Luka Cinta Dara

Luka Cinta Dara
Bab 7 Berani pacaran, berani nikah



Kali ini apa yang dirasakan gadis remaja itu sungguh tidak biasa. Dalam hatinya seperti ada bunga yang mengatup - ngatupkan kelopaknya. Gadis berkaca mata itu merasa senang berada di dekat Rey. Tubuhnya terasa bergetar hebat karena detak jantung yang terlalu bekerja keras.


"Apa ini yang dirasakan Rey saat bersamaku? Apa hati ini benar - benar udah siap untuknya? Seharian tidak mendengar kabar darimu membuat hariku terasa kosong. aku merindukannya seolah sudah setahun rasanya tidak bertemu. Apakah ini dinamakan perasaan suka?." Gumam Dara di dalam hati.


"Cups!" Kecupan singkat mendarat dibibir Rey.


Sepertinya jiwa di bawah alam sadarnya menuntunnya untuk melakukan hal yang menurutnya itu hal gila.


"Raa..."


Panggilan Rey yang lembut sontak mengembalikan alam sadarnya. Dara terkejut dan tersipu malu.


"Ya Tuhannn! Apa yang gue lakuin barusan? Gilaaaa. Malu - maluin!!" Dara mengutuki dirinya sendiri di dalam hati.


Gadis berkaca mata itu berniat kabur setelah memberikan serangan singkat itu kepada Rey yang kini juga tak kalah terkejutnya. Muka cantiknya sudah memerah. Ditambah lagi detak jantungnya yang semakin lama tak terkontrol.


Dara hendak berbalik namun urung dilakukan karena ada yang menahannya. Tangan kekar Rey merangkul erat tubuhnya. Menguncinya seakan takut gadisnya itu akan menghilang.


"Raaa, aku dah gak bisa menahannya lagi. Hari ini dan seterusnya kamu harus jadi milikku seutuhnya." Ucap Rey yang mulai posesif.


Rey menarik tangan kecil Dara, menuntunnya masuk ke ruangan lebih dalam. Menuju kebelakang lemari besar yang terdapat matras ukuran 90x100 cm. Gadis itu pasrah mengikuti kemauannya. Rey menuntun Dara untuk duduk di atas matras. Pelan melepas kacamata tebal milik Dara. Mengamati kecantikan Dara yang selalu bersembunyi di balik kacamatanya.


"Cantik" ucap Rey lirih mengagumi.


Dengan berani dia mengecup lembut muka Dara. Dimulai dari dahi, turun ke mata yang terbingkai bulu mata yang lebat dan lentik sehingga menambah kecantikannya, ke hidungnya yang kecil tapi mancung, dan trakhir ke bibir ranumnya yang kenyal.


Dara membalas ciuman Rey dengan sedikit membuka bibirnya. Meskipun ciumannya masih amatiran tapi Rey menyukainya. Ada senyuman tipis di balik kecupan Rey. Dia merasa senang karena ternyata Dara juga menginginkannya. Rey pun menghentikan ciumannya. Menatap seksama muka cantik Dara yang terlihat alami dengan polesan yang alakadarnya. Dengan gemas Rey mencubit kedua pipi Dara yang terlihat merona.


"Ah!" pekik Dara.


"Kenapa?" tanya Rey tanpa dosa


"Sakit!" Dara mengerucutkan bibirnya.


Rey terkekeh geli melihat ekspresi Dara. Dia kembali mencium bibir Dara yang terasa kenyal dan manis baginya, namun tidak lama aksinya tiba - tiba terhenti karena tangan Dara memberi sedikit dorongan pada dada bidang Rey.


"Sudah cukup Rey. Jangan berbuat terlalu jauh." Pinta Dara.


"Lagian sekarang kita berada di tempat sepi,"


"Baiklah," Rey tidak tersinggung dengan perkataan Dara. Dia malah semakin yakin bahwa Dara berbeda dengan cewek - cewek yang selalu berusaha mendekatinya selama ini.


