
Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..
✓Like 👍
✓Coment 💬
✓Rate 5 ⭐
✓Vote 💰
Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗
🍂 Selamat membaca 🍂
Pada bab ini ada sedikit bagian 21+ nya ya. Cuma sedikit kok. Bagi yang nggak suka boleh diskip, tapi jangan lupa tinggalkan like ya❤️
Setelah menuruni mobil, Rey masih berinisiatif menggendong Dara masuk ke dalam rumahnya. Rey melangkah melewati ruang tamu langsung menaiki tangga yang menghubungkan lantai 1 dan 2 menuju kamar Dara. Rey masih hafal dengan tata letak setiap ruangan di dalam rumah almarhum Ayah mertuanya, termasuk letak kamar pribadi Dara.
Sesampainya di kamar, Rey meletakkan tubuh Dara di bibir ranjang.
"Dimana kamu meletakkan kotak P3Knya? Aku akan mengobati kakimu,"
"Ada di dekat pintu dapur, biar aku ambil dulu,"
"Jangan, biar aku yang mengambilnya," Rey menahan tubuh Dara yang hendak beranjak dari ranjang.
Pria itu langsung turun ke lantai bawah menuju dapur. Hati Dara merasa hangat mendapati perlakuan Rey. Perlakuan yang sangat dia rindukan. Sejatinya Rey adalah seorang suami yang hangat dan perhatian sebelum masalah itu datang.
Beberapa saat Rey kembali dengan menenteng kotak P3K dan membawa baskom kecil berisi air hangat.
"Untuk apa baskom itu?" Dara merasa heran.
"Untuk membersihkan kakimu sebelum di olesi obat," timpal Rey santai.
"Kamu tidak seharusnya merepotkan dirimu. Aku kan bisa tinggal pergi ke kamar mandi untuk membasuh kakiku," tutur Dara seraya menunjuk pintu kamar mandi yang berada di kamarnya.
"Sudah, kamu menurut saja," Rey mulai membersihkan dan mengobati kaki Dara dengan sangat tlaten dan hati - hati. Bisa dikatakan sangat pelan.
Sedangkan Dara sedari tadi hanya menikmati pemandangan yang disuguhkan di depannya. Wajah tampan Rey yang sedang fokus mengobati membuat wanita itu memuji di dalam hati. Sudah lama sekali Dara mencoba berhenti mengagumi wajah tampan suaminya itu. Rasa benci dan kecewalah yang membuatnya melakukan itu.
"Sayang kira - kira kurang berapa jam lagi kamu akan selesai?" sindir Dara merasa Rey terlalu lamban mengobati luka yang di katakan hanya luka kecil itu.
"Sebentar lagi sayang," balas Rey yang ternyata butiran keringat sebesar biji jagung sudah menghiasi dahinya.
"Kamu itu terlalu lama dan sangat berlebihan. Aku bisa ketiduran nunggu kamu selesai," selorok Dara di sela tawanya.
"Jangan banyak bergerak sayang," pinta Rey dengan raut muka seriusnya.
"Iya,"
"Fyuuh! akhirnya selesai juga," Rey mengusap kringat di dahi menggunakan lengannya. Seakan baru saja mengobati luka dalam yang membutuhkan dua puluh jahitan. Sungguh berlebihan sekali.
setelah semuanya selesai, Rey turun untuk mengembalikan kotak P3K dan baskom. Selang tak lama tubuh Rey kembali muncul di balik pintu.
Saat melewati meja rias yang berada di kamar Dara, Kedua manik hitam Rey tanpa sengaja terhenti pada sebuah lembaran kertas yang pernah dia lihat sebelumnya.
Dia mengambil lembaran tersebut dan langsung mengarahkan kedua pupilnya pada bagian kolom tanda tangan. Salah satu kolom tanda tangan ternyata masih kosong. Kedua sudut bibirnya seketika melengkung ke atas.
"Sayang, ternyata kamu belum menandatangani surat ini?" tanya Rey kepada Dara tanpa mengalihkan pandangannya dari surat gugatan cerai tersebut.
"Memang kenapa? kamu ingin aku menandatanganinya? kalau begitu berikan kepadaku, akan aku tanda tangani dengan sangat jelas dan besar," timpal Dara dengan raut muka datarnya.
"Tidak, jangan lakukan itu!" seru Rey seraya meremas kertas hingga berbetuk gumpalan kecil kemudian membuangnya ke dalam tempat sampah.
"Sepertinya saat mengirim surat itu, kamu niat banget pingin cerai dariku ya?" Dara memicingkan matanya ke arah Rey yang sedang berdiri.
"Bukan seperti itu sayang. Aku cuma ingin memberikan yang terbaik waktu itu. Lagian kan kamu sendiri yang bersikukuh ingin pisah," sanggah Rey yang diakhiri pembelaan diri.
"Jadi kamu nyalahin aku?" kini picingan mata Dara terlihat semakin tajam, sehingga membuat Rey sedikit panik.
