Luka Cinta Dara

Luka Cinta Dara
Bab 48 Akhirnya bertemu sahabat



Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..


✓Like 👍


✓Coment 💬


✓Rate 5 ⭐


✓Vote 💰


Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗


🍂Selamat membaca🍂


Radit dan Kayla sedang duduk di dalam mobil sedan mewah bewarna biru metalix. Mereka memarkirkan mobil di sekitar area perusahaan keluarga Erlangga tempat Rey bekerja.


Sudah dua jam mereka berada disana. Kedua pasang mata itu terus mengawasi orang - orang yang keluar masuk gedung perusahaan tersebut. Berharap sosok Rey segera muncul.


Kenapa mereka tidak menemuinya langsung di kantor? Alasannya adalah, Rey selalu menolak untuk bertemu. Seolah pria itu mengatahui niat tujuan mereka agar bisa bertemu dengan Dara.


Rey masih saja menjadikan Dara tahanan rumahnya. Keberadaan sahabat - sahabatnya membuat Rey khawatir bahwa akan ada celah bagi Dara untuk kabur dari kediamannya.


"Hari ini kita harus bisa bertemu dengan Rey," Ucap Kayla.


"Kenapa susah sekali untuk bisa bertemu dengannya?" sela Radit.


"Sekarang lo sudah percaya kan sama gue? Rey benar - benar membatasi akses kita untuk bisa bertemu dengannya apalagi dengan Dara,"


"Dia dari dulu memang nggak berubah. Sifat posesifnya masih saja tinggi," timpal Radit yang sudah hafal dengan karakter sahabatnya itu.


"Dit! itu sepertinya Rey. Kita harus bergegas mendatanginya!" seru Kayla, langsung keluar mobil berlari mendatangi orang yang sudah jadi incarannya sedari tadi.


Radit juga bergegas keluar mobil mengikuti Dara.


Rey yang baru saja keluar dari gedung perusahaannya dan hendak memasuki mobil yang sudah siap menjemputnya tiba - tiba terhenti karena terdengar suara panggilan Kayla dari jauh.


Kayla kini sudah berada di hadapan Rey begitu juga dengan Radit.


"Kenapa susah sekali untuk bisa bertemu dengann lo?" tanya Kayla yang masih tersengal - sengal.


"Karena gue memang sibuk," timpal Rey.


"Ijinkan gue bertemu Dara," pinta Kayla.


"Tidak, lo pasti berniat membawanya pergi,"


"Gue cuma ingin bertemu dengan sahabat gue. Gue ingin memastikan dia baik - baik saja,"


"Kenapa? lo ragu dia tidak baik - baik saja jika bersamaku? Kalian nggak berhak ikut campur urusan rumah tangga gue,"


"Gue cuma ingin bertemu dan nggak lebih. Apanya yang ikut campur sih?!" Kayla mulai kesal.


"Tapi gue yakin, sekarang Dara sedang tidak baik - baik saja. Hidup bersama orang yang paling dicintainya namun orang itu juga yang paling banyak menyakiti mana mungkin akan baik - baik saja," sela Radit.


Mendengar perkataan Radit sungguh membuat hati Rey terasa nyeri. Rasa nyeri yang membenarkan lontaran kalimat yang baru saja dia dengar.


Memang saat ini Rey sangat mencemaskan keadaan Dara. Sudah 3 hari ini istrinya menggencarkan aksi mogok makan. Hal itu juga membuat Rey tidak fokus dalam bekerja.


Hari ini Rey memang berniat untuk pulang saat jam makan siang. Bagaimana dia bisa menelan makanan sendirian sedangkan istrinya masih urung untuk mengisi perutnya meski hanya sesuap nasi.


Rey mulai berfikir, mungkin ada baiknya mengajak Kayla dan Radit untuk menemui Dara. Berharap mereka bisa membujuk istrinya untuk mengakhiri aksi mogok makannya.


"Aku memang berniat untuk pulang sekarang. Kalian boleh mengikutiku," ucap Rey kepada Kayla dan Radit.


