Luka Cinta Dara

Luka Cinta Dara
Bab 43 Sedikit masalah di masa lalu.



Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..


✓Like 👍


✓Coment 💬


✓Rate 5 ⭐


✓Vote 💰


Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗


🍂Selamat membaca🍂


"Apa kamu bisa memaafkanku?" ucap Arka sedih.


"Kesalahan apa yang kamu perbuat hingga aku harus memaafkanmu?" Rey berpura - pura tidak tahu.


FLASHBACK ON


11 tahun yang lalu.


"Sayaaaang..." perempuan yang berumur satu tahun lebih tua itu mendekati dan menggelayut pada lengan kekar Rey.


"Kenapa kamu datang pagi - pagi gini?" ucap Rey datar.


"Aku kangen," ucapnya manja


"Iya, tapi aku mau berangkat sekolah dulu," timpal Rey yang sudah terlihat mengenakan seragam putih abu - abunya dan menenteng tas ransel pada sebelah bahunya.


"Aku antar yuk. Mata pelajaran kuliahku masih satu jam lagi mulainya. Masih keburu kalau cuma ngantar kamu,"


"Baiklah," Rey menerima tawarannya begitu saja, karena meskipun dia menolak, wanita yang berstatus calon istrinya itu akan tetap mengeyel untuk tetap mengantarnya. Dia lebih baik menghindari perdebatan yang nggak penting itu, daripada dia harus terlambat ke sekolah.


Rey sengaja dijodohkan dengan Nandira, gadis pilihan Mamanya. Umur Nandira terpaut satu tahun lebih tua. Sekarang gadis itu sedang mengenyam pendidikan di bangku kuliah.


Rey sebenarnya sempat menolak perjodohan itu. Namun karena dia sudah mulai jengah karena rengekan sang Mama setiap hari, mau nggak mau dia harus menerimanya dan akhirnya mereka bertunangan.


Kalau ditanya tentang perasaan, Rey sama sekali belum ada rasa suka pada gadis yang sudah selama 6 bulan itu bestatus sebagai tunangannya.


Dan selama 6 bulan itu pula Rey belum ada niat untuk bercerita kepada sahabat terdekatnya Radit. Bahkan Arka sebagai kakak sepupunya namun sudah dianggap seperti kakak kandungnya sendiri itu tidak tahu menahu akan pertunangannya.


Keesokan harinya.


Rey merebahkan tubuhnya di atas ranjang kamarnya. Sesekali dia memainkan benda pipih pengeluaran terbarunya. Pada hari minggu seperti sekarang memang tidak banyak kegiatan yang dia lakukan. Remaja yang sedang dirundung kebosanan itu mulai mengirim pesan pada Arka kakak sepupunya.


Rey:


Kak. Main P.S yuk?


Pesan belum di baca. Namun 5 menit kemudian terdengar notifikasi pesan masuk.


Arka:


Lagi sibuk nih,


Rey:


Ayolah. Bosan nih!


Arka:


Mengetik....


Rey:


Woi! Lama banget ngetiknya!


Arka:


Hahaha...


Rey:


Mengetik...


Arka:


Makanya cari pacar biar nggak bosan,


Rey:


Aku malah sudah bertunangan,


Arka:


Apa?! Beneran?!


Rey:


Sudah 6 bulan,


Arka:


Gila ni anak monyet. Sudah 6 bulan baru cerita!


Rey:


Nggak cinta, jadi males cerita,


Arka:


Kirim foto,


Rey:


Foto apa?


Arka:


Foto tunangan lo bego!


Rey:


Mengetik...


Arka:


Yaelah.. lama bener! Tinggal boker dulu apa?!


Rey:


Sabar napa sih! Sudah gue kirim,


Setelah mengirim foto tunangannya, Arka hanya membacanya dan tidak membalas pesan singkatnya.


Ceklek! pintu kamar Rey terbuka. Sang Mama muncul dari balik pintu.


"Sayang, tolong antar kue ini ke rumahnya Nandira ya," pinta Rani sembari menyodorkan kotak berisi kue yang baru saja di angkat dari oven.


"Nggak mau tahu. Kamu antar ini sekarang," titah Rani yang bertujuan lebih mendekatkan hubungan Rey dengan Nandira.


