
Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..
✓Like 👍
✓Coment 💬
✓Rate 5 ⭐
✓Vote 💰
Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗
🍂Selamat membaca🍂
"Aaaaahhh!" teriak Dara yang melihat Rey yang terhuyung maju menimpa tubuhnya.
Dara mencoba memastikan dengan sedikit menjauhkan tubuh Rey yang terasa berat karena lemas.
"Apa kamu sakit?!" tanya Dara yang menyadari Rey masih sadarkan diri, namun tidak ada jawaban.
Dara pun mulai memapah tubuh pria yang sedang lemah itu dan membaringkannya di atas sofa berbahan polyester bewarna abu - abu.
"Fyuuhh!" napasnya terhembus kasar karena harus memapah dan membaringkan tubuh Rey yang berat.
Wanita bermata coklat itu menempelkan tangannya pada permukaan dahi Rey dan lanjut menempelkan tangannya pada dahi miliknya bertujuan untuk membandingkan suhu badan.
"Hahh! sepertinya kita harus ke Dokter,"
"Ayo biar aku bantu berdiri," ajak Dara.
"Tidak perlu," Rey yang masih lemas menarik pergelangan tangan Dara pelan. Cekalan tangannya terasa panas di kulit Dara.
"Sebentar lagi asistenku akan datang membawa obat," tukasnya.
"Hah?! kamu sakit apa?!"
"Kenapa sampai membawa obat segala?!" panik Dara.
Kedua ujung bibir Rey sedikit melengkung ke atas mendapati Dara mencemaskan dirinya. Membuat Rey semakin yakin bahwa Dara masih mencintainya.
"Kalau lagi sakit parah kenapa harus datang menemuiku?"
"Kalau kamu sampai mati di apartmentku, aku bisa susah!"
" Ya Tuhan.... Kapan aku bisa hidup dengan tenang?" Dara meratapi nasibnya.
Dara tidak henti - hentinya berceloteh menerka nerka sesuatu yang belum tentu terjadi. Senyuman tipis pada muka Rey tiba - tiba tenggelam setelah mendengar gerutu Dara. Pupus sudah rasa kepercayaan diri Rey. Kecewa, jelas dia kecewa.
"Bisa - bisanya kamu berbicara seperti itu?" gerutu Rey dengan tubuhnya yang masih tak berdaya.
"Jangan - jangan kamu datang membawa virus corona?" panik Dara tanpa mendengarkan Rey yang sedang komplen.
Dengan cekatan Ia mengambil hand sanistizer yang selalu tersedia di atas nakasnya. Menyemprot - nyemprotkan cairan bening berbau khas itu keseluruh ruangan. Tubuh Rey juga tak luput dari aksi anti corona Dara.
"Pweh! Pweh!" Rey menepih semprotan sanistizer ya yang mengenai mukanya.
"Hentikan!" pinta Rey.
Dara yang masih mau angkat bicara mengurungkan niatnya karena terdengar bunyi bel pintu. Dia pun berlalu mendekati pintu.
Beberapa saat kemudian Dara kembali dengan diikuti dua orang pria di belakangnya. Mereka adalah sang asisten dan Dokter pribadi keluarga Erlangga.
Otak Dara dipenuhi pertanyaan mengenai situasi di apartmentnya saat ini. Kenapa Dokter pribadinya juga datang kemari.
Pria tampan berkulit kuning langsat dengan rahang muka yang tegas itu mulai mengeluarkan alat - alat medisnya untuk melakukan beberapa pemeriksaan pada Rey, seperti mengecek detak jantung dan suhu badan.
"Haah!" sudah ku bilang. Harusnya kamu masih harus melakukan rawat inap di Rumah Sakit untuk melakukan perawatan!" dengus sang Dokter kesal.
"Terus kenapa sekarang dia malah keluyuran?" tanya Dara heran.
"Karena Tuan Rey bersikukuh ingin segera menemui Nyonya Dara," timpal sang asisten.
