
Dara masih tak bergeming. Dari luar tubuhnya masih terlihat dengan posisi duduk tegap. Tapi siapa tahu di dalamnya. Bagaikan kapal di tengah laut yang diterjang ombak badai begitu besar. Hatinya begitu luluh lantah. Tangannya mengepal begitu kuat, sehingga kuku - kuku jarinya menembus bantalan telapak tangannya. Terlihat darah segar yang menerobos keluar darisana. Tidak ada yang menyadari hal itu.
"Sayang ini semua bisa aku jelaskan. Semuanya tidak seperti yang kamu bayangkan. Aku mohon percayalah padaku," Rey memohon ke Dara.
Dara masih saja tak bergeming. Lidahnya kelu, terlalu sulit untuk melontarkan satu kata sekalipun.
"Bella apa sebenarnya maumu?"
"Kamu mau uang? aku bisa kasih, asal jangan merusak rumahtanggaku!" tegas Rey dengan emosinya yang sudah meluap.
"Saya tidak pernah menginginkan ini semua terjadi Pak. Dari awal bukan saya yang memulainya," Bella membela diri.
"Sungguh saya juga sudah berusaha menjauhi Pak Rey," Bella mulai terisak. Air matanya sudah tak terbendung.
"Pak Rey juga sudah tahu, saya berusaha agar rumahtangga Bapak tidak terkontaminasi dengan keberadaan saya. Meskipun saya yang menjadi korban, meski saya yang tersakiti," tangisan Bella benar - benar pecah.
"Tapi Pak Rey, sekarang ceritanya sudah berbeda. Ternyata saya hamil karena Pak Rey," Bella menangis menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Memang benar, selama hampir dua bulan setelah peristiwa malam itu, Bella benar - benar menjauh.
"Maaf, lagian aku juga belum yakin kalau janin yang ada di rahimmu adalah anakku. Aku menolak menikahimu. Tidak!! Itu tidak akan terjadi,"
"Cukup Pak Rey memandang saya rendah! Saya bukan wanita murahan! saya bisa membuktikannya dengan test DNA," ucap Bella tegas.
Ucapan Bella bagaikan kilat yang menembus tubuhnya. Rey sudah tidak betah lama - lama disana. Dia beranjak dari sofa dan menarik tangan istrinya yang memang sedari tadi diam seribu kata. Namun niatnya itu terhenti ketika mendengar kalimat yang terlontar dari Rani.
"Mama sudah menentukan jadwal pernikahan kalian. Minggu depan persiapkan diri kalian masing - masing," ucap Rani gamblang.
Semua orang yang berada di Ruang tamu tersebut serentak menoleh ke arah Rani. Keterkejutan begitu tampak jelas di muka masing - masing begitupun Dara. Tidak percaya bahwa Rani bisa menentukan keputusan dengan sepihak.
Bagi Bella, meminta pertanggungjawaban Rey memang tujuannya, tapi tidak pernah terpikirkan akan secepat itu.
Rey yang mendengar ucapan sang Mama, matanya memerah. Otaknya serasa ingin meledak. Tidak terima karena Mamanya terlalu ikut campur dengan masalah rumahtangganya.
"Ma! apa Mama pernah memikirkannya sebelum memberi keputusan yang sepihak itu?!"
"Apa yang harus dipikirkan lagi? kamu menghamilinya jadi kamu wajib menikahinya. Jangan bikin malu keluarga kita Rey!"
"Papa dan Mama tidak pernah mengajarkanmu lalai dengan tanggungjawabmu bukan!"
"Persiapkan dirimu untuk minggu depan. Tidak ada bantahan, karena itu sudah resiko dari ulahmu sendiri,"
Suasana sempat hening beberapa detik. Rey dan Rani seakan menjeda durasi untuk mengembalikan napas mereka yang sempat habis karena perdebatan mereka.
"Dan kamu," Rani mulai berucap lagi sembari mengedarkan pandangan sinisnya pada Dara.
"Jadilah istri yang baik dan jangan egois. Jangan sekali - sekali kamu melarang Rey untuk menikah dengan Bella,"
"Dalam masalah ini, suaramu tidak dibutuhkan," Ucapnya ketus.
"Atau kamu bisa mengajukan gugatan cerai,"
Dara yang sedari tadi diam tanpa satu kata yang terlontar dari mulut manisnya tiba - tiba merasa lemas, kedua kakinya seakan tiada tulang yang menopang.
Rey yang memang berada di sampingnya dengan sigap menangkap tubuhnya agar tidak jatuh. Memeluk tubuhnya dengan sayang, seakan tidak ingin ada sedikitpun luka pada Dara. Kedua netra Rey menatap tajam pada Rani.
"Jangan sakiti istriku dengan perkataanmu, Rey mohon Mah!" ucap Rey dengan nada rendah tapi terdengar geram.
Bella menyaksikan adegan mesrah suami istri di depannya merasa miris. Hatinya terbesit rasa sakit yang entah sejak kapan dia mulai merasa cemburu. Dia juga merasa tersakiti dan juga berhak mendapatkan perlindungan dari Rey karena janin di perutnya.
"Mama bilang ini semua hasil dari ulahku,"
"Tapi aku yakin Mama juga ambil andil dalam incident malam itu." Tuduh Rey ke Rani.
"Apa maksud kamu Rey? ambil andil apa?" tanya Rani bingung yang memang tidak paham dengan perkataan Rey.
