Luka Cinta Dara

Luka Cinta Dara
Bab 50 Terluka parah



Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..


✓Like 👍


✓Coment 💬


✓Rate 5 ⭐


✓Vote 💰


Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗


🍂Selamat membaca🍂


"Sepertinya Rey sangat pintar menutupi masalalunya darimu ya? sehingga kamu tidak mengenaliku," celetuk Dira yang memang sengaja ingin menciptakan suasana panas di antara dia dan Dara.


"Maksutmu apa ya?" tanya Dara yang masih berusaha menjaga sikap.


"Seharusnya yang berada di samping Rey sekarang itu aku dan bukan kamu," sinis Dira sembari meraih minuman dingin yang tersedia di atas buffet.


"Maaf, bukannya sekarang kamu sudah mempunyai suami dan anak? Apa pantas kamu berkata seperti itu?" ucap dingin Dara seraya meneguk minuman dari tangannya.


"Asal kamu tahu ya, Aku dan Rey dulu pernah bertunangan,"


"Itu kan dulu, jadi kamu hanya masa lalunya,"


"Kamu!" Nandira mulai tersulut emosi.


"Apa kamu tidak menyadari perubahan sikap Rey akan keberadaan Arka tadi?"


"Aku tidak memperhatikan jadi aku tidak tahu," kilah Dara.


"Bohong!"


"Apa sebenarnya tujuanmu? Kalau tidak ada yang penting, sebaiknya aku permisi dulu,"


"Rey dulu hanya menjadikanmu tempat pelarian saja, karena aku lebih memilih Kakak sepupunya. Kami putus waktu Rey masih sekolah di bangku SMA tingkat 3. Bukankah waktu itu Rey juga mulai mendekatimu? Itu karena dia baru saja putus denganku dan mulai mencari pelarian dengan mendekatimu," Dira mulai memainkan lidahnya, mengarang indah kalimat - kalimat mengandung fitnah.


"Jangan mempengaruhiku dengan kalimat - kalimat palsumu itu," Tandas Dara. Sebenarnya hatinya sudah mulai memanas.


"Aku hanya menceritakan apa yang belum kamu ketahui. Apa kamu tidak mengerti juga? Hingga saat ini Rey masih membenci Kakak sepupunya karena dulu aku lebih memilih Kakak sepupunya dari pada dia. Bukankah alasan kebencian Rey itu karena dia masih memendam rasa terhadapku?" Nandira mencoba memutar balikkan fakta yang sebenarnya.


"Apa benar ini alasan Rey selalu bersikap dingin kepada Arka?" batin Dara yang mulai mendapat jawaban dari rasa penasaran yang mengganggunya beberapa hari ini.


"Kadar kepercayaan dirimu sepertinya sudah over dosis ya?" Cibir Dara.


Nandira semakin kesal karena lawan bicaranya seperti sulit untuk terpangaruh akan ucapannya.


"Dulu Rey pasti merayumu dan berkata kamu adalah yang pertama bukan? haha.. padahal akulah wanita pertama yang ada di hatinya," Wanita licik itu semakin gencar memanasi Dara dengan bibir lamisnya.


"Dari sini aku tahu. Sebenarnya bukan Rey yang masih memendam rasa kepadamu, melainkan kamu yang masih mengharapkan cintanya Rey. Dasar tidak tahu malu! Sudah jadi istri orang masih saja menginginkan cinta yang lain. Serakah," cemooh Dara yang tentu menusuk lawan bicaranya itu.


Suara gemeretak gigi akibat menahan emosi terdengar jelas dari mulut Dira.


"Bukankah kamu sempat kabur meninggalkan suamimu? Terus sekarang tanpa rasa malu kamu mendatanginya lagi,"


Memang selama dua tahun terakhir saat Dara belum dibawa pulang secara paksa oleh Rey, Nandira mulai mendekati Rey dan merayunya. Wanita yang tidak puas dengan satu pria itu mengambil kesempatan di saat Rey kesepian. Namun Rey selalu menolaknya dengan kejam. Karena hal itu juga yang membuat kebencian Rey terhadap mantan tunangannya itu semakin melangit.


"Dan trakhir yang belum kamu ketahui. Alasan lain Rey mendekatimu karena kamu dijadikan sebuah taruhan saja. Dia bertaruh dengan Radit," Dira tersenyum sinis.


