Luka Cinta Dara

Luka Cinta Dara
Bab 59 Gugatan perceraian



Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..


✓Like 👍


✓Coment 💬


✓Rate 5 ⭐


✓Vote 💰


Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗


🍂Selamat membaca🍂


Percakapan antara kedua sahabat masih berlanjut.


"Maksutnya apa Kay?" tanya Dara yang memang tidak mengerti.


"Rey memang berusaha menjauh darimu Ra," jawab Kayla.


"Gue masih inget betul ketika dia menangis tersedu - sedu saat lo koma," timpalnya lagi.


"Bangunlah dan aku akan menuruti semua permintaanmu? termasuk pergi dari kehidupanmu. Tapi berjanjilah untuk bangun," Kayla mengikuti gaya bicara Rey serta ekspresi sedihnya.


"Baguslah kalau begitu. Gue sekarang bisa bebas," ucap Dara dengan raut muka tak terbaca.


"Lo beneran nggak nyesel?" goda Kayla dengan bibirnya yang menyebik.


"Nggak lah, ngapain gue nyesel. Rey sudah banyak nyakitin gue," Dara memalingkan mukanya ke arah luar jendela mobil, tidak ingin Kayla membaca raut mukanya.


"Gue pikir - pikir, apa yang dikatakan Nicho sebelum meninggal itu benar lo Ra. Lo bisa memaafkan Nicho yang jelas - jelas sebagai pangkal permasalahanmu selain Bella, tapi..." kalimat Kayla terputus.


"Tapi kenapa gue nggak bisa memaafkan Rey? begitukan yang ingin lo katakan?" sela Dara.


"Iya,"


"Justru Rey adalah orang yang paling gue cintai Kay. Orang yang paling gue butuhkan untuk tempat bersandar. Tapi dia malah menyakitinku dan nggak mempercayaiku. Katanya dia cinta sama gue? tapi mana buktinya? dia malah lebih percaya dengan Bella, sehingga buat gue kehilangan janin di dalam perut gue. Itu bahkan lebih menyakitkan bagiku,"


"Tapi nyatanya, hingga sekarang lo sebenarnya pun masih membutuhkan suamimu,"


"Nggak, gue nggak butuh," seru Dara.


"Hidup itu lucu. Kadang orang yang menyakiti kita justru dialah orang yang juga bisa mengobati rasa sakit kita," Kayla tersenyum getir.


Dara masih sulit mencerna perkataan Kayla.


"Lo nggak percaya? coba deh lo bertemu dengan Rey, gue yakin rasa sakit lo akan berkurang atau bahkan lo bisa lupa dengan rasa sakit hati lo,"


"Bagaimana mungkin Kay, justru kalau gue bertemu dengan Rey, membuat gue merasa sedih,"


"Iya, gue percaya lo bakal merasa sedih, tapi dengan alasan yang sudah berbeda. Kesedihanmu bukan lagi karena Rey pernah menyakitimu, melainkan karena Rey sekarang nggak ada di samping lo saat lobbutuh sandaran darinya,"


"Hah! sudahlah. Lo itu sahabat gue bukan sih? kok malah bela si Rey?" ucap Dara dengan cemberut.


"Justru lo itu sahabat gue, makanya gue berkata seperti ini. Kalau orang lain mana mungkin gue pikirin," timpal Kayla di sela senyuman gelinya karena tingkah sahabatnya tersebut.


"Tau ah gelap!" sungut Dara.


"Loh Ra? kok gelap? mata lo nggak apa - apa kan? apa kita kembali lagi ke Rumah Sakit?" Kayla berlagak cemas yang di akhiri dengan kekehan tawanya.


Ponsel Kayla berdering di sela keseruannya menggoda Dara. Nama yang kini menghiasi layar ponselnya semakin membuat senyumannya merekah. Tentu saja Dara menyadari perubahan raut muka Kayla saat ini.


"Halo Dit," sapa Kayla setelah menekan tombol bluetooth handfree.


"Ow, ternyata Radit yang menelepon, pantesan.. Uluh.. Uluh.. kali ini bakal gue yang ganti godain lo Kay," Batin Dara dengan senyuman jahilnya.


