
Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..
✓Like 👍
✓Coment 💬
✓Rate 5 ⭐
✓Vote 💰
Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗
🍂Selamat membaca🍂
Sang surya telah terbit dari ufuk timur. Hangatnya sinar mentari mulai menyapu langit dan bumi. Anak cahayanya yang nakal mengintip wanita cantik yang masih tenggelam dalam dunia mimpinya melalui celah - celah kecil jendela.
Tok...
Tok...
Tok...
"Permisi Nona, Bibi akan masuk kamar ya," ucap bi Inah dari balik pintu, kemudian membuka daun pintu.
Sebenarnya dia bisa saja langsung masuk karena mengetahui majikannya itu masih kesulitan untuk berjalan sendiri dengan posisi matanya yang masih tertutup perban, namun dia masih menganut etika sopan santun dalam bekerja, jadi kurang sopan saja jika seorang pembantu masuk ke kamar majikan tanpa permisi.
"Hmmmm," Dara yang mendengar kehadiran bi Inah pun terbangun.
"Nona, ayo buruan siap - siap. Hari ini Nona harus pergi ke Rumah Sakit. Bibi akan bantu Nona membersihkan diri," ucap bi Inah dengan lembut.
Hari ke 7 pasca operasi, Dara akan dibawa kembali ke Rumah Sakit untuk melepas perban yang beberapa hari ini menutupi matanya.
"Iya bi, tolong bantu saya berdiri," pinta Dara yang masih lemas karena nyawanya belum terkumpul semua.
"Baik Non," Bi Inah pun dengan cekatan membantu Dara menuju ke kamar mandi.
Sesaat kemudian, Dara sudah terlihat segar. Kini dia sedang duduk di ruang makan. Menyantap sarapan pagi dengan dibantu bi Inah.
"Selamat pagi...," sapa Kayla yang baru datang. Suaranya menggema memenuhi ruangan.
"Kay, masih pagi sudah datang aja?
"Karena gue sedang bersemangat mau ngantar sahabat gue ke Rumah Sakit. Sekalian gue mau numpang sarapan disini," celoteh Kayla seraya mendudukkan dirinya di bangku meja makan dan tanpa disuruh mulai mengambil nasi goreng yang berada di atas meja makan.
Dara tersenyum geli mendengar ucapan sahabatnya tersebut. Begitu juga dengan bi Inah.
"Bi, ini telor ceploknya kok masih ada 3? siapa yang belum sarapan memangnya?" tanya Kayla ke bi Inah.
"Itu memang sengaja Bibi lebihkan gorengnya, karena bi Inah sudah hafal setiap Nona Kayla datang pasti mau sarapan pagi sekalian. Terus bi Inah juga hafal kalau Nona Kayla makannya banyak. Itu telur ceplok buat Nona semuanya. Nasi gorengnya juga bi Inah masak banyak pagi ini. Nona Kayla makan saja semua," balas bi Inah panjang lebar.
"Yaelah Kay, lo badannya aja kurus, tapi makannya segentong," cibir Dara.
"Lo ngaca dulu deh sebelum nyinyirin gue. Coba lo tanya ke bi Inah di piring lo ada berapa itu telor ceplok," seloroh Kayla.
"Emang ada berapa bi?" tanya Dara ke bi Inah.
"Ini di piring Nona Dara masih ada satu, tapi tadi Nona sudah makan dua telur ceplok dan hampir makan dua piring nasi goreng," jelas bi Inah polos.
"Tu kan, orang lo sendiri makannya aja kayak orang nggak pernah makan seminggu," cebik Kayla.
Dan tentu saja suara tertawa mereka langsung menggema bersamaan. Kini senyuman sudah mulai menghiasi muka cantik Dara. Seakan dia sudah melupakan kejadian - kejadian yang membuat hatinya terasa nyeri beberapa waktu yang lalu.
Kegiatan sarapan pagi Dara dan Kayla pun selesai. Kini Kayla bersiap - siap mengantar Dara pergi ke Rumah Sakit.
Dara bisa saja meminta tolong supir pribadinya untuk mengantarnya, namun Kayla selalu berinisiatif sendiri untuk mengantarnya. Rasa kepedulian Kayla yang begitu teramat besar kepada Dara membuat dia ingin selalu ada ketika sahabatnya itu sedang kesusahan.
