
Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..
✓Like 👍
✓Coment 💬
✓Rate 5 ⭐
✓Vote 💰
Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗
🍂 Selamat membaca 🍂
Kayla tengah berkutat dengan alat tempur di dapurnya. Suara spatula dan wajan yang beradu terdengar menggema di ruangan. Sedangkan Radit hanya duduk di bangku meja makan menunggu santapan makan malamnya matang.
Kedua netra pria beralis tebal itu tidak lepas dari punggung Kayla yang baginya terlihat sexy ketika sedang memaksa. Senyumannya terus terulas di wajah tampannya.
Ting tong..
Ting tong..
Suara bell apartemen berbunyi.
"Dit tolong lo bukain pintunya dong, gue masih sibuk nih," pinta Kayla yang masih fokus dengan bahan - bahan makanan di dalam wajan.
Raditpun langsung beranjak dari duduknya dan langsung menuju pintu.
"Permisi Tuan, saya mengirimkan paketan bunga untuk Nona Kayla," ucap si Kurir setelah Radit membuka pintu.
"Bunga? Bunga dari siapa ya?" batin Radit mulai penasaran.
"Terimakasih," ucap Radit setelah menandatangani buku tanda bukti terima barang dan menerima bouquet bunga mawar merah berukuran besar.
"Baik Tuan, saya permisi dulu," si Kurir pun berlalu.
Radit kembali menutup pintu dan membawa kiriman baquet bunga tersebut. Sebelum memberi tahu Kayla, pria itu sempat membaca sebuah kartu ucapan yang terselip di antara bunga - bunga tersebut.
Untuk Nona Kayla yang masih setia mengisi ruang hatiku. Bunga yang aku kirim memang tidak secantik wajahmu. Tapi aku harap kamu mau menerimanya. Sungguh sifat judesmu semakin membuat aku semakin terpesona. Bogeman mentah yang kamu layangkan ke mukaku semakin menambah daya tarikku kepadamu.
Dari pengagum rahasiamu❤️
Radit merasa geli dengan tulisan pada kartu ucapan tersebut.
"Ck! Dasar pengecut, nggak berani ngomong langsung. Terus apa ini? Pengagum rahasia?" Gerutu Radit dengan reaksi tubuh bergidik.
"Siapa Dit?" Tanya Kayla yang menyadari Radit sudah kembali dari depan.
"Ada orang mengirim paketan?" jawab Radit datar.
"Katanya dari pengagum rahasiamu," sambungnya lagi.
Kayla sudah selesai masak dan membawa dua porsi mi goreng nusantara yang terkenal dengan selogan seleraku. Tidak lupa dia meletakkan telur mata sapi di atasnya.
"Pasti kiriman bunga lagi. Kenapa mereka begitu rajin? apartemen gue sudah seperti toko penjual bunga sekarang," keluh Kayla seraya mendudukkan dirinya di atas bangku meja makan.
Radit tidak merespon perkataan Kayla, kini dia lebih fokus sama menu makan malam yang tersedia di atas meja makan.
"Aku kira lo akan masak makan malam spesial karena lo sangat terlihat sibuk di dapur tadi," cibir Radit tapi tetap berniat memakannya karena perutnya memang sudah lapar.
"Anggap saja gue masak mi goreng spesial, kan di atasnya ada telor ceploknya. Lagian gue memang belum sempat belanja, biasanya gue juga beli makan di luar, jadi jarang masak," jelas Kayla seraya mulai menyantap makanannya.
Mereka pun menyantap makan malam mereka dalam diam. Kayla sebenarnya masih merasa canggung karena mengingat kejadian saat Radit mencium kepalanya beberapa saat yang lalu. Sedangkan Radit masih sibuk dengan pikiran tentang kiriman bouquet bunga untuk Kayla.
"Jadi lo sering dapat kiriman bunga dari orang nggak dikenal?" tanya Radit menyelidik di sela aktivitas makannya.
"Ada beberapa pengirim yang menulis namanya di kartu ucapan juga kok, jadi nggak semuanya nggak gue kenal," balas Kayla santai.
Radit memang baru menyadari bahwa hampir di setiap sudut ruang apartemen Kayla terdapat bouquet bunga yang terlihat masih segar.
"Ternyata ada juga pria yang suka sama cewek judes kayak lo," canda Radit diikuti senyuman mengejek di mukanya.
Entah mengapa, perkataan Radit begitu sensitif bagi Kayla.
"Entahlah," ucap Kayla singkat menutupi rasa tersinggungnya.
"Apa mereka nggak takut dimakan hidup - hidup sama lo?" lagi - lagi candaan Radit sangat mengenai hati wanita yang diam - diam menyukainya tersebut.
Kayla seketika berhenti mengunyah makanan yang masih berada di dalam mulutnya. Kemudian meletak sendok di atas piring dengan sedikit kasar sehingga menciptakan suara dentingan yang cukup keras.