"Hah! Iya Mah," jawab Rey pasrah, sembari menyambar kotak kue dari tangan Rani serta kunci motornya, kemudian berlalu pergi dari kamarnya.


* * *


"Apa ini maksutnya Nandira?!" tanya Arka geram.


"Kamu bisa tenang dulu kan sayang," timpalnya santai.


"Kamu kan sedang berpacaran denganku terus kenapa kamu terima pertunangan itu?! tanya Arka yang memang baru saja tahu tentang pertunangan sang kekasih dengan adik sepupunya sendiri.


"Aku terpaksa sayang. Kamu jangan berlebihan gitu deh,"


"Berlebihan gimana maksutmu?"


"Meskipun sudah bertunangan bahkan sudah menikah pun, kita masih bisa tetap bermadu kasih diam - diam ko,"


"Dia itu Adikku. Mana mungkin aku menghianatinya?!


"Tapi aku mencintaimu. Aku nggak ingin kita putus. Makanya aku nggak cerita dulu ke kamu tentang pertunanganku dengan Rey,"


Nandira mencoba merajuk. Dia tidak ingin putus dengan Arka. Tapi dia juga menginginkan Rey. Sifat serakahnya itu membuat dia ingin memiliki kedua pria tampan itu sekaligus.


"Tidak! sebaiknya kita akhiri hubungan ini," Arka memilih mengalah karena lebih memikirkan perasaan Rey.


Mendengar ucapan Arka membuat Nandira panik. Anak perempuan yang masih setengah telanjang itu langsung memeluk erat tubuh Arka yang masih telanjang dada itu. Sebelum pertengkaran itu terjadi, mereka sempat melakukan olah raga ranjang.


* * *


Rey sudah berada di depan pintu rumah Nandira. Daun pintu terlihat sedikit terbuka dan Rey masuk begitu saja tanpa permisi.


Setelah menjejakkan kakinya ke dalam rumah, Rey menyusuri pandangannya ke seluruh ruangan untuk mencari sosok penghuni rumah. Pembantu yang biasanya terlihat, kini entah kemana.


Rey pun lanjut menuju kamar Nandira. Dia mengetuk pintu kamar beberapa kali akhirnya pintu terbuka.


Betapa terkejutnya Rey melihat Nandira membuka pintu dengan tubuh polos yang hanya terbungkus selimut dan melihat Arka juga berada di dalam kamar bersama Nandira.


Pada saat itu juga Rey mulai membenci Arka. Meskipun dia tidak mencintai Nandira sebagai tunangannya tapi dia merasa di hianati oleh saudaranya sendiri serta tunangannya.


Padahal Arka juga korban dari keserakahan Nandira.


FLASHBACK OFF


"Ini semua hanya salah paham. Kamu bahkan tidak memberikanku kesempatan untuk menjelaskannya waktu itu," protes Arka.


"Lagian saat itu kamu langsung mendapatkan Dara sebagai pengganti yang lebih baik," ucap Arka kemudian berlalu pergi.


Tanpa mereka ketahui, Dara mendengar pembicaraan mereka. Meskipun tidak begitu jelas apa maksud dari pembicaraan mereka, tapi Dara cukup penasaran karena namanya disebut.


Langit sudah gelap, hingga kerlap kerlip bintang terlihat jelas memenuhi langit yang hanya memberi sedikit ruang untuk sang bulan.


"Sayang biar besok Bi Ningsih yang menata semua barang - barangmu," ucap Rey seraya menutup pintu kamar kamar setelah semua barang milik Dara selesai dibawa masuk ke kamar.


"Tidak perlu," ucap Dara singkat.


"Apa kamu akan membereskannya sendiri? barangmu terlalu banyak, nanti kamu kelelahan,"


"Biarkan semuanya tetap seperti itu, karena aku tidak ingin tinggal di rumah ini,"


"Apa maksutmu? ini rumahmu jadi kamu tinggalnya juga disini?" dada Rey terasa nyeri mendengar wanitanya tidak ingin tinggal bersamanya.


"Hubungan kita sudah berakhir Rey, jadi aku mohon jangan paksa aku!" kalimat Dara yang penuh penekanan.


