
Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..
✓Like 👍
✓Coment 💬
✓Rate 5 ⭐
✓Vote 💰
Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗
🍂 Selamat membaca 🍂
Calon Mama cantik yang sedang berkelana di dalam dunia mimpinya tiba - tiba merasa terusik karena ruang perutnya terasa kosong, meminta untuk diisi sesuatu yang lezat.
Sepasang pupilnya melirik ke arah penunjuk waktu yang terpasang di dinding kamar. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 12 dini hari. Tangannya mengusap badan ranjang di sebelahnya mencari keberadaan sang suami, namun ternyata kosong.
Dia langsung teringat bahwa sudah 7 hari suaminya tidur di atas sofa kamar karena aroma tubuh yang membuatnya isi perutnya bergejolak dan ingin muntah.
Perasaan hampa karena harus tidur sendiri di atas ranjang luas yang berukuran king size tersebut, lantas membuatnya menggiring kedua manik hitamnya ke arah tempat suaminya yang kini sedang tertidur pulas.
Perlahan ia turun dari ranjangnya dan mendekati tubuh suaminya. Menelusup ke dalam satu selimut dan menenggelamkan tubuhnya di antara lengan dan dada bidang pria yang masih terlihat pulas. Memeluk erat tubuh hangat yang sangat dia rindukan. Tubuh pria yang beberapa hari ini membuatnya menjauh.
Sang suami yang merasa tidurnya terusik mulai mengerjapkan matanya. Mencari biang yang membuatnya terbangun dari lelapnya. Dia merasa heran, sejak kapan istrinya berpindah ke satu tempat dengannya.
"Sayang, apa yang kamu lakukan? apa kamu sudah tidak mual berdekatan denganku?" tanya Rey heran dengan suara serak khas bangun tidurnya.
Dara menggelengkan kepalanya.
"Aku kangen," balas Dara yang semakin menempelkan tubuhnya.
"Syukurlah," Rey tampak senang dan lega. Ia pun membalas pelukan Dara dan mengecup sayang pucuk kepala Dara.
"Sayang...," panggil Dara manja.
"Hmmm, apa sayang?" balas Rey yang masih asyik menghirup harum rambut Dara.
"Aku lapar,"
Rey melirik pada jam dinding yang menunjukkan sudah melewati waktu dini hari beberapa menit yang lalu.
"Ini sudah sangat malam sayang, tapi coba aku bangunkan bi Inah untuk menyiapkan makanan," Rey mulai beranjak dari sofa namun Dara menarik tangannya.
"Tapi aku ingin makan seblak ceker," ucap Dara dengan memasang muka puppy eyes.
"Tapi ini sudah terlalu malam sayang, penjualnya pasti sudah pada tutup, besok saja ya,"
"Aku inginnya sekarang, sepertinya anakmu ingin makan seblak ceker," Dara merengek.
"Baiklah, aku akan keluar membelinya. Kamu tunggu di rumah ya,"
"Aku ikut,"
"Ini sudah malam sayang, udaranya tidak bagus untuk kamu yang sedang hamil,"
"Pokoknya aku ikut, aku ingin makan langsung di warungnya," pinta Dara memaksa.
"Hah! baiklah. Tunggu sebentar,"
Rey mengambil jaket tebal dan sepasang kaos kaki. Kemudian dengan tlaten ia memasangkan jaket pada tubuh Dara, lalu dia berjongkok untuk membungkus kaki Dara dengan sepasang kaos kaki. Tidak lupa Rey mengenakan kembali baju atasannya. Sepasang suami istri itu pun berlalu dari kamarnya.
Setelah satu jam berkeliling mencari akhirnya mereka menemukan satu penjual seblak yang terlihat sedang bersiap - siap menutup gerobak warungnya.
Rey segera menghentikan mobilnya tepat di depan gerobak penjual. Tanpa menunggu Rey, Dara segera turun duluan menuju penjual tersebut.
"Pak, jangan tutup dulu, saya mau beli," ucap Dara cepat. Sedangkan Rey tampak menyusulnya dari belakang.
Si penjual yang hendak menutup gerobaknya langsung terlihat senang karena kebetulan seharian jualannya memang sangat sepi. Hingga sampai tengah malam belum juga ada pembeli datang. Kedatangan wanita yang sedang nyidam tersebut seakan memberi secerca harapan.
"Iya Non, silahkan duduk dulu. Mau di makan disini atau dibawa pulang?" tanya si penjual dengan sangat ramah.
"Makan disini saja ya Pak, tolong buatin 2 porsi. Jangan lupa ditambah ceker ayam ya," Dara memesan dengan antusias. Beberapa kali dia tampak menelan cairan salivanya yang terus mengucur.
"Baik, Non,"
"Sayang kamu duduk dulu, nanti kakimu pegal," pinta Rey kemudian mengambilkan kursi duduk untuk sang istri.
"Iya, sayang terimakasih," Dara menduduki kursi yang telah disiapkan Rey.
Beberapa saat kemudian seblak pesanan mereka sudah tersaji di atas meja. Sepasang mata Dara berbinar - binar. Senyumannya terlihat sangat merekah. Air liur terasa mengucur dengan deras. Tidak ingin membiarkan seblaknya keburu dingin, ia pun menyantap makan khas bandung tersebut dengan lahap.
"Sayang, pelan - pelan makannya, nanti kamu tersedak," tutur Rey.
Dara hanya mengangguk. Dengan mulut yang masih mengunyah makanan, Dara sesekali mengamati pada isi grobak seblak yang terlihat masih banyak. Kemudian dia melirik ke arah si penjual yang terlihat kelelahan dan sudah renta.