Akhirnya mereka pun mengendarai mobilnya masing - masing menuju ke kediaman Rey.


Kurang lebih 30 menit perjalanan, mobil mereka sudah terparkir di halaman rumah tempat Dara berada.


Saat memasuki gerbang, Kayla dibuat tercengang karena keberadaan beberapa pengawal di area rumah mewah tersebut. Rey memang tak main - main dalam menahan Dara agar tetap mau tinggal bersamanya. Meskipun dengan cara paksa dia tidak peduli. Saat ini rasa takut kehilangan lebih menghantuinya.


Rey masuk ke dalam kamar Dara dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman.


"Sayang ayo sekarang kamu makan dulu," pinta Rey.


Dara memalingkan mukanya ke arah lain. Tidak menghiraukan usah Rey yang terus menyuruhnya untuk makan.


Rey menatap iba muka Dara yang kini terlihat pucat. Tubuhnya terlihat lemas karena kurangnya asupan makanan selama beberapa hari ini.


"Aku mohon jangan keras kepala," ucap Rey dengan nada sedikit meninggi.


"Aku tidak ingin tinggal di rumah ini," tandas Dara dengan suara lirih. Dia terlihat sudah tidak bertenaga meski hanya sekerdar berbicara.


"Aku tidak akan pernah mengijinkanmu pergi," tegas Rey yang langsung mendapat tatapan tajam Dara.


"Tapi aku mengijinkanmu untuk bertemu dengan sahabat - sahabatmu," timpalnya lagi.


Kali ini perkataan Rey berhasil membuat raut muka Dara terlihat senang. Senyuman tipis terpancar dari bibirnya.


"Benarkah?" tanya Dara meyakinkan.


Dara menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Selang tidak lama, Kayla dan Radit pun muncul dari balik pintu. Dara terlihat begitu senang mengetahui sahabatnya datang. Terlihat senyum ya mulai berkembang, kedua netra mulai berkaca - kaca.


"Kayla? Radit?" panggil Dara bersemangat.


"Hai Ra," sapa Kayla sembari berhamburan memeluk Dara. Sedangkan Radit hanya menampilkan senyuman yang tak terbaca.


"Lo kenapa baru datang?" rengek Dara.


"Lo kenapa terlihat pucat? Lo sakit?" Kayla mengalihkan pertanyaan Dara. Dia tidak ingin bercerita bahwa selama ini suaminya selalu menghalanginya untuk bertemu.


Dara menggelengkan kepalanya di sela senyuman tipisnya.


"Gue nggak apa - apa,"


"Lo sudah makan belum?"


"Dia belum makan, tolong bujuk dia untuk makan," Rey menyela seraya mengulurkan nampan yang berisi makanan dan minuman kemudian berlalu pergi.


"Ra, lo makan dulu ya. Gue suapin," ucap Kayla yang iba kepada sahabatnya itu.


"Gue bisa sendiri ko," tolak Dara.


"Nggak apa - apa, biar gue bantu lo makan, menurutlah,"


Kayla mulai mengaduk - aduk makanan di atas piring. Dengan telaten dia menyuapi Dara yang tentu saja di sambut oleh wanita yang sebenarnya sudah menahan lapar karena aksi mogoknya.


Sedangkan Radit, entah mengapa dia merasa ada yang hangat dalam hatinya melihat perhatian Kayla yang begitu besar terhadap Dara. Dari sikapnya yang judes dan bar - bar, ternyata dia wanita yang hangat dan penyayang. Begitu yang dipikir pria itu saat ini.


"Lo harus makan yang banyak, agar lo ada tenaga untuk menjalani hidup," Kayla memang mengetahui Dara sedang mogok makan karena Rey sudah bercerita sebelum dia datang.


Di sela - sela mengunyah makanannya tiba - tiba air mata Dara mengalir memabasahi pipi. Dia masih memaksa untuk menelan makanan meski terasa berat.


Kayla sangat memahami akan kesedihan Dara. Tinggal bersama orang yang sangat dibenci memang sulit. Namun Kayla tidak bisa berbuat lebih selain memberi dukungan mental kepada Dara.


