
Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..
✓Like 👍
✓Coment 💬
✓Rate 5 ⭐
✓Vote 💰
Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗
🍂Selamat membaca🍂
Ponsel sang Ayah bergetar. Nama Kayla terlihat menghiasi layar ponselnya. Dia langsung mengangkat panggilan itu dengan emosi yang masih tersulut.
"Halo,"
"Pak Rengga ini saya Kayla,"
"Iya ada apa?"
"Apakah anda mengetahui dimana Rey sekarang? saya sudah menghubunginya tapi tidak bisa, ada hal penting yang harus saya sampaikan,"
"Dia ada disini bersama dengan saya sekarang. Ada hal apa memangnya?"
"Kalau begitu saya akan bicara langsung ke Pak Rengga saja. Tolong anda cegah Rey menggencarkan niat nekatnya itu, karena ada seseorang yang bersedia menjadi pendonor mata untuk Dara,"
"Benarkah? syukurlah kalau begitu," Papa Rengga merasa lega.
"Kalau boleh tahu siapa pendonor itu?"
"Nicho,"
"Apa? bukannya dia masih di dalam buih?"
"Dia sudah dibebas penjarakan, karena..." kalimat Kayla di balik sambungan telepon terdengar mengambang.
"Karena apa?" Papa Rengga penasaran.
"Karena Nicho sekarang sedang sakit kanker paru - paru stadium akhir dan dokter memvonis umurnya tidak akan panjang," beber Kayla yang terdengar sedih.
"Ya Tuhan," Papa Rengga sangat terkejut mendengar kabar dari wanita di balik telepon tersebut.
"Baiklah, akan saya sampaikan kepada putra saya, terimakasih banyak atas informasinya,"
"Kalau begitu panggilan saya akhiri,"
Akhirnya percakapan antar sambungan benda pipih tersebut berakhir. Papa Rengga meletakkan ponsel pintarnya di atas meja kerjanya. Terlihat dia sedang menghela napas panjang. Perasaan antara suka dan duka bercampur jadi satu.
"Kamu sekarang bisa berhenti dengan niat nekatmu itu, karena sudah ada relawan yang akan mendonorkan kornea matanya untuk menantuku," jelas Papa Rengga kepada Rey yang masih berada dalam satu ruangan dengannya.
"Sungguh? hah..! syukurlah," Rey merasa lega.
"Tapi kenapa muka Papa terlihat sedih seperti itu?" Rey menyelidik.
"Papa sangat senang karena Dara sudah mendapatkan donor mata, tapi Papa juga sedih, karena pendonor mata itu adalah Nicho yang kini sedang sakit dan Dokter memvonis umurnya tidak akan lama lagi," beber Papa Rengga dengan sedih.
"Hah?! Rey juga tak kalah terkejut.
Rasa kecewa yang dirasakan kedua ayah dan anak tersebut memang masih terbesit di dalam hatinya. Mengingat kesalahan yang Nicho lakukan di masa lalu begitu sulit di maafkan. Namun kini rada kecewa mereka berubah menjadi sedih.
Bagaimanapun juga dulunya Nicho adalah remaja jalanan berstatus yatim piatu yang telah menolongnya Rey dari copet.
Karena merasa berhutang budi Rey pun menawarkannya untuk bekerja sebagai tukang kebun di keluarga Erlangga yang tentu saja diterima sangat antusias oleh Nicho.
Nicho adalah anak yang sopan, pekerja keras dan pintar. Papa Rengga yang melihat Nicho memiliki semangat belajar akhirnya ia menyuruh Nicho untuk melanjutkan sekolahnya yang sempat terhenti.
Papa Rengga membiayai pendidikan Nicho hingga kejenjang pendidikan bangku kuliah. Hingga lulus dengan nilai sempurna dan diterima bekerja di perusahaan keluarga Erlangga sebagai asisten pribadi Rey. Jadi, keberadaan Nicho di keluarga Erlangga sudah seperti keluarga sendiri.
