
Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..
✓Like 👍
✓Coment 💬
✓Rate 5 ⭐
✓Vote 💰
Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗
🍂Selamat membaca🍂
Sudah tiga hari tiga malam Dara dan Rey tinggal dalam satu atap. Setelah tragedi di kamar mandi, Dara semakin menjaga jarak pada Rey.
Kondisi Rey juga terlihat sudah membaik. Dokter Arka terlihat merapikan alat - alat kedokterannya setelah memeriksa kesehatan pasien yang berstatus sepupunya itu.
Satu hal yang disadari Dara secara diam - diam. Entah kenapa, Rey selalu bersikap ketus dan memasang muka masam terhadap Dokter Arka, tapi sang dokter selalu menanggapinya dengan santai.
Sebenarnya rasa penasaran Dara sudah menjulang tinggi, namun dengan cepat selalu dia tampik. Baginya sekarang semua tentang Rey itu sudah tidak penting.
"Jadi dia sudah sembuh kan dokter Arka?" tanya Dara berharap.
"Iya, tapi dia tetap harus menjaga pola hidupnya dan masih harus meminum beberapa jenis obat untuk pemulihan kesehatannya," jelas sang Dokter.
Dara mengangguk - angguk ringan kepalanya, pertanda memahami penjelasan Dokter Arka.
"Berarti kamu bisa kembali ke tempatmu sekarang," ucapan Dara tertuju pada Rey.
Mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut Dara sungguh membuat Rey kecewa. Seakan Dara sangat tidak menginginkan keberadaanya sekarang.
Rey melempar tatapan kepada Arka dan sang asisten. Memberi isyarat untuk memberinya ruang agar bisa leluasa berbicara empat mata kepada Dara yang masih dianggap wanitanya itu.
Kedua pria tersebut mematuhi titah Rey dan berlalu pergi. Namun Arka langsung kembali ke hotel penginapannya, sedangkan Aldi sang asisten masih setia menunggu di luar pintu.
Di dalam apartemen kedua anak manusia itu masih terdiam. Mereka sibuk dengan pikirannya masing - masing.
Rey masih setia memandang sendu wanita yang sekarang enggan memalingkan muka cantiknya menghadap Rey meskipun hanya sesaat.
"Sayang," Rey mendekati Dara namun langkahnya terhenti.
"Tetaplah berdiri disana!" ketus Dara.
"Aku minta maaf," ucapnya sendu.
"Aku sangat menyesal. Tidak bisakah kamu memaafkan kesalahanku?" pinta Rey sedih.
Dara masih setia dengan kebisuannya. Raut mukanya pun terlihat tidak senang.
"Selama kamu menghilang, aku benar - benar tersiksa," matanya mulai terasa panas.
"Ayo sekarang kamu pulang ke istana kita," ajak Rey.
"Aku akan memaafkanmu, tapi aku nggak bisa kembali bersamamu," timpal Dara dingin.
"Aku masih sangat mencintaimu sayang. Tidakkah kamu masih ada cinta untukku?" tanya Rey.
"Cintaku sudah lama menghilang bersama calon bayiku yang belum sempat melihat dunia," Dara tersenyum getir.
Rey tertegun mendengar ucapan Dara. Sungguh Rey juga merasa kehilangan yang teramat besar saat mengetahui calon malaikatnya pergi sebelum melihat Mama Papanya.
"Aku mohon, maafkan aku dan kembalilah," Rey mengatupkan kedua tangannya, memohon agar Dara merubah pikirannya.
"Aku juga mohon jangan paksa aku Rey,"
"Aku terlalu takut penderitaan yang sama akan terulang,"
"Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama sayang," Rey merayu.
"Dengan melihat mukamu saja, mengingatkan aku pada rasa luka yang telah lama aku pendam," ucap Dara jengkel, namun terdengar ada kesedihan disana.
"Sayang ak.."
Ucapan Rey terputus karena tiba - tiba Ponsel Dara berbunyi. Dara melihat layar ponselnya dan tertera nama Radit. Masih di posisi yang sama, Dara menerima sambungan telepon itu dan berbicara kepada seseorang di seberang sana.
"Halo? ada apa?" Dara membuka pembicaraan terlebih dahulu.
"Hai Ra, aku baru saja ada urusan disekitar tempat tinggalmu. Boleh aku mampir ketempatmu?" tanya Radit di seberang sana.