"Kay, gimana hasil dari check mata Dara? apa dia bisa melihat sekarang?" tanya Radit di balik sambungan telepon.


"Iya, sekarang Dara bisa melihat dengan normal seperti biasanya. Penglihatannya untuk sekarang memang masih sedikit kabur tapi bakal membaik setelah beberapa hari," jelas Kayla bersemangat.


"Syukurlah kalau begitu. Oke besok gue baru bisa njenguk Dara, hari ini pekerjaan kantor gue masih banyak soalnya,"


"Oke,"


Tut. Panggilan berakhir. Namun masih terulas senyuman di muka cantik Kayla.


"Ehem! Panggilan sudah berakhir, tapi muka lo nggak usah senyum - senyum gitu," sindir Dara yang melihat senyuman Kayla masih merekah meskipun panggilan Radit sudah berakhir.


"Apa'an sih lo Ra?"


"Keliatan banget kalau lagi berbunga - bunga. Habis di telpon abang Radit ya...,?" Dara balik menggoda.


"Iya Ra, emang kenapa sih?"


"Gue tahulah Kay, nggak usah ditutup - tutupin?" Dara mentoel - toel lengan Kayla yang sedang menyetir.


"Gue tahu lo suka sama Radit," tambahnya lagi.


"Ha..haha.. mana mungkin gue suka sama pria mesum seperti dia," Kayla berkilah seraya ketawa yang dibuat - buat.


"A..aaah.. ini karena Ac mobilnya kurang dingin, jadi terasa ungkep nih," Kayla masih saja berkilah seraya menambah suhu Ac mobil. Terlihat gelagatnya yang salah tingkah.


"Tidak seperti biasa Kayla menutupinya dari gue ketika dia suka sama cowok. Apa karena cowok itu Radit ya?" Dara beropsi di dalam hati.


"Gue nggak mungkin cerita ke Dara kalau gue suka sama Radit, karena Radit jelas - jelas cintanya sama Dara," Batin Kayla.


Mereka berdua sibuk dengan pikirannya masing - masing. Akhirnya setelah beberapa menit perjalanan mereka sampai pada halaman rumah Dara. Kayla pun mengantar Dara sampai di dalam rumah.


"Kay, lo nggak tinggal dulu?" tanya Dara.


"Nggak dulu deh Ra, gue harus kembali ke kantor. Gue khawatir gaji gue bakal di potong sama si Bos besar kalau gue banyak bolosnya," sindir Kayla.


"Hehe, gue juga nggak tega motong gaji lo,"


"Ra, setelah pulih total, sudah waktunya lo balik ke perusahaan milik lo,"


"Tentu saja, gue akan meminta kembali jabatan yang lo pegang sekarang,"


"Haha.. dengan senang hati,"


"Ya sudah gue pergi sekarang, sampai bertemu besok,"


"Hati - hati ya Kay,"


"Oke,"


Kayla pun berlalu dari hadapan Dara. Setelah tubuh Kayla sudah menghilang, Dara pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


* * *


Dua hari setelah pelepasan perban di matanya, kini kedua mata bening Dara sudah dapat melihat dengan jelas. Kondisi tubuhnya pun sudah siap untuk melakukan aktivitas pekerjaan kantor lagi. Rencananya besok dia akan datang ke perusahaan miliknya dan mulai memantau sendiri hasil kinerja para karyawannya.


Saat ini wanita cantik itu sedang duduk di depan meja rias. Kedua netranya sedang menatap sendu selembaran kertas yang baru dia dapatkan dari seorang tamu pria yang berprofesi sebagai Pengacara perceraian.


Iya, Rey mengajukan surat gugatan perceraian yang dibantu oleh seorang Pengacara. Di atas selembaran kertas tersebut terlihat sebuah tanda tangan dengan nama Rey Vanno Erlangga yang sudah tertera.


Bukannya senang karena permintaannya untuk berpisah akhirnya disetujui oleh suaminya, tapi Dara malah semakin bingung tentang perasaannya. Dia tidak tahu kemana perasaannya tertuju.


"Hah..!" Dara mendesah berat.


"Mungkin hubungan ini memang sudah tidak bisa dipertahankan lagi," gumam Dara dengan dirinya sendiri.


