
Dalam perjalanan pulang dari rumah orangtuanya, Rey merasa tidak tenang. Bagaimana nasib pernikahannya setelah ini. Apalagi dari tadi Dara tak urung jua berbicara. Dia hanya diam bak patung. Seakan suara napasnyapun tak dapat terdengar di telinga Rey. Hal itu semakin menambah kecemasan pada dirinya.
Di sisi lain, Dara masih berkecamuk dengan pikirannya sendiri. Rey yang sedaritadi kelibukan yang bagaikan induk ayam kehilangan telurnya tak urung jua mendapat respon. Dara seakan enggan kembali pada kehidupan nyatanya. Berharap ini semua hanya mimpi buruk. Tapi kenyataannya inilah yang terjadi. Dia tidak pernah menyangka orang ketiga akan menjadi pemanis dalam ikatan cinta sucinya bersama Rey.
Setibanya mobil mewah itu di halaman parkir rumahnya, Dara yang masih bertahan dengan kebisuannya bergegas turun dari mobil. Melangkahkan kakinya dengan lebar dan cepat memasuki rumah.
Rey mengikutinya dengan rasa cemas yang begitu besar. Berusaha menarik tangan istrinya itu agar mau berhenti dan mendengarkan penjelasannya. Namun dengan sigap Dara menghempas tangannya dengan kuat.
"Sayang aku mohon dengarkan penjelasanku dulu. Jangan buat aku cemas dengan kebisuanmu itu,"
Dan lagi, Rey masih bersikukuh dengan usahanya. Dia meraih tubuh kecil Dara. Memeluknya dengan erat agar istrinya itu bisa tenang. Tapi Dara terus saja menggeliatkan tubuhnya untuk berontak. Sekuat tenaga berusaha melepaskan diri dari tangan kekar Rey yang mengikat tubuhnya begitu kuat. Pada akhirnya tubuh Rey terpental mundur karena Dara mendorongnya dengan kuat.
"Dara! Sudah cukup! jangan seperti anak kecil!" bentak Rey yang mulai kesal karena sikap Dara.
Dara yang mendengar bentakan Rey spontan menghentikan langkahnya. Dia mengedarkan muka cantiknya pada suaminya itu. Kedua netranya yang sudah memerah dan berkabut menatap tajam pada lelaki yang sudah menodai rumahtangganya itu. Pada akhirnya bendungan air matanya sudah tak tertahan. Butiran bening keluar begitu saja. Kemudian Dara melangkah pergi menuju kamarnya dan mengunci pintu dari dalam.
Rey menyesal karena telah membentak Dara. Apalagi setelah melihat air mata kesedihan dari matanya. Dia sangat mengutuki dirinya. Dia kemudian melangkahkan kakinya menaiki tangga yang menghubungi lantai satu dan dua. Mendekati pintu kamar dan mencoba memutar handle pintu agar terbuka. Tapi usahanya gagal. Dara mengunci pintunya dari dalam.
Tok.. Tok.. Tok..
"Sayang maafkan aku, tolong buka pintunya sayang, aku mohon. Beri aku kesempatan untuk menjelaskannya," ucap Rey memohon di balik pintu.
Terlihat mata Rey memerah yang mulai digenangi air mata. Belum juga mendapat tanggapan dari Dara di balik pintu membuatnya frustasi. Tubuh Rey beringsut jatuh kebawah. Menyandarkan tubuhnya pada pintu yang sekarang membelakanginya.
* * *
Dara menutup pintu kamar dengan keras. Mengunci pintu dengan segera. Masih di depan pintu kamar, tubuhnya terasa lemas tak berdaya. Seakan kakinya sudah tak sanggup menopang tubuhnya sehingga membuatnya terduduk di lantai seketika.
Akhirnya suara tangisnya pecah begitu saja, hingga terdengar dari luar. Dadanya berdenyut hebat. Begitu sakit yang dia rasakan. Terlihat Dara memberikan pukulan kecil pada dadanya berharap bisa mengurangi rasa sakitnya. Tapi yang ada sia - sia.
Rasanya tidak rela membayangkan suaminya tidur dengan wanita lain. Bercumbu dan bermesraan selain dengan dirinya. Hingga wanita itu hamil. Dan benar saja, kehamilan wanita itu menambah luka dan kesedihannya. Mengingat kalau dia sendiri belum juga ada tanda - tanda kehamilan yang sudah sekian lama.
"Kenapa harus wanita lain yang memberimu anak?" Teriak Dara dalam hatinya.
"Dosa apa yang telah aku perbuat, hingga harus menerima kenyataan ini?"
"Ya Tuhan, kalau memang kau percayakan cobaan ini padaku, maka kuatkanlah aku,"
tangisan Dara semakin pecah.
* * *
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Dara yang merasa haus mencoba keluar kamar untuk mengambil minum. Ketika membuka pintu Dara dibuat kaget karena ada tubuh yang tadinya bersandaran dengan pintu tiba - tiba terjatuh ke lantai. Ternyata sedari tadi Rey menunggu di depan pintu hingga tertidur.
