Luka Cinta Dara

Luka Cinta Dara
Bab 61 Memperbaiki hubungan



Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..


✓Like 👍


✓Coment 💬


✓Rate 5 ⭐


✓Vote 💰


Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗


🍂 Selamat membaca 🍂


Rey melangkah pergi menuju mobil mewahnya yang terparkir di depan taman. Sopir pribadinya yang melihat tuannya sudah kembali, segera berinisiatif membukakan pintu mobil.


Rey yang hendak memasuki mobilnya tiba - tiba mengurungkan niatnya. Dia masih terganggu oleh bayangan tentang Dara. Pikirannya berkecamuk tidak karuan.


"Tamannya tadi terlihat sangat sepi. Aku harap Dara baik - baik saja,"


"Ahh! Tadi sepertinya Dia menangis,"


Rey bermonolog pada dirinya sendiri. Membayangkan Dara yang menangis sendirian di taman yang sedang sepi, sungguh mengganggu pikirannya.


"Bagaimana nanti ada pria hidung belang yang mengganggunya?"


"Arrggg! Bagaimana aku bisa tenang?"


"Jika aku menemuinya, sama saja aku mengibarkan bendera putih. Sudah pasti aku tidak akan bisa tahan untuk tidak berhamburan mendekatinya," Rey masih berperang dengan batinnya sendiri.


Tapi kenyataannya otak dan hatinya kini tidak selaras. Kemana perginya keteguhan dirinya yang dia pertahankan beberapa hari ini?. Jika ditanya, Rey pun tidak mengetahuinya.


Pria yang sedang gusar tersebut membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi meninggalkan si supir yang sudah membukakan pintu mobil sedari tadi.


"Sudah dibukakan pintu tapi nggak buruan masuk. Malah pergi lagi. Itu tadi Tuan kenapa lagi?" gerutu si supir yang melihat gelagat tuannya yang aneh.


Rey sudah berada di tempat semula ketika dia bertemu dengan Dara beberapa waktu yang lalu. Kedua manik hitamnya menyusuri sekeliling mencari sosok Dara, namun sudah tidak ada.


Pandangan mata Rey beralih ke arah sepasang sepatu yang terlihat berserakan di dataran taman yang ditumbuhi rerumputan. Sepatu yang digunakan Dara untuk melempar punggung Rey tadi. Kemudian pria tampan tersebut memungut sepasang sepatu highell tersebut dan lanjut mencari keberadaan Dara.


Rey masih menyusuri jalan taman seraya mencari penampakan Dara. Perasaan gusar yang menyelimuti hati dan pikiran tidak akan hilang sebelum memastikan Dara baik - baik saja.


* * *


Dara masih setia dengan isakan tangisnya. Langkahnya begitu berat, sehingga membuat dia tidak segera sampai pada mobilnya.


"Kenapa dari tadi aku tidak sampai - sampai?" gerutu Dara di sela isakannya.


"Bahkan kakiku pun tidak mendukungku? aku ingin cepat pergi dari sini," lagi - lagi tangisannya semakin pecah.


Dara menghentikan langkah kakinya. Masih dengan posisi berdiri namun kepalanya tertunduk. Membiarkan butiran mutiara beningnya terjatuh dengan leluasa.


Namun mendadak tubuhnya sedikit tersentak karena ulah seseorang di belakangnya. Sepasang lengan kekar melingkari tubuh Dara. Lilitan lengannya terasa begitu erat, seakan takut tubuhnya akan menghilang. Hembusan nafas terasa hangat menyapu daun telinga Dara.


Dara sangat mengenali siapa yang sedang memeluknya dari belakang saat ini karena aroma parfum yang khas yang masih sama dari dulu menembus indera penciumannya.


"Maafkan aku," suara pria yang terdengar sendu.


"Sekali lagi maafkan aku karena lagi - lagi membuatmu menangis," sambungnya penuh penyesalan.


Dara memegang erat tangan yang sedang melingkari tubuhnya saat ini. Dia masih bertahan dengan air matanya yang terus mengalir.


"Kenapa baru datang? aku hampir saja putus asa," ucap Dara tersedu - sedu.


Rey pun membalikkan tubuh Dara. Kini tubuh mereka saling berhadapan. Kedua netra mereka saling beradu dengan sangat dalam. Rey menangkup muka Dara dengan kedua tangannya. Ibu jarinya mengusap lembut air mata yang membasahi pipi wanita yang sangat dia cintai begitu besar tersebut.


"Jangan menangis," pinta Rey yang masih menatap muka Dara secara intens.


