Luka Cinta Dara

Luka Cinta Dara
Bab 17 Pernyataan perang Bella dan Dara



Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..


✓Like 👍


✓Coment 💬


✓Rate 5 ⭐


✓Vote 💰


Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗


🍂Selamat membaca🍂


Hari sudah pagi. Dara mulai membuka kelopak matanya yang masih terasa berat. Dia menatap jam yang terpasang di dinding. Betapa terkejutnya dia, karena waktu sudah menunjukkan pukul 7. Dia bangun kesiangan, karena lelah semalaman menangis. Seharusnya jam segitu dia sudah selesai menyiapkan sarapan untuk suaminya.


Dia bergegas beranjak dari tempat tidurnya. Berniat segera menyiapkan sarapan sebelum Rey berangkat kerja. Ketika dia hendak menuruni tangga tiba - tiba kakinya terasa berat untuk melanjutkan langkahnya. Sekarang terlihat Bella sedang menyiapkan sarapan yang sudah hampir selesai di ruang makan. Terlihat juga Rey yang sudah berpenampilan rapi dengan baju kerjanya. Tentu saja dilengkapi dasi yang sudah menempel rapi dikerah kemejanya. Sudah pasti itu Bella yang membantu memakaikannya, karena Rey tidak bisa memasang dasinya sendiri. Sungguh tontonan pagi yang menyakitkan Bagi Dara


Dara pun mulai mendekat dan bergabung dengan sepasang pengantin baru itu. Rey yang menyadari kedatangan Dara menyambutnya dengan hangat.


"Selamat pagi sayang. Kamu sudah bangun?" sapa Rey sembari tersenyum hangat.


"Selamat pagi kak. Mari, sarapan sudah siap," Sapa Bella.


"Selamat pagi. Maaf aku bangun kesiangan," ucap Dara disertai senyuman masam dan duduk di samping Rey.


"Tidak apa - apa kak. Pasti karena kamu kelelahan," ucap Bella ramah.


"Sayang kalau kamu kelelahan sebaiknya tidak usah masuk kerja dulu," Rey berkata sembari mengusap lembut tangan Dara.


"Tidak apa - apa ko,"


Bella yang menatap perlakuan Rey pada Dara merasa dadanya sedikit berdenyut. Berharap perlakuannya itu juga berlaku untuknya.


"Ya udah ayo makan dulu. Pagi ini aku buat masakan kesukaan mas Rey," ucap Bella guna mengalihkan perhatian Rey kepada istri pertamanya itu.


Mendengar panggilan sayang dari mulut Bella cukup buat Dara sedikit terhenyak. Ya, tentu saja Dara belum bisa terima. Meskipun pada akhirnya dia harus belajar iklas. Untuk saat ini dia hanya bisa menghela napas.


Seperti biasa, Dara hendak melakukan ritual paginya, yaitu melayani suaminya di meja makan, tapi lagi - lagi hal itupun urung terlaksanakan. Bella dengan cekatan mendahuluinya. Meletakkan nasi dan lauk di atas piring Rey.


Dara terkejut mendapati kelakuan Bella yang menurutnya sangat menyebalkan. Bella yang menyadari perubahan ekspresi Dara hanya menatapnya di iringi dengan smirk pada bibirnya. Dara pun membalas tatapan Bella dengan versinya yang elegan. Mereka beradu mata beberapa saat. Bodohnya Rey tidak menyadari akan hal itu, karena sibuk sendiri dengan benda tipis di tangannya.


Ternyata Bella terang - terangan menyatakan perang pada Dara. Namun hal ini tidak membuat Dara kaget. Sejak awal dia bertemu dengan Bella, dia sudah bisa membaca kalau tidak ada yang beres dengannya. Semua sikap lemah lembutnya adalah palsu. Dara tentu saja sudah mempersiapkan diri dijauh - jauh hari. Bella belum tahu siapa Dara. Dibalik sifatnya yang lembut, dia adalah wanita tegas, cerdas dan kuat.


"Ehem! jak Dara kenapa tidak segera makan?" ucap Bella perhatian, dan tentu saja ekspresi mukanya kembali ke mode lembut seperti sedia kala.


"Apa kaka tidak suka dengan masakanku?" ucap Bella terlihat sedih.


Perkataan Bella tentu saja mengundang reaksi Rey.


"Sayang, kamu kenapa? ayo makan,"


"Iya sayang, aku makan kok. Aku cuma kurang enak badan saja," ucap Dara manja. Bertujuan memamerkan kemesrahannya pada Bella.


"Kamu baik - baik saja kan sayang? apa perlu aku antar ke dokter?" tanya Rey dengan nada cemas.


"Aku beneran nggak apa - apa ko sayang,"


"Apa hari ini aku nggak usah ke kantor saja? aku temani kamu di rumah."