"Kalau kamu yang lebih dari ini tentu boleh. Tapi..? ucapan Dara menggantung.


"Tapi kenapa Ra?" Rey penasaran.


"Tapi kita harus menikah dulu." Ucapnya sembari menatap lekat kedua netra tajam Rey.


Rey terdiam sejenak. Mencoba mencerna perkataan gadis kekasih hatinya itu.


"Kenapa? Kamu nggak mau?" Tanya Dara memastikan.


Dara memang mempunyai prinsip. Jika berani berpacaran berarti harus berani menikah. Sungguh pikiran yang tak awam bagi anak remaja seumurannya.


"Aku nggak keberatan menikahimu. Tapi sekarang kita kan masih terlalu muda." Tukas Rey ragu.


"Bodoh! Ya nggak harus sekarang juga kalik." Dara terkekeh geli mendapati sikap lugu Rey.


"Kita jalanin dulu. Lagian status hubungan kita juga belum jelas.


"Belum jelas bagaimana maksutmu?!"


"Aku belum tahu secara jelas bagaimana perasaanmu padaku."


"Bukankah kejadian barusan sudah mewakili perasaanku?"


"Jadi, perasaanmu padaku hanya karena nafsu belaka?!" Dara mengerutkan dahinya.


"Bukan itu maksutku Ra..." Sangkal Rey.


"Bukankah hal kamu lakukan padaku barusan juga pernah kamu lakukan dengan para kekasihmu itu?"


Rey terdiam seribu bahasa mendengar perkataan Dara.


"Kenapa kamu hanya diam? Berarti perkataanku tadi benar?" Dara tampak kecewa, merasa kediaman Rey itu sebuah jawaban.


"Itu tidak benar!" Sangkal Rey.


"Kamu itu yang pertama bagiku, jadi sekarang kamu sudah tahu kan bagaimana perasaanku padamu? Aku suka sama kamu." Tandasnya.


Dara tersipu malu mendengar perkataan lelaki yang kini menjadi tambatan hatinya.


"Ra... Kita pacaran yuk!" Pinta Rey tanpa basa basi.


Jantung gadis berkaca mata itu berdegup hebat mendengar Rey mengajaknya ke dalam hubungan yang lebih serius.


"Kalau kamu berani ajak aku pacaran berarti juga harus berani ajak aku nikah." Tukasnya tiba - tiba serius.


"Karena aku terlalu malas untuk berganti - ganti pasangan!" Timpalnya lagi.


"Kalau kita pacaran, berarti kamu juga pacar pertamaku."


Dara hanya menjawab dengan anggukan. Semburat merah karena malu terlihat pada pipinya yang putih.


Murid lelaki tampan yang mengetahui ternyata dia adalah yang pertama bagi sang gadis, terlihat sangat senang. Senyuman bangga terlukis pada mukanya yang tampan.


"Oke. Kita pacaran lalu nikah." Tandas Rey tanpa berpikir panjang.


* * *


Radit berlari menyusuri lorong kelas. Sesekali dia menoleh ke belakang memastikan si Inces perawan tua sudah tidak mengekorinya lagi.


Bukan hanya Rey saja yang menjadi incaran si Inces, namun Radit juga sering menjadi korban kegenitannya. Memang Rey dan Radit itu memiliki ukuran ketampanan yang hampir sama rata. Mereka adalah sepasang sahabat populer di kalangan murid - murid perempuan.


Ketika Radit sampai pada belokan ujung lorong tiba - tiba tubuhnya terjatuh karena menabrak sesuatu.


Bruukkk!


"Aaawwww!" Pekik Kayla kesakitan.


Karena benturan yang begitu keras, tubuh Kayla tersungkur ke lantai dengan posisi kaki terbuka lebar. Sehingga membuat rok yang panjangnya hanya selutut itu terkesingkap naik ke atas.


"Lo kalau jalan pakai mata nggak sih?" Hardik Kayla sembari mengelus pantatnya yang sakit.