Dan tentu saja kebenaran yang baru Dara ketahui itu semakin menambah kekecewaanya. Hatinya kini sudah memanas. Letupan - letupan amarah mulai menjalar keseluruh tubuh. Dia tidak menyangka bahwa dirinya dulu hanya dijadikan benda taruhan. Dara yang memang beberapa minggu memiliki Mood yang sangat buruk, hatinya bisa dengan mudah tersulut emosi. Otaknya sudah tidak bisa berfikir logis.


Dara melangkahkan kakinya lebar - lebar pergi dari hadapan wanita licik tersebut. Dengan Mata yang sudah memerah karena menahan tangis, dia melewati kerumunan para tamu undangan dan keluar dari keramaian pesta.


Saat ini, Dara hanya memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa lepas dari belenggu Rey yang menyiksa batinnya selama ini. Mumpung pengawasan Rey sedikit lengah, ia mencuri kesempatan untuk melarikan diri.


Senyuman pada bibirnya sedikit merekah ketika dia sudah berhasil sedikit menjauh dari tempat acara pesta pernikahan keluarga Pak Henry. Dia melambaikan tangan guna mencegat Taxi yang kebetulan sedang lewat. Kurang selangkah lagi dia akan bebas ketika mobil Taxi sudah berhenti dihadapannya, namun sepertinya Tuhan belum berpihak kepadanya, karena sebuah tangan kekar mencekram lengannya dengan kuat.


"Maaf kami tidak jadi naik Pak," ucap Rey kepada si sopir Taxi. Taxi tersebut pun berlalu tanpa membawa penumpang.


"Rey?" Mata Dara membulat sempurna setelah mengetahui Rey adalah pemilik tangan kekar yang sedang mencengkram lengannnya saat ini.


"Isssh! sakit! lepaskan tanganmu!" Dara meringis kesakitan.


"Tidak mau! Aku lebih baik mati daripada harus tinggal bersamamu!"


"Jangan berkata seperti itu!" Rey menaikan nada bicara. Dia begitu takut akan perkataan Dara yang lebih memilih mati.


"Begitu banyak kebohongan yang kamu tutupi dariku Rey. Aku semakin kecewa kepadamu!"


"Apa maksutmu? Aku tidak pernah berbohong,"


"Dulu kamu bilang aku cinta pertamamu, tapi ternyata mantan tunanganmu itu yang pertama. Ternyata dulu aku hanya kamu jadikan tempat pelarian karena tunanganmu itu lebih memilih Arka Kakak sepupumu, dan sekarang sepertinya kamu masih ada rasa dengan mantan tunanganmu, itu sebabnya kamu selalu bersikap dingin kepada Arka yang kamu anggap sebagai perebut wanitamu. Dan satu lagi, ternyata aku dulu hanyalah sebuah obyek taruhan bagimu!" beber Dara yang sudah dirundung emosi dan kecemburuan.


Rey merasa ada yang salah dengan perkataan Dara. Memang dulu awalnya dia hanya menjadikan Dara sebagai bahan taruhan dan dia membenarkan hal itu meskipun pada akhirnya dia tenggelam dalam permainannya sendiri dan jatuh cinta kepada Dara. Namun tentang dia hanya menjadikan Dara sebagai tempat pelarian itu tidak benar. Apalagi tentang masih ada rasa yang tersimpan untuk mantan tunangannya sangatlah salah. Saat masih menjadi tunangannya pun, dia bahkan tidak pernah menyukai Nandira. Dara benar - benar gadis pertama yang bisa memikat hatinya saat itu.


"Bukan seperti itu ceritanya sayang. Biar aku jelaskan,"


"Cukup! Aku sudah tidak butuh penjelasanmu lagi," teriak Dara seraya mencoba menghempaskan cengkraman tangan kekar Rey yang berujung sia - sia itu.


Rey memejamkan matanya berusaha mengontrol emosinya saat ini. Sepertinya memberi penjelasan di saat ini adalah hal sia - sia.


"Aku masih sangat mencintaimu sayang, ayo pulang. Apa tidak adakah sedikit saja sisa perasaan cintamu padaku?"


"Cinta? aku memang masih mencintaimu?"


