
Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..
✓Like 👍
✓Coment 💬
✓Rate 5 ⭐
✓Vote 💰
Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗
🍂Selamat membaca🍂
Hari sudah menjelang pertengahan siang. Matahari menjulang tinggi pas di atas kepala. Dimas yang sedari tadi duduk di ruang tamu menunggu putrinya datang. Dara sudah berjanji akan menginap dirumahnya waktu hari Minggu.
Beberapa hari ini, entah mengapa dia sangat dirundung rindu akan putrinya. Sebab itu dia meminta putrinya untuk menginap sehari di rumahnya.
Sejak kemarin dia tidak dapat menghubungi putrinya, karena nomernya tidak aktif. Begitu juga dengan menantunya Rey.
"Tidak seperti biasanya seperti ini,"
"Ada apa dengan kamu Nak?" gumam Dimas.
"Uhuk! uhuk!" beberapa hari ini memang kondisi tubuhnya seperti tidak bersahabat. Obat langganan yang rutin dia minum seakan tidak memberi efek lebih, tidak seperti dulu.
Tap..
Tap..
Tap..
Terdengar suara langkah kaki asisten pribadi yang mendekati Dimas dengan sebuah nampan di tangannya. Di atas nampan sudah tertata rapi beberapa butir obat serta air hangat.
"Tuan sudah waktunya Anda minum obat," ucap si asisten seraya mengulurkan nampan obat.
Dimas mengambil gelas yang berisi air hangat dan meraih butir - butir obat satu persatu lalu meminumnya.
"Terimakasih ya," ucap Dimas seraya mengembalikan gelas di atas nampan.
"Tuan, apa tidak sebaiknya anda beristirahat di kamar saja?" kondisi tubuh Tuan sedang tidak baik." Saran si asisten.
"Baiklah," dia pun beranjak dari duduknya.
"Oya nanti segera kasih tahu saya, jika putri saya datang," titah Dimas.
"Baik Tuan,"
Dimas sudah melangkahkan kakinya menuju tempat istirahatnya, namun gerakkan langkahnya terhenti karena terdengar suara Security rumahnya memanggilnya.
"Permisi Tuan, ada tamu yang ingin mencari Tuan. Sekarang dia masih menunggu di depan gerbang," Lapor si Security.
"Siapa ya?" tanya Dimas.
"Dia mengaku namanya Bella,"
"Siapa Bella?" batin Dimas yang tidak mengenali orang bernama Bella.
"Baik, suruh dia masuk,"
"Baik Tuan,"
Security berbadan tegap itu kemudian berlalu menuju gerbang depan. Selang tidak lama terlihat Bella muncul dari balik pintu. Kedatangannya tentu membuat Dimas heran. Dia belum pernah bertemu dengan wanita di depannya sekarang.
"Maaf telah menyita waktu Anda," ucap Bella seraya mendaratkan bokong pada sofa empuk tanpa meminta izin pada Tuan rumah.
"Siapa kamu?" tanya Dimas yang mulai tidak suka pada tamu yang di anggap tidak punya sopan santun itu.
"Saya datang untuk memberitahukan sesuatu yang seharusnya anda tahu,"
"Beritahukan apa yang belum saya tahu,"
"Putri anda telah menyembunyikan fakta bahwa dia dimadu,"
"Saya adalah maduny dan saya sekarang sedang mengandung darah daging menantu anda," Jelas Bella gamblang.
"Apa?!" Dimas terkejut dengan apa yang didengarnya dari mulut Bella. Jantungnya mulai berdenyut hebat.
"Apa tujuanmu datang kemari?!" Dimas mulai curiga.
"Tidak ada maksud lain. Saya hanya ingin anda tahu saja. Saya juga istrinya Rey,"
"Setidaknya saya juga ingin diakui," ucap Bella ringan.
"Apa Anda juga tidak tahu? selama ini, putri kesayanganmu itu selalu diperlakukan buruk sama Mama Mertuanya?" senyum melecehkan tersungging di bibir Bella.
"Jadi selama ini putriku tidak hidup bahagia?!" Dimas tidak percaya. Selama ini Dara selalu terlihat bahagia dengan pernikahannya.
"Mertua yang jahat dan suaminya menikah lagi. sepertinya tidak ada cela baginya untuk bahagia," Bella tersenyum sinis.
Dimas benar - benar terluka. Hatinya begitu perih. Selama ini putrinya hidup dengan menyedihkan dan dia tidak tahu akan hal itu. Kenyataan yang baru saja dia ketahui terlalu mengejutkan.
Lagi - lagi Dimas merasakan denyut jantung yang begitu dalam, hingga terasa sakit. Paru - parunya seperti sulit untuk bekerja normal. Matanya memerah karena dadanya sangat sesak.
Bella yang menyadari keadaan Dimas mulai drop, pergi meninggalkannya begitu saja. Dia berlalu dengan senyuman kepuasan.
