
Dara terlihat sibuk dengan laptopnya. Jari - jari rampingnya terlihat lincah menari - nari di atas keyboard. Hari ini tidak seperti biasanya. Dia berangkat ke kantor lebih awal. Bertujuan ingin segera mendapat kesibukan agar bisa melupakan permasalahan rumahtangganya akhir - akhir ini. Meskipun itu hanya bersifat sementara.
Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang. Dara masih belum beranjak dari kursi kebesarannya. Tanpa disadari, jam makan siangpun terlewatkan.
Tok.. Tok.. Tok..
Terdengar beberapa kali suara ketukan pintu yang tentu saja hal itu membuyarkan kosentrasinya. Terlihat Kayla melenggang memasuki ruangan dengan membawa kantong plastik yang berisi makanan. Mendekati Dara sahabat karib serta atasannya itu. Meletakkan bawaannya di atas meja Dara.
Kayla sangat memahami apa yang tengah dirasakan sahabatnya itu. Dia sudah mengetahui hal - hal yang baru saja menimpa Dara.
Awalnya Dara masih bertahan menutup mulutnya. Dia enggan menceritakan masalah yang sedang didapatinya, karena tidak ingin sahabatnya itu khawatir.
Tapi apalah daya, Kayla terlalu ahli dalam membuka mulut lawannya. Apalagi Kayla sangat hafal dengan sahabatnya itu. Sehebat apapun Dara berusaha menutupi perasaannya agar orang lain tidak mengetahuinya, tapi hal itu tidak berlaku untuk Kayla.
"Ra.. Lo makan dulu gih. Sayangi badan lo,"
"Bentar lagi Kay, nanggung nih. Kerjaanku hampir selesai,"
"Gue tahu, kerjaan lo itu cuma pelampiasan. Buruan nih dimakan. Keburu dingin loh. Gue beliin nasi uduk Pak Amang kesukaan lo,"
Dara masih saja asyik dengan layar laptop di depannya.
Kayla memasang muka jengah karena sikap sahabatnya itu. Dengan cepat dia melesatkan tangannya pada benda yang ada di depan Dara. Mendorong ujung laptop agar terlipat. Seketika Dara menghentikan kegiatannya.
"Lo apaan sih Kay? Nanggung tau,"
"Tahu nggak sih, gue bela - belain beliin nasi uduk kesukaan lo. Gue harus antri panjang panas - panasan. Lo ngerti kan warung Pak Amang itu pembelinya berjubel," Gerutu Kayla.
"Yaelah Kay, gue tahu lo nyuruh bawahan lo untuk belikan ini nasi uduk. Bukan lo yang beli sendiri,"
Kayla yang mendapati perkataan monohok sahabatnya itu cuma bisa nyengir kuda.
"Hehehe.. Lo ko bisa tahu sih?" ucap kayla, yang kemudian mendaratkan pantatnya pada kursi depan meja kerja Dara diikuti dengan memposisikan kaki kanan di atas kaki kirinya. Kedua sikunya bersender pada kedua pegangan kursi. Matanya menatap lurus ke Dara.
"Gue tahu Ra bagaimana perasaan lo sekarang. Yaaa. Meskipun gue belum pernah ngrasain nikah,"
"Tapi gue tahu, lo butuh energi untuk menghadapi semua ini,"
"Lo nggak sendiri Ra, Gue akan selalu suport lo. Gue sayang sama lo. Sebaiknya lo makan sekarang. Jangan buat gue cemas karena sakit," ucap Kayla.
"Maafin gue Kay. Bukan maksut gue buat lo cemas," ucap Dara sendu.
"Haaah!" Dara menghela napas.
"Gue cuma butuh waktu aja Kay. Ini semua terlalu tiba - tiba," Dara mengusap rambutnya gusar.
"Iya nggak apa - apa. Tenangkan diri lo dulu," Kayla meraih tangan Dara. Memberi usapan lembut sebagai tanda dukungan.
"Makasih ya Kay. Aku pasti kuat ko,"
"Good job. I'll be there for you,"
Kayla lalu membuka nasi uduk yang dibelinya tadi. Meletakkannya tepat di depan Dara. Belum selesai begitu saja. Kayla terlihat sibuk dengan makanan itu. Mengambil satu sendok nasi yang dilengkapi dengan daging ayam, di arahkan ke mulut Dara. Dia berusaha menyuapi sahabatnya itu. Dara menyambutnya dengan membuka mulutnya agar makanan itu bisa masuk ke mulut. Kayla masih terus menyuapi sahabatnya itu.
"Gue nggak nyangka, masalah lo itu berakibat fatal pada salah satu organ tubuh lo,"
"Maksut lo?"
"Iya ini, tangan lo jadi malas untuk sekedar memasukan makanan ke mulut lo sendiri," ejek Kayla untuk memecahkan suasana melow daritadi.
"Idih! lo sahabat gue bukan sih?! nggak iklas banget!" ucap Dara ketus sembari mengambil sendok dari tangan Kayla dan mulai makan dengan tangannya sendiri.
"Lo keenakan sih. Hahaha,"
Secepat kilat raut muka Kayla berubah ke mode serius.
"Lo lupa, pekerjaan gue juga numpuk, nggak kelar - kelar,"
"Lo tau sendiri siapa biang keroknya,"
Dara hanya bisa tersenyum masam, karena menyadari sindiran Kayla.
"Iya.. Iya. Itu fungsinya gue bayar lo mahal! ucapnya ketus.
"Hahaha. Oke kalau gitu gue cabut dulu. Makannya dihabisin. Awas kalau masih ada sisa," ucap Kayla sambil menggoyangkan satu jari telunjuknya sebagai tanda ancaman.
