Luka Cinta Dara

Luka Cinta Dara
Bab 51 Koma



Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..


✓Like 👍


✓Coment 💬


✓Rate 5 ⭐


✓Vote 💰


Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗


🍂Selamat membaca🍂


Rey terduduk lemah di depan ruang UGD. Sesampainya di Rumah Sakit, Dara langsung di tangani oleh petugas kesehatan Rumah Sakit. Sudah satu jam lebih wanita itu di dalam. Ahli medis yang menangani istrinya belum juga menampakkan diri dari balik pintu ruang UGD.


"Sayang, tubuhmu juga terluka parah. Sebaiknya kamu periksa kondisimu dulu," tutur Mama Rani yang sedari tadi menangis melihat kondisi putranya terlihat sangat kacau.


Dokter sudah menyarankan Rey untuk segera dibawa ke ruang IGD untuk mengobati lukanya. Namun sikap keras kepala Rey yang teramat besar membuat orang di sekitarnya tidak bisa berbuat apa - apa.


"Tidak, Rey harus memastikan keadaan istriku Ma," timpal Rey. Terlihat matanya yang memerah karena air mata kekhawatiran terus saja mengalir.


"Kamu jangan keras kepala Rey. Mari Papa antar kamu ke ruang perawatan," Papa Rengga juga tak kalah cemasnya.


Sedangkan Kayla yang tidak lama datang setelah mendapat kabar tentang apa yang telah menimpa sahabatnya itu hanya bisa mengehela napas panjang melihat sifat keras kepala Rey. Muka cantik Kayla juga sudah basah dengan air mata yang terasa hangat. Namun dia masih berusaha bersikap tegar dan tidak panik. Meski rasa takut akan kondisi Dara di dalam hatinya juga sangatlah besar.


Di sisi lain Radit yang juga berada disana juga tidak kalah cemas. Mata tajamnya juga terlihat memerah. Cairan bening di kedua pelupuknya seakan berontak ingin bebas. Namun dia masih menahannya, karena hal itu akan membuat Papa Rengga dan Mama Rani bertanya - tanya. Pada akhirnya dia memilih untuk melangkah pergi menjauh dari kumpulan orang - orang yang sedang dilanda kepanikan tersebut.


Kayla yang menyadari kepergiannya mulai menyusul pria yang dicintainya diam - dia itu. Kini tinggal Rey dan kedua orangtuanya yang masih setia menunggu di depan ruang UGD.


Selang beberapa waktu, seorang pria paruh baya yang mengenakan jas putih khas seragam dokter keluar dari ruangan. Rey yang menyadari kedatangan sang Dokter segera beranjak dari duduknya. Begitu juga Papa Rengga dan Mama Rani.


"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" tanya Rey yang masih panik.


"Pasien kehilangan banyak Darah dan membutuhkan golongan darah AB. Sayangnya Di Rumah Sakit kami sedang kehabisan stok darah yang cocok dengan pasien," ucap Dokter Handoko dengan perasaan tidak enak.


"Ambil darah saya saja Dok, kebetulan golongan darah saya sama dengan pasien," Rey meraih kedua lengan sang Dokter. Menatap lekat mata pria ber jas putih tersebut.


Namun Dokter Handoko terlihat ragu untuk mengambil Darah Rey karena kondisinya sendiri juga sedang tidak baik.


"Apa lagi yang harus ditunggu? ambil saja darah saya," ucap Rey memaksa.


"Tapi kondisi anda sekarang tidak memungkinkan," jelas sang Dokter seraya memperhatikan tubuh Rey yang penuh dengan luka.


"Apa yang tidak mungkin?"


"Ini bisa beresiko bagi kesehatan anda," jelas pria tua ber jas putih tersebut.


"Rey, dengarkan perkataan Dokter. Tahan sikap keras kepalamu itu," sela Papa Rengga yang juga khawatir.


"Iya sayang, kamu jangan memaksa dirimu," tambah sang Mama.


"Tidak! nyawa istriku lebih penting sekarang,"


"Ambil darahku sekarang juga!" titah Rey setengah berteriak.


"Permisi Dok, kondisi pasien sekarang bertambah kritis. Dia membutuhkan donor darah sekarang," lapor seorang suster yang muncul dari dalam ruangan UGD.


"Apa yang harus ditunggu lagi?! Hah? bergegaslah" Tandas Rey memaksa sang Dokter seraya mengguncang tubuhnya.


Dokter Handoko sekilas melirik ke arah Papah Rengga dan Mama Rani yang sepertinya merekapun tak kuasa untuk mencegah putranya.


Rani hanya bisa menangis dalam pelukan sang Suami.


Akhirnya dengan berat hati, sang Dokter menerima Rey sebagai pendonor darah.


"Baiklah, sekarang mari ikut saya," ucap sang Dokter kepada Rey.


Papa Rengga dan istrinya hanya bisa pasrah, menerima kenekatan putra semata wayangnya tersebut.


* * *


Radit kini sedang duduk di bangku taman Rumah Sakit. Tubuh tegap pria itu terlihat lemas. Sesekali dia mengusap kasar muka yang kini terukir jelas kepanikan dan kesedihan yang begitu besar.


Kayla yang semenjak tadi mengamati sendu punggung Radit, mulai melangkahkan kakinya, mendekati pria yang sedang dirundung kecemasan tersebut.


"Dit?" sapa Kayla seraya menepuk pelan pundak Radit.