"Iya datanglah. Aku masih di apartemenku," timpal Dara.
"Ok, sepuluh menit lagi aku sampai,"
"Ok. Bye,"
"Bye,"
Panggilan berakhir.
Rey melihat reaksi Dara ketika berbicara dengan seseorang lewat sambungan ponselnya. Tercetak senyuman hangat pada mukanya, sedangkan Dara tidak ada sedikitpun melemparkan senyuman kepadanya selama beberapa hari ini. Yang ada hanya sifat ketus dan muka masamnya.
"Siapa orang yang berbicara dengannya tadi?"
"Dia menggunakan bahasa Indonesia"
"Apakah itu Radit yang baru saja menelpon?" Rey berguman dalam hati. Menerka - nerka karena penasaran.
"Sekarang pergilah. Temanku akan datang," usir Dara.
"Pergilah!" usir Dara tanpa menjawab pertanyaan Rey.
"Tolong jawab aku, siapa temanmu itu?" Rey kembali mengulang pertanyaan yang sama. Namun Rey hanya mendapati sikap Dara yang acuh, enggan untuk menjawab. Hal itu kian buat Rey yakin tentang kecurigaannya.
Rey menatap tajam Dara. Dengan Raut muka yang tak terbaca dia melangkahkan kakinya mendekati Dara.
Tindak tanduk Rey membuat Dara mulai panik, namun masih berusaha bersikap wajar dengan menatap tajam balik pria yang berada dalam satu ruangan dengannya itu.
Sekarang jarak tubuh mereka sangat dekat. Napas Rey yang mulai menderu terasa hangat menyapu muka cantik Dara.
"Mau apa kamu?! cepatlah pergi dari sini. Aku sudah muak!" ucap Dara sinis.
Sekarang berbalik Rey yang diam, enggan merespon ucapan Dara. Terlihat tatapan kedua mata Rey sekarang berpindah pada benda pipih yang dipegang Dara.
Dara sepertinya mulai bisa menebak apa tujuan Rey. Wanita itu sedikit melirik ke arah benda pipih yang masih dipegangnya melalui ujung matanya. Sedikit menggeserkan tangannya ke belakang untuk menyembunyikannya dari tatapan Rey yang sudah menjadi incarannya.
Tanpa aba - aba, tangan kekar Rey mulai berusaha menyerobot benda pipih itu, namun gagal karena tangan Dara bisa menghindari dengan cepat.
Belum berakhir begitu saja. Rey masih berusaha sebisa mungkin untuk merebut benda tersebut, tapi lagi - lagi gagal. Dara dengan lincah selalu berhasil menghindar.
"Kenapa kamu semakin lincah sayang," ucap Rey sedikit menahan emosi.
"Apa mau mu?! jangan ganggu aku!" Dara mulai melangkahkan kakinya menuju ke kamar dan berniat menguncinya dari dalam.
Rey sedikit kesal, mulai menarik tubuh Dara yang berniat pergi dari hadapannya. Dengan mudah Rey mengunci tubuh Dara yang kecil menggunakan satu lengan tangannya yang melingkari pinggangnya yang ramping.
Dara memberontak minta dibebaskan, hingga kedua tubuh mereka terjerembab di atas sofa yang berada di belakang mereka.
"Aaaaah!" Dara berteriak karena terkejut, hingga teriakannya sampai ke telinga Aldi sang asisten yang memang sedari tadi berada di depan pintu.
Teriakan itu terdengar seperti desahan di telinga Aldi, sehingga membuat muka pria manis itu memerah.
"Mungkin mereka sedang saling melampiaskan hasrat kerinduan," batin Aldi tersenyum tipis.
Posisi tubuh Rey sekarang menindih tubuh kecil Dara dengan tangan yang masih melingkari tubuh Dara. Dara masih saja memberontak, namun tubuhnya yang menggeliat bagaikan ulat keket kepanasan itu memberikan sensasi yang berbeda pada tubuh Rey.
Pria yang memiliki libido tinggi itu mulai merasakan ada yang mengeras pada tubuhnya bagian bawah.
"Shit!" batin Rey mengumpat.
"Sayang, berhentilah menggeliat. Tindakanmu ini justru buat aku ingin melahapmu sekarang!" Rey masih berusaha menahan hasratnya. Dia tidak ingin membuat wanita yang selama ini dicarinya semakin membencinya.