(Maaf ya, di awal cerita Author tidak menampilkan cerita tentang Nicho lebih terperinci🙏)
"Sebaiknya kita segera menemuinya besok," saran Papa Rengga.
"Baiklah Pa," balas Rey.
* * *
Di koridor Rumah Sakit tempat Dara di rawat.
"Kalau begitu panggilan saya akhiri," ucap Kayla kepada seseorang di balik sambungan telepon.
Tut. Panggilan berakhir.
"Hah...," Kayla menghela napas panjang. Dia merasa lega karena sudah menyampaikan tentang niat baik Nicho kepada Rey dengan cepat.
"Kayla," panggil Radit yang memang sudah berada di belakang dengan jarak yang sangat dekat Kayla.
Tubuh Kayla sedikit tercekat karena mendengar panggilan tiba - tiba Radit yang tidak dia ketehaui keberadaannya sebelumnya. Kayla memalingkan muka cantiknya ke belakang, dimana sumber suara itu berasal sehingga membuat jarak muka keduanya tidak lebih dari satu kilan. Hal itu membuat pipi mulus Kayla memamerkan semburat merah yang untungnya tidak disadari oleh Radit.
"Radit! lo pingin gue mati muda?" seru Kayla seraya mengusap dadanya yang masih berdegup kencang karena kaget plus malu.
"Gue sudah dari tadi di berada disini, lo nya aja yang nggak peka,"
"Sekarang gue butuh penjelasan,"
"Penjelasan apa?"
"Gue denger semua percakapan lo tadi di telepon,"
"Apa maksutnya niat Rey yang beresiko?"
"Rey berniat mendonorkan matanya kepada Dara," Kayla mulai bercerita karena baginya itu bukanlah hal yang harus dirahasiakan.
"Bagaimana mungkin? dia kan masih hidup,"
Kemudian Kayla pun meneruskan ceritanya hingga sampai ke akar - akarnya.
"Apa?! Dia akan meninggal?!" Radit juga terkejut mendengar kabar tersebut. Bagaimanapun juga dulu Radit juga dekat dengannya karena waktu masih sekolah Radit sering main ke rumah Rey yang otomatis dia juga sering bertemu dengan Nicho.
"Hah.. ya begitulah takdir. Jodoh, rejeki, dan hidup kita hanya Tuhan yang menentukan. Kita hanya bisa berusaha sesuai takarannya saja," tutur Kayla.
"Tapi gue seneng banget, akhirnya Dara akan bisa melihat lagi," terulas senyuman bahagia pada muka cantik Kayla.
Dan lagi - lagi, entah mengapa ada perasaan hangat yang menjalar di hati Radit melihat Kayla yang begitu peduli dengan sahabatnya. Apa lagi senyuman Kayla yang menampilkan kedua lesung pipitnya sungguh menambah kecantikan alaminya.
"Kenapa lama - lama lo semakin cantik sih?" batin Radit yang mulai mengagumi wanita yang ada di depannya sekarang. Meskipun dia belum menyadari perasaanya.
"Stop! berhenti tersenyum," seru Radit.
"Memang kenapa sih?" Kayla langsung pasang muka bingung.
"Ada cabe di gigi lo," olok Radit seraya melangkah pergi dari hadapan Kayla.
Kayla otomatis menyapu giginya dengan lidah dan segera membuka kamera ponsel untuk memeriksa giginya.
"Mana ada? gigi gue bersih ko. Sialan itu orang ngerjain gue," Kayla kesal lalu mengejar langkah Radit yang sudah tertinggal jauh.
* * *
Keesokan harinya.
Rey sedang menatap dingin muka Nicho yang tertunduk. Berkat bantuan Kayla akhirnya mereka berdua bisa bertemu.
Hari ini Nicho datang bersama Nesya sang buah hati. Entah mengapa, hari ini Nesya begitu rewel dan mencari keberadaan sang Ayahnya terus, jadi dengan terpaksa Nicho membawa sang putri.
