Luka Cinta Dara

Luka Cinta Dara
Bab 70 Tubuhmu bau part 2



Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..


✓Like 👍


✓Coment 💬


✓Rate 5 ⭐


✓Vote 💰


Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗


🍂 Selamat membaca 🍂


Suara gemericikan air kamar mandi sudah tidak terdengar lagi. Sepertinya Rey sudah selesai melakukan aktivitas bersih - bersihnya. Selang tidak lama, pria tampan itu tampak keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalutkan handuk di pinggangnya. Baru satu langkah dia hendak menuju ke walk in kloset, lagi - lagi harus terhenti dan tubuhnya tercekat karena kaget.


"Kenapa kamu masih bau? apa kamu tidak membersihkan tubuhmu dengan benar?" hardik Dara yang masih diselubungi rasa mual.


"Hmp! hmp!" Dara terasa ingin muntah tapi tidak sampai mengeluarkan isinya.


"Tapi sayang, aku sudah mandi. Tubuhku juga sudah wangi," sanggah Rey dengan raut muka memelas.


"Kembali ke kamar mandi dan bersihkan lagi tubuhmu," titah Dara sembari mengibas - ngibaskan tangannya agar Rey segera pergi dari hadapannya.


"Hah! handukku saja masih terlampir di pinggang, sudah disuruh mandi lagi. Sepertinya hidungnya yang bermasalah," gerutu lirih pria itu pada diri sendiri yang kebetulan tertangkap oleh telinga sang istri.


"Apa kamu bilang? siapa yang bermasalah?" seru Dara kesal, ditambah lagi rasa mual yang masih saja bergejolak membuat emosinya gampang sekali tersulut.


"Nggak kok, yang bermasalah bau tubuhku sayang," Rey berkilah dan dengan pasrah dia kembali ke kamar mandi untuk mengulangi kegiatan bersih - bersihnya.


Di dalam kamar mandi, Rey segera menghidupkan shower dan membasahi tubuhnya. Mengambil 1 botol sabun cair dan tidak tanggung - tanggung menumpahkan semua isinya ke tubuhnya.


"Pasti ada yang salah dengan hidungnya. Aku sudah yakin tubuhku sudah bersih dan wangi. Terus bau dari mana coba? Dasar macan betina, pagi - pagi sudah marah - marah," gerutu Rey lirih yang sedang mandi supaya tidak terdengar Dara.


"Apa kamu bilang?! siapa yang macan betina?! seru Dara dari luar kamar mandi.


Rey tercekat dengan teriakan Dara dari luar. Dia tidak menjawab seruan istrinya. Kali ini dia hanya membatin agar benar - benar tidak terdengar Dara.


"Sejak kapan dia memiliki pendengaran yang sangat tajam? aku sampai kaget dibuatnya," gerutunya di dalam hati sembari menggosok tubuhnya menggunakan spon sabun.


"Tidak usah membatin yang tidak - tidak, aku mengetahuinya," seru Dara lagi dari luar kamar mandi.


Lagi - lagi Rey dibuat tercengang. Kali ini dia lebih memilih tidak mengeluarkan suara maupun membatin.


5 menit kemudian, Rey sudah selesai mandi pagi yang kedua. Iya, waktu masih sangat pagi. Bahkan bi Inah si pembantu rumah tangga belum memulai aktivitas paginya.


Dara yang masih sangsi dengan bau badan suaminya beringsut menjauh menuju pojokan ranjang.


"Sayang apa aku masih bau? aku sudah mandi dua kali," tanya Rey yang kini berada di ambang pintu karena Dara melarangnya masuk ke kamar. Mukanya terlihat memelas.


"Iya, baumu sangat menyengat," takas Dara jujur.


Mendengar perkataan Dara Rey sontak mencium bau ketiak kanan dan kirinya.


"Tidak ada yang salah dengan bau tubuhku sayang, bukankah selama ini kamu menyukai bau tubuhku?" Rey merasa aneh dengan sikap istrinya hari ini.


"Berarti kamu menuduh penciumanku bermasalah?" Dara tidak terima.


"Bukan begitu sayang..., haah," Rey menghela nafas di akhir kalimatnya. Dia merasa pasrah dengan sikap istrinya yang tidak seperti biasanya.


"Terus parfum apa yang baru saja kamu semprotkan di tubuhmu tadi? baunya seperti kotoran tikus, aku nggak suka," tandas Dara, menampilkan raut muka tidak sukanya.


"Itu parfum yang biasa kamu belikan sayang,"


"Mulai sekarang jangan pakai parfum itu lagi. Aku sangat tidak suka. Baunya bikin aku tambah mual dan pusing," tandas Dara.


"Iya sayang, aku tidak akan memakainya lagi,"


"Kalau perlu akan aku gulingkan perusahaan parfumnya biar gulung tikar sekalian," batin Rey yang mengkambing hitamkan perusahaan parfum yang sejatinya tidak bersalah.


