Luka Cinta Dara

Luka Cinta Dara
Bab 47 Masa Lalu Kayla



Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..


✓Like 👍


✓Coment 💬


✓Rate 5 ⭐


✓Vote 💰


Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗


🍂Selamat membaca🍂


Suara gemuruh petir masih terdengar jelas di balik awan. Kilatan - kilatan cahayanya bagaikan cambuk yang hendak membelah langit. Rintikan air hujan pun turun begitu derasnya.


Kayla langsung berjongkok sembari menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya. Tidak peduli dengan air hujan yang membasahi tubuhnya. Rasa takut akan petir begitu menghantuinya.


"Kay lo ngapain? Ayo buruan berteduh," ajak Radit.


Jederrrrrrr!! suara petir menyambar.


"Aahhhhh!!" lagi - lagi Kayla menjerit ketakutan. Kini mukanya terlihat pasi.


Radit menyadari, wanita cantik yang kini sudah basah kuyup itu sedang ketakutan dan segera menarik tubuh rampingnya agar segera berdiri. Namun tiba - tiba Kayla memeluk tubuh kekar Radit begitu saja. Ketakutannya akan petir membuat Kayla tidak menyadari apa yang dia lakukan saat ini.


Radit begitu terkejut akan tindakan tiba - tiba Kayla. Perasaan yang aneh muncul begitu saja dalam dirinya. Namun dia segera menepis perasaan itu dan segera membawa Kayla ke tempat yang bisa melindungi tubuh mereka dari serangan air hujan yang datangnya bergerombolan itu.


Dengan memeluk tubuh Kayla yang masih gemetaran, pria tampan itu mencoba memutar knop pintu keluar masuk menuju rooftop itu, namun daun pintu tidak mau terbuka.


"Kay, ini pintu nggak mau terbuka," ucap Radit panik.


"Kay, lo nggak apa - apa kan, kenapa lo diam saja?


Kayla masih saja enggan berkata karena masih tenggelam dalam ketakutan. Akhirnya Radit juga ikut terdiam membiarkan wanita yang dianggap sahabatnya itu tenggelam dalam pelukannya.


Beberapa saat kemudian, suara petir dan cahaya kilat sepertinya sudah selesai mengemban tugasnya. Kayla juga terlihat mulai tenang.


Wanita itu tersadar dan terkejut akan tindakannya, langsung melepas lilitan tangannya yang melingkari perut berotot Radit dan beringsut sedikit menjauh.


"Maaf, gue nggak bermasut," ucap Kayla yang mulai canggung.


"Lo takut sama petir?"


Kayla hanya menjawabnya dengan anggukan lemah.


"Nggak apa - apa, sekarang ada gue, jangan takut lag," Radit mencoba menenangkan seraya memegang kedua pundak Kayla.


"Tapi Kay, ini pintunya nggak mau ter..bu..ka," tiba - tiba ucapan Radit terdengar semakin lirih.


Kedua manik hitam pria itu perlahan beralih pada tubuh Kayla. Tenggorokannya menelan cairan saliva dengan berat.


Kemeja putih polos yang begitu melekat pada tubuh Kayla karena basah memperlihatkan dalaman bewarna hitam yang sedang dikenakan wanita itu. Benda padat yang yang terbungkus BH itu begitu sintal, terlihat sexy dan menggoda.


Kayla yang mulai menyadari arah tatapan mata Radit mulai terperanjat dan menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya.


Begitu juga dengan Radit. Dia mencoba mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dengan sigap dia melepaskan jas yang dia kenakan dan memakaikannya pada Kayla tanpa melihat.


"Gu.. gue nggak sengaja lihat!" bela Radit canggung.


Kini mereka berdua terlihat sangat canggung. Mereka terdiam beberapa saat hingga akhirnya suara Kayla terdengar.


"Pintunya sepertinya rusak, gue akan telepon asisten gue biar pintu bisa dibuka dari dalam," ucap Kayla seraya menepis suasana canggung saat ini.


Kayla meraih ponselnya dan mulai melakukan sambungan panggilan kepada asistennya. Selang beberapa waktu sang asisten datang dan akhirnya pintu bisa terbuka.


Sang asisten sempat heran melihat kondisi bosnya yang sedang basah kuyup.


Sebelum melangkah pergi menuju ruangan pribadinya, Kayla menyuruh sang asisten memanggil tukang service untuk memperbaiki pintu.


Radit sekarang berada dalam ruangan kantor Kayla.


"Sebaiknya gue antar lo pulang, lo harus segera mengganti bajumu," tawar Radit.


"Tidak perlu, kebetulan gue ada kemeja cadangan ko,"


"Tapi yang basah nggak cuma kemejanya doang. Dalamanmu juga basah," tandas Radit ragu.


Wanita cantik itu langsung menghunus tatapan tajam ke arah Radit yang membuat pria itu sedikit salah tingkah.


"Gue kan cuma takut lo masuk angin," sanggah Radit.


Tanpa menjawab Kayla kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk mengganti kemejanya yang basah. Tidak lama kemudian dia keluar dengan mengenakan kemeja yang kering. Namun rambutnya masih terlihat basah.


"Jasmu biar aku cuci dulu baru aku kembalikan," ucap Kayla seraya meletakkan jas hitam milik Radit pada tempat gantungan di pojok ruangan.