Ketika dalam perjalanan menuju ke Rumah Sakit, ponsel Dara berdering. Dengan hati - hati Dara meraba - raba isi tasnya untuk mengambil ponselnya. Meski kondisi matanya tertutup perban, hal itu tidak membuat Dara kesulitan hanya sekedar mengangkat panggilan telepon.
"Halo," ucap Dara setelah panggilan tersambung.
"Halo sayang, ini Papa Rengga. Hari ini kamu ada jadwal membuka perban matamu kan?"
"Iya Pa, ini Dara sudah dalam perjalanan menuju ke Rumah Sakit," balas Dara.
"Maaf ya, Papa nggak bisa nemani kamu, karena pekerjaan kantor yang masih menumpuk,"
"Nggak apa - apa Pa,"
"Ya sudah, kamu hati - hati ya di jalan. Setelah selesai cepat kabari Papa. Mama Rani juga menunggu hasilnya,"
"Baik Pa,"
Tut. Panggilan berakhir.
Hubungan antara Dara dan sang Papa mertua masih hangat seperti dulu. Ditambah lagi sikap Mama Rani terhadap Dara juga sudah sangat berubah. Sang Mama mertua tersebut sudah tidak malu atau bahkan gengsi menunjukkan perhatiannya kepada Dara. Menantu yang dulunya dia benci dan sia - siakan.
Kalau ditanya tentang keberadaan Rey, dia sekarang lebih menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Melakukan banyak meeting karyawan yang membuat para bawahannya geleng - geleng kepala. Bahkan dia turun sendiri dalam melakukan pemantauan ke beberapa anak cabang perusahaan yang berada di luar pulau. Aldi sang asisten tentu saja merasa heran dengan perubahan drastis Bosnya tersebut.
Itu semua dilakukan Rey, agar dia bisa mengalihkan keinginannya untuk menjumpai Dara yang sebentar lagi bestatus sebagai mantan istrinya.
* * *
Di ruang pemeriksaan Dokter Spesialis Mata.
"Ibu Dara jangan tegang ya, saya akan mulai melepas perban matanya," ucap sang Dokter ramah yang mulai menggunting perekat perban dan melepas kain kasa putih yang melingkari kepalanya.
Kayla yang mendampingi juga ikut merasa tegang.
Setelah Dokter berhasil melepas semua lilitan perban, dia terlebih dahulu membersihkan matanya menggunakan kapas steril.
"Sekarang matanya coba dibuka dengan pelan - pelan ya," Dokter memberikan instruksi.
Dara pun mulai membuka kedua kelopak matanya dengan sangat hati - hati. Ketika mata cantiknya sudah terbuka sempurna, dia mencoba melihat ke sekeliling ruangan. Senyuman dari bibirnya merekah sempurna. Raut muka kebahagiaan terlukis pada muka cantiknya.
"Saya sudah bisa melihat Dok. Kay, gue sudah bisa melihat sekarang," ucap Dara dengan bahagia.
"Syukurlah, gue ikut senang Ra," timpal Kayla seraya memeluk tubuh sahabatnya.
"Saya juga turut bahagia," sela sang Dokter.
"Mungkin untuk sekarang penglihatan Ibu Dara masih sedikit kabur, tapi akan pulih setelah beberapa hari dan sementara hindari menyetir kendaraan sampai penglihatannya kembali jelas ya," tutur sang Dokter dengan sangat ramah.
"Baik Dok,"
"Mbak Dara, akhirnya sudah bisa melihat lagi. Saya juga ikut senang lo mbak," sela seorang perawat yang sedang membersihkan alat - alat yang baru saja terpakai.
"Makasih ya sus,"
"Oya mbak, setelah Mbak Dara sadar dari koma kok saya sudah nggak pernah lihat lagi suaminya yang ganteng kayak opa - opa korea itu ya? memang sekarang dia kemana?" tanya sang perawat yang penasaran.
"Ah, itu...," Dara bingung bagaimana mau menjawabnya karena semenjak sadar dia memang tidak pernah satu kali pun menanyakan kabar Rey. Dia memang berusaha untuk acuh.
"Mbak Dara tahu nggak, suami Mbak Dara itu jadi bahan crita yang lagi ngehit beberapa hari ini loh," jiwa gosip sang Perawat mulai kumat.
