Luka Cinta Dara

Luka Cinta Dara
Bab 10 Incident yang tak terduga



"Oke, good job. Kalian sudah bekerja keras. Meeting saya akhiri," ucap Rey mengakhiri meeting karyawan.


"Terimakasih Pak," ucap para karyawan serentak sembari membereskan berkas masing - masing.


Rey bergegas menuju pintu keluar ruangan di ikuti Nicho sang Asisten kembali ke ruang kantor pribadinya.


"Apa masih ada jadwal lainya hari ini?"


"Seharusnya hari ini ada meeting dengan perusahaan H.G, tapi tiba - tiba mereka meminta meeting di undur besok Tuan, karena ada beberapa masalah mendesak yang harus ditangani segera. Ini juga berhubungan dengan perusahaan kita," beber Nicho sembari membuka buku agendanya.


"Ada yang lain?"


"MF Group meminta proposal kerjasama dengan perusahaan kita dikirim besok pagi,"


"Oke," jawab Rey singkat, lalu memasuki ruangan pribadinya.


Tok..Tok..Tok..


Terdengar suara ketukan pintu ketika Rey baru saja menduduki kursi kebesarannya. Wanita cantik yang bekerja sebagai sekretaris pribadi masuk ke ruangannya.


"Permisi, maaf Pak Rey vanno. Ini ada titipan makan siang dari Ibu Maharani," ucap Bella.


"Saya sudah mempersilahkannya untuk menunggu di ruangan Bapak, tapi setelah mengetahui anda sedang melakukan meeting, Beliau langsung ijin pulang dan menitipkan ini pada saya," tambahnya lagi.


"Oke, terimakasih, letakkan saja di atas meja," perintah Rey tanpa melihat keberadaan Bella.


"Baik Pak,"


Setelah meletakkan kotak makan siangnya di atas meja kerja, Bella langsung permisi keluar ruangan.


Rani memang sering beberpa kali menyempatkan diri membawakan menu makan siang untuk putranya.


Rey membiarkan kotak makanannya di atas meja kerjanya, tidak berniat untuk segera memakannya. Saat ini dia lebih ingin mendengar suara Istri tercintanya. Dia segera mengambil ponsel dari saku jasnya. Mengusap layar ponselnya, lalu menekan angka Dial 1, muncul tulisan My Wife disana.


Tuuut...Tuuut...


Tidak butuh waktu lama, terdengar suara Dara dibalik ponselnya.


"Halo sayang," Dara menjawab panggilan.


"Halo sayang, kamu sudah makan siang belum?"


"10 menit lagi aku ada acara makan siang dengan Klien meeting sayang, nggak apa - apa ya, kamu makan siang sendiri?"


"Iya sayang gak masalah kok. Lagian barusan Mama juga kirim makan siang buat aku. Aku bisa makan di kantor,"


"Makan yang banyak ya sayang,"


"Nggak mau, nanti kalau aku makan banyak perutku berubah jadi one pack, gak sexy lagi dong, nanti kamu gak mau pegang - pegang lagi," goda Rey dengan senyuman nakalnya.


"Apaan sih, mulai lagi deh genitnya," Dara tertawa geli.


"Hahaha, oya sayang, hari ini aku lembur di kantor. Pulang agak malam. Kamu langsung tidur saja ya. Gak usah nungguin aku,"


"Iya sayang, tapi jangan pulang terlalu larut. Jangan terlalu memforsir tubuhmu untuk bekerja," nasehat sang istri.


"Siap Bos! Malam ini aku pasti kangen banget sama kamu," Terdengar suara Rey manja.


"Perasaan setiap hari bertemu, masih saja kangen, aneh!"


"Kamu kan ngerti sendiri, tubuhku ini harus setiap hari dipasok jatah dari kamu," goda Rey.


"Ih, mulai lagi deh, kebiasaan kamu ya,"


"Hahaha..ya sudah, panggilan aku matiin ya, I love you,"


"I love you too,"


* * *


Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, tapi Rey masih bergelut dengan pekerjaannya. Jari - jarinya masih semangat memainkan keyboard di leptopnya. Sekali - kali dia mengecek berkas - berkas yang ada di atas meja.


Sejenak Rey berhenti dari kegiatannya. Mengalihkan pandangannya pada kotak makan yang sama sekali belum disentuhnya. Begitulah Rey kalau lagi fokus sama pekerjaannya. Sampai lupa untuk mengasup tubuhnya sendiri dengan makanan. Dan tak khayal jikalau Rey meneruskan pekerjaannya di rumah, Dara sering menyuapinya agar perutnya terisi makanan.


Rey berniat untuk menyantap makan siangnya itu, yang sebenarnya sekarang sudah waktunya makan malam. Meskipun sudah dingin Rey biasanya akan tetap memakannya. Dia sangat menghargai apapun pemberian dari Mamanya.