"Sebaiknya segera aku akhiri saja semuanya dan aku bisa memulai hidup baru," sambungnya lagi.


Dara pun meraih pena hitam dari atas mejanya. Hendak melengkapi tempat tanda tangan yang masih kosong. Ujung penanya sudah tertandas tegas di atas kertas tersebut, namun tiba - tiba niatnya terhenti, karena terdengar suara getaran ponsel yang juga berada satu tempat dengan secarik kertas tersebut.


Di layar benda pipihnya ada notifikasi pesan singkat yang masuk dengan nomor telepon tanpa nama. Tanpa menunggu lama, wanita cantik itu pun membuka pesan tersebut.


Aku mau meluruskan semua perkataanku pada hari pernikahan Jenita waktu lalu. Aku memang sudah mengada - ada ceritaku. Selain kenyataan Rey memang mantan tunanganku, semuanya adalah bohong. Nandira.


Begitulah pesan singkat yang dikirim oleh Nandira. Tanpa ada kata maaf yang menunjukkan penyesalannya.


* * *


"Sialan! kalau bukan karena si Rani wanita tua itu, aku nggak bakal sudi mempermalukan diriku dengan mengirim pesan ke Dara," Nandira yang sedang duduk di tepi ranjang terlihat sangat kesal.


"Awas saja kalau perselingkuhanku sampai kebongkar, brarti Rani biang keroknya," gerutunya lagi.


"Apa maksut perkataanmu barusan?!" tanya Arka yang ternyata sudah berada di luar pintu yang memang tidak tertutup.


Tubuh Nandira langsung terperanjat dari duduknya karena suara suaminya yang tiba - tiba terdengar dari belakang.


"Sayang kamu mengagetkanku loh. Kamu kok kembali lagi? bukannya tadi sudah berangkat kerja?" Nandira mencoba menutupi kegugupannya.


Arka memang sudah berangkat kerja beberapa waktu yang lalu, namun dia harus kembali karena berkas pasien ada yang ketinggalan, jadi dia harus kembali ke rumahnya.


"Jawab pertanyaaku sekarang? Dengan siapa kamu selingkuh?! hah?!" bentak Arka yang sudah tersulut sumbu api amarah.


"Kamu salah dengar sayang, aku nggak selingkuh kok," Dira masih berkilah.


Di sela - sela suasana yang memanas, tiba - tiba ponsel Nandira berdering. Wanita itu terkejut saat mengetahui siapa yang menelpon. Dengan cekatan ibu jarinya menekan tombol merah yang tertera di benda pipihnya untuk menolak panggilan. Namun lagi - lagi ponselnya berdering seperti belum puas karena tidak mendapatkan jawaban.


Kali ini secepat kilat tangan kekar Arka menyabet HP pintar pengeluaran terbaru itu dari tangan istrinya. Dia melihat tertera nama Marco yang muncul di layar ponsel. Tanpa berfikir panjang, dia langsung mengangkat panggilan tersebut.


"Halo sayang, aku sudah berada di hotel biasanya tempat kita berkencan. Buruan datang ya, aku sangat merindukan tubuhmu," ucap seorang pria yang dicurigai sebagai selingkuhan Nandira tanpa menyadari bahwa bukan Dira yang sedang mengangkat teleponnya tetapi Arka.


Arka sangat dibuat syok dengan ucapan pria yang tertuju kepada istrinya yang terdengar sangat tidak pantas. Kedua bola matanya memerah. Dadanya terlihat naik turun karena amarah yang sudah sampai ke ubun - ubun.


"Ow.. jadi selama ini kamu bermain dengan pria lain di belakangku. Aku kira kamu akan berubah setelah kejadian penghianatanmu antara aku dan Rey waktu itu. Ternyata aku salah, tabiat burukmu itu sudah berakar tunggang pada dirimu," Suara bariton Arka menggema di dalam ruangan.


"Sa..sayang, memang apa yang dikatakan orang di telepon tadi?" Nandira mulai panik.


"Arggggg!" Arka berteriak frustasi.


"Tidak perlu kamu tutupi perselingkuhanmu lagi karena aku sudah tahu sekarang! Hari ini aku akan langsung mengurus surat perceraian kita!" ucap Arka dingin.


Bersambung~~