"Aku bahkan tidak menandatangani surat ajuan perceraian darimu, jadi statusmu masih sah sebagai istriku sayang," Rey masih menahan dirinya untuk tidak tersulut emosi.


"Kamu egois! bagaimana bisa aku tinggal bersama orang yang menyebabkan calon bayiku meninggal?! nada bicaranya mulai meninggi. Suaranya bergetar menahan tangis.


"Aku mohon beri aku kesempatan sekali lagi. Aku akan memperbaiki semuanya," Rey memohon seraya bersimpuh di kaki Dara yang sedang duduk di bibir ranjang.


"Nasi sudah menjadi bubur. Tidak mungkin bisa menjadi nasi lagi!"


"Aku akan menaburkan suwiran ayam di atas bubur," Ucap Rey dengan tampang bodohnya.


(Ini si Rey memang ngajak berantem mulu deh😤)


Dara benar - benar frustasi dalam menghadapi keegoisan Rey. Rey seperti tidak pernah menganggap serius semua protesnya.


"Tidak ada kesalahan yang tidak bisa diperbaiki sayang,"


"Apa kamu bisa mengembalikan bayiku?! hah?!"


Rey sempat tersentak mendengar ucapan Dara. Sungguh hatinya jg merasakan pilu.


"Sayang, aku juga seorang calon ayah yang kehilangan calon malaikat kecilnya,"


"Sakit dan sedih juga aku rasakan, dan aku sangat menyesal," kini Rey mulai serius. Guratan kesedihan juga nampak pada mukanya.


"Sebesar apapun penyesalanmu tidak mengurangi kebencianku padamu!" Dara tersenyum getir.


"Katakan, apa yang harus aku lakukan agar kebencianmu itu hilang?"


"Biarkan aku pergi dari sini dan jangan temui aku lagi!"


"Lebih baik kamu membenciku daripada aku harus kehilanganmu untuk kedua kalinya," Rey menatap lekat muka Dara.


"Kenapa kamu egois sekali?!"


"Pernahkah kamu memikirkan perasaanku?!"


"Kamu jahat Rey! jahat?" seru Dara di sela isak tangisnya seraya berulangkali memukul bahu dempal Rey.


Rey hanya terdiam sedih menerima perlakuan Dara. Setelah lelah melampiaskan kekesalannya pada Rey, Dara mulai beringsut menjauh. Menenggelamkan tubuhnya dalam selimut tebal. Melanjutkan tangisnya di balik selimut.


Rey tidak ingin diam saja melihat istrinya menanggung sendiri kesedihannya. Dia mulai menyusul Dara ikut tenggelam dalam selimut. Memeluk tubuh Dara yang masih sesenggukan. Membalikkan tubuh kecil Dara yang membelakanginya, hingga kini tubuh mereka saling berhadapan.


"Pergi Rey aku mohon.."


"Aku tidak ingin berdekatan denganmu!" tandas Dara berusaha menjauh dari pelukan Rey.


Namun Rey tidak mengindahkan perkataan Dara. Lilitan tangannya semakin erat. Tubuh wanita yang masih bergetar karena menangis itu semakin melekat dan tenggelam dalam pelukan tubuh kekar Rey. Dara yang sudah tidak mampu memberontak kini kian pasrah dengan perlakuan Rey yang selalu memaksa itu.


"Kenapa kamu selalu bertindak sesuka hatimu?!"


"Kenapa kamu selalu memaksa?!"


"Aku membencimu! teramat sangat membencimu!" tangis Dara kian pecah. Namun suara tangisannya tenggelam dalam pelukan Rey.


"Bencilah diriku sampai kamu tidak mampu,"


"Ku pastikan, ketika kamu sudah terlalu lelah untuk membenci, aku masih tetap di sisimu," lafal yang terdengar dari bibir Rey begitu tulus.


Kedua makhluk ciptaan Tuhan itu berada dalam satu pelukan dengan perasaan yang saling bertolak belakang.


Akhirnya mereka terlelap menuju alam mimpinya masing - masing. Entah apakah sang penguasa mimpi masih berbelas kasih kepada kedua insan itu untuk merasakan kebahagiaan di alamnya. Meski mereka harus merasakan pahitnya lagi hidup setelah terbangun dari mimpi.


Bersambung~~