"Jangan sayang, lagian hari ini aku tetap kerja. Ada janjian sama klien penting,"


"Yang penting kamu jangan terlalu memaksakan diri untuk bekerja ya,"


Bella hanya diam, menyaksikan dua orang di depannya. Dia merasa geram.


"Kakak kalau sakit biar aku saja yang temani ke dokter," Bella menawarkan bantuan.


"Tidak perlu, terimakasih. Lagian kamu sedang hamil. Jadi lebih baik kamu jaga dirimu sendiri," ucap Dara.


Pada akhirnya mereka bertiga melanjutkan makan sarapan paginya dalam diam. Hanya suara dentingan sendok dan piring yang terdengar.


"Aku sudah selesai," ucap Rey.


"Sayang kamu buruan siap - siap. Aku antar kamu ke kantor," perintah Rey pada Dara.


"Tidak perlu sayang, aku berangkat sendiri saja. Lagian nanti kamu terlambat kalau nunggu aku,"


"Beneran kamu nggak apa - apa berangkat sendiri?" tanya Rey khawatir.


"Kamu apa'an sih? mengulang pertanyaan terus. Beneran aku nggak apa - apa," tandas Dara menampilkan senyuman manis di bibirnya.


"Ya sudah, kalau begitu aku berangkat dulu," Ucap Rey, seraya bangkit dari duduknya.


Seperti biasa, Dara akan menyalami dan mencium tangan suaminya sebelum bekerja. Dia hendak mengulurkan tangannya guna meraih tangan Rey. Akan tetapi hal itu lagi - lagi tidak segera terlaksanakan, karena Dia kalah cepat dengan Bella yang telah mendahuluinya menyalami tangan suaminya itu. Setelah itu Dara juga menyalami dan mencium tangan Rey. Kemudian Rey melangkah pergi dan tubuhnya menghilang di balik pintu.


Sekarang tinggal Dara dan Bella diruang makan. Dara menatap jengah Bella. Dia yang mendapati sikap Bella hanya bisa menghela napas pelan. Sebagai istri pertama, dia merasa Bella tidak memiliki rasa sungkan sedikitpun padanya.


"Kamu baru satu malam tinggal satu atap dengan kami, tapi kamu terlalu berani menyatakan perang padaku," tukas Dara datar.


"Perang apa maksud Kakak? aku tidak mengerti?" Bella mengelak.


"Sudah cukup bersandiwaranya,"


"Kakak, kenapa bisa menuduh aku seperti itu? aku sangat sedih Kak. Tidak bisakah kita menjalin hubungan yang baik?" ucap Bella memelas.


"Coba aku lihat, sampai kapan kamu akan bertahan di balik topengmu itu!"


"Ya Tuhan Kak, jangan seperti itu. Perasaanku sakit mendengar perkataan Kakak," Bella mulai mengeluarkan air mata.


"Kamu sekarang sedang hamil. Sebaiknya kamu jangan membahayakan nyawa yang ada di perutmu karena tindakan - tindakan bodohmu kedepannya. Meskipun aku tidak yakin kalau itu anak Rey,"


"Atas dasar apa kakak bisa bicara seperti itu? Ini memang anak suamiku mas Rey,"


Chhh! Dara berdecih melihat betapa pintarnya wanita rubah ini bersandiwara.


"Daripada merusak rumahtangga orang, kenapa kamu tidak menjadi artis saja dengan kemampuan actingmu itu. Sayangkan jika potensimu itu tidak terpakai?"


"Saya tidak merusak rumah tangga orang. Mas Rey yang tergoda denganku, dan menikmati tubuhku dengan paksa malam itu. Terlihat dia sangat menikmatinya," ucap Bella mulai berani dan memancing emosi lawan bicaranya.


Dara tiba - tiba terhenyut mendengar perkataan Bella yang dengan gamblang menjelaskan apa yang terjadi malam itu. Dia tidak percaya Bella bisa berkata seberani itu. Dia mencoba menelan salivanya dengan berat. Kata - kata yang akan di lontarkan seakan terhenti sesaat di ujung lidahnya. Hatinya begitu terluka membayangkan suaminya bercumbu kasih dengan wanita lain.


"Suatu saat semua kebenaran akan terungkap. Kamu bersiap - siaplah," Tandas Dara mengakhiri percakapan mereka dan melenggang pergi menuju ke kamarnya.


Setelah tubuhnya menghilang dari hadapan Bella. Terlihat Bella menarik kedua ujung bibirnya ke atas, menampilkan senyuman licik dengan seribu rencana jahat disana.


"Aku akan merebut apa yang aku mau. Rey akan menjadi milikku seutuhnya. Kalian telah bersenang - senang di atas penderitaanku selamanya ini," lirih Bella dengan kalimat iblisnya.


Bersambung~~


Jangan lupa mampir di karya author satunya lagi ya, masih on going. Ditunggu kunjungannya🥰