"Iya, gue cewek kasar dan judes memang nggak pantas disukai seorang pria. Gue bahkan nggak ada nyali untuk ngungkapin perasaan gue kepada pria yang gue suka, karena gue takut pria itu akan kabur setelah mengetahui sifat asli gue," Mata Kayla terlihat berkaca - kaca dan dia meninggalkan santapan makan malamnya yang masih tersisa banyak dan mengurung dirinya di dalam kamar.
Sedangkan Radit masih terdiam karena tercengang dengan reaksi Kayla.
"Bodoh! lo memang bodoh Radit! bisa - bisanya gue berkata tanpa berfikir terlebih dahulu," Radit mengutuki dirinya karena merasa bersalah.
Radit mencoba menghampiri Kayla dengan perasaan bersalahnya. Kini dia berhenti di depan pintu kamar Kayla.
"Kay, maaf gue," sesal Radit di balik pintu yang tentu saja didengar Kayla.
Namun tidak ada jawaban dari dalam, hal itu semakin membuat pria beralis tebal itu merasa tidak enak.
"Kayla..?" panggilnya lagi. Namun masih tanpa jawaban.
"Baiklah, sebaiknya gue pulang sekarang. Oya jangan lupa tutup pintu apartemenmu dengan benar, soalnya tadi gue bisa masuk ke dalam karena kamu tidak menutup pintunya dengan rapat. Bagaimana kalau para pengagum rahasiamu masuk kedalam dan berbuat jahat? lebih berhati - hatilah," tutur Radit sebelum berlalu dari depan pintu kamar Kayla dan keluar apartemen.
Kayla bahkan tidak kepikiran untuk menanyakan bagaimana Radit tadi bisa masuk ke dalam apartemennya, padahal dia tidak membukakan pintu untuknya. Kini dia juga mulai merasa bersalah karena sikapnya kepada Radit barusan.
"Mengapa gue tadi bisa berkata kasar kepada Radit? padahal dia tadi sepertinya hanya bercanda," sesal Kayla.
Kayla berinisiatif meminta maaf kepada Radit melalui pesan singkat.
Radit kini sudah berada di dalam mobil dan membawanya pergi ke luar basement. Namun aktivitasnya harus tertunda karena ada suara notifikasi pesan singkat. Dia langsung menekan gambar kotak aplikasi pesan singkat di layar ponselnya.
Cewek judes:
Kedua sudut bibir Radit langsung melengkung ke atas. Kini hatinya merasa lega.
Ting! terdengar satu notifikasi lagi.
Cewek judes:
Terimakasih atas pelukanmu yang menenangkan. Besok - besok jangan asal mendaratkan kecupan kepada wanita yang nggak lo cintai.
Seketika Radit tercengang setelah membaca pesan kedua dari Kayla. Dia mengetuk - ngetuk keningnya pada ujung setir. Merutuki hasratnya yang hilang kendali untuk tidak mencium rambut Kayla beberapa saat yang lalu.
Ponsel Radit berdering. Nama Rey tertera pada layar smartphonenya. Radit mengerutkan kedua ujung alisnya. Merasa heran, karena semenjak Rey mengetahui bahwa Radit mencintai istrinya, mereka sudah jarang sekali saling bertegur sapa yang membuat hubungan persahabatan kental mereka retak.
"Halo?" ucap Radit setelah menekan tombol jawab.
"Besok temui gue di kantor," titah Rey.
"Gue nggak janji, karena gue juga sibuk dengan kerjaan gue,"
"Gue nggak peduli. Temui gue di waktu jam makan siang," titah Rey sebelum mengakhiri panggilan secara sepihak.
"Dasar kampret, selalu saja bersikap semaunya," gerutu Radit yang ujung - ujungnya akan tetap menuruti perintah sahabatnya itu.
* * *
Keesokan harinya.
Radit berjalan melewati beberapa karyawan kantor Rey. Dia mengenakan setelan jas kerjanya dengan kacamata hitam yang bertengger pada hidung mancungnya sudah cukup membuat para karyawan wanita gagal fokus dengan pekerjaannya. Pandangan kagum para kaum hawa tertuju padanya. Sesekali Radit melemparkan senyuman manisnya kepada mereka. Ya begitulah suasana kantor Rey setiap Radit datang untuk menemui sahabatnya tidak dulu maupun sekarang masih sama.
"Ada apa lo suruh gue datang?" tanya Radit setelah mendudukkan tubuhnya di atas sofa dan melepas kacamatanya.
Tapi Rey masih saja berkutat dengan pekerjaannya. Tidak menghiraukan kedatangan Radit. Padahal dia sendiri yang meminta Radit untuk menemuinya. Tentu saja hal itu membuat Radit jengah.
"Kalau lo ingin bahas tentang perasaan gue, asal lo tahu bahwa gue sudah berhenti memperjuangkan cinta gue lagi ke dia," Radit begitu serius dengan apa yang dikatakan.
Apa yang diucapkan Radit berhasil mengalihkan perhatian Rey dari lembaran - lembaran kertas di atas mejanya.
