Luka Cinta Dara

Luka Cinta Dara
Bab 41 Lagi - lagi secara paksa.



Halo para Reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..


✓Like 👍


✓Coment 💬


✓Rate 5 ⭐


✓Vote 💰


Agar Author semakin semangat nulisnya. Author tidak ada apa - apanya jika tanpa dukungan kalian🤗


🍂Selamat membaca🍂


Kayla dibuat terperanga karena pemandangan yang dia lihat sekarang.


Radit yang sedang telanjang dada, menyuguhkan otot - otot lengannya yang kekar dan garis - garis six pack pada perutnya tergambar jelas dan rapi.


(Itu roti sobek, dicelupin ke susu coklat hangat sepertinya mantap🤤)


"Lo pakai baju dulu deh. Buruan!" pinta Kayla seraya memalingkan mukanya yang sudah memerah karena malu.


"Apaan sih! gue cuma nggak pakek atasan, bukannya telanjang," Tukas Radit santai.


"Buruan pakek, right now!" titah wanita yang sedang bekerja keras mengatur ritme jantungnya yang tidak karuan itu.


"Issshh! gue aja liat wanita yang telanjang dada bahagianya bisa selangit. Lo malah sewot gitu!" gerutu Radit seraya meraih T - Shirt yang berserakan di atas ranjang dan segera memasangkan pada tubuhnya yang bisa dikatakan sangat menggoda bagi para kaum tulang rusuk Adam yang melihatnya.


"Yee! itu memang dasar lo nya aja yang mesum!" sewot Kayla.


"Bukannya mesum, tapi karena gue pria dewasa normal yang mempunyai libido tinggi," sanggah Radit santai.


"Ok stop! jangan bahas itu lagi," pinta Kayla yang semakin malu mendengar pernyataan Radit.


"Aku mau menanyakan tentang keadaan Dara," Kayla segera mengalihkan topik.


Muka Radit seketika berubah masam. Dia teringat kejadian kemarin dimana dia kehilangan jejak Rey dan Dara. Namun tidak butuh waktu lama, pria itu mendapatkan Informasi tentang penerbangan Dara menuju Indonesia.


Jiwanya ingin sekali ikut terbang menyusul Dara namun raganya masih harus digunakan untuk menyelesaikan beberapa urusan yang berhubungan dengan bisnis keluarganya di salah negara Eropa itu. Jadi dengan berat hati, Radit harus membiarkan Rey membawa wanita yang telah merebut hatinya itu. Radit berjanji akan ikut kembali ke Indonesia setelah urusannya selesai.


"Kemarin gue lihat Rey membawa Dara pergi. Gue sudah mencoba mengikuti mereka, tapi gue kehilangan jejak," jelas Radit dengan raut muka kecewa.


"Apa?! darimana Rey bisa tahu keberadaan Dara?! terus Dara dibawa kemana sekarang?!" Kayla memberondong beberapa pertanyaan sekalian.


"Gue juga nggak tahu pasti, darimana Rey bisa mendapatkan informasi, yang jelas gue tahu Rey mengirim orang suruhan untuk selalu mengintaiku," Radit sangat yakin.


"Dan sepertinya Rey membawa paksa Dara untuk kembali ke Indonesia," tambahnya lagi.


"Ha?!" Kayla tercengang mengetahui tindakan nekat Rey.


Beberapa detik kedua anak manusia itu terdiam. Terlihat raut muka mereka pada layar ponsel tengah sibuk dengan pikirannya masing - masing.


"Bagaimana kalau gue nggak bisa bertemu Dara lagi? aaarrrg! shit!" gumam frustasi Radit di dalam hati.


"Gue harus segera mencari Dara?" batin Kayla yang mencemaskan nasib sahabatnya itu.


"Radit pasti sangat sedih," ucapnya lagi di dalam hati yang juga sangat memikirkan perasaan Radit sang pangeran hatinya itu.


"Lo ada rencana balik kesini juga nggak?" tanya Kayla yang mulai membuyarkan kediaman Radit.


"Setelah urusan disini selesai, gue akan segera kembali. Mungkin gue akan menetap disana terus," ucap Radit.


"Benarkah?" perasaan Kayla sedikit membungah karena mengetahui Radit akan menetap terus di Indonesia.


"Lo terlihat senang banget kalau gue tinggal disana?" tanya Radit yang menyadari perubahan ekspresi Kayla.


"Jangan sok kepedean lo ah. Sapa juga yang senang?" Kayla berkilah.


"Muka lo itu keliatan banget kalek. Jangan - jangan lo suka sama gue?" goda Radit namun hanya untuk bercanda.


"Ya sudah gue matiin dulu video callnya. Sampai bertemu lagi di indonesia," Kayla mencoba melarikan diri dari candaan Radit yang selalu menggodanya itu.


"Fyuuh! itu orang kenapa sih bikin jantungan melulu?" gerutu Kayla setelah sambungan video call berakhir, yang sebenarnya masih gugup karena takut Radit mengetahui perasaanya.


Disisi lain, Radit dibuat tercengang akan reaksi Kayla barusan. Biasanya wanita itu akan menggerutu bahkan mengumpat setiap kali Radit menggodanya. Namun kali ini berbeda, Kayla terlihat seperti menghindari candaannya barusan. Seakan dia membenarkan candaan Radit tadi.


"Hah?! mikirin apa sih gue?" Radit mencoba menampik pikirannya itu.


* * *


Tok...


Tok...


Tok...


