
Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..
✓Like 👍
✓Coment 💬
✓Rate 5 ⭐
✓Vote 💰
Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗
🍂Selamat membaca🍂
Kedua pria tampan itu saling melempar tatapan tajam. Seakan ada aliran listrik yang menghubungkan kedua pasang mata tersebut.
Radit yang menyadari bahwa dia hampir saja kalap segera berusaha mencairkan suasana. Dia tetap ingin menjalin hubungan baik dengan sahabatnya, meskipun disisi lain dia tidak rela jika Dara tersakiti.
"Hahaha, Chill Dude, don't get butfhurt!" Radit mengelak.
"Tentu saja gue nggak mau ada yang nyakitin Dara sahabat gue,"
"Itu juga berlaku pada lo yang juga sahabat gue," Radit mencoba menenangkan.
"Kata - kata lo ambigu tau nggak?! seperti seorang pria yang nggak rela wanita yang dicintainya tersakiti!"
"Dara itu selamanya milik gue!" seru Rey.
"Itu benar Rey, gue memang nggak rela jika Dara tersakiti, karena gue cinta dia," batin Radit.
"Makanya, lo lebih berhati - hati menjaga hubungan lo sama Dara, kalau tidak ingin dia direbut orang lain,"
"Ingat, Dara itu cantik, pintar, baik, dan juga tajir,"
"Pria dewasa mana yang tidak tergila gila dengannya," ucap Radit santai tapi mengandung sindiran keras.
"Sewaktu - waktu dia bisa ninggalin lo kalau lo terus nyakitin dia,"
"Lo ko malah nyindir gue sih?!" gerutu Rey.
"Anggap saja itu sebuah peringatan," sahut Radit.
Rey benar - benar menela'ah apa yang dikatakan Radit. Rasa khawatir muncul begitu saja, takut apa yang dikatakan Radit itu terjadi.
"Oke, gue mau balik dulu. Capek gue. Next time kita bertemu lagi,"
Tanpa menunggu sahutan dari sahabatnya, Radit melangkah pergi begitu saja. Di luar, saat melewati meja Sekretaris, Radit melemparkan senyuman termanisnya pada wanita yang sedang terpukau oleh pesonanya itu.
"Thanks cantik, lain waktu kita akan bertemu lagi," Goda Radit, sembari mengerlingkan sebelah matanya. Dan pergi begitu saja. Setelah membelakangi Sekretaris itu, terlihat raut muka Radit berubah drastis. Senyuman manis yang menggoda berubah ke mode dingin.
* * *
Bella dan Rey sedang berada dalam kamar. Malam ini Rey masih tidur menemani Bella. Istri keduanya itu sering mengeluh merasa tidak nyaman dengan kehamilannya. Tentu saja itu memberi kecemasan bagi Rey. Apalagi itu juga sebagai tanggungjawabnya.
Rey yang sudah lelah karena kerjaan seharian, berniat untuk langsung tidur, merebahkan tubuhnya di atas sofa kamar. Namun niatnya harus tertunda karena Bella menarik pergelangan tangannya.
"Mas Rey, tidurlah di ranjang. Sofa itu terlihat tidak nyaman untuk kamu tiduri," saran Bella
Rey masih terdiam. Bingung bagaimana cara dia menolak tapi tidak menyinggung prasaan Bella. Bella yang melihat reaksi Rey, tiba - tiba saja melesatkan tubuhnya kedalam tubuh kekar Rey. Tangannya melingkari perut sixpack suaminya.
"Apa kamu masih belum bisa membuka hatimu untukku Mas?"
"Aku juga istrimu. Aku juga sedang mengandung anakmu," ucap Bella sendu.
Lagi - lagi rasa iba menyeruak dalam hati Rey. Dengan ragu dia pun merespon pelukan Bella. Memberi usapan lembut pada tubuh Bella bagian belakang. Bella yang mendapatkan respon dari Rey, mencoba mengalihkan muka ke Rey. Sekarang tangannya sudah pindah melingkari leher Rey. Sedikit menjinjitkan kakinya dia mendaratkan kecupan pada bibir Rey.