"Namun mencintai dan bersamamu membuatku hancur. Aku mohon lepaskan aku. Atau menghilanglah dari kehidupanku," kini Dara benar - benar memohon segenap hati agar suaminya mau melepaskannya.


Rey tertegun mendengar ucapan yang keluar begitu mulus dari mulut wanitanya. Cengkraman tangannya mulai melonggar dan menurunkan tangannya dari lengan sang istri. Perasaan sakit yang mendalam membuat cairan bening keluar tanpa sopan dari kedua pelupuk matanya.


"Apa aku sanggup bila harus hidup tanpamu?" gumam Rey sendu.


"Aku sangat mencintaimu," Matanya yang basah menatap nanar muka wanita yang saat ini bersikukuh ingin menjauh darinya.


"Jika kamu mencintaiku maka biarkan aku bahagia dengan menghilangnya dirimu dari hadapanku," tandas Dara.


Lidah Rey begitu kelu. Terlalu selalu sulit untuk mengiyakan permintaan Dara karena sifat posesif dan egois masih tertanam dalam dirinya.


Dara yang sudah tidak tahan berdebat terlalu lama dengan pria posesif di depannya mencoba melangkahkan kakinya untuk menyeberang jalan yang terlihat lenggang kendaraan itu. Tanpa dia sadari dari kejauhan ada satu mobil sedan yang melaju dengan kecepatan tinggi. Mobil tersebut melaju lurus ke arah kedua manusia yang memang sudah menjadi incarannya sedari tadi.


Rey yang kebetulan menyadari keberadaan mobil tersebut mencoba mendorong Dara yang sudah berada ditengah jalan.


"Daraaa! awas!"


Brukkkkk!


Namun naas, jarak mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi tersebut sudah terlalu dekat ketika Rey menyadarinya. Akhirnya Kedua tubuh Rey dan Dara terpental jauh beberapa meter dari tempat mereka berdiri.


Badan mereka mendarat dengan keras di atas aspal jalan yang memang kebetulan sedang sepi. Rey yang masih memiliki sedikit kesadaran mencoba mencari keberadaan sang istri yang tergeletak sudah tidak sadarkan diri tidak jauh darinya.


Dengan kondisi yang penuh luka dan bersimbah darah, pria itu berjalan gontai menghampiri Dara yang juga sudah terluka parah.


"Sayang, sadarlah! kamu nggak apa - apa kan?!" teriak pria yang sedang menahan sakit.


"Yaah!! mati? hahaha," terdengar suara tawa seseorang yang baru saja keluar dari mobil yang baru menabrak mereka.


"Bella! kenapa?!" Rey tidak percaya Bella bisa berbuat nekat seperti itu.


"Kalian harusnya mati semua, nggak boleh ada yang hidup. Aku sedih kalau kalian bahagia," tiba - tiba raut muka Bella berubah sedih.


"Sakit ya? aku juga sakit.. huhu...hahaha,! ucap wanita gila itu dari raut muka sedih dengan cepat beralih ke raut muka senang.


Dari jauh terdengar suara teriakan Arka dan Papa Rengga yang memang sedang mencari mereka. Kedua pria itu berlari menghampiri kedua korban tabrakan yang memang tidak jauh dari kawasasan acara pernikahan yang sedang berlangsung tersebut.


"Rey! Dara!" apa yang terjadi?" tanya sang Ayah panik. Sedangkan Arka dengan sigap menahan tubuh Bella yang dia curigai sebagai dalang tersebut.


"Bertahanlah Dara! kita ke rumah sakit sekarang," tanpa menjawab pertanyaan Papa Rengga, Rey mencoba mengangkat tubuh istrinya dengan tenaga yang tersisa. Masuk ke dalam mobil yang digunakan Bella untuk menabrak mereka tadi karena mobil itu yang berada paling dekat dengan mereka sekarang.


"Ayah tolong antar kami ke Rumah Sakit sekarang," pinta Rey panik.


Papa Rengga bergegas masuk ke dalam mobil dan melajukan kendaraan roda empat tersebut menuju Rumah Sakit terdekat. Sedangkan Arka yang tidak ikut dengan mereka mencoba menelpon petugas Polisi untuk menyerahkan Bella.


Bersambung~~