
Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..
✓Like 👍
✓Coment 💬
✓Rate 5 ⭐
✓Vote 💰
Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗
🍂Selamat membaca🍂
Bella kembali ke ruang keluarga setelah mengganti baju yang basah. Kebetulan mertuanya ada beberapa baju yang cocok dikenakan Bella.
Rani sedaritadi tak henti - hentinya menggerutu tentang Dara. Mulutnya terlalu luwes jika digunakan untuk mencela menantunya yang satu itu.
"Dasar wanita kejam! bisa - bisanya dia berbuat seperti itu?!" hardik Rani.
"Awas saja kalau terjadi apa - apa sama calon cucuku!" seru Rani.
"Sudahlah Ma, itu tadi pasti hanya kecelakaan. Dara tidak mungkin sengaja berbuat seperti itu," Bela Rengga sang suami.
"Tidak sengaja bagaimana?! sudah jelas wanita jalang itu cemburu karena Bella bisa kasih Rey anak! makanya dia bertindak nekat!" hardik Rani lagi. Dia masih saja bertahan dengan cercaan kebencian untuk Dara.
Namun di sela - sela keributan, Rey masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia mengulang ingatan kejadian yang belum lama tadi. Seharusnya dia harus lebih bisa bersikap dengan bijak dengan memberi kesempatan pada Dara untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dia merasa belum berhasil menjadi suami yang adil pada kedua istrinya. Sedikit ada penyesalan yang mengetuk hatinya.
Rey mengedarkan kedua pupilnya pada setiap sudut ruangan tempat dia berada. Mencari sosok istri pertamanya yang ternyata masih belum terlihat bergabung bersama yang lain. Tanpa menghiraukan omel - omelan si burung beo, Rey beranjak dari duduknya, berniat menghampiri Dara yang diperkirakan masih berada di sekitar kolam renang belakang rumah.
Rey melangkahkan kakinya lebar. Melihat dan memastikan keadaan Dara yang juga sedang hamil. Meminta kejelasan yang tadi sempat dia abaikan.
Matanya masih menyusuri setiap sudut wilayah kolam renang. Dia tidak menemukan sosok Dara disana. Justru dia dibuat terhenyak karena melihat ada cairan kental bewarna merah yang dipastikan darah, menyapu pinggir kolam.
Seketika dadanya berdenyut hebat. Ritme detak jantungnya mulai tidak beraturan. Bayangan Dara terus berkelibat dalam pikirannya.
"Dara? apa ini darah miliknya?" Rey bergumam cemas.
"Tidak! Ini tidak mungkin. Dara milikku pasti baik - baik saja," Rey pun bergegas menyusuri semua wilayah rumah. Tidak ada satu sudutpun ruangan yang terlewatkan, berharap bisa menemukan sang wanitanya. Memastikan miliknya itu baik - baik saja. Namun untuk kesekian kali usahanya sia - sia.
"Rumah Saki, iya Rumah Saki," Gumam Rey. Entah hatinya mengatakan dia harus mendatangi Rumah Sakit terdekat.
Tidak ingin menundanya terlalu lama, Rey berlari menuju mobil mewahnya yang terparkir di halaman. Melajukan kendaraan besinya itu dengan kecepatan tinggi. Rey meninggalkan rumah orangtuanya tanpa menghiraukan orang - orang yang heran dengan sikapnya.
Di tengah perjalanan Rey mengingat sesuatu. Rey membanting setir mobilnya ke kiri diiringi dencitan suara rem mobil terdengar nyaring dari luar. Dia mengusap layar ponsel. Mencari nomor tujuan dan menekan tombol panggil.
Tut...
Tut...
Tut...
Bunyi sambungan masih terdengar. Cukup lama Rey menunggu jawaban dari pemilik nomor telepon.
"Halo Nak," terdengar suara Rengga di balik telepon.