Mendengar perkataan Rey membuat tubuh Dara berhenti bergerak secara otomatis karena terkesingkap. Dia merasakan ada benda keras yang menempel di pahanya.
Tubuhnya membeku, jantungnya berdegub kencang. Berharap pria yang sangat dia benci itu tidak mengikuti hasratnya yang mulai terpancing itu.
Mendapati tubuh Dara yang sudah tenang, Rey lanjut melancarkan aksinya yang dari tadi gagal itu. Tangannya meraih benda pipih yang masih terselimut jari - jari lentik Dara.
Kali ini Rey berhasil merebutnya. Dengan tubuh mereka yang masih saling bertindihan, Rey mulai membuka layar ponsel Dara yang ternyata tidak terkunci. Membuka daftar riwayat panggilan terkahir.
Raut muka Rey memerah setelah melihat nama Radit yang berada paling atas pada riwayat panggilan.
Dara yang menyadari ikatan tangan Rey mulai mengendor memanfaatkan kesempatan itu untuk mendorong tubuh Rey, hingga dia sekarang bisa terlepas dari belenggu tubuh pria itu.
"Jadi temanmu yang akan datang ke rumahmu itu Radit?" tanya Rey dingin, yang sekarang dia berada dalam posisi duduk.
"Memangnya ada masalah apa? sepertinya aku tidak harus memberi penjelasan lebih ke kamu!" timpal Dara sinis.
"Kamu membiarkan seorang pria dewasa masuk ke apartemenmu, padahal kamu hanya tinggal sendirian?" Rey mulai tersulut api cemburu namun masih tidak membiarkan api tersebut menyeruak luas.
"Apa yang kamu pikirkan?!" seru Dara seraya merebut kembali ponsel miliknya dari tangan Rey.
Rey terdiam beberapa detik. Otaknya sudah dipenuhi bayang - bayang Dara bersama Radit. Dia tidak rela, dan tidak akan pernah rela. Meskipun status mereka hanya berteman, tapi Rey tahu betul akan perasaan Radit ke wanitanya itu.
Tanpa basa basi, Rey berdiri mendekati Dara. Tiba - tiba dia menarik tubuh Dara dengan paksa. Membawanya keluar apartemen. Namun beberapa kali cekalan tangannya selalu berhasil ditangkis oleh Dara.
Tanpa banyak berpikir, Rey mengangkat tubuh kecil Dara. Membopongnya seperti karung beras.
"Aaahh!" apa yang kamu lakukan?! turunkan aku?!" Dara masih saja meronta - ronta. Dara terus memukul tubuh Rey. Namun Rey tidak menggubrisnya.
Aldi terperangah menyaksikan adegan antara Tuan dan Nyonyanya itu. Dia heran, baru saja mereka memadu kasih, tapi kenapa sekarang suasana berubah penuh emosi seperti sekarang.
(Wadoh! kamu salah paham Aldi. Plis deh🤦)
Adegan bopong - bopongan tersebut mengundang beberapa perhatian orang yang berada disekitar. Namun Rey tidak peduli dan tidak mau ambil pusing.
Selama ini dia sudah sangat tersiksa karena terlalu lama cinta pertamanya itu menghilang. Dia tidak akan membiarkan Dara jauh darinya lagi. Dia hanya berpikir bagaimana caranya agar Dara mau pulang bersamanya. Meskipun akhirnya dengan cara paksa.
Rey masih saja membopong tubuh Dara hingga berhenti di depan mobilnya. Membuka pintu mobil dan dengan hati - hati memasukkan Dara ke dalam, kemudian diikuti Rey yang duduk di sebelahnya, sedangkan Aldi sang asisten duduk di bangku sopir.
Dari kejauhan Radit yang baru saja keluar dari mobilnya, melihat Rey membawa pergi Dara dengan paksa. Radit pun bergegas mengikuti mobil yang mereka tumpangi, namun dia kehilangan jejak.
Di dalam mobilnya, Radit berteriak frutasi. Dia berkali - kali memukul setirnya. Dia pun mencoba menghubungi nomor telpon Dara, tapi selalu ditolak.
"Aaarrggg!" Radit berteriak.
"Sial! Sial! Sial!"
"Dibawa kemana lo Ra..?!" keluh Radit, matanya mulai terasa panas karena cairan bening yang mulai menembus pertahanannya.
"Kenapa?! Kenapa?!"
"Apa hal ini harus terulang lagi?! Radit meratapi.
Bersambung~~