Namun kecupannya tidak mendapatkan respon. Rey hanya terdiam, sibuk dengan pikirannya sendiri. Bella tak ingin berhenti begitu saja. Dia gencar melesatkan ciumannya lagi ke bibir Rey. Memberi ******* pada bibir Rey yang sedari tadi tertutup rapat. Belum juga mendapatkan respon, Bella beralih turun ke lehernya. Menjilat naik turun dan beberapakali memberi tanda kissmark disana. Tangannya menelusup masuk ke dalam kaos yang melekat pada tubuh Rey
Rey memejamkan matanya, karena mendapatkan perlakuan vulgar Bella. Tapi bayangan Dara terlintas dalam otaknya. Tubuhnya seperti tidak terima disentuh wanita lain selain Dara. Dengan cekatan tangan Rey mendorong tubuh Bella, tapi masih dengan mode hati - hati. Tidak ingin menyakiti wanita hamil di depannya. Dia menunduk seraya menggelengkan kepalanya pertanda ingin Bella menyudahi aksinya. Tergambar raut muka kecewa pada Bella.
"Maafkan aku Bella. Aku belum bisa melakukannya denganmu," Rey merasa bersalah.
"Aku akan belajar membuka hatiku untukmu, meski aku nggak tahu itu akan berhasil atau tidak," ucap Rey sendu.
Perkataan Rey justru membuat Bella menampilkan senyuman pada mukanya. Dengan hati - hati dia kembali mendekatkan tubuhnya dan mengikat tangannya pada perut Rey. Menenggelamkan mukanya pada dada bidang suaminya membuat dia nyaman.
"Tidak apa - apa Mas."
"Setidaknya kamu sudah berniat untuk membuka hatimu untukku sudah buat aku senang,"
"Berarti aku masih ada harapan untuk dicintai olehmu," ucap Bella lembut.
"Terimakasih Bella."
"Ya Tuhan.. Sungguh Bella wanita yang baik. Dia bisa menerima sikapku yang jelas - jelas telah menyakitinya," iba Rey di dalam hati.
"Mas, tapi aku mohon. Kamu tidurlah di ranjang ya,"
"Aku tidak tega lihat kamu tidur tidak nyaman di sofa kecil itu," pinta Bella.
"Baiklah, aku akan mulai tidur di ranjang malam ini,"
Akhirnya mereka tidur dalam satu ranjang dan satu selimut tebal yang membungkus tubuh mereka. Bella tanpa malu melesatkan tubuhnya ke dalam tubuh kekar Rey. Rey dengan terpaksa membiarkan tindakan Bella yang sebenarnya buat dia kurang nyaman.
Rey tidak bisa membalas ungkapan cinta Bella. Dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri, bahwa Dia belum ada sedikitpun perasaan untuk Bella. Selama ini dia memberikan perhatian lebih ke Bella karena merasa iba dan bertanggungjawab atas bayi yang dikandungnya.
"Sudah malam. Kamu tidurlah!" titah Rey.
"Iya Mas, selamat malam,"
"Malam,"
* * *
Suara Rutinitas setiap pagi sudah terdengar berisik di dapur. Seperti biasa, Dara menyiapkan Sarapan pagi yang dibantu Bi Ningsih.
Tap..
Tap..
Tap..
Terdengar suara langkah kaki yang membuat Dara mengalihkan pandangannya pada sumber suara tersebut. Dia melihat Rey dan Bella keluar bersama dari kamar. Tidak ingin terlihat terluka dia melanjutkan aktivitasnya.
"Selamat pagi sayang," sapa Rey lembut.
"Hmm," singkat Dara.
Rey membuka bangku meja makan dan mendudukinya. Dia menatap nanar tubuh Dara dari belakang. Ingin rasanya dia menenggelamkan mukanya pada tengkuk leher istri pertamanya itu. Menghirup dalam aroma vanilla di tubuhnya yang dia rindukan. Namun kebiasaannya itu sudah tidak bisa dia lakukan dengan leluasa. Ada hati lain yang harus dia jaga. Hati Bella yang juga istrinya. Dia tidak mungkin bermesraan dengan Dara di depan Bella.
Bella merasa sakit melihat Ekspresi pada muka Rey. Raut mukanya seperti menggambarkan kerinduan dan cinta yang mendalam. Namun semua itu bukan untuknya, tapi untuk Dara. Wanita yang sudah menjadi rivalnya sejak 9 tahun yang lalu. Namun hal itu tidak diketahui oleh Dara dan Rey.
Klontaang!
Aaagghh!
