Luka Cinta Dara

Luka Cinta Dara
Bab 34 Terungkap



Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..


✓Like 👍


✓Coment 💬


✓Rate 5 ⭐


✓Vote 💰


Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗


🍂Selamat membaca🍂


Mobil mewah mercedez benz bewarna hitam metalix itu terparkir rapi di depan gerbang yang berdiri kokoh. Tapak Rey keluar dari mobil dengan gusar. Pria tampan yang sedang dirundung ketakutan akan sebuah perpisahan itu berdiri di depan gerbang yang masih setia tertutup rapat.


Dari dalam terlihat pria bertubuh tambun mengenakan seragam khas security keluar menghampiri Rey.


"Maaf Tuan, apa Tuan mencari Nyonya Dara?" Tanya sang security yang sudah hafal tujuan Rey beberapa hari ini.


"Aku ingin bertemu dengan istriku?" ketus Rey.


"Tapi maaf Tuan, Nyonya Dara tidak ada di rumah," timpal sang security.


"Apa kali ini aku juga tidak bisa bertemu dengan istriku?! heh?! seru Rey.


"Nyonya memang tidak ada di rumah Tuan,"


Rey tidak percaya dengan apa yang dikatakan si security. Dia memaksa masuk melewati gerbang yang beberapa hari ini menghadangnya untuk bertemu Dara. Kali ini tidak ada perlawanan yang berarti dari penjaga keamaan yang telah setia berkerja selama 10 tahun di keluarga Wangsa tersebut. Sehingga Rey bisa lebih leluasa memasuki istina masa kecil istrinya itu.


Dia mendorong pintu yang sangat besar dengan ukiran khas jepara tersebut. Dia mulai menjejakkan kakinya ke dalam rumah. Menyusuri setiap ruangan dan sudut rumah. Mencari keberadaan sang istri. Namun usahanya itu sia - sia. Dara tidak ada, bahkan bayangannya pun tidak ada.


Kemudian dia keluar dari rumah yang sudah tidak berpenghuni tersebut. Kembali menghampiri sang security yang memang dari tadi memperhatikannya.


"Kapan dia pulang?"


"Sebelum pergi, Nyonya Dara hanya menitipkan pesan agar saya harus menjaga rumah ini selama dia pergi."


"Heh! apa maksudmu pergi?" Rey mengerutkan dahinya.


"Katanya Nyonya akan pergi cukup lama,"


"Kemana dia pergi?! Rey menatap lekat pria bertubuh tambun tersebut, berharap mendapatkan jawaban yang sesuai harapan.


"Maaf Tuan, saya tidak tahu. Nyonya Dara tidak memberi tahu siapapun kemana dia akan pergi," timpal pria tambun tersebut. Tersirat Raut muka iba kepada suami anak majikannya tersebut.


"Bersama siapa dia pergi?!"


"Tadi Nyonya pergi bersama seorang pria, tapi saya tidak tahu namanya," jawab sang security.


"Siapa pria yang pergi bersamanya? Mungkinkan itu Radit?" batin Rey.


Rey mengusap kasar rambutnya yang lurus dan hitam itu. Memang ada sedikit rasa cemburu yang menyeruak dari hatinya, namun untuk saat ini rasa takut kehilangan lebih mendominasi.


Rey berkali - kali melakukan panggilan pada nomor seluler Dara yang berakhir sia - sia itu.


Drrrttt...


Drrrttt...


Drrrttt..


Ponsel yang masih tergenggam erat di tangan Rey bergetar. Tertera nama Papa Rengga di layar ponselnya. Dengan malas Rey mengusap layar ponselnya.


"Halo Pa,"


"Kamu dimana? sekarang kamu pulanglah," Titah Papa Rengga.


"Rey masih ada urusan penting Pa?" timpal Rey malas.


"Tidak ada yang lebih penting dari apa yang akan Papa berikan ke kamu!" seru Papa Rengga sebelum mengakhiri panggilan.


Pada akhirnya dengan berat hati dia harus menuruti perintah sang Ayah.