Setelah tubuh Kayla menghilang di balik pintu. Dara menampilkan senyuman tipis pada mukanya dan melanjutkan makan siangnya yang sempat tertunda tadi.
Namun lagi - lagi kegiatan makan siang terhenti karena terdengar suara deringan telepon. Tangannya menggapai gagang telepon dan diletakkan dekat telinganya.
"Iya,"
"Maaf Bu Dara, Bu Rani ingin bertemu,"
"Mama? Ada masalah apa lagi sampai datang kemari?" Batin Dara
"Iya, persilahkan beliau masuk,"
Tak butuh lama setelah panggilan telepon terputus. Sekarang Rani sudah memasuki ruangan Dara. Dia tidak datang sendiri. Dia bersama Bella. Tentu saja hal itu memberikan pertanyaan besar pada diri Dara.
Dara beranjak dari duduknya, mendekati Rani hendak bersalaman dan mencium tangannya. Tapi ketulusannya itu selalu diakhir dengan penolakan. Lagi dan lagi Dara dipermalukan di depan Bella. Wanita yang sekarang dikabarkan sedang mengandung anak dari suaminya.
Dara masih bersikap tenang dan mulai membuka pembicaraan.
"Ada apa Mama sampai repot - repot datang ke kantor saya? ada yang bisa saya bantu?"
"Aku datang karena Bella ingin berbicara langsung denganmu,"
"Kalau dia datang sendiri pasti perlakuan buruk yang akan dia dapatkan dari kamu!"
"Maka dari itu, aku temani dia,"
"Ya Tuhan, kenapa mama selalu berpikiran buruk tentang aku," ucapnya dalam hati.
"Mama, saya mohon jangan berbicara seperti itu. Saya yakin kak Dara orang baik," ucap Bella memohon.
"Mama? sejak kapan Bella berhak memanggilnya Mama? Dia bahkan belum sah menjadi menantunya." Dara membatin lagi.
"Kak maafkan aku jika menyita waktumu. Aku benar ingin berbicara denganmu."
"Apa yang ingin kamu bicarakan? Silahkan, bicaralah," ucap Dara dengan wibawa. Sebenarnya merasa aneh mendengar Bella manggil dia kakak.
"Aku mohon padamu untuk mengiklaskan suamimu menikah denganku,"
"Aku sadar, aku seperti wanita tak tahu malu."
"Tapi aku tidak punya pilihan lain."
"Aku hanya wanita miskin, yang aku punya hanya harga diri, tapi aku juga korban disini,"
"Bagaimana jadinya, jika orangtuaku tahu aku hamil tanpa suami?" Kelopak mata Bella mulai digenangi air mata.
"Kata - katamu seolah bahwa aku yang telah menzalimimu," ucap Dara datar.
"Bu..bukan begitu maksutku kak," Bella berkilah.
"Kamu jangan egois. Apa kamu tak punya sedikitpun belas kasihan?!" Rani menyela.
Bella mengusap pundak Rani sembari menggelengkan kepalanya pelan. Bertujuan agar Rani bisa menahan emosinya.
Dara menatap nanar keakraban Bella dan mertuanya itu. Dalam waktu singkat dia bisa mengambil hati mertuanya. Mertua yang dari dulu membencinya.
"Kak, setidaknya kasianilah bayi yang ada di dalam perutku ini. Dia anak suamimu juga," Bella memohon.
"Kamu tidak perlu memohon seperti itu. Karena pendapatku disini tidak pernah dihargai,"
"Sekuat apapun aku menolak, pada akhirnya kalian akan tetap menikah juga,"
"Apalagi ada Mama Rani di belakangmu," tandas Dara yang mulai berani.
Rani yang mendengar ucapan berani Dara langsung menatap tajam ke arah Dara.
"Ohh. Sekarang kamu sudah mulai berani jadi menantu ya?!" ucap Rani geram.
"Sejak kapan Mama anggap saya sebagai menantumu?" sindir Dara.
"Kamu! Awas ya!" Rani geram. Tangannya hampir melayangkan satu tamparan ke muka Dara. Tapi dengan cepat Bella menghalanginya.
"Sudah Ma.. sabar. Tolong maafin kata - kata kak Dara,"
Dara tertegun tak percaya setelah mendengar perkataan Bella. Seakan disini dialah yang berbuat salah. Padahal Dara adalah pihak yang paling tersakiti.
"Coba kamu lihat, Bella masih saja membelamu meski dia tersakiti. Aku lebih senang kalau dia yang menjadi menantuku!"
"Dasar wanita mandul!"
"Rey benar - benar buta!"
"Maa.. Sudah. Lebih baik kita pulang sekarang," ajak Bella.
"Kak, maaf ya. Kedatangan kami malah memperkeruh suasana," mohon Bella.
Kemudian mereka beranjak pergi. Setelah tubuh mereka menghilang di balik pintu, disaat itu pula tubuhnya lunglai lemas tak berdaya. Beberapa saat yang lalu, dia berusaha mempertahankan benteng pertahanannya. Tidak ingin terlihat lemah di depan kedua wanita tadi.
Dadanya berdenyut hebat. Mencoba menggenggam erat dadanya, berharap rasa sakitnya berkurang. Namun upayanya tak membuahkan hasil. Rasa sakitnya masih betah bersemayam disana. Kedua netra cantiknya mulai tergenang cairan bening dan dengan mudahnya lolos begitu saja.
Bersambung~~
Jangan lupa mampir di karya author satunya lagi ya, masih on going. Ditunggu kunjungannya🥰