
Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..
✓Like 👍
✓Coment 💬
✓Rate 5 ⭐
✓Vote 💰
Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗
🍂Selamat membaca🍂
Gendang telinga terasa mendengung. Suara dunia luar bagaikan tenggelam di dasar laut yang terdalam. Jiwa yang beberapa hari ini entah kemana kini sudah kembali pulang ke raga yang semestinya tempat jiwa itu bersemayam. Perlahan - lahan kesadaran mulai terisi. Merangsang otak untuk memperintahkan organ tubuh lain untuk kembali bekerja. Dengan pelan tangannya mulai menggerakkan jari - jarinya.
Dengan kesusahan wanita yang sudah mengalami tidur yang panjang itu membuka kedua kelopak matanya yang masih terasa berat. Dahinya mengernyit karena rasa pusing yang masih merajai kepalanya yang terbungkus perban.
Dia masih berusaha mengembalikan kesadarannya seutuhnya. Matanya kini sudah terbuka meski masih terlihat sayu.
"Ra? lo sudah sadar? syukurlah," suara Kayla sang sahabat yang masih setia berada di sampingnya terdengar sangat senang.
Radit yang juga berada dalam satu ruangan yang sama sontak terperanjat dari tempat duduknya setelah mendengar ucapan Kayla.
"Dara? akhirnya lo sadar," Radit tak kalah senangnya.
Terulas senyuman lega di muka Kayla dan Radit. Kesadaran Dara mengurangi kekhawatiran mereka saat ini.
"Kayla? Radit?" ucap Dara lirih yang mengenali suara kedua sahabatnya itu.
"Iya Ra, ini gue," suara Kayla terdengar haru mengetahui sahabatnya sudah sadar.
"Kay, gue sekarang ada dimana? tanya Dara yang kebingungan.
"Sekarang lo ada di Rumah Sakit Ra,"
"Rumah Sakit? terus sekarang kenapa gelap sekali? tolong hidupkan lampunya," pinta Dara yang merasa tidak nyaman berada dalam kegelapan.
Sontak Kayla menggiring pandangannya ke arah Radit yang mulai memasang raut muka bertanya - tanya. Wanita cantik itu terlihat kebingungan dengan apa yang dikatakan Dara. Ruangan tempat mereka berada sangat terang saat ini, tapi kenapa Dara bilang gelap?. Perasaan leganya kini menghilang.
"Kay, gue nggak bisa lihat apa - apa. Tolong hidupkan lampunya," pinta Dara yang masih terbaring lemah.
Sontak Kayla terkejut luar biasa. Nafasnya seperti berhenti di kerongkongan. Lidahnya terasa kelu yang membuatnya terdiam seribu bahasa. Badannya terasa lemas mendapati keadaan Dara sekarang. Cairan asin yang sudah memenuhi telaga bening mulai menerobos membasahi pipi. Kini Kayla menangis namun dia berusaha menutup mulut rapat - rapat dengan kedua tangannya agar isakannya yang bisa membuat Dara cemas tidak terdengar.
Dia menenggelamkan mukanya ke tubuh Radit yang tengah berdiri di sampingnya. Pria tampan itu pun mulai melingkari tangannya di pundak Kayla yang terasa bergetar. Memberi usapan lembut pada punggung wanita yang sedang menangis tersebut.
Radit yang juga tak kalah terkejutnya juga merasakan hal yang sama dengan Kayla. Matanya memerah dan mulai terasa panas. Hatinya sangat sakit melihat keadaan Dara.
"Kay, kenapa lo hanya diam saja," tanya Dara yang tak juga mendapat jawaban dari Kayla.
"Ra, lo coba tenang dulu. Gue akan panggil Dokter," sela Radit.
Radit yang hendak keluar memanggil Dokter tiba - tiba urung melakukan niatnya, karena sang Dokter yang di ikuti seorang perawat di belakangnya tengah membuka pintu dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan kamar VIP tempat Dara di rawat.
"Dok, tolong periksa kondisi pasien, kenapa sepertinya dia tidak bisa melihat?" pinta Radit dengan cemas.
Sang Dokter pun dengan cekatan melakukan beberapa pemeriksaan kepada Dara yang baru sadar dari komanya tersebut.
* * *
Rey hendak kembali ke ruangan tempat istrinya dirawat. Dia berjalan menyusuri lorong Rumah Sakit hingga langkahnya terhenti di depan pintu kamar inap VIP. Tangannya memutar knop pintu dan membukanya. Niatnya melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan namun tiba - tiba dia urungkan. Dari balik pintu dia melihat sang istri sepertinya sudah kembali sadar.
Perasaan lega dan bahagia pun terlihat dari mukanya. Rasa syukur yang tiada tara sungguh menyirami hatinya saat ini. Ingin rasanya dia menghambur pergi memeluk tubuh istrinya itu, namun kali ini dia tidak ingin bersikap egois.
"Sayang, ingin sekali aku memelukmu, tapi aku tahu kamu sangat membenci keberadaanku," gumam Rey lirih yang masih setia mengamati istrinya di balik pintu.
"Kenapa dia bilang gelap sedangkan lampu ruangan menyala terang?" Rey berbicara dengan dirinya sendiri seraya menyatukan kedua pangkal alisnya.
Semakin lama perasaan lega Rey berubah menjadi kecemasan.
"Tidak, itu tidak mungkin," Rey mencoba menampik pikiran buruknya.