Sedangkan di dalam kamar, Dara masih memutar otaknya. Mencari cara bagaimana dia bisa keluar dari rumah yang penuh derita itu.


Dara sangat hafal dengan karakter Rey yang akan melakukan segala cara demi mendapatkan apa yang dia mau. Rey tidak akan dengan mudah membiarkan Dara pergi begitu saja.


"Sayang, kamu beneran nggak mau buka pintunya dari dalam? tanya Rey.


"Tidak mau! Biarkan aku sendiri!" seru Dara dari dalam kamar.


"Baik, kalau kamu nggak mau membukanya dari dalam, aku akan membukanya dari luar saja?" timpal Rey yang terdengar sangat santai di balik pintu.


"He? di buka dari luar?" ucap Dara lirih. Dia dibuat tercengang akan perkataan Rey barusan.


"Ahhhrgg sial! aku lupa Pria menyebalkan itu selalu mempunyai kunci cadangan!" gerutunya lagi.


"Ceklek!" pintu kamar akhirnya terbuka.


Rey pun muncul dari balik pintu. Tersirat senyuman puas di mukanya karena tidak perlu ada adegan mendobrak pintu agar pintu terbuka, sedangkan Dara masih setia dengan muka masamnya.


Rey datang dengan membawa satu nampan berisi makanan dan minuman. Dara mencium aroma daging panggang yang menggiurkan, membuat cacing dalam perutnya berontak yang memang sedari tadi sudah minta dikasih makan.


"Makanlah, kamu tidak boleh sampai kelaparan Nyonya Erlangga," titah Rey.


"Aku tida lapar!" jawab Dara ketus menuruti gengsi dalam diri.


"Ayolah sayang, kamu belum makan dari tadi. Jangan siksa dirimu. Sekarang makan ya," Rayu sang pria.


"Apa tidak salah? bukannya kamu yang selama ini menyiksaku?!" seru Dara karena kesal.


"Sekarang kamu makan dulu. Setidaknya kamu butuh asupan energi agar tetap bisa melawanku," goda Rey yang menyelipkan sedikit sindiran pada kalimatnya.


"Kenapa kamu selalu memaksaku?!"jengkel Dara.


"Itu karena kamu yang memintanya?" timpal Rey.


"Bagaimana bisa aku memintanya sedangkan aku tahu menggunakan cara paksa itu tidak enak?" sinis Dara tidak ketinggalan lirikan tajamnya.


"Nanti lama - lama juga enak sayang," Rey menjawab dengan sangat santai seraya mengaduk - aduk makanan yang berada di atas piring.


Dara tambah jengkel mendapati Rey yang tidak serius menanggapi protesnya.


"Awal - awalnya memang nggak enak sayang, nanti lama - lama kamu bakal ketagihan," goda Rey lagi sembari mengarahkan sendok yang berisi makanan ke mulut Dara.


"Apa maksudmu?! mana mungkin aku ketagihan!" timpal Dara tanpa menghiraukan makanan yang sudah berada di depan mulutnya.


"Hah.. Selama ini bukannya kamu selalu ketagihan dan memintanya berkali - kali setiap malam kan sayang?" goda Rey lagi, kini sendok yang berisi makanan itu kembali ke piring karena Dara masih urung untuk memakannnya.


Ekspresi Dara sedikit melongo mendengar kalimat Rey yang mulai menjurus ke ranah seksual itu.


"Dasar mesum!" hardik Dara seraya melempar bantal ke arah muka Rey.


"Hahaha.. Makanlah sebelum aku menyuapimu dengan mulutku," ancam Rey di sela - sela tertawa renyahnya.


"Itu tidak akan pernah terjadi. Sekarang keluarlah karena aku tidak mau memakannya!" Dara berniat melaksanakan aksi mogok makannya.


"Ayolah sayang, jangan buat kesabaranku habis," Pinta sang pria lagi.


"Pergi!" usir sang wanita.


Rey yang sejatinya adalah pria yang anti penolakan itu sudah berusaha bersikap sabar dalam menghadapi Dara. Namun kini egonya sudah mulai mendominasi pikirannya lagi.


Rey mengambil potongan daging yang sudah teronggok di atas piring dan diletakkan pada sela - sela kedua bibirnya dan melesatkan pada mulut Dara. Rey tidak akan main - main dengan apa yang dikatakan. Dia benar - benar melakukan ancamannya tadi.


Dara dengan sigap menutup rapat kedua bibirnya. Tidak membiarkan Rey melancarkan aksinya dengan mudah. Dara menekan dada bidang Rey agar menyisakan jarak kedua tubuh mereka yang terasa sudah sangat dekat.


Menyadari penolakan yang terus dia terima, membuat otak Rey merubah haluan. Dia melepaskan daging yang sedari tadi menjadi penghalang antara bibirnya dan bibir Dara.


Tangan kiri Rey melingkari pinggang Dara dengan erat sedangkan tangan kanannya menekan tengkuk leher Dara. Kini tubuh Dara yang kecil benar - benar sudah terkunci oleh tubuh Rey


Dara sangat syok dengan tindakan Rey yang tanpa komando itu. Dia berusaha memberontak meski sekarang ruang geraknya begitu minim.


Otak Rey yang sudah dipenuhi dengan nafsu birahi yang sudah lama terkubur langsung melesatkan bibirnya pada bibir Dara yang sangat menggodanya dari tadi. ******* habis setiap inci bibirnya. Tidak peduli dengan Dara yang sedang berontak kasar.


Bersambung ~~