"Nggak sayang, aku nggak nyalahin kamu. Semua ini memang aku yang salah. Aku pria brengsek yang sering nyakitin kamu, maafkan aku," Rey mencoba mengalah dan bersimpuh di depan Dara yang sedang duduk di bibir ranjang. Rey memang sangat merasa bersalah akan tindakannya dulu kepada istrinya.
"Aku juga minta maaf," ucap Dara seraya memeluk kepala yang sejajar dengan dadanya karena posisi Rey sedang bersimpuh di depannya.
"Kamu nggak salah, kenapa harus meminta maaf? tapi aku sangat berterimakasih karena kamu bersedia menerimaku kembali," Rey benar - benar sangat bersyukur saat ini.
Sejenak mereka terdiam, membuat suasana kamar menjadi hening. Namun Dara merasakan ada yang bergerak di antara gunung kembarnya.
"Rey, apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Dara yang heran dengan gelagat suaminya.
"Aku ingin susu," jawab Rey yang masih sibuk mengusap - usap mukanya pada benda kenyal yang masih terbungkus kain tersebut.
"Kalau begitu tunggu sebentar, akan aku buatkan," Dara mencoba bangkit dari duduknya namun Rey menahannya, sehingga dia kembali terduduk.
"Bukan susu yang itu, tapi susu yang ini," tangan Rey mulai meremas pelan gunung kembar yang berada tepat di depan mukanya. Matanya berbinar - binar layaknya seorang anak kecil yang baru dibelikan mainan oleh sang Mama.
"Ahhhh!" sentuhan Rey membuat Dara sedikit mendesah.
"Jangan sekarang, badanku kotor dan belum mandi," pinta Dara mencoba menghentikan remasan tangan Rey.
"Kita bisa mandi setelah ini,"
Rey langsung beranjak dari simpuhannya dan menuntun tubuh istrinya untuk berbaring. Pelan - pelan dia melepas satu persatu kancing kemeja Dara. Melempas kain yang menutupi tubuh istrinya.
"Tunggu apa lagi sayang?"
"Pintunya ditutup dulu, nanti kalau bi Inah lewat bagaimana? bisa pingsan dia pas lihat kamu nungging,"
Rey tertawa mendengar ucapan Dara. Ia menutup pintu kamar dan kembali ke ranjang untuk melanjutkan aksinya.
Rey belum puas karena sesuatu yang sangat ingin dia mainkan kini masih terbungkus BH bewarna merah. Tangannya melingkari tubuh ramping istrinya untuk mencari pengait BH. Cukup lama Rey berusaha mencari pengait yang sangat mengganggunya tersebut. Dia menyatukan ujung alisnya karena kesulitan untuk melepasnya. Rey terlihat celingukan dan dengan hati - hati memiringkan tubuh Dara untuk mempermudah aksinya. Sedangkan Dara yang pasrah karena tubuhnya dibolak balik terlihat menahan tawanya.
"Jadi apa nggak sih?"
"Jadilah sayang, tapi aku kok nggak bisa menemukan pengaitnya," Rey frustasi karena hasratnya yang mulai melambung harus tertahan sedikit lama.
"Kalau nggak bisa buka, nggak usah saja ya," Dara sengaja menggoda Rey.
"Jangan dong sayang, si dedek udah bangun. Kasian kalau nggak diNina bobok'in lagi," protes Rey seraya menunjuk tonjolan batangnya yang mulai terasa sesak.
"Terus ini gimana? ada kelanjutannya atau nggak?" ucap Dara disela nahan tawanya.
"Aku akan ambil gunting, kita potong saja tali BHnya," saran Rey putus asa.
"Hahaha... kamu lucu sekali," tawa Dara yang renyah memenuhi ruangan. Sedangkan Rey masih dengan ekspresi frustasinya.
Dara bangun dan merubah posisinya dengan duduk bersila. Dengan mudah dia melepaskan pengait BH yang ternyata ada di bagian depan tepat di tengah - tengah gunung kembarnya. Pemandangan yang tersaji membuat pria berlibido tinggi itu terkesima. Benda kenyal dan sintal terlihat sudah siap untuk dimanja.
"Kamu sengaja ngerjain aku ya?" Rey cemberut sedang Dara terlihat puas setelah ngerjain suaminya.
"Hahaha, tadi kamu lucu sekali," tawa Dara.
"Sekarang kamu harus menerima hukuman karena sudah ngerjain aku," ucap Rey dengan senyuman cabulnya.
Rey mulai beraksi. Mendorong tubuh Dara hingga terbaring. Memainkan dua gundukan kenyal yang sempat menguras kesabarannya. Lidah tak bertulangnya menari - nari mengeliling biji ****** milik Dara.
Rey mengangkat wajahnya ke atas. Mendaratkan ciuman lembut pada bibir Dara. Sangat lembut sekali, dia tidak ingin menyakiti wanitanya karena hasratnya yang meninggi. Satu tangannya pun tidak dibiarkan menganggur. Membuat gerakan meremas - remas pada gundukan kenyal yang sudah menegang.