Radit tiba - tiba tersenyum. Entah mengapa kejadian penampakan dalaman gunung kembar tadi membuat ingatannya mengulas kembali kejadian belasan tahun yang lalu, waktu Radit dan Kayla masih duduk di bangku SMA.


Waktu itu, karena insiden tabrakan di lorong sekolah, Radit juga tidak sengaja melihat dalaman segitiga terbalik berwarna pink milik wanita cantik yang takut akan petir itu.


"Gue hanya teringat waktu kita masih SMA dulu. Kita pernah bertabrakan hingga lo tersungkur di lantai dan gue nggak sengaja lihat CD lo yang berwarna pink," Radit bercerita dengan santainya.


"Kenapa masih lo ingat - ingat kejadian memalukan itu?! dasar otak mesum!" Hardik Kayla karena malu.


"Dan mulai saat itu lo sering nyebut gue mesum, hingga sekarang. Entah mengapa gue semakin terbiasa dengan sebutan yang keluar dari mulut lo itu," tandas Radit.


"Sebutan itu memang cocok buat lo kalik," cebik Kayla.


"Oya Kay, gue baru ngerti kalau lo takut sama petir. Apa lo punya trauma dengan petir?" Radit penasaran.


"Yaaah, begitulah Dit. Gue memang punya trauma akan masa lalu,"


Kayla mulai menerawang ingatan - ingatan masalalunya dan mulai bercerita.


FLASHBACK ON


Suasana malam begitu mencekat. Hujan badai disertai suara gemuruh petir memenuhi langit. Cahaya kilat beberapakali menerangi langit dalam kegelapannya.


Jederrrrrrrr!


"Kenapa kamu tega lakukan itu?! selama ini apa yang kurang? semua sudah aku berikan!"


"Maafkan aku, tapi aku mencintainya. Aku akan menikahi wanita itu!"


Jederrrrrrr!


Terdengar suara petir di sela - sela pertengkaran sepasang suami istri itu.


"Kamu anggap apa aku ini?!"


"Aku sangat mencintainya! kamu cepat tanda tangan surat perceraian ini!"


"Aku mencintaimu Mas! aku nggak mau bercerai!"


"Tapi aku sudah nggak mencintaimu, hubungan ini membuat aku semakin tersiksa!"


"Tidak! lebih baik aku mati daripada harus bercerai denganmu!"


"Terserah kamu!" sang suami pun berlalu pergi meninggalkan istrinya.


"Mas! kamu mau kemana?! jangan pergi! aku akan bunuh diri jika kamu pergi!"


Namun sang suami tak bergeming, dia masih saja melanjutkan langkahnya pergi meninggalkan rumah.


Di sudut lain seorang remaja berumur 13 tahun sedang beringsut di atas ranjang. Suara pertengkaran kedua orang tuanya begitu menggema di telinganya. Dia menggapai benda pipih yang tergelatak di atas ranjang dan mulai menelpon sahabatnya untuk mengalihkan ketakutannya akan pertengkaran kedua orang tuanya.


"Halo Kay," sapa Dara setelah panggilan tersambung.


"Halo Ra,"


"Kenapa suara lo terdengar lesu begitu?"


"Mama Papa gue bertengkar lagi," curhat Kayla.


"Lo yang sabar ya. Lo nggak apa - apa kan?"


"Gue lelah Ra, setiap hari harus mendengar mereka bertengkar," Kayla mulai terisak.


"Sabar ya, lo masih ada gue, tenangkan pik.."


Pranngggg!


Suara Dara di balik telepon tiba - tiba terputus karena terdengar suara keras di rumah Kayla.


Kayla yang masih berada di kamarnya juga terkejut akan suara barusan. Dengan ponsel masih melekat di telinga, remaja cantik itu mulai menuruni ranjang dan melangkahkan kakinya mendekati sumber suara.


Langkah kakinya gemetaran, jantungnya berdegup kencang.


"Kay, lo nggak apa - apa kan?" suara Dara di balik telepon, namun tidak ada sautan dari Kayla.


Langkah kaki Kayla berhenti di depan kamar orangtuanya, dengan hati - hati dia memutar knop pintu dan mendorongnya ke dalam. Ruangan terlihat gelap, hanya sesekali terlihat terang karena kilat cahaya yang menembus jendela.


Kayla menekan saklar lampu untuk menerangi kamar.


"Aaaaahhhhhh!" Kayla menjerit hebat setelah melihat sang Mama sudah terkulai lemah di lantai dengan sayatan pecahan gelas di pergelangan tangannya. Darah segar mengalir deras dari luka yang memutus urat nadi sang Mama.


Selang waktu beberapa menit, Dara datang bersama Ayahnya. Beberapa waktu yang lalu Dara yang mendengar pekikan Kayla melalui panggilan telepon yang masih tersambung itu merasa curiga dan meminta Ayahnya untuk mengantarnya ke rumah sahabatnya.


Dan tentu saja kekhawatirannya itu benar. Kini dia melihat sahabat kesayangannya itu sedang menangis sembari memeluk tubuh sang Mama yang ternyata sudah tak bernyawa.


Suasana malam beserta angin badai di iringi suara petir ikut hadir dalam duka Kayla.


Setelah kejadian itu, Kayla akan merasa sangat takut jika mendengar suara petir. Maka tak jarang, Kayla akan menginap di rumah Dara di saat musim hujan. Karena sahabatnya itu akan selalu memeluk dan memberi ketenangan ketika dia dilanda ketakutan.


FLASHBACK OFF


Bersambung~~