Luka Cinta Dara

Luka Cinta Dara
Bab 30 Kenyataan pahit terulang lagi



Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..


✓Like 👍


✓Coment 💬


✓Rate 5 ⭐


✓Vote 💰


Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗


🍂Selamat membaca🍂


Rani duduk terpaku di kursi ruang kerja suaminya. Rengga masih bertahan dengan tatapan menghakiminya. Setelah Bella pulang dengan diantarkan supir pribadi keluarga Erlangga, Rengga menarik istrinya menuju ruang kerjanya.


"Setelah melihatnya, apakah kamu masih terus akan membela menantu kesayanganmu itu?" tanya Rengga dingin setelah memberi rekaman CCTV yang terletak di area Kolam Renang.


"Bukan begitu Pa," ucap Rani kelu.


"Sudah terlihat jelas. Bella bukan wanita baik seperti yang kamu pikirkan!"


"Dialah yang mencoba mencelakai Dara yang ternyata sedang mengandung cucu kita Ma!" tambah Rengga lagi. Dia juga belum lama tahu tentang kehamilan Dara.


"Tapi mulutmu dari tadi tidak henti - hentinya menjelek - jelekkan menantu kesayanganku itu!" seru Rengga.


"Tapi Pa.." Rani sudah tidak bisa berkata - kata.


"Sudah cukup! tidak perlu berkata apapun lagi!" bentak Rengga.


"Selama ini aku sudah terlalu sabar menghadapimu!"


"Kebencimu yang tak bernalar itu, membawa petaka pada rumah tangga anak kita, bahkan janin yang tak berdosa harus ikut merasakannya!"


"Aku kecewa sama kamu Ma!


"Kenapa kamu harus marah begitu sama aku?!" Rani tidak terima.


"Hah!"


"Keadaan sudah seperti ini, seharusnya kamu itu sadar! masih saja berkilah!" tanda sang suami.


Lagi - lagi Rani terdiam.


"Asal kamu tahu, Rey belum tahu semua isi rekaman CCTV ini. Dan tentu saja aku bakal memberi tahu semuanya," ujar Rengga.


Iya, Rengga hanya menceritakan Dara pingsan dan dibawa Radit. Dia memang sengaja belum menceritakan semua isi rekaman CCTV. Bertujuan agar Rey bisa fokus dulu mencari keberdaan anak menantunya yang kondisinya sedang tidak baik itu.


"Tapi Bella juga sedang mengandung calon cucu kita Pa. Masih ada calon penerus keluarga Erlangga yang lain," Timpal Rani tak mau kalah.


"Dan sebaiknya jangan Papa ceritakan semua tentang isi rekaman itu," Saran Rani khawatir akan nasib Bella jika Rey sampai tahu semuanya.


Rani tidak percaya dengan sikap Rengga. Selama pernikahannya, baru kali ini Rengga yang pendiam berani meluapkan emosinya. Namun rasa egonya yang tinggi masih saja bersemayam pada dirinya. Tidak ada rasa penyesalan sedikitpun yang terlintas atas kesalahannya.


"Kamu!" Rengga sudah tidak bisa meneruskan kata - katanya. Rasa egois Rani yang begitu tinggi sungguh sulit diatasi.


"Kamu akan menyesalinya," Rengga berlalu pergi.


Rani hanya menyaksikan tubuh suaminya yang menghilang di balik pintu. Dia sendiri sudah tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Sikap ceroboh menantunya memang cukup buat Rani tak percaya. Ternyata menantu yang selama ini dianggap wanita yang lembut dan penuh kasih sayang itu bisa berbuat kejam seperti itu. Rani hanya bisa pasrah dengan nasib Bella.


* * *


"Apa maksudmu?!" Rey tidak yakin. Tapi hatinya berkata ucapan Radit barusan adalah sebuah ultimatum keras baginya.


"Gue tidak akan mengulang kesalahan kedua kalinya Rey!" tandas Radit, seraya melempar tatapan tajam.


Kayla yang duduk berada di antara kedua pria yang saling melempar tatapan membunuh itu cuma bisa menghela napas. Menangkap maksud dari Radit adalah hal yang mudah baginya.


Selama ini Kayla sudah menyadari perasaan Radit pada Dara. Radit yang mencintai Dara dalam diam tanpa dia ketahui, Kayla juga mencintainya dalam diam. Rasa cinta yang terus berputar, tersambung dengan hati yang lain, namun tiada tempat baginya untuk berlabuh.


"Gue lebih dulu mencintainya, jadi lo tidak berhak mengusiknya!" Hardik Rey.


"Gue tidak mengusik tapi hanya memperjuangkan hati yang telah kau sia - siakan!" sebelah sudut bibir Radit tersungging ke atas, namun sorotan matanya terlihat dingin.


Sesaat perseteruan dingin mereka sudah tidak terdengar. Kedua pria dewasa yang mencintai satu wanita itu masih bertahan dengan saling melempar tatapan tajamnya. Seakan mereka sedang saling berperang batin. Kayla memutar bola matanya yang bulat itu jengah menyaksikan sikap kekanak - kanakkan kedua sahabat prianya.


Kreeek..!


Suara gesekan pintu UGD yang terbuka mengalihkan perhatian mereka. Seorang wanita berpakaian serba hijau yang menjabat sebagai dokter Obgyn keluar dari balik pintu. Kehadirannya membuat ketiga manusia yang sudah menunggu lama berdiri serentak. Mengharap kabar baik darinya.


"Kondisi Ibu Dara sudah stabil. Pendarahannya sudah berhasil kami hentikan. Rahimnya juga sudah dibersihkan," papar sang Dokter.