"Tidak pasti Non, kalau pembeli lagi sepi saya pulangnya malam - malam, apa lagi sudah seminggu ini dagangan saya sangat sepi pembeli," jelas si penjual yang terlihat letih namun tidak mengurangi keramahan dan senyumannya saat berbicara.
"Ow.. sabar ya Pak," ucap Dara iba.
"Iya Non, terimakasih," balasnya ramah.
Sedangkan Rey sedari tadi hanya menjadi pendengar setia seraya mengamati raut muka istrinya yang terlihat sangat iba kepada si penjual. Sepasang bola bening Dara juga terlihat berkaca - kaca.
Beberapa saat piring sudah terlihat kosong. Rey berdiri hendak membayar sebelum pergi.
"Berapa totalnya Pak?" tanya Rey.
"Dua puluh ribu saja Tuan,"
Rey merogoh dompetnya dan mengeluarkan 10 lembar uang bewarna merah jambu bergambar pahlawan proklamator Soekarno dan Mohammad Hatta.
"Maaf Tuan, ini uangnya kebanyakan," ucap si penjual heran.
"Tidak apa - apa, Bapak bisa ambil semuanya," ucap Rey ramah.
Sedangkan Dara yang melihat tindakan dermawan suaminya terlihat senang.
"Tapi Tuan, ini terlalu banyak," timpal si penjual dengan suara yang mulai bergetar.
"Anggap saja sebagai tanda terimakasih saya. Kalau tidak ada Bapak entah dimana lagi saya akan mencari penjual seblak untuk menuruti keinginan istri sayang yang sedang ngidam,"
"Ternyata istrinya lagi hamil ya. Saya sangat berterimakasih. Semoga Tuhan membalas kebaikan Tuan, dan saya berdoa semoga istri anda bisa melahirkan dengan normal dan lancar tanpa halangan," ucap si penjual tulus. Air mata terharu terlihat membasahi muka yang sudah dimakan usia.
Selang beberapa menit, akhirnya sepasang suami istri itu sudah sampai di rumah mewahnya. Rey merangkul bahu Dara menuju ke kamar.
"Sayang, apa aku sudah boleh tidur satu ranjang bersamamu?" tanya Rey memastikan istrinya sudah tidak keberatan jika dia tidur bersamanya.
"Tentu saja, kemarilah,"
Mengetahui sudah mendapatkan ijin dari sang istri, pria tampan yang sebentar lagi akan menjadi Ayah itu langsung menyusul istrinya masuk ke dalam selimut tebal yang sama. Dia langsung memeluk tubuh istrinya dan menghujani beberapa kecupan pada mukanya.
"Aku sangat merindukanmu sayang. Selama 7 hari kamu menyiksaku," keluh Rey.
"Itu kan karena kemauan anakmu," protes Dara.
Rey mulai merubah posisinya. Dia mendekatkan kepalanya pada perut Dara yang masih terlihat rata.
"Anak Papa, kamu baik - baik ya di dalam. Jangan nakal," Rey seakan mengajak interaksi janin yang masih di dalam perut Dara.
"Iya Papa, aku nggak nakal kok, aku sayang Mama dan Papa," ucap Dara yang memperagakan suara anak kecil.
"Anak Papa memang pintar," puji Rey seraya mengecup perut Dara.
Rey kembali pada posisi semula. Memeluk tubuh Dara dengan hangat.
"Ini sudah hampir pagi. Sebaiknya kita tidur," ucap Rey.
Akhirnya mereka memejamkan mata dan mulai terbang ke dunia mimpi.
* * *
3 bulan kemudian.
Rey baru saja mengantar Dara ke Dokter Obgyn untuk memeriksa kehamilannya. Usia kandungan Dara sudah memasuki bulan ke 4 yang berarti dia sudah melewati trisemester pertama dan mulai memasuki trisemester ke dua yang diikuti berkurangnya tingkat keseringan morning sickness.
Dari hasil USG, Dokter mengatakan bahwa jenis kelamin anak mereka laki - laki. Sepasang calon orang tua itu tentu sangat senang setelah mengetahui jenis kelamin anak mereka.
Apa lagi teruntuk Rey, kebahagiaannya bertambah berkali - kali lipat setelah mendengar penjelasan sang Dokter bahwa kandungan istrinya sudah kuat dan diperbolehkan melakukan hubungan suami istri. Pernyataan lampu hijau dari sang Dokter membuat Rey tersenyum penuh arti di sepanjang perjalanan.
"Sayang, tadi Dokter sudah memberi lampu hijau lo, nanti sampai rumah aku minta jatah ya," pinta Rey diiringi senyuman nakalnya namun tatapannya masih fokus ke arah jalanan di depannya.
"Iya, tapi ingat kata Dokter, nggak boleh main kasar. Harus bermain dengan lembut," timpal Dara serius.
"Iya sayang, tentu saja,"
Sesaat mereka berhenti bersuara. Rey masih tenggelam pada rasa senangnya. Berbeda dengan Dara, pikirannya tiba - tiba terusik dengan ingatan masa lalu. Mungkin karena efek hormon kehamilan, pikirannya semakin sensitif beberapa bulan terakhir.
"Sayang, aku mau tanya, tapi kamu harus janji akan menjawab dengan jujur,"
"Tanya apa sayang?" balas Rey.
"Tapi janji harus jujur,"
"Iya sayang, aku akan jujur. Lagian tidak ada kebohongan yang aku sembunyiin dari kamu,"
Bersambung~~