
Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..
✓Like 👍
✓Coment 💬
✓Rate 5 ⭐
✓Vote 💰
Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗
🍂Selamat membaca🍂
Mentari mulai terbangun dari tidurnya yang panjang. Sinarnya menggeliat menyapu langit dan bumi. Suara ayam berkokok bagaikan alarm alam semesta yang membangunkan seluruh mahkluk hidup dari mimpinya. Sebagai tanda peringatan, hidup bukan sekedar untuk bermimpi.
Hampir 20 jam lamanya, Rey dan Dara melakukan perjalanan London - Indonesia. Meski ada beberapa kendala saat akan melakukan penerbangan, tapi akhirnya mereka bisa menapakkan kaki pada negara seribu pulau tempat kelahiran mereka.
Dara masih enggan berpindah dari tempanya berpijak. Pandangannya tidak lepas dari rumah besar bak istana yang sekarang berada di hadapannya. Bangunan istana yang terlihat bangga memamerkan keindahannya dan kemegahannya, namun menyisakan seribu kenangan pahit bagi wanita yang beberapa jam lalu diseret paksa oleh Rey.
Bagaikan terbelenggu rantai besi lengkap dengan bulatan besi berduri, kakinya terasa begitu berat untuk hanya sekedar melangkah. Dara terlalu takut akan ingatan - ingatan masa lalunya yang terus mengusik, hingga butiran - butiran keringat dingin menyembul dari pori - pori kulitnya.
Rey menyadari akan keraguan Dara untuk melangkah masuk ke dalam istana yang pintunya sudah terbuka lebar, seakan menyambut dengan hangat kedatangan Dara.
Pria tampan itu menatap sendu wanitanya. Guratan kecewa, marah, dan sedih tergambar jelas di mukanya. Hati kecil Rey sebenarnya tidak ingin menggunakan cara paksa. Namun pada sela - sela hatinya juga terbesit rasa takut kehilangan.
Pria bertubuh jangkung itu mendekati wanita yang masih sibuk dengan ingatan - ingatan pahit masalalunya itu. Tangan kekarnya melingkari bahu Dara dan memberi usapan lembut pada ujung pundaknya.
Sentuhan tangan Rey berhasil membuyarkan pikirannya. Menyadari hal itu, Dara menepis tangan yang terasa berat itu tanpa memalingkan mukanya kepada si empunya.
Rey hanya bisa berusaha memahami perasaan Dara yang memang belum bisa membuka hatinya lagi untuknya.
"Heeeeh.." Rey menghela napas pelan.
"Apa kamu akan berdiri disini terus?" tanya Rey.
Dara hanya meresponnya dengan tatapan tajamnya. Masih kesal akan tindakan Rey yang menyeretnya secara paksa.
"Ayo masuk sayang," ajak Rey lembut.
"Tidak! aku tidak sudik menapakkan kakiku di rumah itu!" seru Dara seraya memutar tubuhnya untuk melangkah pergi ke gerbang keluar.
"Sayang, aku mohon padamu. Sekali ini saja menurutlah!" pinta Rey sedikit ada nada penekanan di akhir kalimatnya.
Dara masih saja tak bergeming, dia masih tak gentar melanjutkan langkahnya yang lebar untuk pergi dari rumah yang bagaikan neraka itu.
Namun Rey tak patah arang, dia menarik tangan wanita itu. Tidak sampai disitu saja, dengan tubuhnya yang atletis dia melakukan tindakan yang di luar dugaan Dara.
Dara terkejut mendapati kakinya sudah tidak berpijak pada bumi. Posisi tubuh berputar 45° yang membuat mukanya kini menatap birunya langit.
Lagi - lagi Rey membopong tubuh Dara tanpa aba - aba. Tapi kali ini bukan dengan gaya memanggul karung beras lagi, melainkan dengan ala bridal style.
Muka Rey terlihat tenang saat menggendong tubuh Dara yang baginya begitu ringan, sedangkan Dara masih saja histeris minta di turunkan.
"Rey! turunkan aku sekarang!" bentak Dara.
Rey hanya melemparkan senyuman tanpa mendengarkan permintaan Dara. Tubuh Dara yang memberontak hebat hanya memberikan sedikit guncangan tak berarti bagi tubuh proposionalnya.
"Oke! oke! aku akan masuk ke rumah. Sekarang turunkan aku," kompromi Dara agar Rey segera menurunkannya.
"Kenapa harus selalu dengan cara paksa agar kamu menurut?" respon Rey seraya menghentikan langkahnya dan mulai menurunkan tubuh kecil Dara dengan hati - hati.
"Sekarang berjalanlah sendiri," titah Rey.
Otak Dara terasa ingin meledak. Rasa jengkel terhadap pria yang selalu berbuat semaunya itu sudah sampai ke ubun - ubun.
Dara menghunuskan tatapan tajam pada Rey yang terlihat tersenyum puas. Dara mulai mundur beberapa langkah. Terlihat kakinya sudah memasang kuda - kuda.
Rey menautkan kedua alisnya karena curiga dengan gelagat Dara.
"Kamu sedang apa?" heran pria itu.