"Hmmmmm," Dara mulai merasakan sensasi yang menggelitik namun terasa nikmat.
Rey beranjak dari tubuh Dara. Melepaskan sisa kain yang masih melekat pada tubuh Dara bagian bawah. Kini hanya kain tipis pelindung bagian sensitif milik Dara yang tersisa. Rey mengusap lembut lembah kenikmatan di balik kain tipis itu.
"Ahhhhhh," desahan Dara keluar begitu saja.
Rey pun melucuti kain terakhir yang berbentuk segitiga terbalik, sehingga lembah yang dikelilingi semak belukar muncul dari persembunyiannya. Pria itu menelan salivanya dengan berat. Sungguh Rey sangat terpanah dengan sajian di depan matanya kini. Pemandangan yang begitu menggoda dan menggiurkan.
Tidak ingin berlama - lama, Rey lanjut melucuti semua pakaian yang dia kenakan dan melemparnya kesembarangan arah. Memperlihatkan tubuhnya yang berotot dan garis - garis sixpack pada perutnya.
Senjata benda pusaka milik Rey sudah berdiri tegak menantang, pertanda siap untuk melakukan gencatan senjata. Rey mengambil satu bantal dan meletakkannya di bawah pinggul Dara.
"Untuk apa itu sayang?" tanya Dara heran.
"Sttt! jangan protes. Biar Rey junior bisa meluncur dan cepat sampai di sarangnya sayang," Rey tersenyum nakal. Sedangkan Dara hanya pasrah mengikuti kemauan suaminya.
Rey membuka kedua kaki Dara dan mulai membetulkan posisinya untuk melakukan tujuan utama dari pemanasan singkatnya. Pada akhirnya tubuh sepasang kekasih tersebut benar - benar menyatu yang diikuti eluhan sebagai pembukaan dari kegiatan penanaman sang calon benih Rey junior.
Gerakan tubuh Rey yang naik turun dengan ritme yang teratur dan cumbuan manis yang memanjakan sungguh membuat Dara dimabukkan gairah. Desahan kenikmatan terdengar saling bersautan. Dinginnya AC seakan tidak mampu meminimalisir hawa panas dari kegiatan ranjang yang menguras energi tersebut. Mereka benar - benar tenggelam dalam kenikmatan surga duniawi.
"Aaahhhhhh," eluhan panjang Dara menandakan ia sudah sampai pada puncak kenikmatan.
"Aahh.. aahhhhh!" yang diikuti erangan Rey sebagai tanda berakhirnya ronde 1 kegiatan ranjang mereka.
Rey sedang meletakkan kepalanya di atas perut telanjang Dara. Mengusap lembut berharap benih yang dia tanam bisa tumbuh di rahim istrinya. Dia meniup perut Dara yang memberikan sensasi geli bagi pemiliknya.
"Apa yang kamu lakukan sayang? Itu sangat geli," seru Dara yang heran dengan gelagat sang suami.
"Aku cuma ingin memberi suport pada calon Rey junior agar lebih semangat berenangnya," Rey sangat berharap usahanya kali ini membuahkan hasil. Lagian Rey juga sangat hafal kapan waktu tanggal subur Dara karena mereka dulu sering berkonsultasi pada Dokter Obgyn.
"Hahaha.. memang darimana kamu tahu kalau Rey junior berenang?"
"Tentunya saja aku lihatnya di yuotube," jawab Rey yang lagi - lagi menampilkan senyuman nakalnya.
"Udah ah, tenggorokanku kering, mau minum dulu,"
"Jangan bergerak dulu, biar aku ambilkan minum," Rey beranjak dari kasurnya dan berjalan menuju pintu.
"Sayang," panggil Dara.
"Ada apa?" jawab Rey yang belum sempat membuka pintu.
"Apa kamu mau kasih makan monyet tetangga?"
"Maksutnya?" Rey bingung.
"Pisang tunggalmu ditutup dulu," Dara langsung terkekeh geli.
Rey tertawa menyadari bahwa tubuhnya masih polos. Lalu dia mengenakan celana dan bergegas keluar.
Selang tidak lama Rey kembali membawa segelas air putih dan mengulurkannya pada Dara. Wanita itu mengambil gelas berisi air dari tangan Rey dan meminumnya hingga tak tersisa.
Waktu makan malam hampir tiba, akhirnya Rey dan Dara membersihkan tubuh mereka yang terasa lengket karena berkeringat. Dara tadinya berniat untuk mandi bergantian, namun Rey memaksa untuk mandi bersama. Setelah dua jam mereka selesai. Itulah kenapa Dara ingin mandi sendiri, karena kalau mandi berdua, kegiatan bersih - bersihnya 10 menit dan sisanya tahu sendirilah.
Akhirnya mereka menuruni tangga dan menyantap makan malam yang di siapkan bi Inah. Rey berencana akan tinggal di rumah almarhum mertuanya sampai dia mendapatkan rumah baru.
Bersambung~~