Mobil mewah Rey sudah bertengger di halaman rumahnya. Dia berjalan lesu menuju pintu masuk. Setelah dia menjajakkan kakinya ke dalam rumah, Rey melihat Papa Rengga sudah berada disana. Rey mengalihkan pandangannya ke arah Mamanya yang terlihat gelisah. Sedangkan Bella masih terlihat tenang dengan kepalsuannya.


"Rey pulang Pa," sapa Rey dengan raut muka bertanya - tanya.


"Kamu duduklah!" titah Papah Rengga yang masih sibuk dengan benda tipis di tangannya.


Rey menuruti perintah sang Ayah, namun pikirannya masih dipenuhi dengan seribu pertanyaan.


"Tenang, Papa akan menjawaban semua pertanyaan yang ada di pikiranmu," ucap Rengga santai, seakan bisa membaca apa yang sedang dipikirkan putranya.


Papa Rengga menyodorkan ponsel pintar yang masih berada di genggaman tangannya.


Dengan hati - hati sang putra meraih benda pipih tersebut. Pada layar ponsel menampilkan beberapa file rekaman video CCTV yang sudah tersimpan rapi.


Tanpa bertanya, Rey sudah bisa menangkap maksud dari sang Papa. Jari - jarinya mulai bergerak menekan file rekaman video. File pertama adalah hasil rekaman CCTV di ruang kantor Rey. Isi yang berdurasi beberapa menit tersebut, memperlihatkan semua rekaman asli tanpa terpotong. Tidak seperti rekaman CCTV yang dia lihat beberapa bulan yang lalu.


Sungguh Rey terkejut, ternyata Bella menjebaknya. Malam itu Rey sama sekali tidak menggagahinya, karena dia sudah keburu pingsan pada saat malam peristiwa itu. Dan sebelum kejadian Bella juga yang telah menaburkan obat pada makan siangnya.


Rey menatap tajam ke arah Bella. Ingin rasanya dia mengumpat di depannya. Namun dia masih menahan untuk tidak menyulutkan sumbu api kemarahnya terlebih dahulu.


Rey masih berniat melanjutkan aksinya. Membuka file lainnya yang juga sudah tidak sabar ingin memperlihatkan isinya. Rekaman ke dua menayangkan peristiwa saat Dara dan Bella di area kolam renang milik Orang tuanya.


Rey masih setia melihat tayangan yang disajikan oleh benda pipih tersebut. Alisnya terlihat mulai menyatu, hingga pada akhirnya matanya yang tajam membulat sempurna. Tidak percaya dengan apa yang dia lihat, tapi inilah kebenaran sesungguhnya.


Bella yang belum mengetahui tentang apa isi rekaman tersebut mulai mengerutkan dahinya. Dia mulai panik, perasaannya tidak enak.


Dua rekaman CCTV tersebut cukup mengungkap semuanya. Sumbu amarah Rey mulai tersulut api.


Praankk!


Rey melayangkan kepalan tangannya yang sudah mengeras pada meja kaca yang berada di depannya hingga pecah berantakan. Darah segar mulai mengalir tanpa permisi dari sela - sela bantalan tangannya yang tergores kaca. Muka tampan itu terlihat mengeras. Sorot matanya seakan ingin membunuh.


Jelas saja tindakan Rey sungguh mengejutkan bagi tiga orang yang masih berada disana. Rani mulai menangis melihat kondisi tangan putranya. Sedangkan Bella masih setia dengan kepanikannya yang semakin melandanya.


"Aaarrgggg!" teriakan frustasi Rey menggema memenuhi isi ruangan.


Rey melangkahkan kakinya mendekati tubuh Bella yang mulai bergetar. Bella meringis kesakitan karena cengkraman tangan kekar Rey pada lengannya.


"Gara - gara kamu! hidupku hancur!" geram Rey.


"Tunggu! aku tidak mengerti. Apa salahku?" kilah Bella panik.


"Rey cukup! tahan emosimu! dia sedang hamil!" seru Papa Rengga khawatir Rey akan bertindak di luar batas.


Bella terkejut bukan kepalang setelah mendengar perkataan Rey.


"Gawat! sial! sepertinya dia sudah tahu semuanya!" ucap Bella di dalam hati.