"Dan beliau tanpa beristirahat terlebih dahulu langsung menuju ke tempat anda setelah melakukan perjalanan hampir 20 jam menuju London," tambahnya lagi.
"Dan dengan berat hati, saya juga harus mengekorinya agar tetap bisa mengecek keadaannya selama bepergian," sela sang dokter jengkel.
Bukannya bersimpati ataupun terharu, Dara justru melemparkan tatapan mengejeknya ke arah Rey.
"Dasar bayi besar," cibir Dara.
"Sebenarnya dia sakit apa? apa dia punya sakit parah yang mematikan?" tanya Dara lagi karena penasaran.
"Dia sebe.." Ucapan sang Dokter terhenti di tengah jalan karena Rey nyelonong memotongnya.
"Sepertinya kamu sangat menginginkan aku cepat mati!" gerutu Rey yang memaksa bicara meski tubuhnya sedang lemah.
"Aku kan hanya bertanya. Emang ada yang salah?" timpal Dara kesal.
"Ehem! sang Dokter berdehem untuk melerai perdebatan dua anak manusia itu.
"Anak keras kepala ini mengalami penurunan daya tahan tubuh yang signifikan karena kelelahan dan imsonia berat," Tutur sang Dokter yang umurnya hanya tertaut 4 tahun lebih tua dengan Rey.
Dara membentuk kedua belah bibirnya serupa dengan huruf O sebagai respon dari penjelasan sang Dokter.
"Dan karena kurangnya asupan makanan," yambahnya lagi dengan raut muka mengejek.
"Apa kamu sekarang sebegitu miskinnya hingga tidak ada uang untuk beli makanan?" cibir Dara.
"Pffff!" dang dokter terlihat menahan tawanya setelah mendengar ucapan frontal Dara. Begitu juga sang asisten pribadi Rey.
Sang asisten tidak menyangka. Tuannya yang beberapa tahun ini terkenal dengan sikap dingin dan harga diri yang melambung tinggi bisa mendapatkan perlakuan seperti itu.
"Ehem! sang Dokter berdehem mengembalikan raut mukanya ke mode normal.
"Sebaiknya kita harus membawamu ke Rumah Sakit," saran Sang Dokter.
"Tidak, aku tidak akan beranjak dari sini!" seru Rey.
"Kenapa kamu sangat keras kepala sekali?" ucap sang Dokter.
"Apa gunanya aku membawamu? kamu bisa merawatku disini?" timpal Rey.
"Haaaah? tidak boleh. Kenapa harus di tempatku?!" Dara yang tadinya dalam posisi duduk langsung berdiri, tidak suka dengan keputusan Rey.
30 minutes letter~~
Dara bersedekap dan menatap datar kepada tiga pria yang sekarang sudah berada dalam kamar khusus tamu di apartmentnya.
Terlihat Rey sedang terbaring di atas ranjang dengan tangan sudah terpasang infus. Sang Dokter duduk santai seraya menyilang salah satu kaki ke atas. Sedangkan sang asisten berdiri pada pojok kamar sibuk dengan buku agendanya.
Dara mau tidak mau dan suka tidak suka harus membiarkan pria yang sedang terkapar lemah itu di rawat di tempatnya atas dasar kemanusiaan.
Sang Dokter beranjak dari tempat duduknya dan melakukan beberapa langkah mendekati Dara yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu kamar.
"Sepertinya saya belum sempat mengenalkan diri kepada wanita cantik ini," sang Dokter tersenyum hangat.
"Perkenalkan saya Arka. Dokter pribadi keluarga Erlangga serta sepupu Rey," ucapnya seraya mengulurkan tangan.
"Kenapa Rey tidak pernah bercerita kalau dia punya sepupu seorang dokter?" heran Dara di dalam hati, karena baru kali ini bertemu dengan Arka.
"Kamu pasti bertanya - tanya kenapa baru bertemu dengan saya sekarang? Itu karena sebelumnya saya tinggal di luar pulau," bebernya tersenyum.