Dara meraih tangan Rey yang masih bersemayam di pipinya.


"Aku mohon jangan pergi, aku sangat merindukanmu," kini Dara berusaha menampik rasa gengsinya.


Sungguh kalimat yang baru saja terlontar dari bibir Dara membuat perasaan Rey bahagia luar biasa. Mengingat selama mereka bertemu kembali setelah 2 tahun berpisah, hanya hardikan yang selalu Rey terima dari mulut tipis Dara.


Rey kembali memeluk tubuh istrinya dengan hangat. Mengusap rambutnya dengan lembut.


"Aku juga sangat merindukanmu sayang," balas Rey. Suara Rey terdengar sangat jelas di telinga Dara.


Dara kini membalas pelukan Rey, menenggelamkan mukanya ke dada bidang Rey semakin dalam. Menghirup aroma tubuh yang sangat dia rindukan.


Kemudian kedua anak manusia tersebut sedikit membuat jarak tubuh mereka namun dengan tangan yang masih setia saling melingkari tubuh satu sama yang lain. Kedua pasang manik terlihat masih beradu begitu lekat.


Rey memangkas jarak muka mereka semakin habis, hingga akhirnya bibirnya mendarat lembut ke bibir ranum Dara. Masih dengan sebuah kecupan ringan namun cukup membuat kedua jantung sepasang cucu Nabi Adam itu berpacu begitu cepat.


Pandangan kedua manik hitam Rey belum lepas dari bibir kenyal Dara. Hanya sebuah kecupan sekilas tidak cukup untuk menghilangkan rasa ingin menikmati benda yang terlihat basah tersebut. Sekali lagi, dia mendaratkan bibirnya ke bibir Dara.


Kini ciuman Rey lebih intens. Tangan kanan Rey menekan tengkuk leher Dara, sehingga menciptakan ******* bibir yang semakin dalam. Sedangkan tangan kirinya melingkari pinggang Dara, menarik tubuh rampingnya semakin menempel pada tubuh kekar Rey.


Dara merespon ciuman Rey dengan sedikit membuka bibirnya. Membiarkan Lidah Rey menjelajah setiap inci bibirnya. Lidah mereka saling bertautan. Pertukaran cairan saliva ikut melengkapi cumbuan mereka.


Tidak ingin terlihat pasif, Dara mulai melingkari tangannya ke leher pria jangkung tersebut. Kakinya sedikit menjinjit untuk mengimbangi tinggi tubuh mereka sehingga membuat ciuman mereka semakin dalam dan panas.


Suara cecapan bibir yang saling beradu terdengar lebih mendominasi pada suasana taman yang sunyi. Ciuman mereka berlangsung cukup lama. Kedua ingsan yang saling melepas rindu tersebut seakan lupa dengan masalah - masalah pelik yang mengganggu mereka selama ini.


Hampir kehabisan oksigen membuat mereka mengakhiri momen kemesraan yang telah lama tidak mereka dapati. Dahi masih saling menempel, disertai deru napas yang terdengar saling menyaut. Meraup oksigen dengan rakus untuk mengisi paru - paru mereka yang kembang kempis.


Senyuman kebahagiaan terukir jelas pada muka Rey dan Dara.


"Apa kamu masih membenciku?" tanya Rey ragu.


"Entahlah, aku nggak tahu," jawab Dara apa adanya.


"Sudahlah berhenti memasang muka seperti itu, karena yang aku tahu aku membutuhkanmu, aku tidak ingin jauh darimu, dan aku merindukanmu," tandas Dara yang sedikit tersipu malu.


"Apa kamu masih mencintaiku?"


"Kenapa kamu masih menanyakan hal itu? semua yang baru saja aku katakan itu karena aku mencintaimu," timpal Dara seraya memalingkan mukanya ke samping.


"Aku sangat bahagia," ucap Rey dengan senyuman yang merekah di muka tampannya.


"Hmmm, aku juga," timpal Dara yang juga menampilkan senyuman manisnya.


Rey menundukkan kepalanya. Menggiring manik matanya ke arah kaki Dara yang tanpa alas. Dia pun bergegas memungut kembali sepatu yang sempat dia jatuhkan sebelum memeluk Dara tadi.


"Sekarang angkat kakimu," titah Rey yang sedang berjongkok di depan Dara hendak membantu memasangkan sepatu ke kaki telanjangnya.


Dara pun menuruti perkataan pria tampan itu. Rey membersihkan kaki Dara menggunakan sapu tangan yang selalu dia bawa sebelum memasang sepatu tersebut.