Masih tersulut emosi, Rey dengan kasar mendorong Bella yang sudah berdiri tersebut hingga terjatuh ke atas sofa yang berada di belakangnya.


"Aahhh!" teriak Bella seraya memegang perutnya yang mulai membesar itu.


Sedangkan Rani, dia hanya bisa menangis histeris. Tidak tahu harus berbuat apa.


"Rey sudah! hentikan!" Rengga menghalangi tubuh Rey yang masih berniat menggencarkan aksinya untuk memberi pelajaran pada Bella.


"Dara memberi pesan, agar kamu tidak bertindak yang bisa membahayakan bayi dalam kandungan Bella!" seru Papa Rengga.


Kalimat yang terlontar dari mulut sang Ayah cukup membuat amarah Rey sedikit luruh. Nama Dara sungguh bisa buat hatinya luluh.


"Daraaa! bisa - bisanya kamu mencemaskan orang lain yang telah menyakitimu," Keluh Rey. Matanya mulai terasa panas, terlihat genangan air mata yang masih tertahan.


Tap...


Tap...


Tap...


Dari luar pintu terdengar suara langkah kaki yang mulai menjajakan kakinya ke dalam rumah. Suara kaki yang beriringan itu tidak hanya milik satu orang saja, melainkan milik beberapa orang.


Kayla datang dengan langkah tegasnya disertai kepercayaan diri yang tinggi pada sorot matanya. Kayla diikuti dua orang pria dewasa berbadan tinggi dan tegap yang mengenakan seragam polisi di lengkapi dengan atribut serta senjata api yang terpasang di pinggangnya.


Betapa terkejutnya Bella, saat melihat Nicho lah yang berdiri di antara kedua polisi dengan posisi tangan sudah terkunci oleh borgol besi.


"Tangkap dia Pak!" seru Kayla sembari mengarahkan jari telunjuknya ke arah Bella.


Dengan sigap salah satu polisi mendekat dan menahan tubuh Bella.


"Ada apa ini?!" teriak Bella sembari berusaha melepaskan cengkraman sang polisi.


"Anda kami tangkap dengan kasus penipuan dan pemalsuan dokumen."


"Tidak! saya tidak melakukan apapun!" Sangkal Bella.


"Anda bisa menjelaskannya di kantor,"


Rey masih tidak percaya dengan apa yang lihat sekarang. Sekarang pandangannya beralih ke Nicho.


"Nicho apa maksud semua ini? kenapa kamu?!" tanya Rey yang menuntut jawaban.


"Maafkan saya Tuan. Selama ini saya telah menghianati anda," terukir raut muka penyesalan pada muka Nicho.


"Janin yang sedang dikandung Bella adalah anak saya," paparnya lagi.


"Jangan percaya dengan apa yang dia katakan Mas Rey! dia telah berbohong! aku benar - benar mengandung anakmu!" Bella berkilah.


"Apa bukti ini tidak cukup membuatmu mengaku?" Kayla menunjukkan laporan hasil test DNA yang asli.


"Tidak, itu pasti palsu! aku mohon jangan percaya mas Rey!" Bella masih bertahan untuk tidak mengakuinya.


Kayla hanya memutar kedua bola matanya dengan ekspresi jengah. Terlalu malas untuk berbicara terlalu banyak. Lagian semua bukti sudah sangat memberatkan Bella sebagai tersangka, jadi dia tidak perlu membuang tenaganya untuk berdebat dengan si siluman rubah itu.


"Jadi informasi yang kamu berikan selama ini semua palsu?!" seru Rey kepada Nicho.


"Maafkan saya Tuan," Nicho menundukkan kepalanya. Rasa sesal bercampur malu membuat dia tidak berani mengangkat mukanya.


Rey sudah tidak bisa menahanya lebih lama. Tangannya yang sudah terasa gatal, menghujam muka Nicho begitu saja. Hingga Tubuhnya tersungkur ke lantai. Rey yang belum puas, menghujamkan lagi beberapa kali pukulan dengan posisi dia sudah berada di atas tubuh Nicho yang tidak berdaya itu. Sorot matanya seakan ingin membunuh sang asisten kepercayaan yang belum lama ini menjadi penghianat.