"Bagus, itu memang tujuan pertama gue manggil lo kemari. Gue sudah memulai membuka lembaran baru dengan Dara. Hubungan di antara kami sudah kembali membaik. Gue harap lo berhenti mengejar Dara dari sekarang, karena gue nggak akan memberikan sedikitpun cela pada hubungan kami untuk lo masuki," tandas Rey dingin.
"Memang seharusnya lo tidak memperjuangkan cinta lo kepada istri orang," sambungnya lagi.
"Ayolah, itu juga karena lo nyakitin Dara, jadi gue kembali hadir untuk memperjuangkan cinta gue,"
"Mulai detik ini, sudah gue pastikan Dara tidak akan tersakiti lagi. Gue akan buat dia bahagia," tandas Rey.
"Syukurlah. Maka dari itu gue akan berhenti. Dara juga berhak bahagia," timpal Radit dengan raut muka santai namun hatinya terasa perih.
Kedua pasang mata elang pria yang mencintai satu wanita tersebut saling beradu.
Sesaat Rey teringat kembali dengan apa yang dikatakan Dara kemarin malam sebelum tidur.
FLASHBACK ON
Dara yang sedang berbantalkan dada bidang suaminya, mulai membuka pembicaraan.
"Sayang apa kamu sangat membenci Radit?"
Rey menyatukan kedua ujung alisnya mendengar nama Radit keluar dari bibir manis istrinya.
"Tentu saja, karena dia sudah berani mencintaimu yang jelas - jelas istriku," jawab Rey kesal.
"Tapi selama ini dia sudah banyak membantuku. Dia selalu berusaha menghilangkan kesedihanku. Dia selalu ada ketika aku terpuruk," beber Dara.
"Kenapa kamu malah memujinya?" Rey mulai tidak suka dengan apa yang dikatakan Dara.
"Bukannya begitu sayang. Seharusnya kamu berterimakasih dengannya,"
"Tapi sayang..,"
"Coba kamu pikir, kalau Radit memang pria yang hanya mementingkan perasaanya sendiri, dia pasti sudah melakukan segala cara agar aku tetap bisa bersamanya. Tapi kenyataannya dia bahkan tidak pernah memaksaku untuk menerima cintanya, dan aku sangat yakin dia akan bahagia jika mengetahui kita sudah kembali harmonis, ya meski hatinya akan sakit tapi Radit itu orang baik yang selalu bahagia jika melihat orang lain bahagia," sela Dara dengan penuturan panjangnya.
Mendengar penuturan istrinya membuat hati Rey terketuk untuk membenarkan semua yang baru saja dia dengar.
"Kamu benar sayang. Besok akan aku minta dia untuk bertemu,"
"Aku sangat berharap kalian bisa kembali akur lagi. Bagaimanapun juga aku adalah penyebab hubungan kalian renggang. Aku tidak ingin hidup dalam rasa bersalah terus," ucap Dara yang terlihat sedih.
"Tidak, ini semua salahku. Aku akan memperbaiki semuanya yang rusak karena perbuatanku,"
FLASHBACK OFF
"Terimakasih," Rey akhirnya mengatakan alasan tujuan keduanya. Terlihat ketulusan dari raut mukanya.
"Jangan buat gue geli karena ucapan terimakasih lo. Terus buang ekspresi muka yang menjijikkan itu," Radit bergidik.
"Anjir! gue ngomong serius monyet!" hardik Rey seraya melempar buku dari meja kerjanya ke arah Radit.
"Emang gue ngelakuin apa hingga lo rela menomor duakan gengsi untuk berterimakasih ke gue?" tanya Radit setelah berhasil menangkap buku yang sengaja dilempar Rey tadi.
"Ehem! terimakasih karena lo selalu ada untuk Dara ketika gue nggak bersamanya," ucap Rey serius.
"Bisakah kita memperbaiki hubungan persahabatan kita?" sambung Rey lagi.
"Lo nggak takut kalau gue bakal mendekati Dara lagi? kalau lo bersahabatan sama gue itu sama saja lo memberi ruang ke gue untuk deketin istri lo," Radit mencoba memancing omongan untuk mengetahui reaksi Rey selanjutnya.
"Jika lo mencoba deketin istri gue lagi, siap - siap gue bakal lempar lo ke planet pluto. Biar ngilang sekalian," Ancam Rey yang terdengar konyol.
"Hahaha.. sudahlah. Gue nggak bakal ingkar dengan omongan gue sendiri. Selama Dara bahagia dengan pria yang dia cintai, gue nggak berhak merusaknya,"
Akhirnya hubungan kedua sahabat kental yang dijalin sejak di bangku SMA tersebut kembali membaik. Meskipun ikatan persahabatan yang sudah bagaikan saudara sedarah tersebut sempat putus, namun pada akhirnya Tuhan masih berbaik hati untuk menyambung kembali tali yang sudah putus.
Bersambung~~