"Auw!" Dara mengadu karena merasakan ada yang perih di telapak kakinya ketika Rey mencoba membersihkan tanah yang mengotori kakinya.


"Kenapa?" tanya Rey heran.


"Sakit!"


"Coba aku lihat,"


Rey menuntun Dara untuk duduk di pinggiran jalan setapak taman. Kebetulan posisi mereka sekarang berada jauh dari bangku taman jadi mereka terpaksa duduk di tempat seadanya.


Rey memeriksa telapak kaki Dara dengan teliti dan akhirnya dia menemukan alasan kesakitan Dara.


"Kamu menginjak duri sayang. Apa saat menginjaknya kamu tidak menyadarinya tadi?" tanya Rey sedikit cemas.


"Aku tidak sadar kalau kakiku nginjak duri," balas Dara malu. Tadi sebelum Rey mendatanginya, dia terlalu hanyut dalam kesedihannya, sehingga rasa sakit karena duri yang menancap di kakinya pun tidak dia rasa.


"Coba aku cabut ya," dengan sangat hati - hati dia mencabut duri dari kaki Dara.


"Ah!"


"Apa sakit?"


"Sedikit, itu cuma duri kecil. Bukan masalah besar,"


"Ya sudah ayo kita pulang sekarang. Kakimu harus diobati,"


"Pulang kemana?"


"Tentu pulang ke rumah kita? apa kamu tidak mau?


"Aku tidak mau pulang ke rumah itu," Dara terlihat cemberut.


"Kenapa?"


"Boleh aku meminta sesuatu padamu?" tanya Dara tanpa menjawab pertanyaan Rey terlebih dahulu.


"Mau minta apa sayang?"


"Aku tidak ingin tinggal di rumah itu," Dara terlihat sedih.


"Baiklah, aku akan menjual rumah itu dan akan membeli rumah yang baru," ucap Rey berusaha menuruti permintaan wanita yang dia cintai tersebut. Pria itu sangat mengerti dengan alasan kenapa Dara tidak ingin tinggal di rumah itu lagi, karena rumah itu menyimpan banyak kenangan pahit bagi Dara.


"Sungguh? apa kamu tidak keberatan?" Dara memastikan.


"Semua akan aku lakukan demi kamu sayang," Rey mengusap lembut pipi Dara dengan perasaan penuh kasih.


"Terimakasih," ucap Dara dengan raut muka leganya.


"Langit terlihat sangat gelap, sepertinya akan hujan. Aku akan mengantarmu,"


Rey sekarang berjongkok membelakangi Dara.


"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Dara heran.


"Naiklah, aku akan menggendongmu,"


"Aku bisa berjalan sendiri kok,"


"Tidak, kakimu pasti terasa sakit jika dibuat jalan,"


"Tapi..,"


"Sayang, aku bilang naik sekarang. Menurutlah," titah Rey.


"Baiklah,"


Akhirnya Dara menuruti perintah Rey. Dia tahu betul bagaimana sifat Rey yang suka memaksa. Tapi kali ini berbeda, karena Dara menyukainya.


Dara mendaratkan tubuhnya di punggung lebar Rey, dan melingkarkan tangannya di leher Rey agar tidak terjatuh. Kemudian pria itu berdiri dan mulai membawa tubuh Dara ke tempat mobil Dara terparkir.


"Apa aku berat?" tanya Dara.


"Tidak sayang, badanmu sangat ringan seperti kapas. Aku heran, kemana perginya semua makanan yang kamu makan itu. Makanmu banyak tapi nggak gemuk - gemuk," goda Rey seraya terkekeh geli.


"Jangan salah, makan banyak tapi tetep kurus adalah impian setiap wanita," Dara terlihat bangga.


Obrolan ringan mereka berakhir setelah sampai di depan mobil Dara. Rey menurunkan Dara dari gendongan dan membantunya masuk ke dalam mobil dan kemudian diikuti dirinya yang juga masuk dan duduk di bangku supir. Kali ini Rey ikut pulang bersama Dara. Sebelum melajukan mobilnya, Rey terlebih dahulu menelpon supir pribadi yang mengantarnya tadi untuk pulang duluan.


Beberapa saat kemudian mobil mereka sudah masuk di halaman rumah istana milik almarhum Ayah Dara yang tentu saja itu juga rumah milik Dara.


Sedangkan di sudut lain, tanpa sengaja ada sepasang mata yang tengah memperhatikan mereka ketika mobil mereka melewati masuk gerbang rumah Dara. Ada guratan kepedihan pada muka pemilik sepasang matanya tersebut.


Bersambung~~