Kedua polisi yang berada didekatnya mencoba melerai mereka. Papa Rengga juga tidak diam. Dia menarik tubuh putranya menjauh dari Nicho yang sudah babak belur.


Rey sangat kecewa mendengar pengakuan Nicho. Nicho sang asisten yang selalu menjadi andalan Rey itu, telah menghianati kepercayaan. Selama ini dia begitu percaya dengan info yang didapatkan tentang Bella.


"Saya benar - benar minta maaf Pak," Nicho tidak henti - hentinya mengucapkan maaf.


"Saya hanyalah seorang calon ayah yang hanya ingin melindungi calon bayinya,"


"Bagaimana saya bisa membiarkan calon darah daging saya dalam bahaya jika saya tidak menuruti keinginan wanita jahat itu," Ucap Nicho, yang sebenarnya dia juga amat sangat kecewa dengan Bella. Bella berulang kali mengamcam akan menggugurkan bayinya jika Nicho tidak menuruti kemauannya.


Perkataan Nicho cukup monohok bagi Rey. Ingatan tentang sikapnya yang lalai melindungi calon bayinya hingga keguguran terlintas dalam otaknya.


"Nicho saja melakukan segala cara untuk melindungi bayinya, tapi kenapa aku tidak bisa?" gumam Rey di dalam hati. Sungguh penyesalan yang sangat besar sedang menggrogoti hatinya.


"Tolong bawa mereka pergi Pak, sebelum mereka mati di tanganku," pinta Rey yang masih tersulut amarah.


"Mas Rey, jangan biarkan mereka membawaku mas!" pinta Bella.


"Aku cinta sama kamu Mas!"


"Sembilan tahun! Selama itu aku menyimpan rasa kepadamu!" Bella menangis histeris, memohon untuk di lepaskan.


Rey dibuat tercengang dengan pengakuan Bella yang sudah mencintainya begitu lama. Namun hal itu tidak meluluhkan hatinya yang mengeras.


Akhirnya Bella dan Nicho diseret pergi. Mereka akan menjalani pemeriksaan lebih lanjut dan akan menerima hukuman hasil dari kejahatan mereka.


"Kay, bisa lo beri tahu gue dimana Dara sekarang?" Rey memohon. Terukir kesedihan yang mendalam pada raut mukanya.


"Maaf, gue sudah berjanji untuk tidak memberitahukan kepada siapapun, terutama kamu," ketus Kayla.


"Gue mohon Kay, bagaiman gue bisa hidup tanpa Dara?" timpalnya lagi.


"Maaf gue nggak bisa!" tukas Kayla.


"Biarkan Dara bahagia dengan keputusannya," timpalnya lagi.


Kayla melemparkan pandangan tajamnya kepada Rani yang sedari tadi diam seribu bahasa. Dia melipat kedua tangannya di depan dada. Berjalan mendekati wanita yang kini terlihat lembek itu. Muka judes yang selalu diberikan kepada Dara entah sejak kapan menghilang.


"Pastinya sekarang anda puas kan?" Kayla menampilkan smirk pada mukanya.


"Selamat! usaha anda berhasil, Nyonya Erlangga," timpalnya lagi seraya memberi tepukkan tangan.


Rani masih setia dengan kebisuannya. Tidak ada hal yang bisa dia sangkal lagi. Memang dia cukup menyesali akan perbuatannya. Selama ini dia malah melindungi janin yang dikandung Bella, yang ternyata itu bukan cucu nya. Bahkan dia menyia - nyiakan Dara yang bahkan mengandung calon keturunan keluarga Erlangga yang sebenarnya.


Pandangan Kayla sekarang beralih ke Papa Rengga. Sorotan matanya yang tajam kini mulai melunak.


"Terimakasih, setidaknya Dara beruntung mempunyai Ayah mertua seperti anda," kedua ujung bibir Kayla terlihat melengkung ke atas.


"Kalau begitu saya permisi dulu," Kayla pun melangkahkan kakinya berlalu pergi.


Bersambung~~