
Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..
✓Like 👍
✓Coment 💬
✓Rate 5 ⭐
✓Vote 💰
Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗
🍂Selamat membaca🍂
Dalam otaknya seperti ada yang mengganjal, karena penasarannya yang sudah sundul langit. Sebenarnya rasa penasarannya sudah muncul sejak pertama kali dia bertemu dengan Bella waktu datang menemui Dara di kantornya. Wajah Bella seperti tidak asing baginya.
Kayla mencoba menelpon seseorang yang bisa dikatakan sangat dekat dengan Rey dan Dara, guna mencari tahu lebih lanjut.
Tut.. Tut.. Tut.. Tut..
"Halo Cantik.." terdengar suara pria di balik ponsel.
"Apa lo nggak bisa menghilangkan kebiasaanmu itu?!" seru Kayla.
"Ya sudah, kalau gitu gue ulangi lagi,"
"Halo cewek judes!" Radit meralat ucapannya tadi.
"Radit..! sepertinya lo merindukan bogem manis dari tangan gue ya!"
Iya, di balik sambungan telepon itu adalah Radit sahabat Rey yang sudah 5 tahun menetap di Inggris.
"Iya.. iya.. Judes amat sih lo jadi cewek!" celetuk Radit.
"Ada apa lo telepon gue? jangan bilang lo kangen sama gue?" goda Radit.
"Iya, gue kangen ingin smackdown lo!"
"Kalau smackdown di ranjang gue ayo ayo aja sih," jawabnya polos.
"Dasar cowok mesum!" seru Kayla.
"Hahaha.." terdengar tawa lepas.
"Ada apa lo telepon gue?" Radit mulai serius.
"Barusan gue kirim sebuah foto, coba lo lihat," titah Kayla.
Dengan panggilan telepon yang masih tersambung Radit menuruti titah Kayla begitu saja. Dia menamati foto wanita yang dikirim Kayla.
"Memangnya ada apa dengan wanita ini?" tanya Radit setelah melihat foto tersebut.
"Lo pernah liat dia nggak? dimana gitu? feelling gue mengatakan lo tau dia. Kan lo Rajanya olayboy. Banyak wanita yang lo deketin,"
"Yaelah Kay, tega bener lo bilang gitu ke gue. Emang gue cowok apa'an?" gerutu Radit.
"Lagian bukan gue yang deketin, tapi cewek - cewek itu yang dengan suka rela datangin gue. Secara gue tampan, tajir, dan mempesona," Radit membela diri dengan kenarsisabnya
"Buset..! narsisme dalam diri lo sepertinya memang sudah berkarat deh, jadi susah di hilangin. Hahaha.." ejek Kayla.
"Gimana? ko tahu nggak dengan itu Cewek?"
"Hmmm. Dia itu kan Bella. Adik tingkat gue waktu kuliah dulu. Dia salah satu mahasiswi dengan nilai akademik di atas rata - rata. Dia bisa masuk kampus elit kita karena lewat bantuan beasiswa jalur prestasi," beber Radit.
"Wah, nggak rugi gue langsung tanya ke lo. Secara gitu loh, cewek satu kampus udah lo kencani semua," ucap Kayla salut.
"Mulut manismu tolong dijaga ya Kay!" seru Radit.
"Ya.. Meskipun kalau aku liat dari foto ini, menampilannya banyak berubah daripada dulu. Tapi aku yakin dia Adalah Bella,"
"Iya kamu benar. Dia memang Bella," Kayla menegaskan.
"Sayangnya waktu itu Bella terpaksa harus keluar dari kampus,"
"Nah alasan kenapa dia bisa keluar itu yang bikin gue langsung ingat ketika liat foto yang lo kirim!"
"Loh, emang kenapa?"
"Lo dulu kemana aja sih?! bisa - bisanya ketinggalan info,"
"Lah, memang apa hubungannya ama gue? lagian kita memang satu universitas tapi kan beda kampus Dit," Kayla menyanggah.
"Bella dulu terpaksa keluar kampus karena dibully habis - habisan sama fan fanatiknya Rey setelah diketahui menyatakan cinta sama Rey!"
"Astagaaaaa!!! apa Rey tidak mengetahuinya?!" suara Kay terdengar melengking, sehingga Radit sontak menjauhkan ponselnya dari telinganya.
"Sebenernya itu mulut atau toa sih?!" celetuk Radit.