Dara masih berstatus sebagai istrinya Rey. Kayla sadar dia tidak mungkin bisa terlalu jauh ikut campur dalam urusan pernikahan sahabatnya itu. Wanita itu hanya bisa berharap, Rey segera membuka hatinya untuk rela melepaskan Dara.


"Habiskan dulu makananmu, lalu berceritalah," ucap Kayla.


"Gue sudah kenyang Kay," ucap Dara yang baru mendapati tiga suapan makanan. Tiba - tiba selera makannya menghilang.


"Lo harus makan yang banyak Ra, sayangi tubuh lo," nasehat Kay.


"Gue makan nanti lagi aja, sekarang benar - benar tidak berselera,"


"Baik lah," Kayla meletakkan piring yang masih berisi makanan di atas nakas kamar.


"Kay, gue ingin keluar dari rumah ini. Tinggal bersamanya buat aku mengulang kembali ingatan - ingatan yang menyakitkan itu," kini Dara mulai terisak.


Kayla memandang iba pada sahabatnya itu, begitu juga Radit.


Radit melangkahkan kakinya keluar kamar, memberikan ruang kepada kedua wanita itu. Membiarkan Dara menumpahkan keluh kesalnya dengan leluasa.


Di luar kamar, Radit melihat Rey sedang menyandarkan tubuhnya di dinding luar kamar Dara. Tentunya Rey mendengar perkataan Dara barusan. Terlukis raut kekecewaan dan kesedihan yang begitu ketara pada muka Rey.


Sungguh Rey juga merasa sakit ketika melihat istrinya itu bersedih, namun rasa tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya membuat dia terpaksa bertindak egois.


Kini Rey dan Radit sedang berada di ruang tamu lantai satu.


"Apa gue terlihat menyedihkan?" tanya Rey kepada Radit.


"Lo terlihat sangat menyebalkan dan sangat egois," ketus Radit.


Rey tersenyum kecut mendengar ucapan Radit.


"Lo pasti senang bukan? sekarang Dara sangat membenci gue dan ini bisa jadi kesempatan lo untuk mendekatinya," tuduh Rey.


"Mana mungkin gue merasa senang sedangkan wanita yang gue cintai sedang terluka dan bersedih? gue nggak egois seperti lo,"


Hati pria yang berstatus suami Dara itu terasa tertusuk belati. Ucapan Radit sungguh mengenai perasaannya.


"Jangan sekali - kali menggunakan cara licik untuk mendapatkannya kalau nggak ingin berhadapan denganku," ancam Rey.


"Gue memang sedang memperjuangkan cinta gue, tapi bukan berarti gue harus menggunakan cara licik di atas penderitaan orang lain," tandas Radit.


Selama ini Radit memang sudah beberapa kali menyatakan perasaannya pada Dara. Namun dia tidak ingin memaksa Dara untuk menerimanya karena dia tahu hati Dara masih belum bisa terbuka untuknya.


"Gue nggak nyangka selama ini lo mencintai istri gue tanpa ijin," cibir Rey.


"Asal lo tahu, gue lebih dulu menyukai Dara daripada lo. Gue menyesal, kenapa waktu itu harus membuat taruhan ke lo untuk bisa mendekatinya. Gue nggak nyangka sesutau yang berawal dari taruhan iseng itu, pada akhirnya kalian bisa saling mencintai. Hati gue terasa sangat sakit waktu itu, apalagi saat kalian memutuskan untuk menikah. Gue frustasi, gue terasa gila. Gue bahkan baru menyadari perasaan gue ke Dara begitu dalam. Tapi pada akhirnya gue berusaha membuka pikiran dan mencoba untuk mengiklaskan selama itu demi kebahagiaan Dara,"


"Lo belum ihklas, nyatanya lo masih mencintainya dan mencoba merebutnya dariku,"


"Gue bukannya merebut tapi mengambil wanita yang telah lo sia - siakan, meskipun gue tahu hati Dara terlalu jauh untuk gue jangkau,"


Bersambung~~