"Pah, tolong check rekaman CCTV yang berada di area kolam renang rumah Papah," Pinta Rey.
"Oke, segera Papa Check sekarang," jawab Rengga tanpa bertanya alasannya, karena dia sudah paham tujuan putranya itu.
"Terimakasih Pah," ucap Rey sebelum mematikan sambungan telepon.
Kemudian Rey melajukan mobilnya, melanjutkan tujuan pencariannya.
* * *
Di Rumah Sakit.
Radit terlihat duduk gelisah di ruang tunggu. Sesekali dua berdiri berjalan mondar mandir di depan ruang UGD. Mimik muka kecemasan begitu ketara pada muka tampannya.
Selang tidak lama, Terlihat Kayla datang dengan kekhawatiran yang tak kalah besarnya dengan Radit.
"Radit! apa yang terjadi?!"
"Dara, dimana Dara?!" suara Kayla terdengar bergetar menahan tangis.
"Dara masih ditangani Dokter Kay," jawab Radit gusar.
"Dara kenapa Dit?!" Kayla mengguncang tubuh Rey ingin segera mendapat penjelasan.
"Dara mengalami pendarahan hebat akibat benturan keras pada perutnya. Dokter mengatakan janin yang dikandungnya tidak bisa diselamatkan. Jadi dia harus dioperasi," jelas Radit.
"Kenapa?! kenapa sampai bisa pendarahan?!" Kayla menatap lekat mata Radit meminta jawaban.
Radit pun menceritakan semuanya yang dia ketahui kepada Kayla.
"Gue curiga, ini semua karena ulah Bella siluman rubah itu!" ujar Kayla.
"Bisa jadi, karena waktu itu mereka seperti habis berseteru," tambah Radit.
Tap. Tap. Tap. Tap. Tap.
Suara cepat langkah kaki yang terdengar seperti berlari itu mengalihkan perhatian Radit dan Kayla.
"Dara?! dimana Dara istriku?!" tanya Rey ngos - ngosan karena habis berlari. Dari muka terukir jelas kecemasan dan ketakutan yang bercampur jadi satu.
* * *
Rey berencana mendatangi Rumah Sakit terdekat terlebih dahulu. Empat puluh lima menit perjalanan yang ditempuh. Akhirnya dia sampai pada halaman parkir Rumah Sakit yang terletak di pusat kota.
Beberapa saat yang lalu. Rey memang sudah mendapatkan laporan dari Rengga sang Ayah tentang hasil rekaman CCTV yang dimintanya. Di dalam rekaman video terlihat Dara yang pingsan dan langsung dibawa Radit pergi.
Mendengar kabar dari Ayahnya sungguh buat Rey frustasi. Jadi seperti dugaannya, darah yang dia lihat tadi adalah milik Dara. Rasa bersalahnya mulai menggrogoti dirinya. Sepanjang perjalanan dia tidak henti - hentinya mengutuk diri sendiri. Bisa - bisanya dia mengabaikan Dara.
Rey dengan langkah lebarnya memasuki bangunan Rumah Sakit untuk mencari informasi tentang Dara.
* * *
Kedatangan Rey di Rumah Sakit sepertinya tidak diinginkan oleh Radit. Amarah dan kebencian terlukis jelas pada mukanya yang sekarang sudah merah padam. Kedua telapak tangannya sudah mengepal begitu erat. Otot - otot yang bersemayam di bawah kulit tangannya menampakkan diri. Sudah gatal ingin memamerkan kekuatannya.
Radit akan melayangkan sebuah bogeman ke arah Muka Rey. Namun aksinya itu harus terhenti di tengah jalan, karena sebuah tas wanita sudah meluncur duluan melewati tubuh Radit dan mendarat tepat pada muka tampan Rey.
Bruuugg!
Tas itu sepertinya mendarat dengan sangat keras. Sehingga cukup membuat tubuh Rey terhuyung ke belakang. Untung saja Rey masih bisa menjaga keseimbangan tubuhnya, jadi dia tidak sampai tersungkur ke lantai.