Rey yang merasakan kepalanya terbentur ke lantai sontak kaget dan terbangun. Dia melihat Dara sedang berdiri di hadapannya. Rey pun seketika beranjak dari lantai.
"Sayang apa kamu baik - baik saja?" tanya Rey khawatir.
"Kamu belum makan dan minum dari tadi siang. Ayo makan dulu nanti kamu sakit," Ucap Rey yang sebenarnya dia juga belum makan.
Rey dengan hati - hati meraih tangan Dara karena takut akan ada penolakan lagi dari istrinya itu. Tapi ternyata tidak ada penolakan. Rey menatap dalam muka cantik istrinya. Terlihat matanya yang sembab karena terlalu lama menangis. Terlihat gurat - gurat kededihan disana.
Rey mengambil satu langkah kedepan, sehingga tubuhnya dengan Dara cuma berjarak beberapa senti. Dia mulai melingkarkan tangan pada tubuh kecil Dara. Berusaha memberi pelukan hangat yang menenangkan. Tapi usaha urung terlaksana. Dara dengan sigap meletakkan tangannya di dada bidang Rey. Memberi sedikit dorongan yang pertanda sebuah penolakan.
"Kamu makan sekalian ya, Aku suruh Bi Ningsih siapkan makanan," pinta Rey yang masih khawatir.
"Tidak perlu, karena aku tidak lapar," tangkas Dara yang kemudian melenggang pergi dara hadapan Rey.
Rey menatap sendu punggung istri yang mulai menjauh. Tapi langkah Dara terhenti. Kemudian membalikkan badannya ke arah Rey.
"Sebaiknya kamu bersihkan tubuhmu dan beristirahatlah,"
Rey yang mendengar ucapan Dara selakyaknya mantra. Dia menuruti perintah Dara dengan cepat.
* * *
Setelah selesai membersihkan diri, Rey keluar dari Kamar mandi. Baru satu langkah dari depan pintu kamar mandi dia melihat tubuh istrinya sudah terbaring terbungkus selimut tebal di atas ranjang. Dara terlihat sudah terlelap dalam tidurnya.
Rey mendekat dan ikut masuk ke dalam selimut. Dengan hangat dia mulai memeluk tubuh istrinya yang tidur membelakanginya. Melayangkan sebuah kecupan sendu pada pucuk kepalanya. Pelukannya semakin erat, seakan takut Dara akan pergi menjauh.
"Maafkan aku sayang. Aku sangat mencintaimu," bisik Rey sebelum mencoba memejamkan matanya, menyusul Dara ke alam mimpi.
Dara yang sedaritadi hanya berpura - pura tertidur mulai terisak sangat pelan, agar Rey tidak menyadarinya. Air mata kesedihan lagi - lagi mengalir deras dari mata indahnya. Begitu perih luka yang ditorehkan.
Ternyata Rey menyadari Dara sedang menangis. Sekuat apapun Dara menutupi isakan tangisannya tetap saja tubuhnya tidak bisa diajak bekerjasama. Rey merasakan tubuh Dara yang bergetar karena menahan tangis. Dengan hati - hati Rey menarik pundak Dara agar mau menghadap ke arahnya.
Terlihat Dara yang sedang menutup mukanya dengan kedua tangannya. Seakan tidak ingin Rey melihat mukanya yang sudah basah dengan air mata.
Rey berusaha membuka tangan yang menghalangi muka istrinya itu. Disana terlihat muka Dara yang sudah penuh dengan linangan air mata. Butiran bening itu seakan tidak ingin berhenti. Rey mengusap cairan bening itu dengan jari - jarinya. Tidak rela jika air kesedihan hasil ulah dari kesalahannya itu besemayam terlalu lama di muka cantik istrinya.
Dara semakin berani mengespresikan kesedihannya di depan Rey. Dia melayangkan pukulan - pukulan pada dada bidang suaminya itu.
"Kenapa kamu jahat padaku?!"
"Apa aku pernah salah padamu?!"
"Apa kamu tahu sakit yang aku rasakan sekarang?!"
"Kamu jahat Rey!"
"Aku benci kamu!"
Dara meluapkan emosi sebanyak mungkin. Rey hanya bisa diam. Menerima semua perlakuan dan perkataan istrinya sembari tetap memberi pelukan hangat.
Sebenarnya dia sangat ingin menjelaskan semua. Tapi untuk saat ini sepertinya akan percuma. Membiarkan Dara tenang terlebih dahulu itu yang ada dibenaknya sekarang.
Hingga akhirnya Dara kelelahan karena terlalu lama menangis. Dia tertidur dalam pelukan Rey.
Bersambung~~
Jangan lupa mampir di karya author satunya lagi ya, masih on going. Ditunggu kunjungannya🥰