"Maaf, gue nggak senga..ja.. Pink!" Seru Radit reflek yang tanpa sengaja melihat ****** ***** Kayla di balik roknya yang terkesingkap.


"Apanya yang pink?!"


"Aaahhhhh! Apa yang kamu lihat?!" Seru Kayla seraya menangkup kedua kakinya, setelah menyadari tatapan mata Radit menjurus pada sesuatu di bawah sana.


"Maaf, gue nggak sengaja!"


"Lagian lo sendiri yang mengumbar. Mataku cuma reflek aja tadi lihatnya!" Sangkal Radikit gugup.


"Dasar mesum!"


"Apa?! Gue nggak mesum ya?! Hati - hati kalau ngomong!" Radit tersinggung dengan ucapan Kayla. Kemudian dia beranjak dari posisinya yang terjatuh dan hendak berlalu pergi.


Kayla masih terlihat meringis kesakitan. Dia masih kesulitan untuk berdiri. Radit yang hendak berlalu pergi mengurungkan niatnya karena merasa nggak enak pada gadis yang masih kelesotan di lantai lorong sekolahan itu.


"Lo bisa berdiri nggak?!"


"Lo buta apa?! Tolongin gue berdiri! Ini sangat sakit!"


"Ini pegang tangan gue!" Radit mengulurkan tangannya.


Kayla mencoba berdiri dengan memegang erat uluran tangan Radit. Dengan sedikit kesusahan tapi akhirnya dia bisa kembali berdiri.


"Terimakasih!" Ucap Kayla dengan tangan yang masih memegang tangan Radit.


"Ehem!!" Rey berdehem menyaksikan sababatnya itu sedang berpegangan tangan dengan cewek yang diketahui sahabat Dara kekasih barunya.


Radit dan Kayla mengalihkan pandangannya pada sumber suara. Sontak mereka melepaskan pegangan tangan mereka, karena mengetahui keberadaan Rey yang baru keluar dari gudang peralatan olah raga.


"Kayla, sedang apa lo disini?" Tanya Dara yang berada di samping Rey.


"Gue baru saja terjatuh gara - gara cowok mesum ini!" Seru Kayla tertuju ke Radit.


"Ini cewek mulutnya asal ngablak perasaan! Tadi gue kan sudah bilang kalau nggak sengaja lihatnya!"


"Lihat? Lihat apa memang?" Rey menyela penasaran.


"Eh, itu.. nggak ko." Kayla mencoba menutupi.


Tapi tiba - tiba kedua manik hitam Kayla menurun. Melihat kedua tangan Rey dan Dara yang masih saling bertautan. Semburat kebahagiaan muncul begitu saja pada muka cantik Kayla.


"Ehem! Sepertinya ada yang baru jadian nih!" Goda Kayla. Ujung jarinya sambil mentoel - toel lengan Radit dan tentu saja pemilik lengan itu bisa menangkap maksud Kayla.


Dara sedikit menunduk karena malu sedangkan Rey menampilkan senyuman yang merekah.


"Kalian berdua sudah sah pacaran?!" Seru Radit bertanya.


"Seperti yang lo lihat." Timpal Rey seraya mencium punggung tangan Dara yang memang masih tersarang dalam genggamannya.


Rasa malu Dara semakin bertambah mendapati perlakuan Rey yang tiba - tiba itu. Dengan cekatan dia melepas lilitan jari - jarinya dari jari - jari jenjang Rey.


"Kalian beneran pacaran?!" Radit mengulang pertanyaannya karena belum percaya.


"Lo kenapa sih? Ada temennya jadian harusnya seneng malah terlihat syok gitu?!" Gerutu Rey.


"Hehe.. Gue nggak nyangka aja secepat itu." Kilah Radit.


Entah karena dia merasa kalah akan taruhannya atau karena ada perasaan lain yang berbeda. Yang jelas melihat Dara telah menjadi milik sahabatnya menimbulkan rasa perih karena teriris di dadanya.


Bersambung~~


Jangan lupa mampir di karya author satunya lagi ya, masih on going. Ditunggu kunjungannya🥰