"Apa itu anakmu?" Rey membuka suara terlebih dahulu seraya menatap bayi yang sedang berada di pangkuan Nicho.
"Iya Tuan, maaf saya datang dengan anak saya," jawab Nicho merasa tidak enak seraya mengusap lembut punggung Nesya yang sedang asyik dengan mainannya.
"Terimakasih," ucap Rey singkat, masih dengan raut muka dingin.
"Untuk apa Tuan?"
"Karena kamu bersedia mendonorkan salah satu organ tubuhmu untuk istriku," ucap Rey yang sebenarnya mulai iba dengan kondisi Nicho.
"Tapi itu masih belum cukup untuk menebus semua kesalahan saya terhadap Tuan Rey. Saya benar - benar minta maaf," ucap Nicho penuh sesal.
"Aku memang sudah memaafkanmu, tapi kecewaku belum semuanya menghilang,"
"Saya mengerti, saya memang pantas di benci," kedua bola mata Nicho yang putih mulai memerah dan terlihat berkaca - kaca.
"Tapi bagaimanapun juga, aku tetap berterimakasih," ucap Rey tulus mencoba melupakan kesalahan Nicho di masalalu. Baginya sekarang, kesembuhan Dara yang paling penting.
Kini air mata mulai merembah dari kelopak mata Nicho. Lelaki bermuka pasi itu menangis. Menghianati keluarga Erlangga yang telah menolongnya membuat dia selalu dihantui rasa penyesalan yang dalam.
"Saya benar - benar minta maaf, saya menyesal," ucap Nicho sembari memeluk erat tubuh Nesya.
Di sela kesedihannya, Nicho merasakan tubuh Nesya menggeliat meminta turun dari pangkuannya. Dengan hati - hati Nicho pun menurunkannya tapi masih di dalam pengawasannya.
Bayi yang baru saja bisa berjalan tersebut melangkahkan kakinya pelan hingga dia berhenti di sebelah tempat Rey terduduk. Tangannya yang mungil mengulur ke arah pria tampan yang sedang memasang muka dingin tersebut.
Rey masih terdiam menyaksikan tingkah lucu bayi Nesya. Pria itu tidak mengerti maksut dari si bayi.
"Sepertinya Nesya ingin di gendong Tuan," ucap Nicho dengan senyuman tipisnya.
"Apa? tapi aku nggak bisa gendong bayi," tandas Rey.
Nicho lantas mengangkat tubuh kecil Nesya untuk sedikit menjauh dari Rey, namun tubuh kecilnya meronta - ronta dan tangannya masih saja mengulur ke arah Rey.
"Coba kamu taruh dia di sini," titah Rey seraya menepuk pelan pahanya.
Nicho pun meletakkan bayi Nesya di atas pangkuan Rey. Ini adalah pengalaman pertama bagi Rey.
Bayi Nesya menengadahkan mukanya yang polos ke arah Rey yang sekarang juga sedang menatapnya. Matanya yang bulat terlihat berbinar - binar. Seakan memberikan sebuah isyarat. Seakan dia ingin berkata "Tolong maafkan Papa Nesya. Dulu Papa hanya ingin melindungi Nesya dari Mama," begitulah yang akan terucap seandainya dia bisa berbicara.
Raut muka Rey yang dingin berubah menghangat karena keberadaan bayi Nesya di dekatnya. Tiba - tiba matanya menatap nanar muka bayi mungil yang masih polos tak berdosa tersebut.
"Andai calon bayiku lahir di dunia waktu itu, pasti sekarang umurnya hampir sama dengan kamu," gumam Rey lirih. Terulas senyuman getir pada mukanya.
Sedangkan Nicho hanya bisa menatap sendu pemandangan yang ada di depannya sekarang.
"Andai dulu aku tidak membantu Bella. Mungkin sekarang Tuan Rey bisa hidup bahagia bersama istri dan anaknya," Batin Nicho yang masih dipenuhi dengan penyesalan.
Bersambung~~