"Maksutnya gimana ya Sus?" Wanita yang baru saja bisa melihat dunia lagi itu mulai penasaran.
Sedangkan Kayla hanya diam. Membiarkan Perawat itu meneruskan ceritanya. Kayla sudah mengetahui kalau Rey memang sedang ramai menjadi bahan perbincangan para pekerja di Rumah Sakit.
"Bayangin saja mbak. Dia rela mendonorkan darahnya waktu Mbak Dara kritis karena kekurangan darah, padahal kondisinya sendiri sedang terluka parah. Itu bisa membahayakan kesehatannya loh," beber sang Perawat.
"Terus selama Mbak Dara koma, suami Mbak nangis terus. Terlihat banget dia takut kehilangan Mbak Dara,"
"Dan yang paling mengejutkan tuh, suami mbak ngotot untuk menjadi pendonor mata buat Mbak, meski pihak Rumah Sakit menolaknya. Untung saja ada orang lain yang bersedia mendonorkan matanya," paparnya lagi dengan sangat berantusias.
"Benarkah Suster?" tanya Dara untuk meyakinkan.
"Bener Mbak saya nggak ngarang cerita, apa keluarga Mbak nggak pernah cerita?"
Dara tidak menjawab. Matanya hanya melirik ke arah Kayla yang sepertinya sahabatnya itu juga sudah mengetahuinya.
"Aduuh. Suami Mbak Dara manis banget tahu nggak. Kelihatan kalau cintanya ke Mbak besar banget," puji sang perawat disela - sela kesibukannya membersihkan perban bekas Dara.
Dara hanya menampilkan senyuman yang terpaksa.
"Kalau ada satu lagi lelaki seperti itu, saya mau dah bungkus satu untuk dibawa pulang," goda si Suster.
"Dia itu spesies langka, Suster tidak akan menemukannya lagi," seru Dara.
"Iya, Rey si pria menyebalkan, tukang maksa, egois, posesif dan juga mesum. Mana ada orang yang lebih buruk dari dia? huh!" cibir Dara di dalam hati.
"Ko Mbak bilang gitu? emang hewan apa ko spesies?" Suster tertawa geli.
"Udah, kalau suster mau, suster bawa pulang aja sus. Sepertinya teman saya ini sudah nggak mau sama suaminya," sela Kayla yang penuh dengan sindiran.
Dara langsung mendelikkan matanya ke arah Kayla. Bisa - bisanya dia berbicara seperti itu.
"Hehehe.. Mbak bisa aja. Mana mau lelaki gantengnya yang nggak ada obat seperti dia mau dengan saya," canda si Perawat.
"Ehemm!" sang Dokter yang masih di dalam ruangan berdehem untuk menghentikan pembicaraan mereka.
"Ibu Dara, apa ada yang mau ditanyakan sebelum pulang?" tanya sang Dokter mengalihkan topik.
"Tidak ada Dok," jawab Dara.
"Ya sudah, Ibu bisa pulang sekarang. Kalau ada keluhan, anda bisa datang lagi ke saya untuk konsultasi," ucap sang Dokter ramah.
"Baik Dok, terimakasih,"
Dara dan Kayla pun berlalu pergi dari ruang pemeriksaan.
Dalam perjalanan pulang, pikiran Dara masih terngiang - ngiang akan cerita si Perawat tadi.
"Kay, jangan bilang calon pendonor yang kamu bilang ingin merahasiakan identitasnya waktu itu adalah Rey," tanya Dara.
Kayla masih terdiam. Matanya masih menatap lurus ke jalanan di depannya karena fokus menyetir.
"Kalau lo hanya diam, gue anggap jawaban lo itu benar," opsi Dara.
"Ko lo nggak cerita ke gue sih?" timpalnya lagi yang mulai cemberut.
"Gimana gue mau cerita Ra, orang lo nya sendiri kalau gue masih nyebutin nama Rey sudah keluar tanduk," cibir Kayla.
"Dasar Rey menyebalkan, sekarang dia malah nggak pernah kelihatan ujung hidungnya,"
"Jangan salahkan dia, karena Rey hanya ingin menepati janjinya saja,"
"Maksutnya apa Kay?"
Bersambung~~