"Oow.. oya saya Dara. Dara Violetta Wangsa," ucap Dara tegas sembari membalas uluran tangan Dokter Arka.
Mata Dara sekarang melirik ke arah pria berkulit sawo matang namun terlihat manis yang sedari tadi sibuk dengan agendanya itu. Berharap dia juga memberitahu namanya. Bukan apa - apa, namun setidaknya dia harus tahu nama orang - orang yang berhubungan dengan Rey.
Apa lagi Rey sekarang sedang sakit dan dirawat di tempat dia tinggal. Berantisipasi jika terjadi sesuatu padanya.
"Ehem!" Dara berdehem. Matanya masih melirik ke arah Sang asisten.
Pria manis itu pun menyadari maksud dari Dara. Dia mulai berjalan menuju Dara dan mengulurkan tangan.
"Perkenalkan, nama saya Aldi. Asisten pribadi Tuan Rey," ucapnya sopan, menampilkan senyuman ringan pada mukanya.
Rey yang menyaksikan kedua pria itu bergatian menyentuh tangan Dara mulai jengkel.
"Aku membayar kalian bukan untuk menggoda wanita disini!" cibir Rey.
Suara Rey mengalihkan perhatian ketiga manusia yang baru saja saling mengenal itu.
"Kami hanya berkenalan. Tidak ada yang menggoda maupun yang digoda disini!" timpal Dara yang teperanga dengan tuduhan Rey yang tidak mendasar itu.
"Ternyata kamu belum tidur?" heran Dokter Arka, karena melihat Rey yang masih sadar padahal dia telah menyuntikkan obat tidur pada infusnya.
"Karena kalian terlalu berisik. Bagaimana aku bisa tidur?" gerutu Rey. Padahal dia sudah sangat mengantuk karena efek obat, namun dia kekeh menahannya karena nggak rela membiarkan Dara terlalu dekat dengan kedua pria itu.
(Cemburumu dari dulu tetep aja selangit Rey..Rey🤦)
"Oke, semua obat sudah saya siapkan. Tolong hubungi saya kalau terjadi sesuatu dengan kesehatan pria keras kepala itu," pinta Dokter Arka yang sedikit jengkel.
"Saya akan kembali penginapan," ucapnya sebelum berlalu pergi.
"Saya juga ijin kembali ke penginapan," tutut Aldi sang asisten.
Dara terdiam beberapa detik untuk mencerna situasi.
"Tunggu..!" Dara berlari dan menghadang Aldi sebelum kakinya melangkah keluar kamar tamu tempat Rey teebaring.
"Iya, ada yang bisa saya bantu Nyonya?" tanya Aldi sopan.
"Kalau kalian pergi, siapa yang akan merawat Tuanmu yang menjengkelkan itu?" hardik Dara.
"Sepertinya Nyonya yang harus merawatnya," jawab Aldi.
"Hah? kenapa harus saya? kenapa tidak kamu saja?!" Dara tak terima.
Aldi menatap sofa yang terletak di kamar dan pandangannya beralih ke ranjang tempat Rey terbaring.
"Saya tidak mungkin tidur di sofa kecil itu," ucap Aldi sambil melirik ke arah sofa.
"Dan juga tidak mungkin tidur seranjang dengan Tuan Rey," Sekarang pandangannya pindah ke Ranjang yang ada di kamar.
"Tapi tidak bisa?!" protes Dara.
"Permisi Nyonya," ijin Aldi tanpa mendengar Dara yang masih saja protes.
"Haiiiiss!" dengus Dara frustasi.
Bagaimana bisa dia harus berada dekat pria yang telah menorehkan luka lama yang mendalam selama ini. Rasa kecewa yang amat besar masih bersemayam pada dirinya. Dan sekarang dia malah harus merawat bahkan bermalam dengan Rey, meski tidak sekamar. Tapi hal itu cukup buat dia tidak nyaman.
Bersambung~~