Pria tampan yang masih berada di balik pintu tersebut langsung berlalu dari tempat dia berpijak guna memanggil Dokter.
Selang beberapa lama Rey kembali bersama Dokter dan seorang perawat. Membiarkan mereka masuk ke dalam ruangan, namun Rey masih menahan langkahnya untuk tetap berada di balik pintu. Sungguh kali ini Rey akan memenuhi ucapannya kepada Dara di kala ia belum siuman. Dia sadar sepenuhnya, adanya Rey di samping Dara akan memperburuk keadaan psikisnya.
"Ya Tuhan..., jangan kau tambah lagi penderitaan istriku. Selama ini dia sudah cukup menderita karenaku," doa Rey di dalam hati.
* * *
"Dok, apa yang terjadi dengannya?" tanya Kayla mengetahui sang Dokter telah usai memeriksa kondisi Dara.
Namun raut muka Dokter Handoko seperti tak terbaca.
"Dokter, saya tidak buta kan?" sela Dara menyelidik ditengah kondisinya yang masih lemah karena baru bangun dari koma. Sungguh kini Dara sangat merasa takut.
"Sebaiknya kita harus segera membawa pasien ke Dokter Spesialis Mata untuk memastikan kondisi matanya lebih lanjut," saran sang Dokter.
Tanpa menunggu lama, sang Dokter meminta perawat membantu Dara duduk di atas kursi roda salah satu fasilitas yang ada Rumah Sakit. Dengan sangat hati - hati sang Suster mengangkat tubuh lemah Dara. Membantunya turun dari ranjang dan berpindah ke kursi roda. Kemudian mereka membawa Dara keluar ruangan melewati lorong Rumah Sakit.
Rey yang masih berada di luar juga mengikuti kemana sang Dokter membawa Dara, begitu juga Radit dan Kayla.
* * *
Beberapa waktu yang lalu Dara kembali dari ruangan pemeriksaan khusus spesialis mata di Rumah Sakit tempat dia di rawat. Dara begitu syok menyadari matanya kini sudah tidak berfungsi. Oleh sebab itu Dokter menyuntikkan obat penenang kepada Dara untuk mengurangi tekanan psikis yang akan memperburuk kondisi tubuhnya yang sedang lemah.
Dokter mendoktrin bahwa Dara mengalami kebutaan permanen. Dokter menjelaskan kebutaan Dara diakibat benturan keras pada kepalanya saat kecelakaan yang berakibat saraf yang berperan dalam proses penglihatan ikut cedera.
Sedangkan di luar kamar VIP tempat Dara di rawat, terlihat Rey menyandarkan tubuhnya pada dinding luar kamar samping pintu. Dia begitu terpukul setelah mendengar Dokter memvonis Dara mengalami buta permanen pada kedua matanya.
Dia berkali - kali menyalahkan dirinya. Frustasi yang teramat besar benar - benar menyelimuti pikirannya saat ini. Menangis, tentu saja dia sedang menangis sekarang. Banjir air mata yang sedang menyapu kedua pipinya seakan enggan berhenti.
Sejenak dia terdiam karena terlintas sebuah ide di dalam otaknya. Tanpa menunggu lama, dia lantas pergi menemui Dokter Spesialis Mata yang memeriksa Dara beberapa waktu yang lalu.
"Dok, apa nggak ada cara lain agar istri saya bisa melihat lagi?" tanya Rey berharap ada jalan alternatif lain untuk mengembalikan pengelihatan Dara.
"Hanya ada satu jalan yaitu dengan cara melakukan pencangkokan kornea mata. Kita harus mencari orang yang rela mendonorkan kornea matanya kepada istri anda," jawab sang Dokter ramah dengan ulasan senyuman di mukanya.
Rey masih berpikir, menimbang - nimbang keputusan apa yang akan dia lakukan.
"Apa saat ini pihak Rumah Sakit tidak memiliki daftar orang yang rela mendonorkan matanya?"
"Untuk saat ini belum ada lagi Pak Rey, kita harus menunggu dengan waktu yang tidak ditentukan. Biasanya akan sedikit lama karena jarang sekali ada orang yang rela mendonorkan kornea matanya. Kadang meskipun pemilik kornea mata sudah meninggal sekalipun pihak keluarga yang masih hidup juga belum tentu mengijinkannya," jelas sang Dokter.
Rey bertambah frustasi mendengar penjelasan Dokter. Mana mungkin dia rela membiarkan wanita yang dicintainya bertahan dengan kebutaannya terlalu lama.
"Apa semua orang bisa menjadi pendonor?"
"Biasanya kami menerima pendonor yang sudah meninggal. Dan sangat langka sekali bagi orang yang masih hidup yang bisa mendonorkan matanya, itupun harus melewati prosedur - prosedur tertentu,"
"Kira - kira setelah mendapatkan pendonor mata, kapan bisa dilakukan operasi Dok?"Rey masih terus bertanya.
"Itu bisa dilakukan secepatnya asal kondisi pasien sudah pulih, dan sekali lagi setelah melewati prosedur - prosedur yang telah di tentukan," tutur sang Dokter lagi.
Waktu terus bergulir, tidak terasa sudah banyak pertanyaan yang dia limpahkan pada sang Dokter. Setelah mendengar semua penjelasan sang Dokter, kini Rey sudah memantapkan keputusannya.
"Sayang, setelah ini aku akan benar - benar pergi dari kehidupanmu," batin Rey sendu.
Bersambung~~