"Lo tahu sendiri. Rey itu cuek dan dinginnya Auzubillah kalau merasa nggak penting. Apalagi setelah cintanya dibuat klepek - klepek sama Dara. Cewek lain cuma di anggap lalat lewat ngerti nggak?!" seru Radit.
"Apa Rey tidak melihat mukanya waktu Bella menyatakan cinta?" Kayla menyelidik.
"Boro - boro melihat. Dia cuma melirik sekilas kemudian berlalu lalang pergi meninggalkan Bella. Dia bahkan tidak tahu nama itu cewek,"
"Astagaaaa..!" Kayla lagi - lagi histeris tidak percaya. Iya, dia tidak percaya hal semua ini menimpa sahabat kesayangannya itu. Sekarang kecurigaannya pada Bella lebih mendasar.
"Sebenarnya ada apa sih?" Radit mulai penasaran.
"Itu.. sebenernya Bella sekarang berstatus sebagai istrinya Rey sahabat lo," Kayla berkata dengan sedikit ragu. Karena tahu hal itu akan membuat Radit terkejut.
"Hah?! Istri katamu?!"
"Apa maksud lo Kay? berkatalah yang jelas!" Radit meminta penjelasan lebih.
Kayla pun menceritakan semuanya secara detail ke Radit. Tentang permasalahan yang menimpa rumahtangga sahabatnya itu.
Setelah sambungan telepon berakhir. Kayla masih tercengang dengan info yang didapatkan barusan. Otaknya mulai menampilkan bayangan - bayangan flashback. Dia mulai mengingat sesuatu.
"Ra.. udahan Yuk. Mata gue rasanya mau loncat dari sarangnya nih. Gara - gara kelamaan melototin buku - buku tebal ini,"
"Ya ampun Kay, ini tugas harus di kumpulin besok. Kamu kok santai amat sih?"
"Heran deh, kamu malas tapi score akademikmu selalu tinggi," ucap Dara ketus.
"Kecerdasanku udah bawaan lahir kalek Ra. Nggak usah dengki gitu sama gue!" Kayla lebih ketus.
Tiba - tiba kepala Kayla terdorong mundur karena ulah Dara yang menjontor kepalanya ke belakang menggunakan ujung jarinya.
"Lo lupa ya? bilai gue selalu di atas lo? rugi kale gue dengki sama lo!"
"Hehehe.. " Kayla nyengir kuda.
"Shhh..! sebenernya gue merasa nggak enak. Dari tadi seperti ada yang ngawasin," bisik kayla pelan.
"Hah? Siapa?" Dara penasaran.
"Itu cewek yang disana. Dari tadi aku nggak sengaja mergokin dia beberapa kali merhatiin kita loh," bisik Kayla lagi.
Dara mencoba menolehkan kepalanya ke arah yang ditunjuk kayla. Namun urung dia lakukan, karena Kayla menghalanginya dengan menahan muka dara dengan telapak tangannya.
"Jangan lihat bego! nanti dia tahu kalau kita menyadari keberadaannya!"
"Tatapannya serem tahu. Seperti ada rasa benci di matanya!"
"Ayo kita pergi saja. Lagian ngapain kita masih di perpustakaan. Ini dah hampir gelap loh," ajak Kayla yang mulai cemas.
"Ayo deh kalau gitu. Buruan bantu aku beresin nih buku - buku," Dara yang juga mulai cemas.
"Yaelah..! banyak banget bukunya. Rempong tau ah!" gerutu Kayla.
"Ayo buruan!"
Akhirnya Dara dan Kayla melangkah pergi dari perpustakaan. Namun ketika Kayla mencoba mengecek lagi, cewek misterius tadi sudah tidak ada di tempatnya.
Dara dan Kayla sudah sampai di depan gedung perpustakaan. Namun langkah Dara terhenti, yang tentu saja di ikuti Kayla.
Drrrtt.. Drrrtt.. Drrrtt..
Ponsel Dara bergetar, ada panggilan masuk. Sambil menunggu Dara selesai berbicara dengan ponselnya, Kayla sesekali merenggangkan tubuhnya yang masih berdiri itu. Dia melemaskan otot - otot lehernya dengan memberi sedikit gerakan memutar. Namun gerakannya terhenti ketika pandangannya tertuju pada satu obyek di atas gedung yang berada tepat di atas Dara dan Kayla. Tatapan cewek tersebut tertuju pada Dara.
"Sepertinya itu cewek yang tadi deh," batin Kayla.