Setelah selesai menyantapi makanannya, Rey meneguk segelas air sebagai penutup. Dia pun melanjutkan pekerjaannya yang sempat terhenti tadi.


Namun selang waktu tidak lama, Rey merasa ada yang aneh pada tubuhnya. Kepalanya terasa berat, tubuhnya terasa panas. Rey memberikan pijatan ringan di keningnya, berharap bisa mengurangi sakit pada kepalanya yang semakin merajai. Matanya kabur. Dia mencoba menggeleng - gelengkan kepalanya bertujuan pandangannya bisa kembali normal.


Tok.. Tok.. Tok..


Rey sempat mendengar suara ketukan pintu dari luar, karena dia masih setengah sadar. Dia berusaha berdiri, tapi rasa sakit di kepalanya mendominasi tubuhnya, sehingga membuat dia kembali mendudukkan tubuhnya.


Bella kebetulan memang sedari tadi masih berada di kantor karena lembur. Sebelum pulang dia berniat memberikan sebuah berkas yang sudah dikerjakannya pada Atasannya yang masih di dalam ruangan. Ketika memasuki ruangan Rey, dia melihat pemandangan yang tidak terduga. Atasannya sekarang terlihat pucat dan lemas. Bella melangkah cepat menuju Rey.


"Pak Rey.. Pak? Bapak baik - baik saja? apa Bapak sakit?" tanya Bella cemas.


"Saya tidak apa - apa,"


"Tapi Bapak terlihat pucat, saya antar ke Rumah Sakit ya?"


"Tidak usah, tolong antar saya ke ruang istirahat saja," perintah Rey. Dia merasa dengan istirahat sudah cukup.


Bella pun berusaha membantu Rey berdiri, meletakkan lengan Rey melingkari bahunya agar mudah bagi Rey untuk berdiri. Dia mengantar Rey ke dalam kamar istirahat yang memang sudah tersedia di ruang kantornya.


Rey merasa kepalanya semakin terasa berat, tubuhnya seperti ada aliran panas. Tiba - tiba dia seperti melihat sosok Dara di sampingnya.


"Sayang kapan kamu datang?" ucap Rey meracau sambil menahan sakitnya.


"Baru saja sayang, sudah kamu istirahat dulu, kamu sepertinya sakit sayang," ucapnya sambil meletakkan tangan lembutnya di dahi Rey.


Rey tanpa aba - aba menarik tubuh ramping Dara kedalam pelukannya. Melesatkan ciumannya ke bibir Dara, melahapnya dengan kasar. Tubuhnya sudah terselubung oleh nafsu. Tangannya mulai menjelajah tubuh wanita di depannya itu. Melepaskan satu persatu kain yang menutupi tubuhnya.


Rey tidak sadar bahwa wanita yang sedang dia jamah itu adalah Bella dan bukan Dara istrinya.


Malam terasa sangat panjang. Jam sudah menunjukkan pukul 12 tengah malam. Rey mengernyitkan dahinya, merasakan pening yang masih tersisa. Berusaha membuka matanya yang terasa berat.


Di sela - sela upayanya untuk mengembalikan kesadaran sepenuhnya, Rey mendengar suara isak tangisan seorang wanita di dalam ruangannya. Dia memalingkan mukanya ke samping. Betapa terkejutnya dia yang sontak buat kesadarannya kembali seratus persen. Dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang. Bella duduk meringkuh sedang menangis.


"Kamu?! kamu ngapain disini?!"


Rey melihat tubuh Bella tanpa kain yang hanya di tutupi selimut. Dia dengan cepat memalingkan mukanya ke arah lain dan tersadar bahwa tubuhnya sedang bertelanjang dada, tapi masih memakai celana dengan kondisi resleting terbuka.


Kepala Rey terasa dihantam batu satu ton. Dia mencoba mengingat - ingat apa yang telah terjadi sebelumnya. Dia hanya ingat kepalanya terasa sakit, badannya terasa panas dan Bella datang membantunya trakhir kali. Setelah itu dia tidak mengingat apa - apa lagi.


"Apa yang telah terjadi?!" tanya Rey ulang dengan nada meninggi.


"Ini tidak mungkin! jangan bilang baru saja kita melakukan tindakan terlarang!" tambah Rey tidak percaya.


Pernyataan Rey malah justru membuat tangisan Bella semakin pecah.


Rey beranjak dari ranjang, memakaikan kembali kemeja yang berserak di lantai. Merapikan pakaiannya yang tadi berantakan.


"Cepat pakai bajumu, dan jelaskan apa yang terjadi!" perintah Rey dengan membelakangi Bella dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar istirahatnya.


Bersambung~~


Jangan lupa mampir di karya author satunya lagi ya, masih on going. Ditunggu kunjungannya🥰