Rey yang menyadari arah sasaran yang menjadi incaran Dara. Kedua tangannya dengan sigap menangkup benda pusaka satu - satunya itu sebagai benteng pertahanan.
Sedetik Dara menghentikan kakinya yang sudah hampir mendarat pada sasarannya itu, lalu melanjutkan aksinya.
"Arrrrrgg!" Rey berteriak kesakitan, karena Dara menendang kakinya dengan keras. Ternyata Rey salah memprediksi sasaran Dara dari awal.
"Bodoh!" hardik Dara seraya berlalu pergi menuju pintu masuk rumah.
"Daraaa!" Rey meringis kesakitan.
"Dua tahun tidak bertemu, sekarang kamu semakin agresif," guman Rey lirih sembari mengusap - usap kakinya yang seperti mulai memar.
Dengan jalan agak terpincang - pincang Rey pun menyusul wanita yang baru saja menghadiahinya tendangan itu.
"Bagaimana dengan barang - barangku?!" tanya Dara yang baru saja menjejakkan kakinya pada lantai marmer rumah.
"Tenang, aku sudah mengurus semuanya," jawab Rey santai.
Sungguh tidak habis pikir. Dara jauh - jauh dari London hanya mengenakan piyama tidurnya dan membawa benda pipih yang sekarang nomornya pun tidak dapat digunakan karena berada di luar jangkauan jaringan pelayanan. Tentu saja semua itu karena ulah Rey yang di luar nalar itu. Untung Rey menggunakan fasilitas jet pribadinya selama penerbangan, jadi tidak banyak orang yang memperhatikan penampilannya.
"Ayo naik! kamu masih ingat dengan kamar kita kan?" ajak Rey.
Tanpa berdebat Dara berlalu pergi dari hadapan Rey. Memasuki kamar dan menguncinya dari dalam. Dara mengedarkan pandangannya ke sekelililing ruang kamar. Tidak ada yang berubah. Aroma parfum vanilla menerobos indra penciumannya.
Foto pernikahan yang berukuran 30 R dengan frame bewarna gold dan dilengkapi dengan ukiran bunga sepatu terlihat masih terpajang rapi pada dinding atas headbed.
Netranya sekarang beralih ke ranjang yang berukuran king size. Bibirnya sedikit melengkung ke atas karena ingatannya mengulas kembali pada momen - momen indah bersama pria pujaan hatinya. Namun dalam sekejap raut mukanya berubah dingin, karena ingatan masalalunya mulai kembali menghempas ingatan - ingatan saat dia bahagia.
"Dikamar ini aku selalu menguras air mataku setiap malam karena pria nggak bertanggungjawab itu," gumam Dara lirih lalu menghempaskan tubuhnya pada sofa kamar yang cukup besar itu. Membiarkan raganya bersitirahat sejenak.
* * *
Kayla masih saja sibuk dengan ponselnya. Beberapa kali dia melakukan sambungan telepon panggilan namun nihil. Pesan singkat yang dia kirim juga masih bertanda cheklist satu.
"Tidak biasanya ni anak melewati email laporan data hasil kerja," gumam Kayla penasaran.
"Apa gue tanya Radit aja ya? kan dia yang paling deket dengan Dara sekarang?" dia masih berpikir.
"Tanya nggak ya?" wanita yang merasa sayang dengan jantungnya itu ragu. Jelas saja, setiap berbicara dengan Radit jantungnya terasa mau loncat dari sarangnya.
"Gue telepon aja deh," akhirnya kayla memutuskan untuk menghubungi Radit, karena rasa cemas dan penasaran dengan keadaan sahabat perempuannya itu menjadi alasan utamanya.
Kayla pun mulai melakukan sambungan panggilan pada pria yang dicintainya dalam diam itu. Cukup lama dia menunggu panggilan teleponnya itu tersambung.
Kayla yang menyerah dan menjauhkan ponselnya dari telinganya karena belum juga ada jawaban mengurungkan niatnya.
"Halo.." Suara Radit terdengar serak khas bangun tidur.
Kayla melirik putaran waktu pada layar ponselnya. Dia reflek menepuk jidatnya, karena baru sadar akan perbedaan waktu dua negara tersebut.
"Maaf, gue telepon terlalu pagi ya?" tanya Kayla gugup. Panggilannya sudah terlanjut tersambung jadi dia tetap melanjutkan niat awalnya.
Pada layar ponsel Kayla yang masih tersambung panggilan suara itu, tiba - tiba terdapat laporan permintaan beralih pada panggilan video.
"Kenapa ini laki malah minta video call segala?!" gerutu Kayla di dalam hati. Sebenarnya dia hanya tidak ingin Radit melihat mukanya yang gugup itu.
Akhirnya panggilan suara beralih ke panggilan video. Muka bantal Radit dan rambut acak - acakan yang justru terlihat menggemaskan itu langsung memenuhi layar ponsel Kayla.
"Ada apa Kay.. pagi - pagi telepon?" tanya Radit seraya menguap.
"Hehe, maaf gue ganggu tidur lo," nyengir Kayla.
"Memang ada apa Kay?" Radit yang tadi dalam posisi berbaring sekarang berpindah ke posisi duduk.
Kayla dibuat terperanga karena pemandangan yang dia lihat sekarang.
Bersambung~~