"Maafkan saya Nyonya. Bukan maksut saya ingin merusak rumahtangga anak Anda. Tapi kejadian itu terjadi begitu saja tanpa saya inginkan," Bella tertunduk.
"Saya sudah tahu apa yang telah terjadi pada kalian,"
"Ingat keputusan saya menikahkan kalian itu memang karena seharusnya dilakukan dan saya tidak ingin nama baik keluarga Erlangga tercoreng karena ulah kalian yang ceroboh itu," Ucap Rani tegas.
"Saya mengerti. Baik saya undur diri dulu. Permisi," pamit Bella sopan lalu melenggang pergi dari hadapan Rani.
Sekarang tinggallah Rani sendiri di ruangtamu yang luas dan mewah itu. Tanpa dia sadari, Rangga sang suami yang sudah memperhatikan dari awal perdebatan sengit antara anak dan istrinya itu. Dia menyaksikan sendiri akan ada sumber keretakan keharmonisan dalam pernikahan putra semata wayang yang sangat dia sayangi itu. Hatinya hancur kerena permasalahan yang sedang dihadapi putra dan menantunya itu. Tentu saja Rangga juga sangat menyayangi Dara.
Rangga melangkahkan kakinya, mendekati istrinya yang masih terduduk diam disana.
"Tak seharusnya kamu terlalu ikut campur urusan rumahtangga anak kita Ma. Biarkan dia menyelesaikan permasalahannya sendiri," Ucap Rangga.
"Apa maksut kamu Pa? Ini juga demi kebaikan anak kita dan nama baik keluarga kita," timpal Rani ketus.
"Tapi kamu sudah melangkah terlalu jauh,"
"Tidak. Keputusanku benar. Mereka memang seharusnya menikah. Apa Papa ingin melihat anak kita dicap buruk karena menghamili anak orang dan tidak mau bertanggungjawab?"
"Hal yang menimpa anak kita memang amat sangat disayangkan," Rengga menghela napas. Berharap hal itu bisa meringankan kekawatirannya.
"Tapi Ma. Setidaknya kamu hargailah Dara sebagai istri Rey. Kasian dia. Kebencianmu terlihat jelas,"
"Lagi - lagi Papa membela dia. Hal itu membuat aku muak Pa!"
"Kebencianmu itu tidak mendasar,"
"Papa tahu dengan jelas sebab kebencianku itu,"
"Apa kamu belum bisa melupakan hal yang lama sudah terjadi? itu cuma masa lalu Ma."
"Kalau memang itu cuma masa lalu, apa Papa memang benar - benar sudah melupakan wanita itu?" rani menatap tajam Rangga.
Rangga yang mendengar pertanyaan istrinya tiba - tiba saja lidahnya kelu. Seakan dia enggan untuk menjawab pertanyaan itu.
Rani yang melihat reaksi suaminya seketika menampilkan senyuman sinis. Dia tahu apa yang ada dalam pikiran suaminya itu.
"Kamu bahkan belum bisa melupakan masa lalumu,"
"Maafkan aku. Tapi dia sudah tenang di surga Ma. Jangan kamu ungkit lagi," pinta sang suami.
"Dia memang susah tidak ada di dunia ini. Tapi perasaan cintamu masih ada. Apalagi dengan hadirnya Dara dalam keluarga kita. Semakin buat kamu teringat dengan wanita itu,"
"Dara tidak mengerti apa - apa Ma. Tidak sepantasnya dia menerima kebencianmu itu,"
"Dia pantas menerimanya, karena dia anak dari mantan istrimu yang sangat kamu cintai itu!"
Iya memang kenyataannya almarhum Carla yang dimana ibu kandung Dara adalah mantan istri Rangga ayah Rey. Umur pernikahan yang masih seumuran jagung itu harus kandas karena karena orang tua Rangga memaksa mereka bercerai. Alasannya karena Carla adalah bukan dari kaum bangsawan seperti mereka.
Pada akhirnya Carla menyerah dengan cintanya. Bukan karena tidak cinta. Tapi dia tidak ingin melihat Rangga jatuh miskin dan terpuruk karena dia. Orang tua Rangga mengancam akan menarik semua kekayaannya dan tidak akan mendapatkan hak waris serta dikeluarkan dari status keluarga Erlangga jika masih mempertahankan pernikahannya bersama Carla.
Rangga juga terpaksa harus menerima perjodohan dengan Maharani wanita pilihan orang tuanya setelah putus asa mencari keberadaan Carla yang tiba - tiba menghilang.
Di tempat lain setelah beberpa bulan Carla bertemu Dimas. Pria yang sudah menolongnya dari ketepurukan yang mendalam. Pria yang selalu ada ketika dia tenggelam dalam kesedihan. Pada akhirnya mereka menikah dan dikaruniai malaikat kecil, yaitu Dara.
Begitulah cerita singkat tentang Rangga dan Carla. Alasan yang membuat Rani begitu membenci Dara. Meskipun Rangga selalu menjadi suami yang bertanggung jawab dalam keluarga. Tetap saja, Rangga tidak bisa memberikan hati sepenuhnya pada Rani. Rasa cintanya pada Carla begitu mendalam.
Bersambung~~
Jangan lupa mampir di karya author satunya lagi ya, masih on going. Ditunggu kunjungannya🥰