Radit hanya menoleh sekilas ke arah Kayla.


"Gue takut Kay," suara Radit terdengar bergetar.


Kayla menangkup kedua pipi Radit yang terasa hangat. Menatap tajam kedua manik hitamnya.


"Ingat, Dara wanita yang kuat. Kita harus yakin itu. Sekarang lebih baik kita berdoa untuknya," Kayla berusaha menguatkan.


Kini air mata kecemasan menerobos keluar dari kelopak matanya yang sudah terlihat memerah. Isakan tangis pria tampan itu pun mulai terdengar pelan.


Hati Kayla sangat sakit melihat keadaan Dara yang sedang kritis. Namun hatinya juga terasa perih melihat pria yang dia cintai berderai air mata.


Dengan perasaan ingin menenangkan, Kayla mengusap air mata Radit dan memeluk tubuhnya yang kini terasa berguncang karena menangis. Radit yang terbawa perasaan merespon tindakan Kayla dengan membalas pelukan Kayla. Tubuh mereka bertautan cukup lama hingga akhirnya Radit sudah sedikit lebih tenang.


"Apa lo sudah sedikit tenang?" tanya Kayla.


"Lumayan," jawab Radit diiringi senyuman simpulnya.


"Maaf," tambahnya lagi.


"Memangnya maaf untuk apa?"


"Gue tahu lo juga sama cemasnya dengan keadaan Dara. Tapi gue sebagai lelaki justru terlihat lemah di depan lo,"


"Sudah, jangan salahkan diri lo sendiri. Setiap orang mempunyai cara tersendiri untuk menyikapi perasaanya,"


"Lo benar - benar wanita yang tegar," puji Radit sembari menatap hangat muka wanita yang baru saja membuat dia kagum di sela - sela kesedihannya saat ini.


Muka putih Kayla seketika berubah semu kemerahan karena ucapan disertai tatapan hangat Radit yang mampu meluluh lantahkan hatinya.


"Ehem!"Kayla mencoba menetralkan perasaannya.


"Sebaiknya kita kembali ke dalam. Dara sangat membutuhkan dukungan kita saat ini," saran Kayla seraya beranjak dari duduknya.


"Baiklah," Radit juga beranjak dari duduknya. Mereka berdua berlalu dari taman, kembali ke ruang tunggu UGD tempat Dara ditangani.


* * *


Setelah dua jam ditangani petugas kesehatan. Kini Dara sudah dipindahkan ke kamar perawatan VIP Rumah Sakit. Beberapa alat medis masih terlihat bersarang pada tubuhnya.


Kondisi Rey sekarang juga semakin lemah karena memaksakan diri untuk mendonor darahnya dengan keadaan terluka parah. Terlihat kain perban membungkus kepalanya. Jarum infus juga tertanam di tangannya.


Setelah Dokter mengumumkan bahwa Dara sudah melewati masa kritis dan di pindahkan ke kamar perawatan, akhirnya Rey bersedia untuk di obati.


Rey kini sedang tertidur di kamar perawatan karena pengaruh obat yang diberikan Dokter.


Bagaimanapun juga luka di tubuh Rey bukanlah luka yang ringan. Dia juga membutuhkan penanganan ekstra.


Mama Rani terlihat duduk di samping ranjang Rumah Sakit tempat putranya terbaring. Raut muka kesedihan masih terlukis jelas di antara garis - garis keriputnya. Sedangkan Papa Rengga keluar mengurus beberapa biaya administrasi.


"Maafkan Mama sayang, Mama sangat menyesal. Ini semua karena Mama yang dulu memaksamu untuk menikahi wanita gila itu," Keluh Rani sangat menyesal.


Sesungguhnya Rani sudah menyesali akan semua tindakannya di masa lalu. Namun rasa gengsinya yang tinggu membuat dia terlalu malu untuk mengakuinya. Tapi dengan adanya musibah yang baru saja menimpa anak dan menantunya saat ini, membuat dia lebih bisa membuka hatinya. Keinginan untuk menjalin hubungan baik kepada Dara yang selama ini sangat dia benci mulai merambah ke hatinya.


* * *


Di kamar VIP tempat Dara di rawat.


Siang sudah berganti malam. Setelah keluar dari ruang UGD, namun Dara belum juga menunjukkan tanda untuk sadar dari pingsannya.


"Dok, bagaimana kondisi teman saya? Dokter bilang dia sudah melewati masa kritis, tapi kenapa hingga saat ini dia belum sadarkan diri?" tanya Kayla cemas.


"Ibu Dara memang sudah melewati masa kritisnya, namun untuk saat ini pasien memang sedang koma?" jelas sang Dokter.


"Terus sampai berapa lama dia akan sadar Dok?"


"Kalau masalah itu saya belum bisa memastikan, tapi yang pasti pihak Rumah Sakit kami akan memberikan yang terbaik untuk proses kesembuhan pasien," tutur sang Dokter.


"Kalau begitu saya permisi dulu,"


"Baik Dok, terimakasih,"


"Haahhhh...," Kayla menghela napas panjang. Dia menatap iba sahabatnya yang kini dalam kondisi koma tersebut. Tidak jarang wanita cantik itu memberikan dukungan kepada Dara dengan memberi usapan lembut pada tangannya.


Radit yang juga masih dalam satu ruangan dengan Kayla dan Dara hanya bisa terduduk lesu di atas sofa yang sudah tersedia di dalam kamar perawatan.


Bersambung~~