Rey yang masih berusaha membetulkan posisinya tubuhnya agar kembali tegap.
Buugh!!
Tiba - tiba Rey terhuyung ke kanan akibat tonjokan keras pada pipi kirinya, yang membuat darah segar mengalir dari sudut bibirnya.
Buugh!!
Pemilik tas itu tidak berhenti begitu saja. Dia kemudian mendaratkan lututnya pada bagian tubuh six pack Rey.
Melihat Rey meringis kesakitan membuat Kayla berhenti menggencarkan aksinya. Iya, pemilik tas wanita itu adalah Kayla.
"Gue sudah cukup lama menahan emosi gue!"
"Kalau saja Dara tidak melarang, gue sudah pukul lo sampai mati!" seru Kayla dengan emosi meletup - letup.
"Lo boleh pukul gue sampai lo puas," ucap Rey pasrah.
"Tapi tolong kasih tahu gue dimana Dara sekarang?" Rey memohon, karena memang dari tadi kedua sahabatnya itu belum menjawab pertanyaannya.
"Oh, ternyata lo masih peduli dengan istri lo?!" timpal Kayla.
"Apa Dara harus merenggut nyawa dulu baru lo sadar?! Haah?!" kayla geram diiringi air mata yang sudah memenuhi kelopak matanya dan pada akhirnya jatuh membasahi pipinya.
"Dara sekarang ada di dalam," Radit menyela sambil mengarahkan mukanya ke arah pintu ruang UGD.
"Apa yang terjadi dengannya?!" sorot mata Rey menatap lekat ke arah Radit. Meminta jawaban.
"Dara keguguran," jawabnya singkat namun terasa sangat berat.
Bagaikan disambar petir, Rey terkejut luar biasa. Seketika tubuhnya lemas bagaikan tak bertulang. Jantungnya bergemuruh laksana ombak badai yang menerjang tiada ampun.
Tubuh kekarnya yang kokoh beringsut turun dengan lutut yang bersimpuh pada ubin Rumah Sakit. Kedua netranya mulai terasa panas. Matanya mulai kabur karena tertutup genangan air kesedihan. Sumber air mata yang selama ini tersimpan lama, namun kali ini minta dibebaskan.
"Seperti inikah rasanya kehilangan?" Geming Rey lirih namun bergetar.
"Calon malaikat yang selama ini kami nanti - nanti kenapa secepat itu harus diambil?"
"Aku belum sempat memberi perhatian lebih pada istriku yang sedang hamil," keluh kesedihan Rey yang diikuti isakan tangis.
Beberapa kali Rey melayang pukulannya pada lantai yang hanya terdiam pasrah menerima kekesalannya. Perihnya Buku - buku jarinya yang berdarah tidak dirasakannya. Penyesalan yang dia rasakan jauh lebih menyakitkan.
Radit dan Kayla hanya dapat menyaksikan kesedihan Rey dalam diam. Mereka juga merasakan sedih yang sama, tapi Rasa kecewa mereka pada suami sahabatnya itu jauh lebih tinggi.
* * *
Rey, Radit dan Kayla masih setia menunggu di depan ruang UGD. Sudah dua jam lebih, belum tampak satu petugas medis yang keluar dari sana.
"Apa kamu menyesal?" suara Radit memecahkan suasana yang sempat hening setelah adegan pukulan Kayla.
"Tentu saja kamu sudah tahu jawabannya," jawab Rey.
Radit tersenyum data mendengar jawaban sahabatnya itu.
"Mulai hari ini aku akan memperjuangkan cintaku," ucap Radit ngambang. Membuat Rey sempat bingung.
"Apa maksudmu?!" Rey tidak yakin. Tapi hatinya berkata ucapan Radit barusan adalah sebuah ancaman baginya.
Bersambung~~