Kayla memicingkan matanya untuk mendapatkan penglihatan yang lebih jelas. Dia melihat cewek itu seperti hendak menjatuhkan benda dari atas sana. Dan benar saja dia mencoba melempar pot bunga yang berukuran lumayan besar ke arah Dara.
"Dara..!! Awas!!" teriaknya seraya menarik tubuh sahabatnya.
Braaakk!! suara keras pot bunga pecah.
Dara yang sedari tadi sibuk berbicara di telepon spontan tercekat karena tindakan Kayla yang tiba - tiba itu. Tubuh mereka terjatuh di tanah.
Dara syok melihat apa yang terjadi. Pot bunga itu hampir saja mencelakainya. Kayla berdiri dan mengulurkan tangannya memberi bantuan ke Dara. Dia kembali mengarahkan pandangannya ke atas gedung. Ternyata cewek itu sudah menghilang.
FLASHBACK OFF
Kayla berdiri sambil menggebrak meja di depanya. Raut mukanya seperti menggambarkan sesuatu.
"Akhirnya gue ingat. Bella adalah cewek waktu itu!"
"Dara, gue harus memberitahunya. Gue khawatir Bella punya rencana jahat terhadapnya.
* * *
Di lain negara.
Radit masih tidak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan. Sebenarnya, meskipun Radit dan Rey terpisahkan oleh beberapa negara, tapi hal itu tidak membuat mereka lost comunication. Mereka masih sering bertukar kabar dan saling bercerita. Tapi herannya kenapa Rey tidak memberitahunya tentang berita sebesarnya ini.
Kecewa, Radit sangat kecewa. Kecewa bukan karena Rey tidak memberitahunya hal pernikahannya dengan Bella. Dia justru kecewa karena tindakan Rey yang menyakiti Dara. Saat ini, dalam otaknya hanya terlintas tentang Dara. Dia lebih mengkhawatirkan bagaimana keadaan Dara sekarang. Dia tidak bisa membayangkan betapa besarnya kesedihan wanita yang selama ini dia cintai.
Kebenarannya Radit sudah memiliki perasaan lebih pada Dara semenjak di Sekolah Menengah ke Atas. Waktu itu, dia menyesal karena telah membuat taruhan dengan Rey. Dia tidak menyangka saja, yang tadinya niatnya berawal dari iseng malah menumbuhkan cinta antara Rey dan Dara. Berawal dari iseng tapi berakibat fatal baginya.
Selama 10 tahun lebih Radit merasa dirinya hanyalah seorang pecundang, karena waktu itu dia terlalu takut mengungkapkan perasaannya duluan ke Dara.
Ketika mendapat kabar Rey dan Dara akan menikah, hati Radit terasa hancur berkeping - keping. Penyesalannya semakin mendalam. Pada akhirnya, Radit memilih tinggal di Inggris bersama Ayahnya. Membantu mengembangkan usaha Ayahnya. Lagian dia tidak ingin rasa cintanya malah merusak kebahagiaan sahabatnya dan wanita yang dicintainya. Biarlah dia sendiri yang menyimpan rasa yang memang tak seharusnya orang lain tahu.
Berada jauh dari Dara berharap segera bisa membuang rasa yang tersimpan dalam hatinya. Namun sepertinya usahanya masih belum membuahkan hasil. Hingga saat ini, rasa cintanya malah semakin berakar.
"Aaaaargg!!" Radit berteriak frustasi. Beberapa kali dia melayangkan pukulan pada setir mobil di hadapannya.
"Gue mencoba mengiklasmu, berharap Rey bisa membuatmu bahagia Dara!"
"Tapi Rey malah menyakitimu!" gerutunya.
Radit mengusap kasar muka tampannya. Membanting tubuh kekarnya pada sandaran kursi mobil.
"Bella. Gue yakin dia ada niat buruk!"
"Semua ini tidak mungkin hanya kebetulan,"
"Tidak, saat ini gue ingin tahu keadaan Dara," Radit yang masih berkecamuk dengan pikirannya sendiri.
Tanpa berfikir panjang, Radit mengambil ponselnya. Menekan beberapa tombol di layar ponsel dan melakukan panggilan.
"Hello."
"Make a flight reservation for tomorrow," titah Radit kepada asistenya. Lalu panggilan langsung diputusnya begitu saja.
Bersambung~~
Jangan lupa mampir di karya author satunya lagi ya, masih on going. Ditunggu kunjungannya🥰