"Kalian bisa menjenguknya setelah dipindahkan ke ruangan perawatan," tambahnya lagi.


"Baik Dok, terimakasih," sahut Rey sedikit lega karena istrinya baik - baik saja, meski hatinya masih dirundung kesedihan karena harus kehilangan calon bayinya.


"Baik, kalau begitu saya permisi dulu," Sang dokter pun berlalu.


* * *


Waktu sudah menunjukkan pukul 1 dini. Bella beberapa kali melakukan panggilan suara, namun tidak ada satu kali panggilan pun yang tersambung. Rey dan Dara juga belum nampak batang hidungnya dari tadi.


Sikap Rey yang tiba - tiba pergi waktu di rumah Rani membuat dia bertanya - tanya. Apalagi sebelum itu, keberadaan Dara dan Radit juga sudah tidak ada disana. Bella yakin Rey sekarang sedang bersama Dara, meski tidak tahu entah dimana mereka sekarang. Membayangkan Rey dan Dara bersama membuat Bella frustasi.


"Aaarggg!" Bella berteriak seraya mengobrak abrik ranjang kasurnya. Melempar ke sembarang arah semua benda yang berada di atasnya.


* * *


Gelapnya malam semakin memudar. Mentari mulai mengintip dari ujung bumi. Cahayanya mulai menyapu alam semesta, sehingga dinginnya malam luluh menjadi hangat.


Di kamar VIP rumah sakit, Dara masih terbaring lemah di atas ranjang. Kedua bola matanya terlihat bergerak pelan di balik kelopak matanya yang masih tertutup. Dengan perlahan, matanya mulai terbuka. Dahinya mengernyit, ketika bias cahaya mulai menerjang kedua netranya. Dia sesekali mengerjapkan matanya untuk memulihkan pandangannya yang kabur.


Di dalam ruangan terlihat Rey yang masih tertidur dalam posisi duduk disamping ranjang Dara. Namun gerakan lemah jemari Dara yang masih dalam genggaman Rey membuat dia langsung terjaga. Beberapa kali mengerjapkan kedua netranya yang masih terasa berat karena kantuk sebelum mengalihkan pandangannya pada istrinya. Bibirnya menampilkan sebuah senyuman hangat setelah menyadari wanitanya sudah sadar.


"Sayang, kamu sudah sadar?" tanya Rey hangat seraya mengusap tangan lembut dara.


"Kamu?!" seru Dara, dengan lemah dia mencoba mengangkat tubuhnya ke dalam posisi duduk.


"Kamu masih lemah sayang, jangan banyak bergerak," pinta Rey panik seraya berusaha membantu Dara untuk duduk.


"Pergi!" pinta Dara lemah sambil menghempas tangan Rey.


"Tidak sayang, aku akan tetep disini menjagamu," tolak Rey sendu.


Ceklek! terdengar suara pintu kamar yang membuka. Terlihat Radit yang muncul dari balik pintu.


"Dit, bayiku? bagaimana keadaan bayiku?" tanya Dara tanpa menghiraukan Rey sang suami.


Radit melangkahkan kakinya menuju ranjang tempat Dara terbaring. Dia memandang sendu muka Dara. Bagaimana dia harus menjelaskannya kalau janin dalam kandungannya sudah tidak ada.


"Lo tenangkan dirimu dulu Ra. Kondisi lo masih lemah," pinta Radit.


"Bayiku Dit! pasti baik - baik saja kan?" Dara berharap.


Namun raut muka Radit begitu ketara, seakan mengatakan bahwa bayinya tidak baik - baik saja.


"Dit, jawab pertanyaan gue!" mohon Dara.


"Hahh! maafin gue Ra, gue juga nggak bisa lakuin apapun untuk nyelamatin bayi lo," ujar Radit.


"Tidak! itu tidak mungkin!"


"Sayang, kamu masih disanakan?" ucap Dara sendu seraya mengusap perutnya yang datar. Seakan mencoba mengajak berinteraksi dengan sang janin.


Bendungan telaga bening miliknya perlahan luruh tanpa ijin ke pipinya. Isakan tangisnya mulai pecah. Dara menangis sejadi - jadinya. Meluapkan semua kesedihan, emosi dan kecewanya. Suara tangisan memenuhi ruangan.


Rey melihat pedih istrinya itu. Dia juga merasakan apa yang rasakan Dara. Kehilangan calon malaikat kecil yang selama ini dinantikan. Sungguh dia juga merasakan duka yang mendalam.


Rey mencoba merengkuh tubuh Dara. Berharap bisa memberi sedikit kekuatan. Namun penolakan yang diterimanya secara terang - terangan.


"Dit, tolong usir dia! pinta Dara.


Hati Rey hancur berkeping - keping. Bagaikan porselin yang dilempar dari atas gedung. Hancur lebur tak tersisa.


Ditambah lagi, saat Dara terpuruk justru nama Radit yang terucap dari bibirnya. Justru Radit yang dia butuhkan. Bukan dia, suaminya. Sungguh dia merasa tidak berguna sebagai suami.


"Rey, sebaiknya lo pergi dulu dari sini. Biarkan Dara tenang dulu. Biar gue yang jagain dia untuk sementara," saran Radit.


"Tapi Dit, gue harus tetap disini. Gue suaminya," timpal Rey.


"Tapi keberadaan lo justru semakin memperburuk keadaan," timpal balik Radit.


Rey pun hanya bisa pasrah. Dia pun berlalu pergi dengan perasaan yang berkecamuk tak karuan. Dia berniat pulang terlebih dahulu dan akan kembali lagi.


Bersambung~~