keras suaranya.
"My little Princes sudah datang?" Ayah Dimas menyambutnya dengan hangat.
"Dara kangen banget sama Ayah." Ucap Dara seraya memeluk manja sang Ayah. Tidak ketinggal mencium pipinya dengan sangat sayang.
"Ayah baik - baik saja kan?"
"Ayah sudah makan belum?"
"Obatnya diminum kan?"
"Ayah harus perhatikan kesehatan,"
Ya, begitulah Dara kalau lagi bersama Ayahnya. Keluar semua sifat aslinya. Manja dan cerewet, tapi sangat perhatian. Berbanding terbalik saat dia berada di kantornya. Sifatnya sangat berwibawa, elegan, dan tegas, tapi tidak menghilangkan sifat lembutnya.
"Kamu sudah menikah, tapi sifatmu masih saja seperti anak - anak," ucap sang Ayah sambil mengusap lembut rambut Dara.
"Ayah Sendiri juga gitu. Sudah tahu Dara sudah menikah tapi tetap saja manggil Dara seperti itu," ucap Dara dengan mengerucutkan bibirnya.
"Hahaha.. Itu panggilan kesayanganmu. Almarhum mamamu semasa masih hidup dulu juga sering manggil gitu sayang.
Dara masih tidak mau lepas dari tubuh Ayahnya. Pelukannya terasa semakin erat. Dimas sedikit merasa heran, melihat kelakuan putrinya yang agak berbeda hari ini. Dia melihat muka Dara, yang ternyata sudah basah dengan air mata.
"Kamu kenapa sayang? apa sedang ada masalah?" tanya sang Ayah cemas.
"Dara tidak lagi ada masalah ko Yah. Dara cuma kangen banget sama Ayah,"
"Ayah jaga kesehatan ya, karena Dara tidak bisa 24 jam bersama Ayah," ucap Dara sedih.
"Iya sayang, Ayah selalu rutin minum obat, jadi tenang saja,"
"Oya bagaimana kabar nak Rey?"
"Rey baik ko Yah. Tadinya aku mau ngajak dia kesini juga. Tapi Dia masih ada urusan dengan pekerjaannya,"
"Kamu tidak sedang ada masalah dalam rumahtanggamu kan?" tanya Ayah Dimas, seraya menangkupkan kedua tangannya pada pipi putrinya.
Dara sedikit tertegun dengan pertanyaan Ayahnya itu. Dia tidak mungkin bilang kalau suaminya menikah lagi.
"Ayah kan tahu sendiri, Rey sangat mencintaiku," ucap Dara, seraya menampilkan senyuman yang dipaksa.
"Syukurlah kalau begitu. Kamu adalah putri Ayah satu - satunya. Ayah tidak ingin kamu menderita,"
"Iya Ayah,"
"Yah, janji ya,"
"Janji apa sayang?"
"Ayah nggak akan pergi kemana - mana,"
"Ayah akan selalu ada untuk Dara,"
"Dara tidak bisa membayangkan, bagaimana hidupku jika tidak Ayah,"
"Setelah mama meninggal, hanya Ayah satu - satunya yang menyayangi dan menemani Dara,"
"Dara bahkan tidak punya kakek dan nenek. Mereka semua sudah di surga,"
"Iya sayang.. Ayah janji,"
"Kenapa tiba - tiba suasananya jadi melow gini sih? hehehe,"
"hehehe.. Ya sudah. Hari ini Dara mau masak menu kesukaan Ayah. Kita makan malam bersama ya," timpal Dara sebelum pergi meninggalkan ruangan.
* * *
Rey baru saja tiba dari sepulang kerjanya. Hari ini dia tidak ada lembur, jadi dia pulang pas waktu makan malam. Dia memasuki rumah dan hendak manaiki tangga menuju lantai atas. Tapi langkahnya terhenti karena mendengar suara dari kamar Bella yang memang letaknya berada di lantai satu, tidak jauh dari tangga.
Rey mulai mendekati sumber suara tersebut. Pintu kamarnya Bella terbuka sedikit. Dia sebenarnya berniat menyapa istri keduanya itu, tapi urung dia lakukan. Dia coba mengintip dari balik pintu. Ternyata Bella sedang berbicara dengan seseorang lewat sambungan teleponnya. Namun Rey sangat dibuat terkejut ketika mendengar apa yang keluar dari mulut Bella.
Bersambung~~
Jangan lupa mampir di karya author satunya lagi ya, masih on going. Ditunggu kunjungannya🥰