Terdengar suara sutil wajan yang beradu dengan lantai yang di ikuti suara teriakan Dara. Rey yang menyaksikan hal itu sontak dengan sigap mendatangi Dara. Memastikan Dara baik - baik saja. Bella mendengus kesal melihat perhatian Rey ke Dara.
"Sayang kamu nggak apa - apa kan?" meneliti dengan cermat seluruh bagian tubuh Dara. Namun mata Rey berhenti pada luka bakar yang hampir mengering dan terpampang jelas pada tangan putih Dara. Rey yakin luka itu bukan disebabkan kejadian barusan.
"Aku tidak apa - apa. Tadi hanya kaget karena minyaknya meletup - letup di wajan,"
"Sayang, tanganmu ini kenapa? Kapan kamu mendapatkan luka ini?" tanya Rey, mengabaikan ucapan Dara barusan.
Dara melihat Rey sedang menatap luka yang ada di tangannya. Dengan gesit dia menarik tangannya dari sentuhan Rey.
"Oh ini disebabkan beberapa hari yang lalu," cetus Dara sembari menata makanan di atas meja.
"Apa waktu itu kamu terkena sup panas juga?" tanya Rey penasaran.
Hati Dara terasa hangat melihat sikap Rey yang ternyata masih peduli dengannya. Setidaknya Dia masih memiliki tempat di hati pria yang sangat dia cintai itu. Dara mencoba mengalihkan pandangannya pada muka tampan Rey. Menatap kedua netranya, memastikan ketulusan benar - benar ada di dalamnya. Namun tanpa sengaja Mata cantik Dara melihat sebuah tanda merah di lehernya suaminya itu. Ada beberapa tanda yang menempatinya disana. Dara yakin itu adalah kiss mark.
Kiss mark yang menyatakan sebagai tanda kepemilikan.
"Sepertinya kalian berdua bersenang - senang tadi malam," batin Dara.
Dara merasakan perih dalam hatinya. Sakit, sangat amat sakit.
"Aku meratapi kesedihanku di kamar sendirian. Kalian justru bersenang - senang dan bercumbu di atas penderitaanku," batin Dara.
Perasaan hangat yang tadinya dirasakan berubah menjadi perasaan panas karena terbakar api cemburu serta kekecewaan. Dara menyadari bahwa mereka berhak melakukan hubungan pasutri kapanpun mereka inginkan. Tapi rasanya tidak rela, dan tidak akan rela sampai kapanpun.
Matanya mulai terasa panas. Sepertinya cairan bening akan berusaha menerjang lagi. Dia tidak ingin terlihat lemah di depan Bella. Apalagi setelah mengetahui semua cerita tengang rivalnya itu dari sahabatnya Kayla. Dia menjadi lebih berhati - hati dalam bertindak.
Dara dengan cepat meraih tas kerjanya dan melangkah pergi. Rey yang mendapati sikap Dara merasa kebingungan.
"Sayang, ada apa? kamu harus makan dulu. Nanti kamu sakit!" seru Rey seraya menarik pergelangan tangan Dara.
Dara berhenti dan membalikkan badan. Sebisa mungkin menampilkan raut muka yang tegar dan kuat.
"Sebaiknya kamu tutupi bekas kissmark di lehermu,"
"Jangan merusak reputasimu sebagai CEO di perusahaanmu," ucap Dara lalu menghempas tangan Rey dengan kasar dan melenggang pergi.
Rey mengutuki dirinya sendiri. Lagi - lagi dia melukai hati Dara. Kissmark di lehernya pasti buat dia berfikiran yang tidak - tidak tentang dirinya. Apalagi mengingat tentang luka bakar di tangan Dara membuat Rey semakin menyesali perbuatannya.
"Bodoh! jenapa aku begitu bodoh!"
"Aku bahkan mengabaikan Dara waktu dia terluka!"
"Aku terlalu fokus dengan Bella waktu itu!" Rey menjerit di dalam hati.
Tubuh kekar Rey yang gagah begitu layu. Dia merasa lelah dengan semua ini. Kapan ini semua akan berakhir? Entahlah. Hanya Tuhan yang tahu.
Di sisi lain terlihat senyum kepuasan pada muka Bella. Tentu saja Rey tidak menyadarinya.
"Ini masih permulaan Dara. Aku masih punya banyak cara untuk merebut Rey darimu," batin Bella yang terdengar seperti suara setan.
Bersambung~~
Jangan lupa mampir di karya author satunya lagi ya, masih on going. Ditunggu kunjungannya🥰