"Ya sudah kamu beristirahatlah, aku akan menelpon Mama agar datang untuk menjagamu. Hari ini sebaiknya tidak usah kerja dulu,"


Wanita yang akan menjadi Ibu itu tidak menjawab. Dia lebih memilih menenggelamkan tubuhnya di bawah selimut tebal. Tubuhnya masih merasa lemas karena baru saja berjuang mengeluarkan semua isi perutnya.


Masih berada tidak jauh dari kamar Dara, Rey mencoba menelpon Mama Rani.


Cukup lama Rey menunggu permintaan sambungan teleponnya diterima. Hingga akhirnya suara Mama Rani terdengar.


"Halo sayang, ada apa pagi - pagi sekali sudah menelpon?" tanya Mama Rani di seberang sana.


"Ma, Rey minta tolong Mama temenin Dara si rumah ya, dia dari tadi muntah - muntah tapi tidak mau aku dekati," pinta Rey yang sedari tadi cemas melihat keadaan istrinya.


"Menantu Mama lagi sakit ya?" terdengar suara yang tidak kalah cemas di balik panggilan telpon.


"Iya Ma, Rey tidak tega ninggalin dia kerja kalau keadaan seperti itu, apalagi dia lagi hamil sekarang,"


"Apa? hamil? Dara hamil? syukurlah... akhirnya Mama bakal punya cucu," Mama Rani terdengar antara terkejut dan senang.


Rey memang belum sempat menceritakan kehamilan sang istri kepada orangtuanya. Dia kemarin terlalu bahagia sehingga dia lupa untuk mengabarinya.


"Iya Ma, Dara hamil 5 minggu, Mama buruan datang kemari ya,"


"Ya sudah, Mama akan siap - siap dulu dan segera kesana," jawab sang Mama terdengar semangat karena senang.


Tut. Panggilan berakhir.


* * *


Setelah panggilannya dengan sang putra berakhir, Mama Rani segera membangunkan suaminya yang masih terlelap.


"Ada apa Ma, ini masih subuh," Papa Rengga masih enggan membuka matanya.


"Pa.. bangun, Mama ada kabar gembira," ucap Mama Rani bersemangat.


"Memang kabar gembira apa?" tanya sang suami dengan mata yang masih tertutup.


"Kita akan mempunyai cucu Pa, Menantu kita sedang hamil sekarang," Mama Rani berkata dengan kegirangan.


"Apa?! benarkah?" Papa Rengga langsung membuka matanya dan mengubah tubuhnya dalam posisi duduk.


"Darimana Mama tahu?" sambungnya lagi.


"Iya Pa.. kita akan menjadi Kakek dan Nenek, tadi Rey kita baru saja menelpon dan mengabari kalau Dara hamil,"


"Syukurlah.. kita masih diberi kesempatan untuk menimang cucu,"


"Iya Pa, Mama senang banget,"


"Papa juga,"


"Papa tahu nggak? tadi Rey minta mama datang ke rumahnya untuk menemani Dara yang sepertinya sedang mengalami Morning sickness. Terus dia bercerita Dara tidak ingin didekati Rey," Mama Rani tersenyum dengan raut muka penuh arti.


"Itu mengingatkan ku pada saat kamu sedang mengandung putra kita yang tengil itu. Selama sebulan kamu mengusirku dari rumah karena tidak kuat dengan bau tubuhku," ucap Papa Rengga yang mengulas senyuman kecil di mukanya.


Mama Rani juga tersenyum mendengar ucapan Papa Rengga yang mengingatkan kenangan di saat dia sedang mengandung Putra ke duanya itu. Kalau diingat - ingat kasian juga nasib Papa Rengga dulu.


"Ya sudah Mama akan siap - siap mau ke rumah mereka, Papa juga bersiaplah untuk ngantar Mama," Mama Rani terlihat sangat bersemangat. Sikapnya kepada Dara sekarang memang sudah sangat jauh berbeda dengan dulu. Rasa penyesalannya akan perbuatannya dulu, seakan menguruk karaktek gengsinya yang sempat menjulang tinggi.


* * *


Beberapa menit sebelum Rey berangkat kerja, Mama Rani datang diantarkan sang suami. Tidak lupa seorang malaikat kecil yang belum lama ini menjadi anggota baru keluarga Erlangga juga dibawa serta.


Dengan menggendong Baby Nesya, Mama Rani menapakkan kakinya menaiki tangga yang menghubungkannya ke lantai atas.


Saat ini dia melihat pemandangan yang sekali lagi mengingatkannya pada kenangan masa lalu di saat dia hamil dulu.


Putranya terlihat lesu di depan pintu kamar yang tertutup rapat. Mukanya sangat terlihat kusut.


"Sayang kenapa kamu terlihat lesu begitu?" tanya sang Mama kepada putranya.