"Dara .. Dara.. Penderitaanmu belum waktunya berakhir. Sayang sekali ya," bisikan iblis Bella.
"Bi..! Bibi.. !" panggil Dimas yang kesakitan.
"Tuan..! apa yang terjadi?!" si asisten melangkah cepat setelah mendengar panggilan Tuannya.
"Ambilkan saya obat!" pinta Dimas yang masih menahan sakit.
"Baik Tuan, mohon bertahan!" pinta asisten yang mulai panik.
Namun belum jauh si asisten melangkahkan kakinya untuk mengambil obat, tubuh Dimas sudah tersungkur jatuh ke lantai. Perlahan - lahan kesadarannya pun menghilang.
* * *
Kayla memarkirkan mobil sedan bewarna merah di halaman parkir Rumah Sakit. Dia turun dari mobilnya. Terlihat tangan memegang paper bag berisi makan siang. Dia melangkahkan kakinya cepat, karena tidak ingin buat sahabatnya Radit yang sedang menjaga Dara itu kelaparan.
Beberapa meter lagi dia sudah akan memasuki area lobby Rumah Sakit. Dari kejauhan terdengar suara sirine ambulan yang berhenti tepat di depan lobby pintu masuk Rumah Sakit.
Terlihat beberapa perawat dengan cekatan menangani seorang pasien yang berada dalam ambulan. Namun mata Kayla membulat sempurna setelah melihat dua orang perawat menurunkan dan memindahkan seorang pasien ke atas brankar Rumah Sakit.
Betapa terkejutnya dia melihat Dimas ayah sahabatnya dalam kondiis terkapar tidak sadarkan diri disana. Kayla pun berlari mendekatinya.
"Apa yang terjadi?" tanya Kayla panik pada si asisten yang mendampingi Dimas.
"Sakit jantung Tuan tiba - tiba kambuh Nona," jawab si asisten yang memang sudah mengenali Kayla.
"Ya Tuhannn!" Kayla menghentikan langkahnya. Dia mencoba berfikir keras. Dia ingin segera memberitahu kondisi Ayah Dimas ke Dara, namun di sisi lain Dara psikis Dara masih lemah setelah paska keguguran.
"Hah! sebaiknya gue melihat Dara dulu, sambil memantau keadaan Ayah Dimas," gumam Dara.
* * *
Ceklek!
Terdengar suara handle pintu yang memutar yang diikuti tubuh Kayla muncul di balik sana. Dia masuk ke dalam mendekati ke dua sahabatnya.
"Dit, nih gue bawakan makan siang buat lo," seraya meletakkan paper bag berisi makanan di atas meja.
"Terimaksih Kay," Ucap Radit.
"Ra.. gimana keadaanya lo sekarang? apa masih sakit?" tanya Kayla yang masih tersirat kecemasan pada raut mukanya.
"Gue dah mendingan ko Kay,"
"Kay, ko makan siangnya cuma ada satu porsi. Lo nggak makan?" sela Radit sembari mengeluarkan makanan dari wadahnya.
"Gue tadi udah makan kok Dit. Lo buruan makan. Sejak tadi malam lo belum makan kan? gue nggak mau semua sahabat gue sakit," timpal Kayla.
"Oke, gue makan dulu ya," Radit seraya membuka bungkus makanannya.
Pandangan Kayla sekarang beralih ke Dara. Mukanya menatap sendu sahabatnya itu. Meskipun Dara selalu menampilkan senyuman, tapi tetap saja masih terlihat guratan kesedihan disana.
"Ra. Lo udah makan?" tanya Kayla sembari mengusap lembut tangan sahabatnya yang masih terlihat pucat itu.
"Udah ko Kay. Makanan Rumah Sakit nggak ada rasanya, nggak enak!" Dara menampilkan wajah cemberut.
"Haha.. namanya juga makanan orang sakit. Kalau mau yang enak ya di warung," canda Kayla.
"Dit, lo makan kayaknya enak bener, nggak ada niat nawarin ke gue?" gerutu Dara kesal.
"Jangan harap gue tawarin ke lo," tandas Radit karena tahu Dara belum di ijinkan makan sembarangan.
"Hehe.. kan lo sementara nggak boleh makan sembarangan Ra," timpal Kayla.
"Iya.. Iya, gue ngerti," gerutu Dara.
Sesaat suasana kesedihan tersisihkan dari kamar VIP Rumah Sakit itu. Setidaknya kehadiran kedua sahabatnya, Radit dan Kayla dapat memberi sedikit obat pelipur lara bagi Dara.
Suasana hening sejenak. Raut muka Kayla terlihat sedang menyimpan sesuatu.
"Kapan waktu yang tepat gue kasih tahu Dara tentang Ayahnya?" ucap Kayla di dalam hati.
Bersambung~~