"Mah, kenapa lama sekali baru datang? tolong Mama bujuk Dara sekarang agar mau makan. Dia terlihat pucat Ma, Rey nggak bisa tenang kerjanya kalau dia seperti itu," keluh Rey yang merasa cemas tapi masih sempatnya mencubit gemas pipi Baby Nesya yang masih dalam gendongan Mama Rani.


"Itu sudah biasa dialami wanita yang sedang hamil muda sayang, kamu jangan terlalu khawatir," sang Mama mencoba menenangkan.


"Istriku juga aneh pagi ini. Katanya bau tubuhku membuat dia mual. Aku bahkan tidak boleh mendekat," keluh Rey lagi yang menampilkan raut muka frustasi.


Mama Rani terlihat mengulum bibirnya. Melihat ekspresi muka putranya membuatnya ingin tertawa.


"Kamu nggak sendiri. Dulu Papamu juga mengalami nasib yang sama seperti kamu saat Mama mengandung kamu. Coba kamu tanya ke Papamu yang sekarang ada di bawah. Ya sudah Mama mau lihat menantu Mama dulu," ucap Mama Rani lalu meninggalkan Rey.


"Mama sudah datang?" tanya Dara yang menyadari kedatangan Mama mertuanya.


"Halo cantiknya Mami, kamu juga ikut ya sayang? sini ikut Mami," sapa Dara kepada Baby Nesya yang terlihat senang bertemu dengan Maminya.


Dara memang membiasakan Baby Nesya memanggilnya Mami. Sebenarnya Dara sempat menawarkan diri agar Baby Nesya ikut dengannya, namun sang Mama mertua menolaknya. Mengingat putranya baru saja membangun kembali keharmonisan rumahtangganya bersama istrinya setelah cukup lama berpisah, Mama Rani tidak ingin merusak momen kebersamaan mereka. Membiarkan mereka menikmati hari - hari bahagianya terlebih dahulu.


"Sayang bagaimana keadaanmu? apa masih mual?" tanya Mama Rani kepada Dara yang masih duduk bersandar pada papan kepala ranjang.


"Sekarang tidak begitu mual Ma, tapi Dara seperti sulit untuk menelan makanan, seperti tidak berselera," curhat Dara seraya mengambil alih Baby Nesya ke pangkuannya.


"Meskipun sedikit, kamu harus tetap mengisi perutmu sayang, kasian bayimu," tutur sang Mama mertua.


"Mama sangat senang ketika mendengar kabar kamu hamil," sambungnya lagi yang penuh bahagia.


"Iya Ma, Dara juga sangat senang. Akhirnya bisa memberikan cucu Mama,"


"Sekali lagi maafkan atas perlakuan Mama dulu ya, Mama sudah sangat jahat padamu," ucap Mama Rani yang penuh sesal.


"Tidak apa Ma, hal itu tidak perlu dibahas lagi," Dara tersenyum hangat seraya mengusap tangan sang Mertua.


"Terimakasih. Ya sudah sekarang kamu harus makan dulu, kasian bayimu yang di dalam perut," Mama Rani mengambil makanan yang sebelumnya sudah dibawakan Rey dan diletakkan di atas nakas kamar.


"Iya Ma,"


Sedangkan Di lantai bawah Rey sedang berbincang dengan Papa Rengga.


"Apa benar dulu Papa juga mengalami hal yang sama dengan Rey saat ini?" tanya Rey penasaran.


"Iya itu memang benar. Bahkan dulu selama 1 bulan Mamamu mengusir Papa dari rumah karena sangat benci dengan aroma tubuh Papa," beber sang Papa membenarkan perkataan istrinya.


"Apa?!" Rey terperangah mendengar cerita Papa Rengga. Bagaimana kalau Dara juga melakukan hal yang sama. Itu yang ada di pikirannya sekarang.


"Nikmati saja, ini masih belum seberapa. Masih banyak kejutan yang nanti bakal kamu rasakan semasa kehamilan istrimu," tutur Papa Rengga penuh makna.


"Iya Pa," ucap Rey yang kini tertunduk lesu.


"Ya sudah, Papa mau berangkat kerja sekarang. Nanti Papa akan kembali lagi jemput Mamamu," Papa Rengga menepuk bahu putranya kemudian berlalu pergi meninggalkan Rey yang masih dengan pikiran berkecamuk.


Bersambung~~


Nofi mau ucapin banyak terimakasih kepada semua para sesama author maupun para reader setia yang sudah bersedia menyisihkan waktu berharganya untuk mampir memberi dukungan kepada karya kentangku yang mungkin sebentar lagi akan tamat.


Sekalian Nofi mau minta pendapatnya ya. Berhubung ada beberapa pembaca kesayangan yang request cerita tentang Radit dan Kayla. Menurut kalian bagaimana kalau Nofi membuat cerita tersendiri tentang kisah cinta mereka?


Maturnuwun🙏